
"Kalian apa-apaan, sih?" seru Sheilla seraya berdiri dan pergi ke meja guru.
Thalia membulatkan matanya melihat tingkah Sheilla, sangat jarang gadis berkulit sawo matang itu angkat bicara. Thalia pun diam-diam melirik ke arah Farel yang juga ikut menganga. Bahkan cowok berkacamata itu shock.
"Aku yakin, kalian semua punya otak pinter! Tapi kenapa gak ada yang punya hati?" seru Sheilla lagi.
"Hei, Sheilla! Asal lu tahu, Kita juga gak mau sembarangan kasih belas kasihan kita buat orang licik kayak Farel!" seru Renata yang membuat Thalia geram. Diam-diam gadis cantik itu mengepalkan tangannya.
"Licik? Kamu punya bukti? Kamu pikir selama empat hari Farel gak masuk itu karena dia menertawakan kematian bapaknya? Pikir, dong!" todong Sheilla. Mata Farel membulat, mana pernah ia melihat Sheilla yang agak provokatif begini.
"Tapi, dari tadi dia senyum aja di saat orang tuanya meninggal! Apa itu gak cukup jadi bukti?" seru Vannessa yang langsung dibenarkan oleh hampir semua anak sekelas.
"Sebelum nebak-nebak perasaan Farel, emangnya kalian udah tanya, apa perasaan dia pas tahu Ayahnya meninggal?" sahut Sheilla membalikkan omongan Renata dan Vannessa. Seketika semua teman sekelasnya terdiam.
"Enggak, 'kan?" tekan Sheilla lagi yang membuat semuanya menunduk.
"Kalau kalian gak mau nyumbang, itu hak kalian!" seru Sheilla. "Tapi, jangan nebak-nebak perasaan orang yang bahkan gak kalian peduliin, apalagi pake fitnah!" ujar Sheilla lagi.
Semua orang langsung tertohok sampai tidak ada yang berani menimpali ucapan Sheilla. Gadis berkulit sawo matang itu pun melirik ke arah Farel yang tersenyum lega dan berucap "Terima Kasih" tanpa suara. Sheilla hanya mengangguk sambil tersenyum sebentar. Gadis Berkulit Sawo matang itu pun kembali duduk.
Namun, hal itu tak luput dari perhatian Thalia yang menggigit bibir bawahnya.
'Coba aja ... coba aja aku yang berdiri di depan meja dan belain Farel ....' batinnya. 'Pasti aku yang dapat senyuman itu dari Farel,' cemburu Thalia. Ia melirik ke arah Renata yang bersungut-sungut, kenapa juga Renata malah memojokkan Farel tanpa alasan. Itu malah membuat posisi Thalia semakin sulit di hadapan Farel. Kira-kira cowok itu marah padanya atau tidak, ya? Setelah ini, Thalia akan ke rumahnya dan minta maaf.
"Thalia! Kamu lihatin apa, sih?" seru Vannessa yang memperhatikan Thalia melirik ke belakang. Sontak Thalia tertegun. Ia langsung mengubah arah pandangnya.
"Uhm, gak, cuman lagi melamun aja," ujar Thalia berbohong.
"Oh, gue kira lu lagi lihatin si Culun!" sahut Vannessa yang membuat Thalia tertohok.
"Sumpah, gue masih jijik sama dia. Aneh banget, minta belas kasihan orang dengan cara begitu, ckckck," ujar Vannessa yang malah mendapat tatapan sinis dari Thalia.
"Nes, tadi gak denger ucapan Sheilla? Kalau gak tau apa-apa gak usah nebak-nebak!" sinis Thalia yang membuat Vannessa membeku.
"Ha-ah? L-lu bilang apa? Sejak kapan lu setuju sama omongan si The Beast?" sahut Vannessa yang agak gemetaran.
Thalia baru sadar apa yang diucapkannya. Pasti ini karena ia menahan rasa keinginan untuk membela Farel.
"Uhm, y-ya ... Menurutku, Sheilla gak salah. I-itu juga bisa berlaku buat siapa aja, gak harus ke Farel. Iya, 'kan?"
"Menurut lu gitu?" timpal Vannessa yang dijawab dengan anggukan kepala Thalia.
Vannessa pun melirik ke arah Farel yang kini berbincang dengan teman yang duduk di depannya.
"Ah, bodo lah! Ngapain juga jadi mikirin si Culun gak jelas!" abai Vannessa. Thalia bernapas lega, setidaknya ia tidak harus menjelaskan lebih panjang tentang pendapatnya yang bertentangan dengan Vannessa.
...****************...
Di Kantin, Thalia berkumpul bersama ketiga temannya yang asyik berbincang tentang jadwal belajar bersama, sementara arah pandangn Thalia malah berfokus pada Farel yang sedang membeli siomay.
"Lu gimana, Thal?" seru Marina yang sama sekali tak digubris oleh Thalia. Ketiga sahabatnya saling pandang. Vannessa yang duduk di samping Thalia pun mencoleknya.
"Thalia!" seru Vannessa yang mengagetkan Thalia, sontal gadis itu menoleh.
"Uhm, lu dari tadi ngelihatin apa, sih?" penasaran Vannessa mencari-cari objek apa yang Thalia lihat sampai tidak fokus.
"Iya, Sampai gak dengerin pembicaraan kita!" timpal Renata, sementara Marina malah senyum-senyum sendiri.
"Li-lihatin apa? Gak, kok! Aku gak lihatin siapa-siapa!" panik Thalia. Bisa gawat kalau mereka tahu Thalia mencuri-curi pandang dengan Farel.
"Oh, gak lihatin siapa-siapa? Kalau gitu, fokus, dong, Thalia," singgung Marina sambil menaik-turunkan alisnya. Sontak Thalia tertegun. Ia jelas tahu maksud kode dari Marina hingga membuat jantungnya berdebar.
'Enggak, Marina emang tahu kalau aku lagi suka sama seseorang, tetapi Marina gak tahu kalau orang itu Farel!' batin Thalia berusaha menenangkan diri. Thalia langsung melebarkan senyumnya.
"Lebih tepatnya, aku mau siomay!" ujar Thalia.
"Kayaknya enak banget aromanya, tapi aku udah beli burger," ujar Thalia sambil menunjukkan burger yang baru ia makan sepotong.
"Oh, lu lagi PMS kali! Biasanya kalau masa PMS, kita jadi laperan, lu pada gitu gak?" sahut Vannessa.
"Gue gak perhatiin, sih," ujar Renata. "Tapi, emang ada saat-saat gue pengen makan banyak aja," lanjutnya.
"Enggak tahu, deh. Aku juga gak merhatiin. Lagian mens aku juga belum teratur, masih suka dua atau tiga bulan sekali munculnya," beber Thalia.
"Dua atau tiga bulan sekali? Lu udah periksa ke dokter?" kaget Renata yang membuat dahi Thalia mengernyit.
"Ke dokter? Enggak, tuh. Lagian katanya, kalau dua tahun pertama baru-baru Puber emang wajar, 'kan mens-nya gak teratur. Aku juga baru pertama Mens pas kelas tujuh pertengahan, belum ada dua tahun," pungkas Thalia lagi.
"Oh, baru tahu gue, soalnya gue selalu sebulan sekali, paling tanggalnya aja yang geser dua sampai lima hari," cetus Renata.
"Iya, gue juga baru tahu. Kadang juga baru dua bulan, aku mens. Tapi jarang banget, sih," timpal Vannessa.
"Udah, mending back to topic! Jadi gimana, mau belajar di Apartemen Kak Aldo lagi? Atau mau coba belajar di perpustakaan umum yang baru dibuka itu?" seru Marina.
"Hah? Hari ini kalian mau belajar bareng lagi? Gak cukup weekend kita belajar bareng?" kaget Thalia.
"Ya, gak cukup lah! Kita itu harus sering belajar, biar dapet nilai bagus," seru Vannessa.
"Tapi, bukannya kalian juga mau lanjut ke SMA yang satu Yayasan sama SMP kita. Alumni daei Yayasan yang sama, pasti diterima," timpal Thalia.
"Uhm, yah, buat kebanggaan sendiri dan orang tua aja dapat nilai ujian bagus, Thal! Lagian gue juga gak rela dapat nilai mendekati apalagi di bawah standar minimal," ujar Marina.
"Iya, gak suka banget kalau ada angka tujuh di ijazah nanti, maunya delapan!" seru Vannessa.
"Kalau bisa sembilan semua!" tambah Renata.
"Emangnya kenapa, Thal? Kok kayaknya lu gak setuju gitu? Lu ada acara hari ini?" tanya Marina.
"Iya, setahu gue, lu gak ada les kayak kita, deh," sahut Renata yang membuat Thalia terpojok.
"Oh, iya! Mumpung lagi dibahas, gue juga mau tanya, kemarin lusa, kayaknya lu bilang kalau mau ikut belajar bareng, tapi tau-tau gak bisa dihubungin. Emangnya lu ke mana?"
Thalia tertegun. Jika mereka bahas kemarin lusa, itu berarti hari saat Thalia pergi ke rumah Farel dan menghiburnya.
"Uhm, itu ... Aku ...." Thalia harus bilang apa? Tidak mungkin, 'kan ia jawab jujur?