Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Tidak Beruntung


Farel berjalan menyusuri trotoar sembari memandangi jalanan. Kadang ia bisa mendapatkan inspirasi dari kejadian yang suka terjadi secara random selama perjalanannya menuju sekolah. Namun sayang, buku sketsanya disobek oleh Thalia. Padahal buku itu ia beli dengan uangnya sendiri.


Namun Farel tidak kehabisan akal. Ia menggunakan kertas HVS bekas ujian untuk menuangkan karyanya. Meskipun jadinya tidak bisa dikirim. Ia akan memikirkan cara lainnya untuk menghasilkan uang. Tidak mungkin ia minta pada kedua orang tuanya.


Tepat ketika ia sampaj di depan kelas, tiba-tiba ia berpapasan dengan Thalia yang kini malah memandangnya dari atas kepala hingga bawah kaki.


Farel tertegun. Lagi-lagi ia teringat kejadian semalam.


"Thalia ..." ucap lelaki itu, membuat dahi gadis di depannya berkerut.


"Apaan, sih? Ngapain kamu manggil-manggil aku? Jijik tau, gak!" tukasnya lalu masuk ke kelas duluan.


Farel menghela napas. Ia pun sudah bisa menarik kesimpulan, orang yang menyelamatkannya kemarin bukanlah Thalia. Lelaki itu pun juga ikut masuk ke dalam kelas.


Farel pun duduk di bangku. Rutinitasnya setiap baru sampai sekolah adalah menuangkan segala inspirasi yang ia dapat di jalan. Ia pun mulai tenggelam dalam dunianya sendiri.


Namun, tidak untuk Thalia yang diam-diam mencuri-curi pandang pada Farel. Diam-diam ia bernapas lega karena Farel baik-baik saja.


'Setidaknya, dia bisa disuruh-suruh lagi setelah ini,'gumam Thalia dalam hati. Ia pun memgambil ponselnya dan mulai berselancar di dunia maya.


"Oh my god, Thalia!" Tiba-tiba salah satu gadis dari gengnya muncul, membuat atensi Thalia beralih.


"Thalia!!" seru Vannesa heboh melihat Thalia yang sudah segar bugar. Gadis itu segera menghampiri sahabatnya.


"Wah, Thalia! Lu udah sehat?" seru Vanesa langsung duduk di samping Thalia.


Thalia hanya mengangguk sambil tersenyum, tetapi matanya terfokus pada layar ponselnya.


Vannesa langsung memeluk sahabatnya itu.


"Ih, tau, gak, Thal ... Gak ada lu gak rame sumpah! Rasanya dunia sepi kalau lu diem, apalagi kalau lu sakit ..." Vannesa menyenderkan kepalanya di bahu Sang Sahabat sambil bersikap manja.


Thalia pun meletakkan ponselnya dan memeluk Vannesa.


"Iya, ih ... rasanya lelah banget aku kemarin ... seharian cuman bisa diem aja karena sakit," bohong Thalia. Ia bahkan diam-diam melirik Farel yang sibuk sendiri dengan kertas HVS-nya.


'Apa yang si cupu itu lakukan?' pikir Thalia sambil memonyingkan bibirnya, apalagi ia melihat senyum seorang Farel tiba-tiba mengembang, membuat kerutan di dahinya bertambah.


"Oh, ya ampun! Gue lupa!" seru Vannesa yang langsung meneggakan tubuhnya.


Atensi Thalia pun beralih pada Sang Sahabat.


"Lupa apa?" tanya Thalia begitu polosnya.


"Gue lupa sumpah! Hari ini ada PR matematika! Gue belum ngerjain sama sekali!" panik Vannesa sambil mengambil bukunya di dalam tas. Ia membukanya berharap ingatannya salah.


Namun kedua pundaknya langsung turun ketika halaman buku PR nya belum bertambah.


"Yah ... gue belum ngerjain, gimana, dong Thal ... Lu udah ngerjain belum?" tanya Vanessa agak merajuk.


Thalia sendiri tidak ingat kalau ada pelajaran matematika hari ini. Ia bahkan lupa membawa bukunya.


"Yah, gimana dong? Eh?" Kini mata Vannesa tertuju pada Farel yang sedang asyik dengan dunianya sendiri. Gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi lelaki berkacamata tebal itu.


Farel tersenyum puas dengan hasil karyanya hari ini. Ia tidak bisa berhenti memandanginya. Suasana hatinya tidak pernah sebagus ini hingga menghasilkan karya yang indah.


Namun tiba-tiba kertas yang sedang ia pandangi hilang begutu saja, Farel langsung menoleh ke arah kertas itu pergi.


"Wah ... bagus banget ..." puji Vannesa, tetapi setelah itu ia menyeringai.


Farel yang sudah biasa pun mulai wasapada.


"Kembalikan!" pinta Farel agak memaksa.


"Apa? Lu bilang apa? Gue gak denger!" ujar Vannesa sambil mendekatkan telinganya pada Farel.


"Kembalikan!" Farel masih berusaha bersabar.


Vannesa pun terpikir ide iseng, ia berlagak seolah mau merobek kertas yang berisi gambar Farel, membuat lelaki itu terkesiap.


"Kembalikan!" Kini tangan Farel berusaha meraih kertas itu, tetapi Vannesa berhasil menjauhkannya hingga Farel tak mampu meraihnya.


"Tenang! Bakal gue balikin!" ketus Vabnesa kemufian kembali memandangi gambar di kertas bekas ujian itu.


"Takutan amat, sih lu!" sinis Vannesa, lalu kembali menyeringai, ia melirik ke arah wajah Farel yang sedang mrnahan emosi.


"Bagaimana kalau lu ngerjain PR gue?" Vannessa mulai buat penawaran.


"Ngerjain PR lu?" ulang Farel agak tak terima.


Vannesa sontak menggebrak meja lelaki berkacamata tebal itu.


"Kok lu songong, sih? Lu lupa kalau sama gue dan geng gue, lu wajib pake aku-kamu!" tegas Vannesa.


Diam-diam Farel mendelik, padahal biasanya ia bicara menggunakan "gue-elu", tetapi entah apa yang membuat para gadis menyebalkan ini bahkan memaksa caranya menyebut mereka.


"I-iya—"


"Oke, kalau gitu gue ambil buku PR gue dan PR Thalia!" Vannesa langsung berlari ke mejanya dan mengambil buku PR nya.


"Thalia, mana buku lu?" pinta Vannesa.


"Buku apa?" tanya Thalia.


"Buku apa, kek. Lu juga belum ngerjain PR 'kan? Sekalian tuh, si Cupu yang ngerjain!" ujar Vannesa.


Thalia bergumam.


"Daripada lu dihukum, udah buruan, buku apa aja!" pinta Vannesa. Thalia pun mengambil sebuah buku tulis dan memberikannya pada Vannesa.


Vannesa pun segera pergi ke meja Farel lalu melempar buku tulis miliknya dan milik Thalia.


"Nih, kerjain PR matematika buat gue dan Thalia! Kerjain yang bener! Awas kalau nilai kita jelek, gak cuman gambar ini yang gue robek, tapi semua gambar lu!" ancam Vannesa yang tahu bahwa gambar di tangannya sama dengan nyawa seorang Farel.


Farel hanya menggigit bibir bawahnya. Diam-diam tangannya mengepal. Ia paling benci ketika dirinya tak berdaya seperti ini.


"Woy!" Vannesa menggebrak meja lagi hingga Farel terhenyak.


"Denger, gak lu?" bentaknya.


Farel hanya bisa menunduk sambil mengiyakan perintah Vannesa, seketika sebuah senyuman pun muncum di wajah judel gadia itu. Ia pyj kembali ke mejanya dan bercanda kembali bersama Thalia.


Farel diam-diam melirik sinis ke arah 2 gadis itu. Mulutmya komat-kamit melontarkan sumpah serapah berupa kebun binatang untuk 2 gadis itu. Ia berharap mereka mendapat balasannya.


Meskipun kesal, Farel pun tetap mengerjakan PR 2 gadis yang sangat ia benci. Masih untung baru 2, biasanya juga 4.


Hingga jam pelajaran matematika dimulai. Bu Vera langsung meminta semua murid mengumpulkan PR mereka di atas meja.


Bu Vera tersenyum sambil memeriksa setiap nama yang tertera di depan buku PR.


"Ya, semuanya sudah mengerjakan, ya!" seru Bu Vera.


Sementara itu Vanessa dan Thalia saling lirik. Tak lupa Thalia melirik ke arah Farel—Sang Pahlawan dadakannya secara diam-diam sembari tersenyum kecil.


"Karena semua sudah mengerjakan, ibu akan memilih 2 orang untuk mengerjakan soal yang kemarin jadi PR!" Sontak semua murid terkesiap dan saling lirik. Kira-kira siapakah murid yang sangat tidak beruntung hingga namanya disebut oleh Bu Vera?


***