
Peluh Alan menetes di pelipisnya, padahal udara pagi masih terasa dingin. Namun ia tak bisa kabur dari tatapan intimidasi Sang Pacar—Sheilla.
"Enak, ya dicium sama cewek cantik?" dinginnya.
"Ah, uhm, Shei ... Ka-kamu kapan datang?" Alan malah basa-basi. Ia harus segera mengalihkan topik.
"Jawab!" Namun Shei menyadarinya, sentakannya membuat Alan terkesiap.
'Duh, kok gue kayak cowok yang ketahuan selingkuh? Biasanya juga dia tahu!' heran Alan dalam hati.
"Kak Alan!" tegas Shei lagi.
"I-iya ... Maaf!" sahut Alan.
Sheilla hanya terdiam sambil menggeram.
"Bagaimana kalo lu duduk di sebelah gue? Kita masih punya waktu, loh sampai bel masuk," seru Alan dengan nada ceria agar suasana tegang yang Shei ciptakan bisa tersingkir, tetapi sayang Sang Gadis masih memasang raut wajah yang dingin.
"Tidak mau. Aku kembali ke kelas saja," timpal Shei kemudian berbalik.
'What? Dia nolak gue lagi?' seru Alan dalam hati. Lelaki itu pun langsung berdiri.
"Shei, please! Gue mau ngobrol sama lu! Salah, kalau cowok lu mau ngobrol-ngobrol santai sama lu, ha?" tukas Alan.
Namun Sheilla tak menggubrisnya. Ia malas meladeni cerewetnya mulut seorang Alan.
Alan yang geram pun mengejar Sang Pacar.
"Shei ... Atau gimana kalau kita ketemuan pas istirahat?" ujar Alan bernegosiasi.
Sheilla malah berdecak kesal.
"Bukannya mau ketemuan dan ngobrol sama cewek cantik tadi?" sindir Shei dengan nada ketus.
Alan tertegun dan menghentikan langkahnya, sementara Sheilla terus berjalan.
"Ya ampun, nih anak kenapa, sih? Jealous apa—" Tiba-tiba Alan menyadari sesuatu.
"Shei jealous? Serius?" girang Alan.
"Shei, bodo amat, lu harus nemuin gue nanti istirahat pertama!" teriak Alan dengan ceria, ia tak paduli, Sheilla mendengarnya atau tidak, lelaki itu langsung berlari meninggalkan taman.
"Dasar tukang paksa!" geram Sheilla yang sama sekali tidak mau menimpali permintaan pacarnya.
***
Thalia berlari ke arah UKS, jika Vannesa yang mengurus Farel, pasti ia akan meminta bantuan Aldo. Jika Aldo yang menanganinya, pasti akan menggunakan kekerasan. Sayang, belum sempat Thalia sampai di UKS, bel masuk malah berbunyi. Gadis cantik itu pun mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke kelas.
Sesuai dengan dugaan Thalia, ketika sampai di kelas, kursi Farel masih kosong. Hal itu membuat kedua pundak Thalia turun. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar hingga membuatnya berkeringat. Thalia pun mengipas-ngipasi dirinya agar bisa lebih tenang. Marina yang menangkap sosok Thalia, hendak menghampirinya, tetapi di belakang Thalia sudah berdiri guru yang akan mengisi jam pelajaran.
"Kamu sedang apa, Thalia?" tegur guru tersebut, membuat Thalia tersentak.
"Eh, maaf, Pak ..." seru Thalia yang langsung kembali ke tempat duduknya sembari melirik ke arah kursi Farel yang kosong.
'Semoga saja, Farel tidak babak belur,' khawatir Thalia dalam hati.
Sedangkan atensi guru di depan terfokus pada bangku Farel.
"Thalia!" serunya.
"I-iya, Pak?" sahut Thalia yang kaget karena lagi-lagi dipanggil.
"Teman sebangku kamu kemana?" tanya Pak Guru.
"Uhm, dia—"
"Permisi, Pak!" Tiba-tiba sosok lelaki berkacamata yang wajahnya diplester muncul.
"Loh, Farel, kamu kenapa mukanya diplester begitu?" tanya Pak Guru.
"Maaf, Pak. Saya tadi jatuh dari tangga dan abis dari UKS," ucapnya.
"Ya, sudah, kamu duduk di bangku kamu sana!" suruh Pak Guru.
Farel hanya mengangguk sambil berjalan agak pincang dan memegangi perutnya ke bangku.
Sementara Thalia tak bisa melepas pandangannya dari seorang Farel. Rasanya air mata ingin keluar dari sudut matanya, tetapi gadis itu berusaha menahannya.
"Farel ... kamu—"
"Thalia, maaf!" seru Farel kemudian menoleh ke arah Thalia dengan tatapan sendunya.
"Maaf, aku gak tahu kalau kamu bakalan nangis ..." kata Farel lirih.
"Aku—" Ucapan lelaki itu terhenti ketika Thalia malah menyentuh wajahnya yang terluka.
"A-apa yang mereka lakuin? Kenapa bisa begini?" tanya Thalia yang bulir air matanya menetes begitu saja karena ia tak mampu membendungnya lagi.
Sedangkan Farel malah menatapnya heran.
'Nih anak kenapa nangis lagi? Serius, dia peduli sama gue?' duga Farel dalam hati.
"Farel, jawab!" paksa Thalia membuat lamunan Farel buyar.
"Y-yah ... ta-tadi 'kan kamu yang suruh Vannesa. A-aku digebukin Kak Aldo, tapi tadi cuman satu pukulan di wajah, terus lecet, ya jadi diplester ..." cerita Farel.
Tangan Thalia perlahan turun.
"Gimana, sih! Harusnya kamu bisa dong jaga wajah kamu!" omel Thalia.
"Maaf ..." ucap Farel yang bingung sendiri.
'Buat apa gue minta maaf?' batinnya.
"Lagian, kamu sebenarnya mau nembak siapa, sih?" tanya Thalia yang sebenarnya sangat penasaran tentang muffin cantik tadi.
Farel pun menggeleng.
"Aku gak mau nembak siapa-siapa. Muffin tadi itu buat kamu," ucap Farel yang membuat Thalia tertegun. Seketika wajahnya jadi memerah.
"Bu-buat aku?" bingung Thalia.
Farel mengangguk.
"Mama sangat berterima kasih karena kamu udah beliin kacamata ini," tunjuk Farel sambil cengengesan. Sementara Thalia malah mematung seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Maaf, ucapanku sembarangan tadi. Itu karena muffin tadi buatan Mama. Jadi aku agak kebawa emosi," sesal Farel yang tidak sepenuhnya menyesal. Namun ia harus bersikap seperti itu agar dirinya selamat.
Thalia malah terdiam.
'Jika tadi muffin itu tidak dihancurkan, mungkin itu sudah jadi milikku ...' batin Thalia seraya menatao wajah penuh penyesalan seorang Farel.
'Jika tadi aku dan yang lain gak asal tebak untuk siapa muffin itu, pasti Farel gak akan digebukin ...' batin Thalia lagi seraya mengusap dengan lembut luka Farel.
"Lain kali, kamu harus jaga wajah kamu! Jangan sampai kena pukul!" tekan Thalia. Namun Farel malah terkekeh sekaligus agak tidak menyangka. Ucapan Thalia seperti mengandung sedikit rasa kepedulian.
"Yah, mau digebukin berapa kali juga siapa yang peduli?" kekeh Farel yang kini menghadap papan tulis.
"Aku!" seru Thalia.
Farel sontak menoleh ke arah Thalia.
"Kamu peduli?" ulangnya agak tak percaya.
"Eh? Uhm, ma-maksudnya, wajah kamu gak boleh memar! Soalnya kamu ada tugas nanti dari aku dan itu berhubungan dengan wajah kamu!" seru Thalia.
Farel memegangi pipinya.
"Tu-tugas apa?" bingung Farel.
"I-itu—" Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di ponsel Thalia. Pesan itu berasal dari nomor asing, tetapi Thalia langsung bisa baca isi pesannya di layar.
[Thal, ini Kak Alan. Sorry, istirahat siang ini gue gak bisa ketemuan sama lu. Kalau lu gak ada acara, bisa, kita ketemuannya hari Minggu aja?]
Sontak mata Thalia terbelalak. Mimpi apa dia semalam sampai tiba-tiba dapat pesan dari Alan yang mengajaknya jalan atau lebih tepatnya nge-date?
"Farel, fix! Kamu harus ke rumah aku hari Sabtu!" ujar Thalia bahagia bukan main, dengan cepat jarinya memasukkan nomor asing itu ke kontaknya kemudian membalas pesan tersebut.
"Ngapain, Thalia?" bingung Farel.
"Pokoknya kamu ikut aja, kamu ada exkur 'kan hari Sabtu?" tanya Thalia bersemangat. Farel mengangguk.
"Habis Exkur, kamu ikut aku! Nanti aku kasih tahu," ujar Thalia girang. Rasa sedihnya seakan sirna dan berganti jadi rasa yang berbunga-bunga.