
Alan melihat hasil rekaman cctv di depan pintu masuk VVIP yang ditujukan oleh Pria bersetelan hitam. Dahinya mengernyit ketika melihat sosok yang ditunjukkan oleh Pria bersetelan hitam yang merupakan pengawalnya. Dalam keluarga seorang Alan memang setiap anggota memiliki setidaknya lima pengawal.
"Thalia ke sini? Ngapain?" gumam Alan.
"Berdasarkan keterangan satpam ruangan, Nona ini memaksa untuk menjenguk temannya yang dirawat di kamar nol lima nol tiga ..." lapor Sang Pengawal.
'Nol lima nol tiga adalah kamar Farel ... Thalia mau menjenguk? Cih, bukannya dia sendiri yang mau menghancurkan Farel?' kekeh Alan dalam hati.
"Lanjutkan ..." perintah Alan.
"Nona ini sempat mengancam akan membuat satpam ruangan dipecat, tetapi satpam ruangan tak menggubrisnya sehingga akhirnya Nona ini pulang dengan sendirinya," lapor Sang Pengawal lagi.
Alan tersenyum sambil memgangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus. Jika dia datang lagi, jangan pernah biarkan dia masuk!" perintah Alan.
"Baik, Tuan Muda!" seru sang Pengawal kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara tatapan Alan berubah jadi tajam.
"Memangnya direktur rumah sakit ini bisa melawanku?" gumamnya sambil terkekeh.
***
Tiga hari tengah berlalu. Bangku Farel masih kosong. Kabarnya Farel masih belum pulih. Kini Thalia and the geng berkumpul di Kantin sambil menunggu santapan mereka datang.
"Si Culun kemana, sih? Gak seru, nih! Gak ada yang bisa disuruh-suruh!" celetuk Renata yang langsung disikut oleh Marina.
"Ugh, apaan, sih Mar? Emang biasanya kita suruh-suruh dia!" celetuk Renata.
Vannesa yang duduk di sebelah Renata malah menatap sahabatnya dengan tajam kemudian beralih pada Thalia yang sudah tiga hari ini terlihat muram.
"Thal ... Denger-denger Kak Alan gak masuk, ya? Udah tiga hari ini gak kelihatan loh!" seru Vannesa segera mengubah topik. Namun Thalia hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tatapan kosong.
'Apakah Farel sudah sadar? Siapa ya, yang tiga hari ini menjaganya? Apa jangan-jangan keadaannya semakin memburuk!' pikir Thalia yang tidak bisa fokus sejak kemarin. Ia merasa dadanya terasa sesak karena merasa digantung. Ia sudah mencoba berkali-kali untuk menjenguk Farel, tetapi selalu gagal.
"Thalia!" seru Vannesa yang menepuk lengannya sehingga membuat lamunan Thalia buyar.
"Iya, Apa?" sahutnya kaget.
"Lu mikirin Kak Alan sampai segitunya. Lu suka banget, ya sama Kak Alan?" goda Vannesa.
Namun dahi Thalia mengernyit. Bahkan ia tidak tahu menahu soal kabar kakak kelasnya itu.
"Kak Alan—"
"Iya, Kak Alan gak masuk tiga hari! Katanya, sih sakit," seru Vannesa lagi.
"Kak Alan sakit? Sakit apa? Kok bisa?" panik Thalia.
"Yah, kalo penyakit mah gak pilih-pilih, Thal ... Bisa aja lah Kak Alan sakit," timpal Marina.
"Ya ampun ... Harus kah kita jenguk? Kak Alan sakit apa?" panik Thalia.
"Lah? Gue kira lu tahu, Thal!" seru Renata.
Thalia malah menggeleng.
"Aku juga baru tahu dari kalian ..." ucapnya membuat ketiga sahabatnya memandangnya heran.
Di sisi lain, atau lebih tepatnya di rumah sakit. Kini sang Mama lah yang tengah menemani Farel di rumah sakit. Tepat saat ini, Dokter sedang melakukan kunjungan pada pasien.
"Dok, kapan saya bisa pulang. Saya sudah bosan," adu Farel setelah tanda vitalnya selesai diperiksa.
"Tunggu sampai hasil lab adek keluar, ya ... Kalau hasilnya bagus, adek boleh pulang," jawab sang Dokter.
'Adek? Apa muka gue masih se-imut itu sampai disebut adek?' gumam Farel dalam hati.
"Tapi, Dok ... kalau masih lama, boleh gak saya pindah kamar?" sahut Farel lagi yang membuat sang Mama mengernyit.
Farel pun menoleh pada ibunya.
"Kemana aja, asalkan kita bayar sendiri, Ma! Farel tahu, Farel ada di kamar ini atas bantuan Kak Alan! Farel gak mau bergantung sama dia!" ujar Farel panjang lebar.
"Gue ikhlas, Kok bayar kamar perawatan di sini buat lu!" sahut Alan yang tiba-tiba muncul.
"Dokter, jika sudah selesai memeriksanya, boleh kembali. Biar dia saya yang urus," ucap Alan.
"Baik, tapi jangan buat dia tetalu stress ... Adek harus banyak istitahat, ya ... biar cepat pulih," pesan sang Dokter hingga akhirnya meninggalkan kamar perawatan.
Sedangkan Farel malah buang muka mendapati kehadiran Alan.
"Kak Alan gak sekolah apa? Ngapain, sih tiap hari datang mulu?" gerutu Farel.
"Farel! Gak boleh gitu! Harusnya kamu berterima kasih sudah ditolong sama Nak Alan!" tegur sang Mama agak menekankan.
Farel menarik napas, mana berani ia mendelik pada sang Mama. Namun Alan malah tertawa.
"Gak apa-apa, Tante ... Farel mungkin bosan lihat saya!" tawa Alan sambil mengambil buah apel yang ada di nakas dan mengupasnya.
"Sayangnya, Saya adalah orang yang tidak mudah menyerah. Apa lagi sama orang yang benci sama saya." Alan malah terkekeh padahal Farel sudah komat-kamit dengan semua jenis umpatan yang tak bisa ia suarakan.
"Terima kasih, ya Nak Alan. Maafkan, putra ibu ..." ucap Mama.
"Mama!" sahut Farel.
"Yah, kalau begitu, Tante ... Alan boleh bicara berdua sama Farel?" izin Alan sambil memasang wajah serius.
Sang Mama pun terpaksa menganggukkan kepalanya dan segera pergi tanpa bicara apapun.
Farel pun mendelik kesal.
"Kak Alan gak sopan sama nyokap gue!" sindir Farel sambil membuang mukanya.
Alan pun memotong apel yang ia kupas dan meletakkannya di piring kemudian menyerahkannya pada Farel.
"Lu yang tanpa sadar memaksa gue untuk melakukan itu!" tukas Alan yang sama sekali tidak mendapat respon baik dari Farel.
"Heh, lu gak mau nerima apel yang udah gue kupas dan potong ini? Gue bahkan gak pernah ngelakuin ini buat cewek gue!" tekan Alan.
"Gue gak mau! Gue gak mau lagi nerima pertolongan lu!" Farel menoleh ke arah Alan dan menatapnya tajam.
"Gue tau kalau lu nolong gue, supaya gue nurutin semua perintah lu! Gue gak mau lagi jadi anjing lebih banyak orang!" ucap Farel dengan nada yang terdengar getir, bahkan mata lelaki 13 tahun ini berkaca-kaca.
Alis Alan naik sebelah mendengar ucapan Farel. Kemudian Alan duduk di samping tempat tidur adik kelasnya itu.
"Anjing? Gue gak mau lu jadi anjing gue!" ungkap Alan yang membuat Farel tertohok.
"Heh, gue gak salah ngomong, kan?" kekeh Alan.
Farel hanya membuang mukanya, ia bahkan enggan melihat senyum seniornya itu.
"Farel, gue gak akan maksa lu buat ikutan kemauan gue ... Gue lebih ingin keinginan itu muncul dari diri lu sendiri!" ujar Alan lagi.
"Gue ngelakuin ini semua, gue ikhlas tanpa pamrih. Gue gak akan nuntut apapun yang pernah gue berikan ke orang lain. Karena momennya kita gak lagi berbisinis." Alan malah tertawa sendiri bicara begitu.
"Daripada maksa, gue lebih mau ngebujuk lu ..."
Perlahan-lahan Farel pun menoleh ke arah Alan.
"Gue mau ngebujuk lu buat melawan takdir yang udah memojokan keadaan lu. Gue di sini buat bantuin lu tanpa perlu lu bales gue dengan apapun." Alan menarik napas panjang krmudian mengulurkan tangannya.
"Sekarang dari lu sendiri, lu mau gak ikutin saran gue?" tanya Alan.
Farel hanya terdiam sambil memandang uluran tangan Alan. Haruskah ia menerimanya? Benarkah ini bukan jebakan?