Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Apa Boleh Begini?


"Ce-cewek?" Tiba-tiba nada bicara Farel jadi tinggi.


"Gila lu!" tukas Farel yang langsung memalingkan wajahnya, tetapi wajah Farel yang memerah tak luput dari perhatian Alan. Cowok Tampan itu langsung membuka botol air isotoniknya kemudian menenggaknya.


"Jadi bener, gara-gara cewek?" ledek Alan sambil terkekeh.


Farel kembali menoleh sambil menarik pundak Alan.


"Enggak! Sama sekali enggak! Sumpah!" tekan Farel yang langsung menatap lurus pada Alan dengan bola mata bergetar.


Alan hanya mengernyitkan dahi. Reaksi Farel agak tidak biasa. Cowok Berparas Tampan itu pun menaikkan kedua sudut bibirnya sambil mengangguk.


"Oke ... Sorry, soalnya gue denger dari Shei ... Banyak cewek yang sekarang mengidolakan lu ..." tutur Alan yang langsung dapat delikan kesal dari Farel. Cowok Berkacamata itu langsung membuang mukanya.


"Gue gak peduliin mereka!" timpal Farel agak ketus.


"Oh ..." Alan mengangguk-angguk.


"Tapi, kenapa? Bisa aja salah satu dari mereka itu jadi calon pacar lu? Contohnya kayak gue dan Shei ..."


"Gue bukan lu!" tekan Farel agak sinis.


"Oke-oke ... Terus, apa penyebab lu gak fokus?" cecar Alan.


Farel garuk-garuk kepala.


"Mungkin karena gue gak sarapan—"


"What?" Tiba-tiba nada bicara Alan jadi tinggi.


"Lu ke sini gak sarapan?" Alan langsung membalikkan badannya ke Farel.


"Gue 'kan udah bilang sama lu, sarapan itu penting! Latihan yang harus lu jalanin ini butuh banyak energi! Kalau lu aja gak bisa ngatur makan lu, gimana serangan lu bisa terarah?" omel Alan.


"Gue bahkan udah minta bantuan nyokap gue yang seorang dietisien buat bikin pengaturan makan lu! Gue juga udah suplai makanan lu juga! Tapi lu gak jalanin! Kalau gini caranya, gimana mau ada hasil? Lu sebenarnya serius, gak, sih atau jangan-jangan aji mumpung?"


Farel langsung mematung mendengar ucapan Alan yang menohoknya. Bukan, dia sama sekali tidak memanfaatkan kemurahan hati Alan. Ia serius. Namun akhir-akhir ini ada hal yang mulai mengusik pikirannya. Cowok Berkacamata itu langsung menegakkan tubuhnya.


"Gak, Kak! Gue serius!" timpal Farel.


"Yah, tapi buktinya mana? Perilaku lu gak menunjukkan kalau lu serius!" tukas Alan lagi yang semakin membuat Farel tertekan.


"Sorry, gue—"


Alan langsung berdiri.


"Kalau lu merasa bersalah, Tunjukkin keseriusan lu minggu depan. Ingat, minggu depan adalah latihan terakhir lu di semester ini sebelum lu ujian semester! Jadi, jangan sia-siain kesempatan terakhir yang gue kasih!" tekan Alan kemudian meninggalkan Farel sendiri yang kini menunduk.


...****************...


Shei berjalan menuju Training Camp tempat Alan dan Farel latihan. Gadia berkulit sawo matang itu diminta oleh Alan menjemputnya karena setelah ini mereka mau kencan. Namun, langkah Sheilla berhenti saat matanya menangkap sosok Farel yang tengah duduk termenung di halte depan Training Camp. Sheilla hendak mendatanginya, tetapi sebuah mikrolet berhenti di depannya.


"Uhm, itu mikrolet yang biasa Farel naikin. Kayaknya dia udah mau pulang ... Eh?" Sheilla tercengang ketika mikrolet itu meninggalkan halte bus, terapi Farel masih duduk dengan posisi dan ekspresi yang sama.


"Loh? Farel kenapa?" heran Sheilla. Ia pun memeriksa jam tangannya. Waktu janji temunya dengan Alan sebenarnya masih setengah jam lagi. Sekarang, Alan pasti sedang mandi.


"Gak apa-apa. Bicara aja dua puluh menit ..." gumam Sheilla yang menghampiri Farel di halte.


"Farel!" seru Sheilla yang langsung membuat Cowok Berkacamata itu terhenyak dan malah menjatuhkan ponsel yang ternyata dari tadi ia pegang.


"Eh, maaf, maaf!" sahut Sheilla yang dengan sigap mengambil ponsel Farel yang terjatuh sebelum Farel juga mengambilnya. Alhasil Cowok Berkacamata itu duduk dan menerima ponselnya yang diambilkan oleh Sheilla.


"Enggak. Gak apa-apa, kok. Santai ..." ucap Farel sambil memeriksa ponselnya.


"Ada yang rusak, gak?" tanya Sheilla. Mungkin ia harus menggantinya, mau bagaimana pun, ponsel itu terlepas dari tangan Farel karena ia menegur Cowok Berkacamata itu.Untungnya Farel menggeleng.


"Santai. Hape gue tahan banting, kok ... Eh?" Farel kaget tiba-tiba Sheilla malah duduk di sampingnya.


"L-lu ... Lu ngapain, Shei? Kok malah duduk di samping gue? Lu ke sini buat ketemu Kak Alan, 'kan?" heran Farel yang menjauh sedikit dari Sheilla.


Cewek Berkulit Sawo Matang itu mengangguk.


"Iya, bener," jawabnya.


"Te-terus, kenapa gak masuk?" cecar Farel.


"APA?" potong Farel yang langsung berdiri. Ia langsung melihat ke arah mikrolet tujuannya pergi.


"Serius? Tadi mikrolet yang biasa gue naikin dari sini udah lewat?" heboh Farel, tetapi yang namanya sudah pergi, ya pergi. Bahkan bagian belakangnya pun sudah tak terlihat.


"Ya, begitulah ... Makanya aku ke sini mau tegur kamu ... Kenapa kamu bisa-bisanya gak sadar kalau mikroletnya udah lewat?" selidik Sheilla.


Farel pun menatap Sheilla dengan tatapan sedih kemudian berjalan dengan lesu menuju bangku halte lalu ia kembali duduk.


"Latihan gue semakin hari, malah semakin memburuk. Kata Kak Alan, gue gak berkembang sama sekali ..." lesu Farel.


"Gak berkembang? Bukannya kamu udah latihan intensif selama hampir lima bulan?"


Farel mengangguk.


"Justru itu, tiga bulan pertama ada hasil, tapi dua bulan terakhir ... Nol besar. Gue jadi minder, jangan-jangan gue emang pada dasarnya gak jago berantem ..." Pundak Farel semakin turun.


Sheilla menepuk-nepuk pundak Farel.


"Kamu bener, pada dasarnya orang gak bisa apa-apa, gak jago apa-apa ..." ucap Sheilla yang membuat Farel menoleh sambil mengernyitkan dahi.


"Maksud lu?"


"Ya, emang sebenarnya, semua orang tuh gak bisa apa-apa, termasuk kamu, termasuk aku, termasuk Kak Alan ..."


Farel malah terkekeh mendengar ucapan Sheilla.


"Lu lagi menghina cowok lu sendiri, Shei? Kak Alan itu bisa segalanya—"


"Makanya ada yang namanya belajar, makanya ada yang namanya tekad, makanya ada yang namanya rajin, makanya ada yang namanya tekun. Ada empat hal itu, agar kita bisa mencapai kemampuan yang kita inginkan," ucap Sheilla lagi yang menohok Farel. Tanpa sadar, Cowok Berkacamata itu pun tersenyum.


"Iya, juga ..." ucap Farel membenarkan.


"Uhm, tapi, menurut Kak Alan, apa masalah kamu gak bisa berkembang?" selidik Sheilla. Sekalipun sering mengeluh pada setiap tantangan Alan, tetapi Sheilla tahu, Farel itu cukup gigih menyelesaikan tiap tantangan Alan, sekalipun badannya akan remuk.


"Gue ... Gue gak fokus. Serangan gue cepat, tapi gak kokoh. Masih kelihatan celah untuk di serang balik daripada diterima," jawab Farel.


Sheilla mengangguk-angguk.


"Jadi intinya gak fokus? Gak fokus kenapa?" cecar Sheilla. Namun Farel kembali bungkam sambil menundukkan kepalanya.Sheilla pun menghela napas.


"Kalau kamu gak tahu apa masalah kamu sendiri, gimana kamu bisa mendapatkan solusi?" tutur Sheilla. Farel malah mengangkat kepalanya seraya memandang Sheilla dengan pupil mata yang membesar.


"Gue ..." Farel melipat bibirnya sambil memandang ponselnya.


"Atau ada yang lagi bikin kamu kepikiran?" cecar Sheilla yang membuat Farel tersentak. Cowok itu malah menggigit bibir bawahnya.


"Kepikiran ..." Farel menelan salivanya. Ia menelisik hati dan otaknya. Apa hal yang membuatnya tidak fokus akhir-akhir ini. Bahkan ia juga sudah ditegur kepala sekolah karena beberapa nilainya yang turun.


"Gue ... Gue sebenarnya tahu ...." tutur Farel.


"Terus?" cecar Sheilla.


Cowok Berkacamata itu pun mengangkat kepalanya.


"Tapi ... Tapi gue gak tahu, apakah gue berhak merasakan ini ..." ucap Farel ragu-ragu.


Dahi Sheilla mengernyit.


"Merasakan apa? Hey, Farel!" Sheilla menepuk pundak Farel dengan keras hingga cowok itu tersentak.


"Kita ini negara merdeka! Mau kamu merasakan sedih, marah, bahagia, itu bebas!" ujar Sheilla yang mulai geregetan. Namun Farel malah menatapnya dengan nanar.


"Kalau gitu ... Menurut lu, gue boleh merasa ... Merasa ka-ka ..."


"Apa? Atau, gak bilang dengan satu kali napas!" saran Sheilla.


Farel pun memejamkan matanya erat-erat sambil menarik napas dalam-dalam.


"Gue kangen sama Thalia!" ungkap Farel yang membuat mata Sheilla terbelalak.


"Apa? Ka-kamu? Kangen sama siapa?" ulang Sheilla, tetapi Farel malah menatapnya dengan dahi yang mengernyit.


"Aneh, 'kan? Lu aja gak percaya ... Gue pasti udah gila!" rutuk Farel pada dirinya sendiri.