
Farel membulatkan matanya sambil menatap ke arah Thalia yang tengah marah tanpa alasan padanya.
"Kamu berani nolak perintah aku? Kamu mau aku suruh jadi babu di sini?" ancam Thalia.
Farel diam-diam mendelik.
'Cuman gak mau makan coklat, dia nyuruh gue jadi babu? Dasar Drama Queen!' umpat Farel dalam hati.
"Makan, gak!" suruh Thalia.
"I-iya ..." Sekalipun menggerutu, Farel tetap mengikuti perintah Thalia. Ia pun terpaksa makan coklat berbentuk hati di toples itu.
"Harusnya kamu hargain, dong kerja keras aku!" sahut Thalia kesal sambil membereskan barang-barangnya. Sementara Farel hanya mengumpat dalam hati saking kesalnya dengan sikap Thalia yang hobi memaksanya.
"Kalau gak habis, bawa pulang aja!" ketus Thalia.
"Uhm, kasih juga buat mama kamu ..." ucapnya dengan nada suara kecil.
Farel sontak melotot, bukan hanya mau meracuni dirinya, tetapi juga mau meracuni mamanya! Thalia ini benar-benar keteraluan!
"Iya," sahut Farel, tidak mungkin ia menolak lagi.
Sementara Thalia malah terdiam, seolah-olah bingung apa yang harus ia lakukan.
"Ya udah! Sana pulang!" usir Thalia lagi. Padahal tadi ia seolah mau menahan Farel. Namun perintah Thalia kali ini sangat disyukuri oleh Farel. Lelaki itu segera membereskan barangnya dan pergi, tak lupa membawa toples kecil berisi coklat Thalia.
Sepeninggalan Farel, Thalia langsung menutup wajahnya yang terasa panas sambil giling-guling di lantai.
"Ya ampun! Dia beneran bawa! Gak sia-sia aku buat semaleman!" girang Thalia. Ya, semalam ia bahkan hampir tidak tidur untuk membuat coklat berbentuk hati itu. Awalnya ia hanya mau membuatkannya untuk Alan, tetapi setidaknya Thalia ingin memberikan penghargaan juga untuk Farel yang sudah sering membantunya.
Gadis itu pun memegang bibirnya. Ia masih ingat sentuhan lembut ibu jari Farel di sana.
"Ya ampun ..." Kini napasnya terengah-engah dan jantungnya berdebar-debar.
"Aku ini kenapa, sih?" pusingnya pada diri sendiri.
Sementara Farel naik kendaraan umum menuju rumahnya sembari memegang erat setoples coklat buatan Thalia. Ya, dia enggan memasukkan barang itu ke dalam tasnya. Tak lama, ia pun sampai di perhentiannya dan tepat di sana ada sebuah tempat sampah. Tanpa pikir panjang, Farel melempar toples coklat buatan Thalia ke dalam tempat sampah.
"Lu kira, gue gak tau niat jahat lu? Dasar nenek sihir!" umpat Farel yang kemudian pergi mencari kendaraan umum untuk menyambung perjalanannya.
***
Akhirnya tiba hari kencan Thalia dan Alan. Sesuai perjanjian, Renata dan Marina ikut memantau kencan sahabat mereka, sedangkan Vannesa sedang menikmati waktu berduanya dengan Aldo.
Thalia sudah mempersiapkan dirinya semanis mungkin, ia mengenakan riasan yang Farel ajarkan juga baju yang dipilihkan oleh ketiga sahabatnya kemarin. Sebuah dress sepanjang lutut berwarna babby pink dengan motif bunga dendelion kecil berwarna ungu juga flat shoes dengan warna senada dengan bajunya.
'Kamu cantik dengan warna merah yang tipis.' Thalia masih bisa ingat dengan jelas ucapan Farel sembari berjalan ke restoran, tempatnya janjian dengan Alan.
Tanpa menunggu lama, Thalia langsung bisa menemukan sosok Alan yang sedang sibuk dengan ponselnya. Yah, ketampanan seorang Alan yang teralu mencolok selalu membuatnya bercahaya sendiri di tengah lautan manusia sekalipun.
"Kak Alan!" seru Thalia sambil memasang wajah semringahnya dan membawa setoples coklat berbentuk hati, persis yang ia berikan pada Farel kemarin.
Alan pun menengok begitu sadar dirinya dipanggil oleh seseorang. Seketika lelaki 15 tahun itu melemparkan senyum indahnya, yang bisa membuat siapa saja langsung jatuh cinta.
"Thalia ... Gue kira bakal lama," sahut Alan. Yah, bisa dilihat, minuman yang Alan pesan bahkan masih penuh.
"A-aku gak bisa nunggu lama-lama lagi buat ketemu Kak Alan," sahut Thalia malu-malu.
Sementara Alan malah memanyunkan mulut dan memicingkan matanya, berusaha mencerna maksud dari perkataan Thalia, tetapi setelah itu ia hanya terkekeh.
"Oke ..." Alan mengangguk kemudian melirik ke arah Thalia yang masih malu-malu. Lelaki itu bahkan memperhatikan dandanan Thalia dari atas kepala hingga ujung kaki.
Thalia mengangguk dengan bersemangat.
"Iya, Kak. Aku dandan karena mau kelihatan cantik di depan Kak Alan," ungkap Thalia lagi sambil senyum-senyum sendiri.
Namun Alan hanya memandangnya datar.
"Oh ..." Bahkan Alan enggan berkomentar. Lelaki itu pun beranjak.
"Kakak suka, gak?" seru Thalia antusias dengan senyum semringahnya. Siapapun yang melihatnya pasti bisa langsung terpesona. Sayang, laki-laki yang sedang di hadapan Thalia adalah Alan—Ia sudah sangat terbiasa dengan perempuan yang cantik.
"Uhm, mendingan gak usah dandan. Repot-repot. Lagian kita mau jalan santai aja," timpal Alan kemudian berjalan melewati Thalia yang kini diam membeku. Usahanya selama ini sia-sia?
Namun Thalia tak berkecil hati, ada kejutan lain yang ia siapkan untuk Alan. Cokelat. Thalia pun mengejar kakak kelasnya itu.
"Kak, Aku buatin cokelat untuk kakak!" sahut Thalia sambil menyodorkan sebuah toples berbentuk silinder pada Alan.
Alan pun terpaksa menghentikan langkahnya.
"Manis?" tanya Alan.
Thalia mengangguk dengan semangat.
"Gue terima, tapi honestly, gue gak teralu suka cokelat. Jadi, lain kali gak usah repot-repot. Oke?" imbuh Alan yang sekali lagi membuat Thalia terdiam.
"Ya udah, ayo, mau nonton 'kan?" ujar Alan yang diam-diam tersenyum.
'Rasain lu!' ujar Alan dalam hati bangga. Namun Thalia masih saja melamun. Alan pun menepuk pundaknya.
"Ayo! Apa gue harus nonton bioskop sendiri?" tanya Alan.
Thalia yang terlanjur kecewa hanya bisa mengangguk pelan. Segala usahanya untuk Alan sama sekali tak bernilai. Bahkan dirinya yang seperti ini saja tidak cukup. Thalia hanya bisa menunduk sembari berjalan mengikuti Alan.
Sementara tak jauh dari mereka, Renata dan Marina hanya bisa ternganga. Siapa sangka Kak Alan menolak semua pemberian dan usaha Thalia secara halus?
"Ini gara-gara si Culun itu ngajarin Thalia dandan!" tuding Renata.
"Usaha Thalia semuanya sia-sia gara-gara si Culun itu!" tambah Marina yang juga geram. Mana tahan mereka berdua menyaksikan raut kecewa di wajah Sang Sahabat?
"Pokoknya kita harus kasih tau Vannesa dan minta tolong Kak Aldo and the geng!" ujar Renata yang langsung mengambil ponsel dan menuangkan apa yang terjadi pada Thalia lewat pesan singkat.
"Kenapa harus bawa-bawa Kak Aldo?" tanya Marina.
Renata pun menghentikan kegiatan jarinya seraya menyeringai.
"Karena cuman Kak Aldo and the geng yang tahu caranya memberikan pelajaran buat Si Culun Farel!" ujar Renata.
"Tapi apa gak sebaiknya bilang dulu ke Thalia, Ren?" sahut Marina.
Renata menggeleng.
"Gue jamin, Mar! Pasti setelah ini Thalia nangis-nangis ke kita karena penolakan Kak Alan. Dan ini salah siapa? Salah Si Culun!" geram Renata kemudian memandang layar ponselnya yang baru saja mendapat balasan dari Vannesa.
"Apa kata Vannesa?" tanya Marina.
Renata pun tersenyum.
"Kak Aldo bilang, dengan senang hati!" jawab Renata.