Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Ketinggalan Berita


Farel berlari mengejar Thalia dan Renata ke Kantin. Ia bisa melihat di Kantin ada sebuah meja yang begitu penuh dan ada Thalia di sana duduk di samping Alan sambil bergelayutan di lengan kakak kelasnya itu. Farel yang melihat itu tanpa sadar malah mengepalkan tangannya.


"Dasar genit!" gerutunya, tetapi dahinya malah mengernyit. "Genit? Terus? Emang dia genit ke Kak Alan! Apa masalahnya buat gue?" gumam Farel langsung menggelengkan kepalanya. Ia kembali menyisir sluruh isi Kantin, mencari sosok Reyna—orang yang membuat suasana gempar di antara para gadis sekolah ini.


Farel tertegun begitu ia menemukan Reyna sedang duduk sendirian sambil menubrukkan kukunya tak jauh dari tempat duduk Alan. Farel langsung mendatangi Reyna.


"Apa yang lu lakuin?" sahut Farel yang mengalihkan perhatian Reyna.


"Farel?"


Farel langsung duduk di depan Reyna seraya menatapnya sinis.


"Kenapa lu gangguin ketenangan Thalia. Kenapa lu nyebarin kalau Sheilla pacaran sama Kak Alan! Lu bukannya sahabatan sama Sheilla? Kenapa menjerumuskan sahabat lu sendiri?" Farel menghentikan segala pertanyaan yang muncul di kepalanya saat menyadari tangan Reyna yang semakin gemetaran.


"Gu-gue ... Ini semua salah Sheilla! Dia yang sok kecantikan dan lupain sahabatnya! Dia lupain gue! Biar tahu rasa! Dan lu gak usah ikut campur!" Reyna bangkit dan berlari meninggalkan Farel sendirian. Lelaki itu hanya bisa menatap kepergian Reyna dengan nanar.


"Gue gak nyangka, seorang sahabat bahkan bisa mengkhianati sahabatnya—"


"ALAN!! BRENGSEK LU!!" Tiba-tiba terdengar suara Alvin yang begutu lantang. Sontak Farel langsung menoleh dan menemukan Alan dengan cairan kental di sudut bibirnya membuat para cewek yang berkerumun di sana bungkam.


Farel ingin mendatangi Alan, tetapi Alan sama sekali tidak membalas. Dia hanya menepuk pundak Alvin dan pergi begitu saja. Para cewek pun bubar termasuk Thalia sehingga menampakkan bahwa Sheilla yang meletakkan kepalanya di atas meja Kantin.


"Shei—" Farel mau menghampiri Sheilla, tetapi Alvin yang masih di sana berusaha membangunkan Sheilla.


"Sheilla kenapa?" gumam Farel.


"Farel? Kamu ngapain disitu?" seru Thalia yang menyadari keberadaannya. Farel pun menoleh.


"Uhm, gu—maksudnya a-aku ..."


"Kamu beliin kita jus dong, biasa, ya! Haus, nih!" seru Vannessa yabg entah kapan datangnya.


Farel hanya bisa mengangguk. Thalia dan ketiga sahabatnya pun pergi. Sementara Farel langsung menghampiri Alvin yang masih berusaha membangunkan Sheilla.


"Kak, Shei kenapa?" Farel hebdak menyentuhnya, tetapi ia bisa merasakan suhubtubub Sheilla yang begitu panas.


"Gak tahu, badannya panas banget. Apa iya, dia pingsan karena demam? Separah itu kah demamnya?" bingung Alvin.


"Mending dibawa ke rumah sakit, Kak ... Uhm, gue panggil guru, ya ..." usul Farel.


"Iya, tolong, ya," pinta Alvin yang dahinya terus saja berkerut seraya memandangi Sheilla.


***


"Woy, Cupu! Lelet banget lu! Cuman disuruh beli jus aja!" seru Renata yang langsung bisa menyadari keberadaan Farel.


Ma-maaf, ta-tadi—" Renata langsung merebut kantong yang Farel pegang.


"Ih, udah gak dingin lagi!" gerutunya yang membuat Thalia langsung menatap Farel dengan sinis.


"Farel!" pekik Thalia yang sontak membuat Farel terhenyak.


"Ma-maaf ..."


"Bodo amat! Aku gak mau tahu, kamu beli lagi yang baru dan yang itu buang aja!" omel Thalia.


Farel pun mengangkat kepalanya.


"Beli? Tapi ..."


"Apa? Gak punya duit? Salah sendiri, kasih jus yang gak dingin ke kita!" sungut Vannesa.


"Pokoknya, kamu harus beli lagi yang baru pake uang kamu! Awas kalau berani ngelawan!" ancam Renata.


Farel segera melirik ke arah Thalia, berusaha mendapat pembelaan, tetapi Thalia malah memelototinya.


"Lakuin yang mereka bilang!" bentak Thalia. Farel pun tak dapat berkutik. Ia segera keluar dari kelas dan melakukan apa yang disuruh oleh Thalia and the geng.


Farel akhirnya terpaksa menuruti keinginan Thalia. Lelaki itu dengan malas berjalan menuju Kantin dan tak sengaja melihat Alan yang .alah sedang termenung sendirian. Farel jadi oenasaran, apa yang sebenarnya tadi terjadi. Ia terlalu fokus bicara pada Reyna sehingga melewatkannya.


Namun Farel menggelengkan kepalanya. Kenapa juga ia begitu peduli. Memangnya dia punya andil apa? Lagipula, jika Farel menayankan tentang Sheilla ke Alan, yang ada dia akan dituduh punya perasaan pada gadis itu. Farel sangat tahu sebesar apa api cemburu yang bisa membakar hati seorang Alan jika ada orang lain yang memberikan perhatian pada Sheilla. Ia lebih baik mengikuti perintah Thalia saja.


Akhirnya Farel memesan kembali jus yang tadi dipesan oleh Thalia and the geng. Ia menghela napas karena sekali lagi uangnya dipakai untuk keempat gadis itu. Semoga saja Thalia masih berbaik hati mau menggantikan uangnya.


Saat Farel selesai membeli jus dan hendak kembali tiba-tiba dirinya dihadapkan oleh seseorang. Mata Farel pun mengerjap ketika mendapati lelaki itu menatap lurus ke arahnya.


Farel langsung ke pinggir jalan.


"Maaf, Kak ... Gak seharusnya gue ngalangin jalan lu ...." ujar Farel sambil menuduk. Namun tak ada jawaban dari lelaki yang merupakan kakak kelasnya itu. Kini Alan—Sang Kakak Kelas yang menghadangnya malah berdiri tepat di depannya yang sudah ke pinggir jalan.


"Rel ... Lu ada waktu?" tanya Alan yang membuat Farel mengangkat kepalanya sambil mengernyit. Farel malah jadi gagu karena harus jawab apa.


"Gue mau bicara sama lu ... penting!" tekan Alan.