Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Tidak Bisa Bertemu


Thalia terdiam. Pertanyaan Sheilla sungguh sangat sulit baginya.


"Aku udah bilang—"


"Ya, aku ngerti. Saranku, sebaiknya kamu pastikan lagi isi hati kamu," ujar Sheilla.


Ini sungguh aneh. Biasanya Sheilla adalah orang nomor satu yang melawan Thalia jika gadis cantik itu sedang merundung Farel. Namun sikapnya sungguh baik, seolah Sheilla adalah sahabatnya.


"Tenang, apapun yang aku denger barusan akan kukunci rapat-rapat ..." ujar Sheilla sambil tersenyum kemudian beranjak.


"Kalau mau jenguk Farel, bisa hari ini. Setidaknya kamu harus lihat keadaan dia 'kan, supaya hatimu tenang?"


Sekali lagi Thalia dibuat terkejut. Perkataan Sheilla memang ada benarnya.


'Pokoknya aku harus tanya rumah sakit yang merawat Farel ketika Ibu wali kelas kembali!' tekad Thalia.


"Aku pamit dulu, ya ... susu kotakku sudah habis, Dah!" pamit Sheilla kemudian pergi meninggalkan Thalia sendirian.


Setelah pulang sekolah, Thalia langung pergi keluar kelas tanpa berpamitan dengan ketiga sahabatnya. Di pikiran gadia itu masih memikirkan bagaimana keadaan Farel sekarang.


Di bangku, ketiga sahabatnya melihat tingkah aneh Thalia.


"Gue ngerasa, kok kayaknya Thalia marah sama kita, ya?" ujar Renata. Marina meliriknya.


"Apa karena kita bertindak sendiri? Apa dia takut bakal disalahin kalau terjadi apa-apa sama Farel?" duga Vannesa yang dari tadi khawatir.


"Kok tiba-tiba bahas Farel?" sahut Renata.


"Ya karena gue gak pernah menduga kalau Farel bakalan masuk rumah sakit! Gimana kalau terjadi apa-apa sama dia? Terus gimana kalau Kak Aldo— argh!" Vannesa terduduk.


Sejujurnya sejak tadi ia ketakutan kalau Sang Kekasih akan disalahkan akibat kondisi Farel.


"Gimana? Kita udah keteraluan banget ..." ucap Vannesa.


"Nes! Dia pantas dapat itu! Itu karena dia udah bikin hari Thalia kacau! Kita gak salah! Itu semua salah dia sendiri! Jadi jangan merasa bersalah!" ucap Renata.


"Tapi Ren ... Aku cuman gak mau Kak Aldo dalam masalah ..." lirih Vannesa yang mulai menangis.


"Nes ... tenang. Toh, gak ada yang tahu Farel bisa kayak giti karena ulah siapa," tambah Marina yang sekarang terfokus pada Thalia. Di pikiran gadis itu sekarang adalah, apa yang akan Thalia lakukan jika keadaannya seperti ini. Apakah akan terungkap perasaan Thalia ya g sesungguhnya?


Langkah Thalia menjadi cepat begitu tiba di rumah sakit—tempat Farel dirawat. Ia bahkan langsung mendapatkan ruang perawatan lelaki berkacamata itu.


"Aku hanya ingin melihat keadaannya, kemudian pulang!" sahut Thalia.


Hari ini ia sudah dilempar ke sana kemari karena Farel baru saja pindah ruang perawatan. Sekarang Farel berada di ruang VIP. Satu hal yang membuat Thalia heran. Bagaimana mungkin seorang Farel bisa dirawat di ruang VIP. Ia bahkan sekolah menggunakan dana subsidi. Pasti ada seseorang di belakangnya, tetapi siapa?


"Apa ada cewek kaya yang diam-diam suka sama Farel?" duga Thalia, tetapi ia segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Tidak mungkin!" ujar Thalia, ia pun melangkah sendiri ke ruang VIP, tetapi dirinya langsung dicegat oleh satpam.


"Maaf, dek ... Adek mau jenguk siapa?" tanya satpam ruangan.


"Saya mau jenguk pasien, dengan nama Farel. Kamar nol lima nol tiga!" jawab Thalia.


"Maaf, Dek ... untuk saat ini, Pasien nol lima nol tiga tidak boleh dijenguk olwh sembarang orang! Adek bisa kembali—"


"Saya temannya!" sahut Thalia hendak menerobos satpam tersebut, tetapi tybuh kecilnya bisa dengan mudah diangkat dan diletakkan di luar pintu perawatan.


"Maaf, dek ... untuk saat ini, pasien nol lima nol tiga tidak menerima besukan dari siapapun. Adek bisa pulang," usir satpam itu lagi.


"Kamu berani usir saya? Saya bisa loh, buat kamu dipecat!" ancam Thalia.


Thalia akhirnya keluar dari rumah sakit dan kembali ke mobilnya. Ia sangat gagal untuk menemui Farel. Kenapa juga Farel sampai dijaga ketat begitu?


"Ugh!" Kini Thalia merasa dadanya gatal karena tidak berhasil mendapati apa yang inginkan.


"Kapan Farel kembali? Kapan?" sedihnya.


***


Farel melirik ke sampingnya yabg tebgah disibukkan mengaduk-aduk makanan delivery pesanannya.


"Mau sampai jam berapa Kak Alan di sini? Emangnya besom gak ada TO?" tanya Farel. Sejak ia siuman sampai larut begini, Alan masih setia menemaninya.


"Gue gak masuk besok," jawab Alan enteng.


"Gue udah bilang, Shei ... dia gak akan khawatir sama gue," jawab Alan lagi.


Farel menghela napas. Siapa peduli, Sheilla tahu atau tidak kalau Alan besok masuk atau tidak.


"Maksud saya, Kak Alan emangnya gak pulang? Kenapa malah jaga saya?" tanya Farel.


"Karena nyokap lu baru bisa datang besok. Dia agak shock waktu gue kasih tau ... tapi gue denger, Nyokap lu lagi di luar kota," ujar Alan.


Farel pun terdiam.


"Harusnya Kak Alan gak usah kasih tau ... Ibu pasti jadi kepikiran ..." ujar Farel agak sedih.


Alan mengernyitkan dahinya.


"Yah, justru yang bener, bilang. Nyokap lu adalah orang yang paling berhak tau keadaan lu. Dia bakal lebih sedih lagi kalau lu berusaha menyembunyikan segalanya dan menderita sendirian," nasihat Alan sambil melahap makanannya.


"Tapi dia juga sering menyembunyikan banyak hal dari saya ..." timpal Farel sambil meremas seprai kasur.


"Lu tanya, gak? Lu cecar, gak? Saran gue, lu pedekate dulu, deh sama nyokap lu sendiri," kekeh Alan.


Farel tertegun. Ucapan Alan ada benarnya. Padahal ia hanya tinggal berdua dengan sang ibu, tetapi ia malah memasang benteng di antara dirinya dan sang ibu.


"Kenapa, Kak ... Kenapa Kak Alan peduli sama saya?" tanya Farel seraya menatap Alan yang sedang asyik makan.


"Apa karena Kak Alan kasihan sama saya?" tanya Farel lagi.


"Ya, tepat sekali. Gue kasihan sama lu!" jawab Alan jujur sambil mengunyah ayam di menu makananya. Namun tatapan Alan berubah adi nanar.


"Gue ngerasa, harusnya hidup lu bisa lebih baik lagi ..." ujar Alan.


"Tapi lu malah membiatkan segala hal buruk menimpa lu begitu aja, gak ada perlawanan, gak ada penyelesaian ...." Kini wajah Alan jadi setius.


"Lu seolah membiarkan segalanya ditelan oleh waktu, padahal itu semua gak begitu ..." Alan kemudian menatap wajah Farel ya g juga sedang menatapnya.


"Lu bisa doing something yang ... yang bisa membuat semua kesialan lu menyingkir semuanya! Tapi lu gak lakuin itu!" tukas Alan.


Farel pun menunduk. Sejujurnya ia sangat sedih mendengar kalimat Alan. Dirinya venar-benar terlihat lemah dan sama sekali tidak mau melakukan usaha apapun.


"Saya udah coba, Kak ..." timpal Farel lalu mengangkat kepalanya.


"Apa yang udah lu coba, ha? Lu selalu menerima semuanya—"


"Lu gak tau apa-apa tentang gue, makanya jangan sok tau!" sergah Farel dengan suara yang tercekat.