Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Kebaikan Thalia


Thalia berlari sekencang-kencangnya karena terlanjur malu atas ucapannya sendiri. Ia bisa merasakan tatapan orang-orang tadi yang begitu sinis sambil membicarakannya. Hingga gadis itu menemukan sebuah bangku taman dan duduk di sana.


Thalia menutup seluruh wajahnya dan air matanya tumpah begitu saja.


"Aku ... kenapa aku bicara begitu?" sesalnya.


'Mata cacat?'


Terngiang kalimat dan raut wajah Farel yang kecewa mendengar ucapan Thalia, membuat air mata gadis itu keluar semakin deras dan dadanya semakin sesak.


"Mulutku kejam sekali! Kenapa kalimat sekasar itu bisa keluar dari mulutku?" sesal Thalia lagi.


***


Benar saja, hingga kacamatanya sudah jadi, Thalia tak kunjung menunujukkan batang hidungnya. Kini Farel dilarang pergi oleh Roger karena dijadikan sebagai jaminan atas kacamata yang baru saja dibuat.


"Om, tadi Om kenal 'kan sama temen saya. Dia Thalia, Om. Thalia. Nanti pasti dibayar sama dia," ujar Farel memohon. Ia tidak bisa lebih lama lagi di sini, tetapi Roger tak percaya dan malah menyuruhnya duduk manis saja hingga Thalia datang.


"Kalau yey temenan sama Nona Thalia, harusnya yey gak ditinggal gini, dong!" sahut Roger.


"Sekarang gimana? Siapa yang mau bayar? Yey punya duit?" tantang Roger.


Farel menggeleng sambil memasang wajah memelas, berharap bisa dilepaskan oleh Roger.


"Gak punya duit aja belagu! Yey kira gampamg bikin kacamata? Ini semua gak gratis, ya!" tegas Roger sambil menyisir rambutnya ke belakang.


Farel hanya bisa menghela napas. Mau tidak mau, ia harus menunggu di sini.


"Dasar pembohong! Setelah puas menghina gue, sekarang apa?" gumam Farel menggerutu.


"Sekarang malah gue yang jadi jaminannya! Emang dasar, nenek sihir—" Tiba-tiba pintu kaca terbuka dan muncul lah Thalia dengan wajah sembab. Dahi Farel mengernyit, bagaimana bisa sdorang Thalia menangis. Harusnya 'kan Farel yang menangis, Farel yang dihina di depan umum tadi.


Lelaki remaja itu pun hanya memutar bola matanya. Ia malas menyapa Thalia dan membiarkan gadis itu sadar sendiri atas kesalahannya.


Untung saja Thalia langsung menghampiri Roger, bicara sebentara kemudian membayar kacamata yang dibelinya. Setelah itu Thalia menghampiri Farel.


"Ini buat kamu," ujar Thalia dingin sambil menyerahkan sebuah tempat kacamata yang di dalamnya ada kacamata dengan lensa serta frame yang dipilih Farel tadi.


Namun Farel tak menerimanya sama sekali. Lelaki itu sebenarnya masih kesal dan malah mengabaikan Thalia kemudian keluar optik. Dahi Thalia mengernyit, Farel tidak pernah mengabaikannya begini. Gadis itu pun ikut keluar.


"Farel!" seru Thalia yang berjalan ceoat mengikuti Farel. Namun Farel malah mempercepat jawabannya.


"Farel! Berhenti aku bilang!" perintah Thalia, tetapi Farel masa bodo. Ia tetap berjalan dan berusaha mencari kendaraan umum untuk pulang.


"Farel! Kamu mulai langgar janji kamu, ya?" seru Thalia dengan suara lantang.


Farel sangat malas mendengar ujaran Thalia, dia juga muak dengan janji yang harus ia tepati. Farel pun menyebrang jalan untuk bisa naik kendaraan umum, ia mengangkat tangannya dan berjalan agak hati-hati, Thalia pun menggunakan kesempatan ini dengan berjalan lebih cepat, mengejar seorang Farel.


"Farel!" Thalia meraih tangan lelaki kurus itu, tetapi tepat pada saat itu Farel mendengar bunyi dengung mesin yang melaju dengan cepat, lelaki itu reflek menoleh dan melihat kendaraan yang samar-samar melaju mendekati mereka.


"Thalia, awas!" seru Farel langsung menarik gadis itu ke dalam dekapannya kemudian lompat hingga bokongnya menghantam kobangan dekat trotoar. Bajunkeduanya alhasil menjadi kotor, tepat pada saat itu mobil yang melaju dengan cepat membunyikan klakson dan melewati mereka begitu saja.


Sontak semua pasang mata di sana memerhatikan mereka, beberapa orang langsung menghampiri mereka berdua.


"Dek, kalian gak apa-apa?" tanya seorang Pria.


Farel hanya melemparkan senyum untuk menunjukkan kalau mereka baik-baik saja, sementara Thalia masih terpaku dengan kejadia barusan. Orang-orang tersebut pun kembali menjalani aktivitas mereka setelah memastikan kalau Farel dan Thalia baik-baik saja.


Kini napas Thalia terengah-engah. Dirinya setengah percaya kalau masih hidup. Untung kacamata yang ia beli untuk Farel tidak terlepas.


"Kamu gak apa-apa?" Sontak telinga Thalia terasa geli mendengar suara lembut Farel langsung dari telinganya. Gadis itu juga baru sadar kalau tangan Farel kini melingkar di pingganya.


"Ka-kamu ..." Thalia segera melepaskan tangan Farel dari pingganya dan segera berdiri kemudian menghadapkan tubuhnya pada Farel yang kotor.


Dahi Farel mengernyit.


'Kesempatan apa? Gue barusan nyelamatin elu, woy!' kesal Farel dalam hati sambil bangkit.


"I-ini!" Thalia meraih tangan Farel dan memberikan kacamata di tangannya.


"Ini buat kamu!" seru Thalia yang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan. Farel hanya menghela napas, ia menerima kacamata itu kemudian menggandeng tangan Thalia.


"Kita bicara di trotoar aja," ujar Farel.


Thalia terhenyak, seketika tubuhnya terasa panas dan ada energi yang membuatnya ingin berlari kencang.


"Apaan, sih kamu!" bentak Thalia yang melepas gandengan Farel.


"Kamu yang apaan? Aku mau ajak kamunke trotoar supaya kamu aman! Kamu mau ditabrak, ha?" balas Farel yang lepas kendali, tetapi ia langsung sadar.


"Thalia, ma-maaf. A-aku—" Tiba-tiba tangan Thalia melayang ke pipi Farel.


"Kamu berani, ya sama aku?" geram Thalia.


Sementara Farel masih kaget dengan apa yang ia dapati.


"Kamu berani bentak aku?" cicit Thalia sambil membentak Farel, membuat lelaki itu menunduk.


"Padahal, aku udah beliin kacamata ini buat kamu! Tapi gini balasan kamu!" tukas Thalia yang suaranya tercekat.


Farel pun mengangkat kepalanya dan mendapati mata gadis di hadapannya yang berkaca-kaca.


"I-ini beneran buat aku?" bingung Farel.


"Iya! Aku beliin itu buat kamu!" jujur Thalia.


"Supaya kamu gak rusuh lagi, gak tanya-tanya aku lagi di kelas. Pusing tau, gak!" ungkap Thalia kesal. Selama 2 hari ini memang Farel selalu bertanya-tanya pada Thalia perihal pelajaran karena ia tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi sampai akhirnya akan berakhir dengan omelan Thalia.


Namun Farel hanya mengernyitkan dahi, meskipun darahnya mendidih karena kesal, ia harus tetap berpikir jernih dan mencerna maksud dari Thalia.


"Dan ..." sahut Thalia lagi.


"Jangan bilang siapa-siapa kalau aku membelikan ini untukmu!" ucap Thalia.


"Kenapa?" tanya Farel.


Thalia terkesiap dengan pertanyaan Farel.


"Pokoknya ini perintah! Gak usah mau tau!" ketusnya.


"Ka-kalau orang lain tanya, bilang aja itu dibeliin ibu kamu. Terus kalau ibu kamu tanya, bilang aja, itu dari temen kamu yang rusakin kacamata."


Sontak Farel tertegun dengan kalimat Thalia.


'Dia ... dia berusaha minta maaf dan bertanggung jawab?' duga Farel dalam hati.


"Satu lagi!" seru Thalia.


"Karena aku udah berbaik hati hari ini, maka kamu harusnya gak boleh berniat untuk melawanku sama sekali! Ingat itu! Bukan hanya janji, tapi kamu juga hutang budi padaku seumur hidup!" tegas Thalia sambil menghentakkan kakinya.


'Apa? Gue barusan nyelamatin lu, woy! Setidaknya balas budi udah gue bayar!' jerit Farel dalam hati.


"Camkan itu!" lanjut Thalia.