
"Jawab yang benar Farel!" tuntut sang Mama.
Farel menelan salivanya. Lidahnya terasa kelu, tetapi hatinyabterus mendorong untuk bicara.
"Fa-farel ... Sebenarnya Farel sudah ke Panti Asuhan, Ma ...."
"Terus?"
"Tapi, Farel gak masuk ke sana sama sekali—"
"Kenapa?" cecar sang Mama.
Farel mengangkat kepalanya dengan sekuat tenaga seraya menatal lurus ke arah sang Mama.
"Farel gak rela kalau Alika diserahkan ke sana, Ma! Kita masih keluarganya—"
PLAK!
Sebuah tamparan lolos saja menimpa pipi Farel. Sontak cowok berkacamata itu shock. Seumur hidup, ia tidak pernah ditampar oleh ibunya sendiri.
"Dia adalah pengkhianat, Farel! Dia bagian dari pengkhianatan Papa kamu! Kamu masih menganggap dia keluarga? Dia adalah Anak Haram!" sergah sang Mama. Seketika, bayi di dalam gendongan Farel bergerak. Farel langsung menimang-nimangnya.
"Mama, jangan keras-keras bicaranya!" protes Farel yang seketika menohok ibunya. Apa-apaan putranya ini?
"Jangan keras-keras? Kenapa? Biar saja! Biar bayi itu juga tahu kalau dia Anak Haram!" tuding sang Mama sambil menunjuk Alika.
"Mama! Tapi dia masih bayi! Mau jadi Anak Haram atau bukan, dia tidak bisa memilih! Lagipula, Papa sudah menikah dengan ibunya—"
"Tapi menikah siri, Farel! Kamu tahu, menikah siri itu apa?" tantang sang Mama.
Dahi Farel mengernyit. Sebenarnya ia juga tidak begitu paham, apa itu menikah siri. Cowok berkacamata itu pun terpaksa menggeleng.
"Baiklah, Mama jelaskan, supaya kamu tahu, ya!" ujar sang Mama yang darahnya mulai mendidih.
"Asal kamu tahu, menikah siri itu adalah pernikahan yang hanya dilakukan secara agama, tetapi tidak dicatat oleh negara. Kamu tahu kenapa?" tanya sang Mama yang langsung mendapat gelengan kepala Farel.
"Karena pernikahan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi! Itu adalah cara orang jaman sekarang menghalalkan perbuatan zina mereka! Padahal pernikahan itu seharusnya dilakukan secara terang-terangan bahkan kalau perlu diumumkan!" tekan sang Mama.
"Tapi tidak dengan menikah siri, Farel. Itulah kenapa, ibu bayi ini sama sekali tidak mendapatkan hak waris dari Papa kamu sekalipun dia istrinya!"
Kepala Farel tiba-tiba pusing. Ilmu apa yang barusan sang Mama lontarkan. Pernikahan siri sah secara agama, tetapi kenapa disebut sebagai zina? Ia jelas tahu apa itu zina karena ada di pelajaran agama, tetapi apa itu pernikahan siri?
"Kamu pasti bingung, Farel. Nanti setelah pikiranmu lebih matang, kamu juga akan mengerti," tutur sang Mama yang memergoki wajah putranya yang linglung.
"Jadi, bagi Mama, bayi ini, tetaplah anak haram! Dia bukan tanggung jawab Papamu ataupun kita! Dia tanggung jawab Ibunya, tanggung jawab keluarga ibunya!" tekan Mama lagi.
"Tapi, tapi kenapa neneknya malah menyerahlan bayi ini pada kita, Ma?" heran Farel.
"Ya, apa lagi? Itu karena dia mau melepas tanggung jawab mereka dan mencari -cari alasan! Jadi lebih baik, kamu serahkan saja bayi ini ke Panti Asuhan! Mama juga tidak sudi mengurusnya!" sinis sang Mama sambil memalingkan wajahnya.
"Sekarang kamu sudah mengerti, Farel?" sahut sang Mama yang tak kunjung mendapat tanggapan dari putranya. Namun, Farel malah menggeleng sambil mengangkat kepalanya.
"Tapi, Ma ... bagaimana, bagaimana jika Farel mau mengurusnya? Farel mau mengurus Alika," ungkapnya yang langsung membuat kepala sang Mama meledak.
"Kamu mau urus dia? Kamu memangnya sudah bisa cari duit? Sekolah saja, kamu masih dapat belas kasihan dari subsidi teman-teman kamu yang kaya itu!" Bak bunyi guntur yang menggelegar, biasanya ucapan begitu hanya keluar dari mulut teman-teman Thalia, tetapi kali ini dari mulut sang Mama, membuat setenagh energi menguap.
"Mama gak mau, ya, mengeluarkan uang sepeserpun untuk bayi itu!" tegas sang Mama.
"Mama ...." melas Farel.
"Bahkan, bahkan Mama gak mau, ya, bayi itu tinggal di sini!" tekan sang Mama.
"Terserah kamu, mau rawat bayi itu apa enggak, yang penting, dia gak boleh tinggal di sini!" tekan sang Mama lagi.
"Terus, Farel bisa titip dia di mana, Ma? Keluarganya cuman kita—"
"Mama bukan keluarganya! Ugh!" Mamanya Farel sungguh membenci melihat wujud bayi itu!
"Mama ...." kecewa Farel. Seumur-umur, dia belum pernah melihat sosok ibunya yang ramah, baik, penuh perhatian ini seperti ini.
"Kalau gitu, sini! Berikan bayi itu pada Mama!" sang Mama langsung menarik bayi di dalam gendongan Farel, tetapi Farel tidak mau menyerahkannya.
"Hah? Mama mau melakukan apa pada Alika?" panik Farel, ia bisa lihat sinar mata sang Mama redup.
"Alika? Siapa Alika?" tanya Mama Farel.
"Alika ... Dia adalah nama bayi ini, Ma. Itu yang tertulis di aktanya!" ungkap Farel.
Sang Mama menghela napas dengan kasar sambil menatap bayi tersebut dengan tajam.
"Bahkan kamu memanggil nama menjijikan itu!" ketus Mamanya yang kembali merebut Alika.
"Jangan, Ma! Alika baru bisa tertidur setelah dia menangis seharian!" panik Farel.
"Mama tidak peduli! Harusnya bayi ini menyusul kedua orang tuanya ke Neraka!" frustasi sang Mama yang masih berusaha merebut Alika.
"Jangan, Ma!" bentak Farel yang berakhir mendorong ibunya sendiri.
"Kamu ... Kamu begini sama Mama, Farel?" tanya sang Mama yang tak habis pikir, putranya akan membentaknya seperti ini hanya karena bayi haram mendiang suaminya.
"Mama, maksud Farel—"
"Kamu harus memilih, Farel ...." lirih sang Mama.
"Kamu mau bayi itu keluar dari sini atau Mama yang keluar dari sini?"