Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Apakah Tepat?


"Aku milikmu, maka buat aku tetap di sisimu."


Ucapan Farel barusan seolah seperti mantra yang membuat Thalia hilang akal. Farel dari awal memang milik Thalia, lelaki itu sudah berjanji padanya. Namun baru kali ini seorang Farel mengakuinya, bahkan ingin tetap berada di sisinya. Hal itu membuat jantung Thalia memompa darah lebih cepat hingga darahnya terasa mendidih. Tangannya ingin sekali memeluk lelaki ini, tetapi itu tidak mungkin ia lakukan.


Akhirnya Farel hanya bisa menyentuh tangan Farel dan mengiyakan permintaannya bak orang yang terhipnotis. Seketika sebuah senyuman lega terbit di wajah Farel.


"Tapi, kamu harus menuruti semua perintahku!" tekan Thalia lagi. Farel pun langsung mengangguk.


"Pasti. Itu pasti aku lakukan. Apapun demi kamu!" ujar Farel lagi. Thalia pun tersenyum puas, ia sekarang benar-benar bebas mau melakukan apapun pada laki-laki di hadapannya ini.


Ketika istirahat, setelah selesai melakukan apa yang Thalia minta, akhirnya Farel punya waktu sendirian. Remaja berkacamata itu pun pergi ke taman sambil membawa alat gambarnya. Baru hari pertama setelah iatirahat di rumah sakit, kini ia harus kembali menjalani kehidupan tang berat.


"Udah lu jalanin cara lu yang waktu itu lu sombongkan?" Farel terhenyak begitu mendengar suara Alan entah darimana. Ia pun langsung menyisir seluruh taman.


"Gue di sini!" sahut Alan yang ternyata sudah ada di depannya.


"Kak Alan! Uhm, gu-gue ..."


Alan langsung duduk di samping Farel sambil menghadap pada adik kelasnya itu.


"Coba tunjukkin ke gue. Gue penasaran, gimana caranya lu bisa keluar dari permasalahan dalam hidup lu," tantang Alan kemudian menyenderkan punggungnya ke sandaran bangku taman seraya memandang langit biru.


Farel menghela napas.


"Lu bisa lihat kalau ada Thalia," ujar Farel yang membuat Alan menoleh sambil menelisik maksud dari perkataan Farel.


"Kalau ada Thalia? Lu gak jadiin dia cewek lu 'kan?"


Sontak Farel terbatuk-batuk mendengar pernyataan Alan.


"Kak Alan gila, ya? Mana mungkin gue mau pacaran sama cewek begitu! Hiiy!" seru Farel sambil memeluk dirinya sendiri.


"Yah, siapa tahu, lu nembak dia, lu mau jadi cowok alias suruhannya seumur hidup supaya dia ngelindungin elu ..."


Seketika Farel tertohok, meskipun ucapan Alan tidak sepenuhnya benar, tapi kurang lebih ia memang memohon pada Thalia untuk melindunginya.


"Jadi anjing Thalia. Itu istilah lu kemarin, 'kan?" ujar Alan lagi sambil melirik ke arah Farel yang mulai berkeringat.


Alan langsung menyunggingkan senyumnya.


"Bilang aja kalau dugaan gue bener!" sahut Alan.


'Kak Alan ini peramal atau apa, sih?' batin Farel.


"Gue kasih tau, kalau cara lu emang begitu, hidup lu akan makin susah!" seru Alan.


"Melakukan hal itu sama aja lu menginjak-injak harga diri lu sendiri!" ujar Alan lagi kemudian terkekeh.


"Biasanya gue lihat orang harga dirinya diinjak-injak, tapi ini malah diri sendiri yang menginjak-injak harga dirinya. Gila!" tawa Alan.


Farel yang mendengar itu diam-diam mengepalkan tangannya.


"Kalau begitu, kalau begitu, cara yang bener seperti apa? Kenapa di mata lu cara gue selalu salah, ha?" tanya Farel.


Alan pun melirik Farel.


"Jadi beneran lu jadi anjingnya Thalia?" Alan mengklarifikasi.


Farel hanya bisa membungkam mulutnya sambil memalingkan wajahnya.


"Lu gila, sih! Tapi itu semua keputusan lu, gue bisa apa?" ujar Alan yang membuat Farel menoleh ke arahnya.


"Toh, Lu yang bakal jalanin hidup lu ..." Alan pun beranjak sambil menepuk-nepuk pundak Farel.


"Kak Alan, sebenarnya apa tujuan Kak Alan kayak gini sama gue?" Ini adalah hal yang palung membuat Farel penasaran. Kenapa Alan begitu giat menolongnya. Apakah ia harus membalas seniornya ini suatu saat? Apakah setelah lepas dari Thalia, ia akan jadi "anjing" seorang Alan?


"Gue ngelakuin ini? Karena gue gerah aja. Gue juga lihat, lu punya potensi, tapi lu mendem itu semua. Cukup menjawab?" tanya Alan.


"Bohong! Lu pasti menginginkan sesuatu dari gue!" timpal Farel.


Alan pun berbalik.


"Menurut lu gue orang yang kayak gitu?" Alan malah bertanya. Namun Farel hanya bisa terdiam. Jika ia mengiyakan, bisa saja ia akan dapat masalah lebih besar.


"Gue kasih tahu, hal yang paling gue inginkan di dunia ini adalah Sheilla Inggrid dan senyuman." Alan malah menyebut nama pacarnya yang membuat Farel tertegun.


'Frontal banget, sih dia!' komentar Farel.


"Gue mau lihat senyum lepas lu, senyum lega lu tanpa terikat siapa pun. Itu yang gue inginkan dari lu," ungkap Alan.


Seketika Farel tertegun. Hatinya yang terdalam bagaikan disentuh dengan lembut oleh kalimat manis dari mulut Alan.


"Gue gak percaya!" sahut Farel.


Alan hanya tersenyum mendenfar ucapan aduk kelasnya.


"Terserah lu. Gue juga gak mau berusaha bikin lu percaya," ucap Alan.


"Kalau gitu, gue pamit. Dah!" Tepat pada saat itu Alan pun pergi, tetapi belum jauh ia melangkah, Alan langsung berpapasan dengan Thalia.


"Kak Alan! Lihat Farel, gak?" tanya Thalia.


Alan malah menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan Thalia.


"Farel? Ada di taman, tuh!" ujar Alan kemudian hendak meninggalkan Thalia, tetapi dicegah oleh gadis itu.


"Ada apa lagi, Sayang?" tanya Alan dengan jurus ramahnya.


"Kakak gak suruh Farel apa-apa 'kan?" tanya Thalia sambil menatap senior yang diakuinya sebagai pujaan hati dengab tajam.


Alan hanya menggeleng kemudian melepas genggaman tangan Thalia kemudia membelai lembut kepala gadis cantik itu.


"Tentu saja tidak, Sayang. Uhm, bukankah Kak Alan harus izin Thalia dulu, hm?" ujar Alan lembut, tetapi sebenarnya sudah mengumpat dengan kasar dalam hati.


Thalia pun tersenyum.


"Bagus! Kalau begitu, sampai nanti Kak Alan. Aku ada perlu sama Farel. Daah!" Thalia pun segera berlari ke arah taman.


Sementara Alan hanya memandang Thalia dsri belakang dengan tatapan nanar.


"Miris amat hidup lu, Rel ... Gue harap lu cepet sadar!" gumam Alan kemudian pergi


Sedangkan Thalia yang sudah sampai taman segera memasang mata dan mencari keberadaan lelaki berkacamata yang ia cari.


"Dimana, sih dia? Masa aku harus cari-cari dia, sih? Harusnya dia siap sedia tiap aku butuhin, dong!" gerutu Thalia.


"Katanya mau nurutin perintah aku! Ini malah tau-tau ngilang! Awas aja kalau dia sengaja kabur!" Tepat saat itu ia menemukan sosok Farel dari belakang sedang bersender di bangku.


Thalia pun memdengus.


"Bisa-bisanya dia bersantai di taman!" kesal Thalia yang langsung memghampiri Farel.


"Farel!" jerit Thalia yang sontak membuat lelaki berkacamata itu terhenyak.


"Siapa yang izinin kamu santai-santai di taman?" tekan Thalia.