Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Memangnya Kita Teman?


Thalia berlari ke kamarnya dan langsung menutup pintu rapat-rapat. Ia langsung bersandar di belakang pintu dan kakinya meluruh begitu saja. Kedua tangannya terus memegang dada kiri yang terus bergetar akibat debaran jantung yang menjadi-jadi.


"Aku kenapa?" paniknya bingung sendiri. Ia berusaha mengingat-ingat, apa yang terjadi barusan. Apa yang Farel lakukan hingga membuatnya jadi tak karuan begini.


Ya, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba cowok culun itu mengatakan bahwa dirinya cantik. Hanya itu. Lagipula, Farel memang harus menganggap bahwa Thalia cantik! Jika tidak, maka Thalia pasti akan menghukumnya. Gadis 13 tahun itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan-pelan.


Ia mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa panas.


"Ya, wajar, dong kalau Farel bilang aku cantik! Justru aneh kalau dia bilang aku gak cantik," tekannya sekali lagi. Thalia mengelap peluh yang keluar di keningnya.


"Lagian, ngapain juga aku deg-degan gini gara-gara celetukan Farel? Lemah hati banget, sih!" gerutu Thalia. Ia memejamkan matanya dan mengambil napas lagi. Ia melakukannya beberapa kali sampai ritme jantungnya kembali seperti semula.


Thalia menghela napas lega sembari memandang ranjangnya.


"Andai aja Kak Alan yang bilang kayak gitu, pasti aku sudah senang banget—" Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


"Ck!" decak Thalia.


"Padahal aku udah suruh dia nunggu aku di tempat dia berdiri, malah ngeyel datang ke sini!" kesal Thalia.


"Ya!" ujarnya lantang dengan penuh penekanan.


"Maaf, Non Thalia ..." Sontak mata Thalia membukat, ternyata orang yang mengetuk pintunya bukan Farel. Thalia pun langsung berdiri dan membuka pintu kamarnya. Ia langsung menemukan seorang wanita oaruh baya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Bibi?" ujar Thalia menyenut ART-nya itu. Sang Asistem Rumah Tangganya itu pun menorehkan senyum hangatnya.


"Maaf, Non Thalia, kalau Bibi ganggu. Tapi itu, temen Non Thalia dari tadi berdiri aja di ruang tengah. Bibi minta duduk di Sofa, dia gak mau. Katanya nunggu Non Thalia ..."


Thalia tertegun. Ternyata Farel benar-benar penurut. Padahal dia bisa saja duduk di sofa dan ketika Thalia muncul kembali lagi berdiri di tempatnya berdiri sekarang.


"Bibi kasihan. Bibi tawarin minum dan cemilan juga gak mau. Dia kukuh nunggu Non Thalia datang dulu," ujar ART-nya itu sembari menurunkan alisnya.


Thalia menarik napas dalam-dalam.


"Oke, Thalia turun, tapi Thalia mau ganti baju dulu. Bibi siapin orange jus, ya. Dan ... cake tang Thalia pesen udah dateng 'kan, Bi?" tanya Thalia.


Sang ART langsung mengangguk.


"Sudah, Non, Bibi simpan di Kulkas," beber AET-nya.


"Oke, kalau gitu, Bibi nanti bawain orang jus sama cake itu dua potong, ya. Thalia mau makan sama Farel." Sang ART langsung mengangguk dan pergi mengerjakan tugasnya. Sementara Thalia menutup pintu kamarnya sambil senyum-senyum sendiri.


***


Thalia kini sudah berganti baju dengan dress sebawah lutut berwarna merah muda, sangat cocok dengan kulit putuh beningnya. Ia turun dan mendatangi Farel yang masih setia berdiri di tempatnya sambil memanyunkan bibirnya. Thakia hanya geleng-geleng kepala.


"Dia ngapain, sih?" gelinya.


Thalia pun menghampiri Farel. Langkah kaki Thalia langsung bisa disadarinoleh Farel, sehingga Cowok Berkacamata itu menoleh ke arahnya.


"Thalia, mau sampai kapan kamu suruh aku berdiri di si—" Tiba-tiba tangannya diraih oleh Thalia. Gadis itu menatapnya lekat-lekat.


"Ayo, ikut aku ke kamar. Ada yang harus kamu lakukan," ujar Thalia.


Dahi Farel langsung mengernyit. Apa yang harus ia lakukan? Mungkinkah belajar dandan lagi? Bukankah Thalia kapok didandani oleh Farel? Namun, Farel sama sekali tak bisa berkutik dan berjalan mengikuti kemana Thalia membawanya.


Kini Farel duduk bersimpuh di atas bantal berwarna merah muda. Jika dipikir, barang-barang Thalia hampir semuanya berwarna merah muda. Farel pun diam-diam melirik Thalia yang sibuk menatao kayar tabletnya. Kulit Thalia yang putih bening dan tiadak ada jerawat sama sekali memang sangat cocok dengan warna merah muda sehingga gadis ini semakin terlihat cantik. Ia jadi tak habis pikir, kenapa Alan bisa tidak suka riasan Thalia waktu itu.


Pintu kamar Thalia tiba-tiba diketuk, membuat Farel terhenyak. Ia reflek menoleh ke arah pintu.


"Uhm, gue—eh, maksudnya, biar aku yang bukain," inisiatif Farel. Lelaki itu langsung berdiri dan pergi membuka pintu. Sementara Thalia kembali menatap layar ponselnya.


Di balik pintu, ART Thalia datang dengan membawa namoan berisikan dua gelas orange jus dan dua piring cake tiramisu.


"Makasih, ya Bibi," ujar Thalia sambil tersenyum. Sang Bibi membalas senyum Thalia dengan senyum hangat khas miliknya. Kemudian ART Thalia keluar begitu saja dari kamar.


"Tutup pintunya lagi, Farel!" surub Thalian yang langsung menghadapkan tubuhnya ke meja kecil berisikan orang jus dan cake tiramisu. Farel segera menjalankan perintah Thalia dan menghampirinya.


"Uhm, ma-maaf, Thalia. Sebenarnya, tugas apa yang harus aku lakuin?" tanya Farel penasaran, tetapi hal itu malah membuat Thalia yang sedang mencicipi kuenya terhenti. Gadis Cantik itu menatap sinis ke arah Farel.


"Duduk!" titah Thalia tanpa menajwab pertanyaan Farel. Farel hanya melioat bibirnya dan mengikuti perinta Thalia sambil bersimpuh.


"Makanlah kue ini, aku beli untuk kita berdua," sahut Thalia lagi. Farel pun mengikuti perintah Thalia, tetapi tangannya terhenti. Ia langsung mengangkat kepalanya dan menatap Thalia sambil mengernyit.


"Makan? Tugasku cuman makan kue Thalia?" tanya Farel agak tak percaya. Thalia yang masih menikmati kuenya mengangguk dengan santai.


"Jusnya juga jangan lupa diminum. Itu untuk kita berdua juga," ujar Thalia santai. Namun hal itu justru menambah kerutan di dahi Farel.


"Jus juga?" tekannya lagi.


Thalia langsung memutar bola matanya.


"Kamu banyak tanya, deh! Aku suruh makan, ya makan!" sarkas Thalia.


"I-iya!" reflek Farel panik. Ia langsung mengambil sendok dan memotong sedikit kue tiramisu di depannya.


'Duh, ini beneran gak diracunin 'kan? Kok kayaknya Thalia agak maksa, sih?' curiga Farel dalam hati.


"Ngapain kamu lihat-lihat aku?" Sontak Farel tersentak mendengar tudingan Thalia.


"Uhm, e-enggak! A-aku cuman ..." Tiba-tiba isi kepala Farel blank. Mana mungkin ia bilang bahwa dirinya mencurigai Thalia.


"Cuman apa?" cecar Thalia yang kini menatap lekat-lekat ke mata Farel.


'Apa dia mau bilang kalau saat makan pun aku terlihat cantik?' duga Thalia dalam hati.


"Uhm, gi-gini ..." Farel meletakkan sendok tiramisunya. Ia menarik napas panjang.


"Uhm, a-aku cuman heran aja, kenapa tiba-tiba kamu ajak aku ke rumah kamu cuman buat makan kue ..." ucap Farel sedemikian rupa agar tak dicurigai Thalia.


Seketika kedua sudut bibir Thalia turun. Ia lalu meminum orang jusnya dan menghela naoas kasar.


"Masa kamu gak peka, sih?" protes Thalia yang makin membuat Farel was-was. Peka? Apakah ada hal yang terjadi sampai Farel harus peka?


"Uhm, a-aku benar-benar gak tahu, Thalia ..." beber Farel berusaha menjelaskan.


Thalia bedecak kesal.


"Hari ini adalah hari bahagia. Jadi aku mau merayakannya sama kamu. Emang gak boleh?" jawab Thalia dengan nada ketus.


Farel tertegun.


"Uhm, bu-bukannya gak boleh. Tapi, kenapa kamu merayakan hari bahagia sama aku?" tanya Farel lagi.


Thalia yang kesal membanting piring kuenya ke atas meja.


"Ih, kenapa masih banyak tanya juga, sih? Nyebelin, deh!" gerut Thalia langsung memutar badannya membelakang Farel.


"Uhm, Ma-maaf, Thalia. Bukannya hari bahagia itu harus dirayakan sama orang terdekat. Minimal teman. Dan ..." Farel mengepalkan tangannya.


"Memangnya, kita ini teman?"


Sontak kedua mata Thalia membulat.