
Thalia memasang wajah ceria sepanjang perjalanan menuju rumah Farel. Ia tidak peduli, mau bagaimanapun keadaan pujaan hatinya itu nanti di rumahnya, yang penting ia bisa melihat Farel, bicara dengannya dan mengkhawatirkannya dengan bebas. Kalau bisa, Thalia sangat ingin mengurusnya jika memang Farel sakit. Namun, bagaimana caranya mengurus orang sakit di rumah? Dulu, mendiang ibunya juga sakit, tetapi sang Papa menyediakan seorang perawat khusus untuk mengurus ibunya, sehingga Thalia hanya mengunjungi sang Mama yang terbaring sakit untuk mengobrol saja.
"Masa bodo! Nanti aku bisa tanya Farel butuh apa. Kita punya mulut untuk bicara, harus digunakan sebaik-baiknya, 'kan?" monolog Thalia yang tersenyum lebar sambil memandang kekuar jendela. Jantungnya bahkan berdebar-debar.
"Sudah sampai, Non," ucap Pak Supir yang telah berhasil memarkirkan mobil city carnya di depan sebuah rumah kecil bercat putih gading. Thalia pun langsung turun dari mobil dan berlari ke rumah tersebut. Ia membuka pagarnya yang sama sekali tidak terkunci.
"Farel! Farel!" seru Thalia sambil mengetuk pintu yang tertutup. Namun sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. Thalia pun mengetuk pintu semakin keras.
"Farel! Farel—" Tiba-tiba pintu rumah tersebut terbuka dan muncullah orang yang sejak tadi namanya dipanggil.
"Farel!" antusias Thalia yang hendak memeluk cowok berkacanata itu, tetapi penampakan Farel membuatnya tercengang hingga mengurungkan niatnya. Wajah Farel penuh dengan memar dan luka di sudut bibir. Thalia kemudian menatap mata Farel yang kini menatapnya dengan dingin.
"Farel, kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini?" Thalia hendak menyentuh pipi Farel tetapi cowok berkacamata itu mennghindar, bahkan menangkap tangan Thalia.
"Kamu ngapain di sini?" sinis Farel yang langsung membuat dada Thalia sesak. Cowok berkacamata ini tidak pernah bicara dengannya seperti ini.
"Fa-farel ... Aku ke sini karena aku—"
Farel menghempaskan tangan Thalia yang dipegangnya. Kemudian Farel menangkupkan kedua tangannya di hadapan Thalia.
"Maaf, Thalia, tapi aku mohon sama kamu, lebih baik kamu pulang dan jangan berhubungan lagi sama aku!" ucap Farel yang bagaikan sambaran petir di telinga Thalia. Kedua mata gadis itu membulat. Thalia langsung menggemggam pergelangan tangan Farel sambil menatal lurus ke arahnya.
"Pulang? Gak berhubungan lagi sama kamu? Kenapa?" cecar Thalia.
"Karena aku gak pantas buat kamu, bahkan sekedar jadi teman. Bukannya itu yang temen-temen kamu bilang?"
Thalia menggigit bibir bawahnya sambil menatap mata Farel dengan bola mata yang bergetar.
"Tapi, aku ke sini khusus buat kamu, Farel ..." ungkap Thalia dengan suara yang bergetar.
"Ke sini buat aku? Untuk apa? Sebaiknya kamu pulang, Thalia!" usir Farel sambil mendorong Thalia menjauh dari pintunya. Namun gadis itu malah menggenggam tangan Farel. Sontak Farel menatapnya dengan nanar.
"Thalia! Aku bilang, lebih baik kamu pulang aja!" tekan Farel, tetapi Thalia menggeleng.
"Enggak! Aku gak mau pulang!" tegas Thalia.
"Lagian, kamu gak berhak, ya, ngasih perintah ke aku! Terserah aku, mau datang atau pergi dari rumah aku! Pokoknya aku mau masuk sekarang!" paksa Thalia yang langsung berusaha menerobos Farel, tetapi cowok itu langsung menahan kedua pundaknya.
"Gak! Jangan! Kamu gak boleh masuk!" cegat Farel.
"Kenapa? Kenapa aku gak boleh masuk? Harusnya kamu gak boleh bantah aku!" paksa Thalia, kekuatan Farel benar-benar berbeda jauh dari sebelumnya, Thalia sama sekali tidak bisa menerobosnya.
"Gak boleh, ya gak boleh! Kamu harus sadar Thalia! Bahkan temen-temen kamu gak suka aku bergaul sama kamu!" pekik Farel yang kahirnya berhasil menjauhkan Thalia darinya. Kini terdapat jarak sekitar satu meter di antara mereka berdua.
Thalia menunduk sambil mengepalkan tangannya.
"Aku ... Aku gak akan punya momen kayak gini nanti," tutur Thalia yang kemudian mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Farel.
"Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bisa ketemu sama kamu!" jeritnya.
Namun Farel malah terkekeh.
"Untuk apa kamu ketemu sama aku, Thalia? Untuk menyeret aku ke kesialan? Kamu sengaja, 'kan deketin aku, terus nanti kamu hajar aku! Kamu benci, 'kan sama aku dan mau habisin aku?" tukas Farel yang langsung membuat kaki Thalia lemas.
"Habisin kamu? Enggak, Farel. Aku—"
"Kita gak bisa berhubungan, Thalia. Kenapa kamu gak ngerti juga?" geram Farel yang mulai putus asa.
Farel langsung membuang ludahnya.
"Gak! Kita bukan teman! Bahkan kita seharusnya gak saling kenal! Harusnya aku gak terima beasiswa dari Yayasan sekolahmu!" Napas Farel mulai menderu-deru, rasa sakit yang kini ia rasakan atau pun rasa sakit yang sejak dulu ia pendam tiba-tiba berkumpul jasi satu hingga membuat kepalanya jadi panas.
"Asal kamu tahu, Thalia, hal yang sejak dulu paling aku sesali adalah bertemu dengan kamu!"
Seketika tubuh Thalia membeku mendengar ucapan Farel yang bagaikan sambaran petir di siang bolong.
"Me-menyesal?" lirih Thalia yang kini tercengang.
"Karena kamu, karena aku ketemu kamu, banyak kesialan yang terus aja menimpaku!" tukas Farel.
"Kalau aku dekat-dekat terus sama kamu, maka hidupku pasti akan hancur!"
Sontak tubuh Thalia langsung meluruh ke lantai. Bulir-bulir bening mulai membasahi pipinya, membuat Farel tertegun, tetapi cowok berkacamata itu langsung mengepalkan tangannya.
'Tidak, Thalia tidak menangis karena gue!' ucap Farel yang terus menyangkal hati nuraninya.
"Gara-gara aku, kamu jadi sial? Gara-gara aku hidupmu hancur?" ulang Thalia yang kini sesenggukan.
'Dasar Anak Pembawa Sial! Harusnya kamu mati saja bersama ibumu!'
'Gara-gara dia melahirkan Thalia, kesehatannya semakin menurun, dasar anak pembawa sial!'
Di kepala Thalia tiba-tiba terngiang ucapan-ucapan orang-orang yang menudingnya sebagai penyebab kematian ibunya.
"Enggak!" Thalia menggeleng.
"Enggak! Aku bukan Pembawa Sial!" jerit Thalia yang begitu pilu hingga menyesakkan dada. Atensi Thalia beralih pada Farel. Gadis cantik itu langsung berdiri dan memegang kedua tangan Farel.
"Bukan, aku bukan pembawa sial. Aku ... Aku su—"
"Please, Thalia, pulang," potong Farel yang tiba-tiba meneteskan setetes air mata daei sudut matanya.
"Farel ...."
"Pulang, demi kebaikanmu," tutur Farel lembut sembari menggigit bibir bawahnya. Jantungnya kini terasa diremas. Ia tidak akan sanggup lebih lama lagi melihat wajah basah Thalia yang kini menatapnya lamat-lamat.
Namun Thalia menggeleng.
"Kamu bohong, kamu gak mau aku pulang!" kukuh Thalia. Tangan lembutnya menyentuh pipi Farel sembari menghapus bulir bening yang bergulir di pipi memar cowok itu.
"Kenapa kamu nangis kalau kamu mau aku pulang? Aku kang—"
"Jangan tambah penderitaanku lagi, Thalia. Please," mohon Farel frustasi.
"Ke depannya, lebih baik kita pura-pura gak kenal. Itu yang terbaik," ucap Farel yang mulai sesenggukan.
"Farel ...." ucap Thalia lembut, tetapi cowok itu malah memalingkan wajahnya. Ia langsung menyingkirkan tangan Thalia dari pipi dan tangannya.
"Maaf, Thalia!" ucap Farel lagi yang hendak masuk, tetapi tangannya dicegat oleh Thalia. Cowok berkacamata itu langsung menoleh ke arah Thalia yang kini mengeraskan rahangnya.
"Terus ... terus gimana dengan janji kamu!" tagih Thalia.
"Bukannya kamu janji kalau kita akan terus bersama?"