Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Kelepasan


Seketika atensi semua orang beralih pada Thalia Farel dan Sheilla. Sheilla yang merasa tak nyaman pun menghela napas


"Udah lah, Rel ... Kamu duduk sama dia aja," celetuk Sheilla yang langsung membuat Thalia menoleh.


"Apa-apaan ucapan kamu, Shei?" tukas Thalia ketus.


Sontak Farel menepuk jidatnya. Masalah apa lagi yang timbul kali ini?


"Ucapanku? Kenapa emangnya?" bingung Sheilla.


Kini Thalia menghadapkan tubuhnya ke arah Sheilla.


"Kamu seolah-olah menyerahkan Farel buat aku!" tekan Thalia dengan mata yang menyalak.


"Hah?" Sheilla sama sekali tidak mengerti penuturan Thalia. Yang Jelas, ia sama sekali tidak bermaksud begitu.


"Asal kamu tahu, ya Shei! Farel itu milik aku! Jadi, terserah aku mau apain dia! Kamu gak usah ikut campur untuk menentukan keputusan yang akan dia ambil! Itu adalah hakku!" tegas Thalia dengan suara yang menggelegar hingga Sheilla mematung.


"O-oke ..." ucap Sheilla. Sementara Farel hanya menghela napas. Thalia langsung menoleh ke arah Farel yang masih setia berdiri di sampingnya.


"Pokoknya aku gak mau tahu! Kamu harus duduk sama aku! Ayo!" Thalia langsung menarik Farel masuk ke dalam kelas melewati Sheilla.


Sementara di dalam kelas sudah ada Vannessa dan Renata yang duduk sebangku seraya menatap kehadiran Thalia dan Farel.


"Guys! Aku duduk sama Farel!" cetus Thalia sambil melirik Farel. Thalia pun mencari bangku kosong di urutan ketiga.


"Kita duduk di sini!" titah Thalia yang langsung melepas tangannya dan meletakkan tas yang ia gendong di bangku pilihannya.


Namun Farel hanya melirik ke sekeliling, tubuhnya yang tinggi pasti akan menghalangi orang yang duduk di belakangnya.


"Thalia, aku gak bisa duduk di sini ... Uhm, aku gimana kalau kita ke belakang aja?" tawar Farel.


"Gak bisa! Aku nanti gak kelihatan kalau duduk di belakang!" tolak Thalia.


"Tapi, Nanti orang lain yang gak kelihatan kalau aku duduk di sini," balas Farel.


"Ya, biarin aja mereka! Itu urusan mereka! Siapa suruh duduk di belakang!" timpal Thalia yang langsung duduk di bangku pilihannya sambil melipat tangannya.


Farel sekali lagi menghela napas. Jika sudah seperti ini, Thalia tidak akan mendengarkan siapapun. Ia pun hanya duduk di samping mengikuti keinginan Thalia. Farel menyimpan tasnya di bangku yang Thalia pilihkan untuknya sambil diam-diam melirik ke arah gadis itu. Wajah Thalia memerah dan bibirnya mengkerucut.


Farel pun menatap ke depan sambil menunggu bel masuk. Toh, tidak mungkin Thalia akan ikut upacara dengan raut wajah seperti itu. Nanti dia juga lelah sendiri.


Hari ini pelajaran belum dimulai, hanya diisi dengan kontrak belajar dengan para guru. Belum sempat Farel berdiri dari tempat duduknya, tiba-tiba ia didatangi oleh murid lelaki di kelasnya.


"Rel, lu ikut ke lapangan 'kan? Anak kelas sebelah ngajakin taruhan, nih!" celetuk murid itu.


Farel langsung mengangguk.


"Pasti lah, gue ke Kantin dulu, abis itu ke lapangan," ujar Farel.


"Oke! Kalau gitu, gue dan anak-anak tunggu. Awas lu, jangan ngilang lagi!" Murid itu melirik ke arah Thalia.


"Izin dulu, tuh sama cewek lu juga!" guraunya yang langsung mendapat perhatian dari Thalia dan tiga sahabatnya yang duduk tepat di seberang mereka.


"Cewek? Apaan, sih? Sana pergi lu!" usir Farel yang langsung mendorong teman sekelasnya sampai keluar kelas.


Farel pun kembali ke tempat duduknya.


"Uhm, Thalia, aku beli pesanan kamu dulu, oke? Kamu tunggu di sini, ya," ujar Farel langsung berlari ke luar kelas tanpa menunggu respon Thalia.


Tepat setelah Farel pergi, Vannessa dan Renata langsung menghampirinya.


"Thalia! Gue gak salah denger 'kan? Tadi lu dibilang ceweknya Farel? Sinting dasar!" gerutu Renata sambil memijat keningnya.


"Iya! Gak tahu apa, level Thalia itu tinggi! Farel? Ewh!" jijik Vannessa.


Sementara Marina hanya berdiri di belakang Vannessa dan Renata sembari menelisik ekspresi Thalia. Ia penasaran, bagaimana reaksi Thalia sekarang. Namun Gadis itu ternyata hanya terdiam.


"Thalia, kayaknya lu harus mulai jauh-jauh dari Farel! Mana cocok, cowok culun kayak dia jadi cowok lu? Jangankan cowok, jadi temen aja gak cocok—"


Tiba-tiba Thalia menggebrak meja hingga membuat kedua sahabatnya terkesiap. Ia langsung menoleh sambik menatap ketiga sahabatnya dengab sorot mata yang tajam.


"Aku mau sendiri hari ini!" ketusnya yang langsung pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.


"Pipi gue ditampar tadi pagi karena gue bilang Farel gak pantas untuk jadi temannya!" dingin Marina.


Renata menghela napas panjang.


"Mau bagaimana pun, kita harus buat Thalia sadar!" tekad Renata.


...****************...


Thalia berjalan sendiri menyusuri lapangan, ia ingat, Farel akan ikut bergabung dengan beberapa anak cowok yang kini sedang unjuk kebolehan di lapangan. Thalia pun langsung ambil tempat untuk menonton aksi Farel nanti.


"Kamu juga mau nonton?" Tiba-tiba ada siara seorang perempuan yang terdengar berat dan dingin di sampingnya. Thalia pun menoleh dan langsung terlonjak kaget.


"Sheilla?" serunya.


Sang empunya nama malah tersenyum lebar, tetapi terlihat agak menakutkan.


"Iya. Kamu mau lihat Farel, ya?" duga Sheilla yang masih tersenyum.


Thalia reflek menjauh.


"Bisa, gak, kamu berhenti senyum dan jangan sok akrab dengan aku!" ujar Thalia langsung memalingkan wajahnya.


"Yah, maaf, deh ... Maklum, sahabat aku 'kan udah pindah sekolah, terus teman sebangku aku udah lebih dari setahun duduk sama kamu ..."


Thalia langsung menoleh dengan mata melotot ke arah Sheilla.


"Maksud kamu, Farel?" tekan Thalia yang langsung mendapat anggukan kepala Sheilla dengan wajah santainya.


Thalia mengeraskan rahangnya.


"Farel itu milik aku! Jadi dia harus nurut sama aku!" kesal Thalia.


"Kamu rakus, sih," tukas Sheilla yang sekali lagi membuat Thalia melotot.


"Ra-rakus? Kamu bilang aku rakus?" Tiba-tiba suara Thalia meninggi. Namun sekali lagi, Sheilla menjawabnya dengan anggukan kepala dengan ekspresi santai.


"Ugh! Jangan asal tuduh, ya,—"


"Terus, kenapa Farel gak boleh duduk sama orang yang dia mau? Kenapa harus sama kamu? Padahal, kamu bisa duduk sama sahabat kamu," ujar Sheilla.


Thalia hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menatap Sheilla tajam.


"I-itu—"


"KAK FAREL!" Tiba-tiba ada jeritan segerombol anak cewek dari sisi lapangam dan lantai dua dan tiga. Seketika atensi Thalia beralih. Sorot mata tajamnya kini tertuju pada setiap gadis yang meneriaki nama Farel.


"KAK FAREL, I LOVE YOU!"


Sontak mata Thalia melotot mendengar ucapan itu, ia langsung mencari sosok Farel hingga membuat para gadis histeris. Rupanya Farel sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah gelas jus.


"KAK FAREL, LIHAT SINI! LIHAT KE LANTAI DUA!" jerit para gadis dari lantai dua. Hebatnya, Farel malah menghentikan langkahnya dan mendongak ke atas.


"KAK FAREL!" jerit para gadis di lantai dua sambil melambaikan tangan. Farel pun menorehkan senyumnya sambil membalas lambaian tangan itu. Thalia yang melihatnya langsung melotot.


"Farel ..." geramnya.


"KAK FAREL, MAU JADI PACARKU, GAK?" jerit garis lainnya yang membuat emosi Thalia baik ke ubun-ubun.


"Dasar, adik kelas gak tahu diri!" gerah Thalia hendak pergi, tetapi dicegat oleh Sheilla.


"Biarin aja ..." ujar Sheilla. Sontak Thalia menoleh sambil menarik tangannya.


"Biarin? Aku gak bisa biarin kalau sampai cowok yang aku suka direbut cewek lain!" pekik Thalia yang langsung membuat suasana lapangan hening seketika.


Sontak, Thalia terasadar dengan apa yang barusan ia katakan.


"Cowok yang kamu suka? Maksudnya Farel?"


Thalia langsung terkesiap mendengar ucapan Sheilla. Ia pun menoleh ke arah Farel yabg sedang berdiri mematung seraya menatapnya dengan nanar.


"Ugh! Menyebalkan!" Thalia langsung menutup wajahnya dan berlari meninggalkan lapangan.