Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Sikap Dingin Alan


Thalia buru-buru merapikan tatanan rambutnya. Untung hari ini ia mengenakan bandana warna merah muda dengan hiasan pita di sisi kanannya. Pasti ia terlihat sangat cantik sekarang.


Thalia melirik kembali ke dalam kelas. Di sana Alan duduk sambil melirik beberapa kali ke bangku di samping Farel. Mata Thalia membulat, itu tadinya adalah tempat duduknya! Apa sebenarnya Alan sedang menantikan kedatangan Thalia? Seketika kedua sudut bibir gadis 13 tahun itu naik.


"Baiklah, Kak Alan, Thalia yang kakak nantikan akan segera datang!" monolog Thalia girang sendiri.


Gadis Cantik itupun melangkah dengan anggun masuk ke dalam kelasnya.


"Kak Alan!" serunya yang langsung memecahkan lamunan Alan. Cowok Berparas tampan itu langsung berdiri.


"Eh, Thalia ..." Suara Alan yang biasa terdengar ceria dan lugas, kini malah terdengar berat.


"Pagi, Kak Alan ..." sapa Thalia sambil menorehkan senyum cerahnya. Alan hanya mengangguk tanpa mau menatap Thalia yang berdiri di hadapannya.


"Kak Alan! Kakak kok pagi-pagi ada di sini? Jangan-jangan, Kakak mau cariin aku, ya?" duga Thalia dengan nada genitnya.


Dahi Alan mengernyit. Bukan, bukan Thalia, melainkan orang yang bangkunya ada di sebelah bangku yang barusan Alan duduki. Alan pun menggosok hidungnya kemudian tersenyum.


Thalia tersenyum lebar.


"Kak, For your information ... Aku emang tadinya duduk di sini ..." tunjuk Thalia ke bangku di samping bangku Farel.


"Tapi, aku pindah karena aku males duduk sebangku sama Farel!" Thalia memonyongkan bibirnya.


"Dia nyebelin, sih!" gerutunya.


Dahi Alan mengernyit melihat ekspresi wajah Thalia.


'Dia gak pernah sadar, ya, kalau dia adalah manusia paling menyebalkan di dunia ini?' geram Alan dalam hati.


"Tapi, tenang, Kak!" seru Thalia sambil meraih tangan Alan.


"Sekarang, Thalia yang kakak cari udah dateng!" girangnya. Alan hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.


"Aku tahu, Kak Alan lagi sedih ..." Thalia menatap wajah datar Alan yang terlihat lelah. Ternyata memar di pipi Alan akibat pukulan Alvin masih berbekas. Perlahan, tangan Thalia ingin menyentuhnya, tetapi Alan langsung menarik tangan Gadis Cantik itu .


"Lu mau ngapain?" selidik Alan sinis.


"Uhm, itu ... Pasti pipi Kak Alan sakit ..." dalih Thalia. Namun tangannya langsung dihempaskan oleh Alan.


"Gak, gue baik-baik aja, kok!" ketus Alan hendak pergi, tetapi Thalia langsung mencegahnya.


"Kak!" serunya. Alan memutar bola matanya, tetapi tetap menoleh.


"Apa lagi?" ketusnya.


Thalia langsung memasang wajah cerianya dan menunjukkan kotak puding pada Alan.


"Ini buat Kak Alan!" serunya sambil menyodorkan kotak puding yang dari tadi ia bawa-bawa.


"Apa itu?" tanya Alan yang sama sekali tidak menyentuhnya.


"Puding Cokelat, Kak! Ini buatanku, loh ..." manja Thalia sambil melirik ke arah Alan.


Alan menaikkan alisnya sebelah.


'Ya, masalah gue banyak salah satunya karena elu!' rutuk Alan dalam hati.


"Yah, makanya, siapa tahu, puding ini bisa menenangkan hati Kak Alan ..." ucap Thalia sambil tersenyum lebar. Ya, di dunia ini tidak ada satu pun orang yang bisa mendapatkan senyuman secerah ini dari Thalia.


Alan menghela napas kasar.


"Sorry, Thalia ..." Alan mendorong kotak itu menjauh darinya.


"Gue rasa, gue pernah bilang kalau gue gak suka makanan manis, apalagi cokelat. Jadi ... Jangan kasih gue yang kayak gini. Gak guna apalagi menghibur! Sama sekali enggak!" tekan Alan dingin yang langsung membuat Thalia membeku.


"Gue balik ke kelas dulu, Bye!" Alan pergi begitu saja bahkan tanpa menunggu respon Thalia.


Thalia ahendak mengejar Pujaan Hatinya, tetapi entah kenapa kakinya terasa berat sehingga Ia hanya bisa memandang kepergian Alan sambil menggigut bibir bawahnya.


"Kak Alan ... Ke-kenapa—" Seketika kakinya terasa lemas.


"Thalia, Hati-hati!" seru seseorang yang dengan sigap memapah tubuh Thalia yang hampir jatuh. Thalia menoleh ke arah suara dan matanya tak sengaja bertemu dengan mata orang tersebut.


"Fa-farel?" sahut Thalia dengan suara yang berat.


Cowok Berkacamata itu menaikkan kedua sudut bibirnya.


"iya, ini ak—" Thalia langsung menenggelamkan wajahnya di dada Farel.


"Kak Alan ... Kenapa Kak Alan selalu bersikap dingin padaku?" lirih Thalia sambil mencengkram seragam Farel.


"Padahal ... Padahal aku sudah berusaha ... Kenapa?" tangis Thalia. Farel hanya bisa menghela napas.


'Ya apalagi kalau bukan gara-gara lu, Kak Alan harus putus sama pacarnya?' jawab Farel dalam hati. Namun, tidak mungkin ia mengungkapkannya pada Thalia. Toh, Alan dan Sheilla memang sudah putus.


"Peluk aku!" titah Thalia tiba-tiba yang membuat Farel tertegun. Thalia pun mendongakkan kepalanya dan menunjukkan wajah yang berlinang air mata.


"Peluk aku! Harusnya kamu nenangin aku dengan peluk aku! Kenapa malah diam saja?" protes Thalia.


"I-iya! Iya ..." Tangan Farel yang gemetaran dengan ragu-ragu menyentuh punggung gadis yang kini kembali menenggelamkan wajahnya di dalam dekapannya.


'Duh, ini beneran gue boleh kayak gini?' batin Farel yang akhirnya berhasil menyentuh punggung Thalia. Ia pun mengeleus punggung gadis itu yang terasa begitu ramping.


'Duh, Thalia gak pernah makan apa-apa, ya? Kok badannya kurus banget? Padahal dia orang kaya. Dia bebas mau makan apapun,' pikir Farel yang matanya tak sengaja mendapati tatapan tajam seorang gadis di luar.


'Marina ...' merinding Farel dalam hati. Ia langsung menatap Thalia yang kini ada di dekapannya.


'Habis gue! Mana lagi—' Thalia malah mengeratkan pelukannya.


"Peluk aku lebih erat lagi! Kenapa kamu cuman pegang punggung aku?" protes Thalia lagi. Farel memejamkan matanya erat-erat dan memeluk Thalia seerat mungkin.


'Bodo amat! Nanti tinggal pasang kuping baja aja! Emangnya Marina bisa apa?' abai Farel dalam hati.