
Alhasil, hari ini Thalia and the geng mengubah lokasi belajar bersama mereka ke rumah Thalia hanya karena Thalia yang mengaku sudah baikan. Namun saat mereka belum lama samoai di rumah Thalia, mereka langsung disambut tiga cowok SMA di deoan pintu masuk rumah Thalia.
"Kak Aldo!" seru Vannessa girang. Dahi Thalia mengernyit.
"Kak Aldo ngapain ke sini?" tanya Thalia.
"Yah, belajar bareng kalian. Katanya, cewek gue ini mau diajarin sama aku," gemas Aldo sambil mencubit kecil ujung hidung Vannessa.
Dahi Thalia mengernyit, tetapi ia tak mau ambil pusing, hingga tanpa sengaja matanya malah tertuju pada seorang cowok asing yang sepertinya dari tadi memandangnya.
"Uhm, aku kenal kalau yang berdiri di samping Kak Aldo itu, Kak Randy, tapi yang ini ...." Thalia menunjuk cowok berkalung rantai di samping Randy. Cowok itu langsung berinisiatif mengulurkan tangan.
"Gue Vicko!" ujarnya sambil melempar senyum super tampan.
"Uhm—"
"Gue Renata!" serobot Renata yang langsung menjabat tangan Vicko. Sementara Thalia memilih mengabaikan cowok bernama Vicko itu.
"Ya udah, masuk, yuk! Kalian di sini mau bantuin kita belajar, 'kan?" ujar Thalia.
"Iya!" seru Aldo yang sekarang sedang memeluk pacarnya.
"Udah, yuk! Mending kita masuk aja! Biar segera mulai belajarnya!" ajak Vannessa.
"Iya, Cantik! Kamu bener," ujar Aldo yang melrpas pelukannya kemudian langsung masuk sambil bergandengan dengan pacarnya. Sementara Randy melempar senyumnya pada Marina kemudian mereka berdua masuk sambil berjalan beriringan. Tinggalah Renata dan Vicko. Mata gadis manis itu berbinar-binar seraya menikmati ketampanan Vicko, tetapi justru Vicko malas menatapnya.
"Ayo, Kak Vicko, masuk. Anggap aja rumah sendi—"
"Tenang, gue tahu, kok. Gue akan anggap ini rumah sendiri!" ujar Vicko cuek yang menyelonong masuk begitu saja dan meninggalkan Renata sendirian. Renata hanya menghela napas sambil mengikuti cowok itu.
Thalia ternyata sudah duduk di ruang tengah sambil menyiapkan buku-buku soal.
"Thalia! Kita gak belajar di kamar kamu kayak biasanya?" rengek Vannessa sambil duduk di samping Thalia.
"Enggak. Kamarku gak muat," ujar Thalia agak ketus. Sontak dahi Vannessa berkerut. Ia bisa merasakan bahwa suasana hati Thalia tidak baik. Gadis itu pun duduk lebih dekat dengan Thalia.
"Thalia? Lu marah? Ada yang salah?" tanya Vannessa yang langsung dapat lirikan sinis Thalia.
"Ya, pikir aja—"
"Wah, jadinya kita bakalan belajar di sini?" seru Vicko sambil mengambil posisi di hadapan Thalia.
"Kira-kira, Kak Vicko jago pelajaran apa, nih?" seru Renata yang tahu-tahu sudah duduk di samping Vicko. Cowok itu hanya tersenyum tipis dan diam-diam menjauh. Justru ia melirik Thalia yang sibuk membolak-balik buku soal.
"Hey, Thalia! Lu udah punya pacar belum?" seru Vicko yang seketika membuat suasana hening.
Sementara itu, Thalia mengernyitkan dahinya.
"Waw. Kita belum kenalan, dan Kakak udah tahu namaku," sindir Thalia. Seketika semua orang saling pandang.
"Uhm, Thal ... Sorry, Vicko tahu elu itu dari gue," sahut Aldo.
"Oh, iya?" timpal Thalia yang masih menatap buku soalnya.
"Ya, dan gue tertarik sama lu sejak pertama gue lihat foto lu di instagramnya Aldo," ujar Vicko lagi yang membuat Thalia justru bergidik ngeri.
"Oke ... Jadi, di sini kita mau belajar atau apa?" sindir Thalia lagi dengan nada yang agak sarkas.
"Belajar, Thal!" seru Marina.
"Ya udah, jadi jangan ajuin pertanyaan selain tentang pelajaran. Oke. Jadi, kita mulai dari matematika dulu, 'kan?" sahut Thalia.
Semua orang tidak ada yang berani berkomentar. Mereka pun hanya membuka buku soal dan mulai mengerjakan soalnya.
...****************...
Setelah hampir dua jam belajar, Thalia pergi ke toilet dan setelah ia keluar, ternyata Vannessa sudah menunggunya di luar dengan senyum semringah.
"Nes? Kamu kenapa?" bingung Thalia. Namun, Vannessa malah menggenggam kedua tangan Thalia.
"Thal ... gimana Kak Vicko? Lu suka, gak sama dia?" tanya Vannessa yang membuat dahi Thalia berkerut. Di hati Thalia sudah ada Farel, kenapa ia harus melirik laki-laki lain.
"Gak. Gak tertarik," jawab Thalia.
"Ih ... kenapa? Kak Vicko, tuh suka sama kamu, tau!" beber Vannessa yang membuat mata Thalia membulat. Pantas saja, cowok itu dari tadi aktif mencari perhatian Thalia.
"Yah ... Padahal kalau lu sama Kak Vicko jadian, terus Marina sama Kak Randy, 'kan nanti jadi seru. Kita bisa ngedate bareng-bareng," kecewa Vannessa.
"Renata gimana? Kenapa Kak Vicko gak kamu comblangin aja sama Renata? Kayaknya Kak Vicko tipenya Renata, deh," timpal Thalia.
Vannessa mengangkatbkepalanya seraya cemberut.
"Yah, gimana, Thal? Kak Vicko tertariknya sama elu. Dia suka cewek yang kayak elu, gak kayak Renata. Mau, ya, pedekate sama Kak Vicko," paksa Vannessa.
Thalia langsung melepaskan genggaman Vannessa.
"Nes, aku, 'kan udah bilang. Aku lagi pedekate sama cowok. Aku suka banget sama dia—"
"Emangnya, dia suka sama elu, Thal? Siapa orangnya? Satu sekolah sama kita? Atau anak SMA?" cecar Vannessa.
Thalia diam seribu bahasa. Tidak mungkin, 'kan ia mengumbar nama cowok pujaan hatinya sekarang?
"Pokoknya, nanti kalau aku udah jadian sama dia, aku pasti kasih tahu kalian!" tekan Thalia.
"Kalau enggak?" Sekali lagi ucapan Vannessa membuat Thalia terkesiap. Dadanya terasa gusar. Kenapa ada kemungkinan "enggak"? Padagal Farel jelas-jelas menyukainya. Cowok itu bahkan menggambar wajahnya diam-diam. Perlakuannya juga selalu baik pada Thalia. Tidak, bahkan mereka bukan lagi majikan dan pesuruh! Mereka teman dan sikap Farel jauh lebih baik dari sebelumnya. Cowok itu bahkan tadi mengkhawatirkannya. Tidak mungkin, Farel tidak punya perasaan yang sama dengan Thalia. Pasti cowok itu sedang menunggu waktu yang tepat.
"Uhm, pasti aku jadian, kok sama dia!" kukuh Thalia.
"Oke, kalau gitu. Tapi lu janji, ya Thal, semisal cowok itu nolak elu atau sampai lulus SMP dia gak nembak elu, lu harus mau pedekate sama Kak Vicko!" tantang Vannessa.
"Hah? Janji macam apa itu?" tolak Thalia.
"Yah, ini demi kebahagiaan lu! Gue gak mau, ya kalau lunputis cinta, lu sedih berlarut-larut. Obatnya patah hati, 'kan cinta yang baru!" cerocos Vannessa. Thalia hanya menghela napas.
"Oke, aku terima tantangan kamu. Lagian, aku sama dia pasti jadian, kok. Jadi gak mungkin aku harus pedekate sama Kak Vicko!" kukuh Thalia.
"Deal?" Vannessa mengulurkan tangannya kemudian Thalia langsung menjabatnya.
"Deal!" seru Thalia. Diam-diam Marina tersenyum melihat perjanjian antara dua sahabatnya. Setelah itu, Thalia dan Vannessa hendak kembali ke ruang tengah dan Marina buru-buru kembali sebelum mereka melewatinya.
Thalia dan Vannessa kembali bergabung dan duduk di tempat mereka.
"Ke kamar mandi lama banget, sih ...." sindir Vicko yang matanya tak bisa lepas dari Thalia.
"Biasa, urusan cewek!" ketus Thalia tanpa mau memandang cowok yang duduk di depannya.
"Udah, ayo, lanjut belajar! Kak Vicko, perikasin soal bahasa inggris kita, dong. Kak Vicko, 'kan jago!" seru Vannessa. Vicko langsung tersenyum dan mengadahkan tangannya ke Thalia. Thalia yang menyadarinya hanya menatap sinis pada cowok sok kegantengan itu.
"Oke, mana sini?" pinta Vicko.
"Aku belum selesai! Yang lain aja dulua!" cuek Thalia.
"Oh, gitu? Tapi gue maunya periksa punya lu duluan," kukuh Vicko.
Thalia hanya bisa bersungut-sungut.
"Dasar caper!" gerutu Thalia yang dihetankan dengan kedatangan sang asisten rumah tangga yang datang dengan gusar. Thalia langsung berdiri dan menghampiri sang asisten rumah tangga.
"Kenapa, Bi?" tanya Thalia yang menarik atensi semua orang.
"Maaf, Non Thalia ... Bibi bisa bicara sebentar?" ujar Bibi yang agak resah.
"Silakan, Bi. Bicara aja di sini," suruh Thalia, tetapi Bibi malah menggeleng.
"Non Thalia harus ikut, Bibi ...." ujar Bibi lagi. Thalia pun memandang teman-temannya satu per satu.
"Uhm, guysz aku tinggal dulu, ya. Kalian kalau ada yang mau pulang, pulang aja. Kalau mau lanjut, lanjut," izin Thalia.
"Oke, Thalia!" seru Renata. Selepas itu, Thalia segera pergi bersama asisten rumah tangganya ke pintu belakang.
"Oek ... oek ... oek ...." Terdengar suara bayi yang menangis. Thalia memandang wajah rasah sang asisten rumah tangga.
"Bi, itu bayi siapa?" penasaran Thalia.
"Non Thalia lihat dulu," ujar Bibi.
Thalia pun mendekati suara tangisan bayi itu, tetapi dirinya langsung membeku.
"Fa-farel?" ucapnya yang melihat Farel sedang menggendong seorang bayi dengan wajah yang putus asa.