Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Ini Aneh


Hari berlalu dengan cepat, tanpa sadar langit sudah mulai gelap, Farel benar-benar menikmati akhir pekannya dengan melukis. Namun dirinya tertegun saat melihat hasil lukisannya.


"Tha-li-a?" katanya heran sendiri menggambarkan objek yang ia lukis.


Farel memandang tangannya sendiri seraya berpikir, Kenapa tangannya dengan sendirinya melukis wajah nenek sihir itu, ditambah lagi ia melukis versi wajah Thalia yang jauh lebih cantik dari biasanya. Ia memoles wajah Thalia dengan perpaduan cat air miliknya.


"Apa gue teralu bangga dengan hasil polesan gue kemaren?" gumam Farel malah menyombongkan diri. Ia lalu teringat bahwa hari ini Thalia akan jalan bareng Alan.


"Gue yakin, Kak Alan bakal ngerjain dia ..." duga Farel. Sebagai penggemar Alan, tentu ia sangat tahu watak idolanya itu yang suka mempermainkan para gadis.


Meskipun begitu, ia tetap menyimpan lukisan wajah Thalia yang tak sengaja ia gambar di dalam koleksi-koleksi karyanya.


"Meskipun gue gak suka objeknya, ini tetap karya gue ..." gumam Farel sambil tersenyum.


Di sisi lain, Kini Thalia sedang duduk manis di dalam mobil Alan. Mereka menjalani hari bersama hingga larut. Maka dari itu Alan berinisiatif untuk mengantarnya pulang. Namun suasana di antara mereka sangat hening, seakan dipisahkan oleh sebuah benteng besar. Entah kenapa Thalia merasa dirinya seperti gadis yang menyedihkan. Ia merasa lebih menyedihkan ketimbang saat sang Ibu Tiri mulai memojokkannya di hadapan Papa.


"Thalia dari tadi diem aja ... Gak suka, ya jalan sama Kak Alan," tegur Alan tanpa menoleh pada Thalia.


Sebenarnya Thalia merasa ada secerca harapan. Teguran Alan bagaikan lubang kecil di benteng yang terpasang sejak tadi.


"Uhm ... Gak—"


"Apa sebenarnya kamu gak enak badan?" tanya Alan yang kini menoleh pada gadis cantik di sampingnya.


Namun Thalia hanya menggeleng sambil menunduk.


"Terus? Kenapa diam aja dari tadi? Kak Alan nunggu loh, Thalia cerita ... Thalia lupa, ya waktu itu mau curhat 'kan sama Kak Alan?" Alan berusaha memancing adik kelasnya ini. Setidaknya ia sudah puas melihat Thalia yang seharian ini ia abaikan. Raut kecewa di wajah gadis ini justru jadi kebanggannya.


'Sayang, gue gak bisa main kasar. Tapi kalau cewek gak perlu dikasarin juga pasti udah kesakitan. Ucapan dan sikap yang bikin mereka down!' batin Alan bangga.


'Meskipun gue belum puas karena lu belum dapetin apa yang Farel dapetin,' sambungnya lagi dalam hati.


Sementara Thalia masih mengingat apa yang hendak ia ceritakan pada Alan waktu itu.


'Aku ... waktu itu aku nangis karena Farel asal bicara ...' Thalia tertegun ketika mengingat kejadian itu. Ia merasa jantungnya berdebar ketika teringat semuanya kembali.


"Thalia?" tegur Alan.


"I-itu karena Farel. Aku nangis waktu itu karena Farel yang terus aja nyebelin, ngerepotin, rasanya aku mau dia hilang dari muka bumi ini!" cicit Thalia.


Alan sempat berdecih, tetapi kemudian mengubah mimik wajahnya seolah berempati.


"Ya ampun ... emang dia ngerepotin gimana?" selidik Alan.


'Yang ada elu, yang harusnya hilang dari muka bumi ini!' seru Alan kesal dalam hati.


"Pokoknya nyebelin! Mana lagi guru ngatur aku duduk sebangku sama dia! Ugh!" gerutu Thalia.


Alis Alan naik sebelah sembari diam-diam menaikkan sudut bibirnya.


'Oke, gue akan berhenti tanya, tapi hebat juga Si Farel bisa bikin Thalia nangis. Kayaknya akan lebih seru kalau Farel bisa bikin Thalia gak sekedar nangis,' pikir Alan.


"Sabar aja, Thalia, Sayang ... Nanti semester depan juga kalian gak sebangku lagi. Nikmati saja ..." kekeh Alan agak menekankan kalimat terakhirnya.


***


Keesokan harinya. Vannesa, Renata dan Marina berkumpul tanpa Thalia untuk menjalankan rencana mereka. Ya, kemarin malam sejak pulang bersama Alan, Thalia sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Gue yakin, dia nangis sendirian!" sahut Renata.


"Ya iyalah. Kalau nangis, mana sempat cek hape!" seru Vannesa.


"Lu udah bilang Kak Aldo, Nes?" tanya Marina.


Vannesa mengangguk.


"Kata Kak Aldo beres. Mereka udah susun rencana dan akan dijalanin saat ini juga, sebelum bel masuk. Biar tahu rasa tuh, Culun! Gak asal main dandanin anak orang!" jelas Vannesa.


"Oke, gue gak sabar ngelihat tuh si mata empat dihabisin sama kak Aldo and the geng!" seru Renata.


Di sisi lain, Thalia dengan senyum semringanya mencari keberadaan Farel. Rasanya ia mau memberikan cokelat buatannya untuk orang yang tengah membantunya. Meskipun kemarin semuanya tak berjalan lancar.


Langkah Thalia pun terhenti begitu menemukan Farel yang sedang bermain-main dengan anak-anak kucing di taman sekolah. Tanpa sadar, gadis cantik itu menaikkan kedua sudut bibirnya. Ia pun berjalan menghampiri Farel.


Farel dengan gemas mengelus leher salah satu anak kucing yang berbulu jingga. Sesekali senyumnya mengembang melihat betapa imutnya makhluk berbulu itu.


"Farel!" sontak remaja berkacamata itu terhenyak mendengar suara perempuan yang begitu khas di telinganya. Ia pun menoleh dan benar saja, Thalia telah berdiri di belakangnya.


Farel segera berdiri dan berbalik menghadap Thalia sambil menunduk.


"Ada apa?" tanya Farel gugup. Jika kencan Thalia kemarin gagal, pasti dirinya akan habis hari ini.


"Ini!" seru Thalia lagi-lagi menyodorkan setoples coklat berbentuk hati pada Farel. Sepulang dari kencannya dengan Alan, Thalia langsung membuatkan coklat ini. Ia bahkan rela tidak tidur agar bisa membuatnya dengan sempurna.


"Kamu suka 'kan cokelat ini? Kemarin habis 'kan?" ucap Thalia sambil berusaha memandang wajah Farel.


Farel hanya bergumam.


'Lebih tepatnya gue buang, sih ...' batin Farel agak khawatir ketahuan membuang pemberian Thalia.


"Udah, pokoknya ini buat kamu. Habisin lagi, ya. Dan ... uhm ... terima kasih ..." sahut Thalia yang langsung membuat Farel menegakkan kepalanya.


'Gila, gue denger apaan barusan?' teriak Farel dalam hati sambil membulatkan matanya.


"Jangan lihat aku gitu! Uhm ..." Thalia malah salah tingkah. Wajahnya terasa panas sekarang.


"Maaf!" Farel kembali menundukkan kepalanya.


"Yah, uhm ... ka-kalau gitu, aku pergi. Dah!" Tanpa menunggu balasan dari Farel, Thalia segera berlari pergi. Sementara Farel bingung sendiri apa yang barusan terjadi.


"Thalia dari kemarin kenapa, sih?" bingung Farel. Ia tidak mau salah paham dengan semua perlakuan Thalia yang aneh. Dari mencium pipinya, kemudian memberikannya cokelat lalu malah bilang terima kasih sambil memberinya cokelat lagi.


Farel merasa ada yang tidak beres dengan detak jantungnya dengan hanya mengingat semua kelakuan Thalia yang tak biasa.


"Gue kenapa? Apa ini berarti gue bakalan dapat kesialan?" duga Farel panik.