
Thalia terdiam seraya memandang wajah ketiga sahabatnya yang mengeraskan rahang.
"Thalia! Jangan sampai selera lu menurun, ya! Bahkan Farel gak cocok jadi teman lu!" tukas Marina yang membuat Thalia tertohok. Gadis Cantik itu kini memandang Marina dengan bola mata yang bergetar.
"Cepetan, Thalia! Lu pilih siapa?" paksa Renata.
Seketika Thalia menaikkan kedua sudut bibirnya sambil memeluk pinggang Vannessa.
"Ya, jelas aku pilih kalian lah? Kenapa aku harus pilih Farel?" ucap Thalia yang langsung membuat Marina tercengang. Thalia yang sekarang ada di hadapannya sangat berbeda dengan Thalia yang menamparnya tadi pagi.
"Lu ... Lu yakin Thal?" tanya Marina masih tak percaya.
Thalia mengangguk dan langsung memegang kedua tangan Marina seraya memandangnya lekat-lekat.
"Marina ... Maaf, ya ... Setelah aku merenung tadi, aku sadar kalau aku udah salah sama kamu ..." tutur Thalia.
"Aku terlalu nyaman karena segala kebutuhan aku bisa terpenuhi tanpa harus repot karena selama ini Farel yang mengerjakan. Aku sampai lupa kalau aku punya sahabat seperti kalian. Maaf," beber Thalia lagi.
Tanpa Thalia sadari, ada seorang siswa yang masuk ke dalam kelas. Sementara Renata menyadari hal tersebut. Renata pun menyunggingkan senyumnya.
"Jadi, Thalia ... Selama ini kamu cuman manfaatin Farel aja 'kan?" tekan Renata.
"Iya!" jawab Thalia yang membuat seseorang yang baru saja duduk di belakang tersentak.
"Iya apanya, Thal? Yang jelas, dong ..." pancing Renata lagi.
"Iya, aku selama ini manfaatin Farel aja karena Farel gampang disuruh-suruh dan dia sangat penurut. Dia gak mungkin bantah permintaanku," pungkas Thalia panjang lebar.
"Lu dengar 'kan Culun?" Tiba-tiba Renata menghadapkan tubuhnya ke bangku belakang yang membuat Thalia ikut memutar tubuhnya ke arah yang sama. Sontak kedua matanya membulat saat melihat sosok Farek yang tengah duduk di bangku paling belakang.
'Fa-farel ... Dia di sana sejak kapan?' batin Thalia.
Cowok Berkacamata itu berdiri sembari memasang senyum lebarnya.
"Iya, aku dengar. Aku memang ada di sini untuk dimanfaatkan dan disuruh-suruh oleh Thalia," jawab Farel yang membuat dada Thalia terasa sesak.
'Farel, maksud aku bukan begitu! Aku bilang begitu untuk membujuk Marina!' jerit Thalia dalam hati yang mulai menggemertukkan giginya.
"Bagus, deh kalau lu udah tahu. Jadi, lu harus sadar diri! Lu gak usah mimpi, ya, bisa deket sama Thalia, apalagi jadi pacar Thalia!" tekan Renata lagi.
"Iya," jawab Farel yang membuat napas Thalia semakin sesak. Bukan, Bukan ini yang Thalia mau! Kenapa Farel menjawab "Iya". Apa semudah itu Farel mengikuti kemauan orang lain? Atau ini menegaskan bahwa Farel sama sekali tidak mungkin akan memiliki perasaan yang sama dengannya? Apakah kali ini, cinta Thalia akan bertepuk sebelah tangan selamanya? Diam-diam Thalia menggigit bibir bawahnya.
"Ya udah! Kita gak usah peduliin Farel!" seru Vannessa yang membuyarkan lamunan Thalia.
"Mendingan, sekarang, Thalia, bawa tas kamu dan pindah duduk di samping gue! Yey!" girang Vannessa. Thalia pun berusaha mengangkat kedua sudut bibirnya dan mengikuti kata-kata Vannessa. Alhasil sekarang Vannessa dan Thalia duduk sebangku.
'Pokoknya, saat pulang sekolah, aku harus bicara dengan Farel!' tekad Thalia dalam hati.
"Eh, guys! Pulang sekolah karaokean, yuk! Mumpung belum intens nih pelajarannya," usul Renata yang membuat Thalia melotot.
"Pu-pulang sekolah?" ulang Thalia.
"Yah! Hari ini banget? Gue mau ngedate sama Kak Aldo ..." rengek Vannessa yang langsung dapat tatapan sinis Renata.
"Idih, dasar! Nge-date mulu lu! Sekali-kali kenapa luangin waktu buat temen!" sindir Renata.
Vannessa langsung memonyongkan bibirnya.
"Yah, kalian, sih dadakan. Kalau bilang mau jalan bareng dari kemarin-kemarin, aku 'kan bisa keep waktunya," bela Vannessa.
"Gue setuju! Lagian, hari ini abis pulang sekolah gue kosong," sahut Marina yang langsung mendapatkan pelototan Vannessa.
"Marina, jangan gitu, dong ... Lu harusnya dukung gue!" melas Vannessa.
"Oke, dua-satu! Sekarang tinggal kita dengar keputusan Thalia!" seru Renata yang membuat Thalia tertegun.
"Uhm, A-aku—"
"Atau sekalian ajak Kak Aldo juga, ya? Biar Kak Aldo sama temen-temennya juga. Lumayan 'kan, biar cecan-cecan gue dapat cowok juga, anak SMA lagi?" potong Vannessa.
"Oke, berarti tiga lawan satu ... Lu gimana, Thalia?" tanya Renata.
Thalia pun mengeluarkan senyumnya.
"Oke, kita jalan bareng abis pulang," jawabnya.
'Kalau sekarang tidak bisa, aku akan suruh Farel ke rumahku hari Sabtu atau Minggu,' pikir Thalia
...****************...
"Kak Aldo jadi gabung, Nes?" tanya Renata yang baru saja selesai bernyanyi satu lagu.
Vannessa hanya cemberut sambil sibuk dengan layar ponselnya.
"Kak Aldo bilang, besok aja ngedate-nya. Dia gak mau ganggu quality time kita, hwa!" rengek Vannessa.
Renata mengernyitkan dahi.
"Lah? Kenapa lu mewek, Nes?" heran Renata.
Vannessa menatap Renata dengan puppy eyes-nya.
"Yah mewek lah! Karena hari ini gak jadi ketemu Kak Aldo. Huhu ... Kak Aldo kenapa baik banget, sih sama kalian. Dia rela ngalah. Padahal datang aja gak apa-apa ..." kesal Vannessa.
Renata hanya geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang super bucin dengan pacarnya itu.
"Gara-gara Kak Aldo gak datang, kalian juga gak jadi dapet pacar anak SMA juga ..." tambah Vannessa yang langsung membuat Renata melotot.
"Lah? Iya juga, ya!" seru Renata.
"Makanya 'kan!" rengek Vannessa yang langsung memeluk Renata.
"Kesempatan gue buat dapet cowok gagal, deh!" rengek Renata yang ikut-ikutan mewek.
Thalia yang dari tadi duduk saja sambil memakan cemilan hanya geleng-geleng kepala saja. Sementara Marina yang baru kembali dari toilet diam-diam mendekati Thalia.
"Thal ..." lirih Marina yang menarik atensi Thalia. Gadis berkulit putih itu langsung melebarkan senyumnya.
"Kenapa, Mar?" tanya Thalia. Namun Marina malah menatap Thalia dengan nanar.
"Lu ... Lu oke-oke aja 'kan?" tanya Marina yang membuat Thalia tertegun.
"Oke dong ... Kenapa emangnya?" Thalia malah balik tanya.
"Uhm ... Enggak ... Gue cuman ngerasa ucapan gue tadi siang agak berlebihan ... Tapi ..." Marina langsung memegang tangan Thalia seraya menatapnya lekat-lekat.
"Gue ngelakuin ini demi kebaikan lu. Gue ngerasa, Si Culun itu kayak punya perasaan sama lu!"
Sontak Thalia melotot mendengar ungkapan Marina. Farel? Punya perasaan padanya?
'Sadar, gak sadar, kalian kelihatan kayak orang pacaran ...' Tiba-tiba Thalia terngiang ucapan Sheilla di taman. Apa sebebarnya Farel rela melakukan apapun yang disuruh oleh Thalia karena diam-diam Cowok itu menyukainya? Bukankah itu berarti mereka punya perasaan yang sama? Jadi, cinta Thalia tidak bertepuk sebelah tangan kali ini?
Thalia menelan salivanya.
"Fa-farel suka sama aku? Ke-kenapa kamu bisa mikir gitu, Marina?" selidik Thalia.
"Ya, jelaslah! Lu emangnya gak merhatiin? Dia itu sumpah, caper banget! Dia sok-sok-an nurut sama lu, terus cara dia senyum ke lu. Ewh ... Menjijikan! Gue yakin, dia sering mikir jorok!" tukas Marina yang membuat Thalia semakin membulatkan matanya.
"Mi-mikir jorok ..." Wajah Thalia langsung memerah. Gadis itu langsung menutup wajahnya.
"Marina ... Kenapa kamu mikir gitu, sih? Farel gak kayak gitu!" bela Thalia. Justru sebaliknya, Farel benar-benar menghormatinya. Bahkan Cowok itu tidak akan menyentuhnya kecuali Thalia yang memintanya, itu juga agak memaksa.
"Ya, biasanya cowok-cowok pendiem, culun, kayak dia 'kan kayak gitu. Kita gak tahu apa isi pikirannya, apalagi mereka ada di masa-masa puber!" tekan Marina sambil memeluk dirinya sendiri.
Thalia hanya memandang Thalia dengan agak sendu. Lidahnya sekarang sangat ingin membela Cowok Idamannya itu, tetapi sepertinya bukan saatnya.
"Makanya, gue sebenarnya mau melindungi lu, Thal ..." Marina kembali memegang kedua tangan Thalia.
"Gue yakin, di luar sana, pasti ada Cowok yang lebih keren dari Kak Alan yang pantas buat lu. Bukan Cowok culun, miskin, sok dan parasit kayak Farel ..." tutur Marina.
Thalia pun hanya tersenyum.
"Thanks, ya Mar ..." ucap Thalia, sekalipun lidahnya agak enggan berucap begitu karena ketiga sahabatnya sama sekali tidak ada yang tahu Farel orang yang seperti apa.
"Sama-sama— Eh?"
Tiba-tiba Thalia menggenggam tangan Marina.
"Mulai sekarang aku akan lebih mendengarkan kalian," ujar Thalia lagi yang mengundang senyum di wajah Marina. Gadis Berwajah Oriental itu pun langsung menarik Thalia dan memeluknya.
Tidak apa-apa, kali ini Thalia akan menahan segala gejolak perasaannya untuk Farel demi persahabatannya. Semoga di saat waktunya telah tiba, Ketiga Sahabatnya bisa menerima kenyataan bahwa Thalia memiliki rasa spesial pada Farel.
...****************...