
Akibat kacamatanya yang rusak, kini Farel harus berjalan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai benjol di kepalanya malah bertambah dan membuat dirinya semakin menderita. Sekarang dirinya juga sudah tak direpotkan dengan buku-bukunya karena tasnya sudah kering.
Nsmun, belum sempat ia sampai ke tempat duduknya, tiba-tiba kakinya tersandung dan lagi-lagi wajahnya menghantam lantai. Sontak gelak tawa meledak setelahnya.
"Rasain tuh, Culun! Ringkih banget jadi orang. Makanya, jalan pakai mata!" seru seorang perempuan. Farel hapal betul suara gadis yang baru saja meledeknya.
Farel hanya terdiam sembari bangkit. Ia berusaha tak memedulikan tawa dan ucapan perempuan itu, meski hatinya terasa sakit.
"Heh! Lu mengabaikan gue?" tukas gadis itu yang tidak lain adalah Renata sambil menggebrak meja.
Farel hanya menunduk sambil menggeleng.
"A-apa yang lu— maksudnya kamu perlukan?" tanya Farel malas basa-basi sambil meremas tasnya.
"Yah, gue, sih tahu diri. Lu itu 'kan milik Thalia!" kekeh Renata yang membuat Farel mengangkat kepalanya. Ia jadi terngiang ungkapan Thalia kemarin hingga membuat wajahnya memerah.
"Kenapa lu?" tanya Renata yang menyadari raut aneh wajah Farel.
"Uhm, e-enggak!" sahut Farel lalu pergi ke tempat duduknya.
Marina yang berdiri di samping Renata pun memicingkan matanya. Jelas ada hal yang Farel sembunyikan. Marina pun tak bisa menahan diri lagi. Ia segera menghampiri Farel. Renata yang melihatnya hanya mengernyitkan dahi.
"Heh, lu! Ikut gue!" sinis Marina.
"Ada apa, Marina?" tanya Farel bingung.
"Gue mau ngomong sama lu!" tegas Marina sambil menarik kerah Farel.
"Gak usah banyak tanya!" sahut wanita itu lagi sambil menyeret Farel dengan paksa. Sedangkan Renata dilewati begitu saja tanpa diajak.
"Marina kenapa, ya?" gumam Renata yang hendak mengikuti Marina dan Farel, tetapi tepat saat mereka berdua keluar, Vannesa datang dengan wajah semringah.
"Renata!" serunya yang langsung menemukan salah satu sahabatnya di sana. Vannesa langsung memeluk tubuhnya.
"Ya ampun, cecan gue satu ini, kayaknya lagi happy, deh," goda Renata.
Senyum Vannesa semakin lebar.
"Iya lah! Gimana gak happy! Uhm, tapi ... gak seru kalau ceritanya ke elu doang. Marina dan Thalia mana? Belum datang, ya?" kecewa Vannesa.
"Uhm, Thalia belum datang, tapi tadi Marina bawa Farel keluar sambil seret dia gitu. Kira-kira ngapain, ya?" curiga Renata.
Vannesa malah tersenyum.
"Yah, apa lagi? Paling ngasih pelajaran karena udah bikin hubungan gue sama Kak Aldo retak!" kata Vannesa tak begitu peduli.
"Bener juga lu. Marina itu 'kan selalu punya rencana tak terduga!" sahut Renata.
"Mending keluar, yuk. Kita cari Thalia! Gue gak sabar ceritain yang Kak Aldo lakuin ke gue kemarin!" seru Vannesa. Renata pun mengiyakannya, kemudian Vannesa meletakkan tasnya dan menggandeng Renata untuk membawanya pergi.
***
Marina membawa Farel ke Taman Sekolah atau lebih tepatnya tempat seorang Thalia seolah menembak Farel kemarin.
Marina berdiri dengan membuka kaki selebar bahu sembari melipat tangannya. Gadis itu bahkan mengangkat dagunya seraya memandamg sinis ke arah Farel.
"Ingat tempat apa ini?" ketus Marina.
Farel pun memandang ke sekeliling, ia menyipitkan matanya karena penglihatannya agak buram.
"I-ini taman sekolah. Ada apa? Ka-kamu mau apa?" tanya Farel.
Marina mendelik kesal karena jawaban Farel.
"Lu pura-pura bodoh atau pura-pura gak tahu, ha?!" bentak Marina sambil berkacak pinggang.
Farel hanya bisa menundukkan kepala.
"Ma-maaf, Marina, gu— maksudnya aku gak ngerti maksud kamu," ujar Farel gemetaran.
Marina menatap tajam seorang Farel sambil menghentakkan kakinya.
"Ya, lu pikir, dong!" tekan Marina sambil menunjuk pelipisnya sampai membuat Farel terhenyak. Laki-laki itu berusaha berpikir, tetapi ia masih tidak mengerti maksud dari Marina.
"Ck! Dasar otak udang!" sungut Marina.
"Ma-maaf!" refleks Farel.
'Seenaknya aja, nih cewek ngatain gue otak udang! Lagian yang gak jelas 'kan dia! Apa lagi maksudnya?'batin Farel kesal.
"Lu inget 'kan, kemarin ngapain di sini sama Thalia?" geram Marina.
Sontak mata Farel membulat.
'Habis gue! Apa dia denger ucapan konyol si nenek sihir?' tebak Farel dalam hati, tetapi ia langsung menggelengkan kepala pelan.
'Yah, bisa aja dia gak denger semuanya,' batin Farel berusaha berpikir positif.
"Gue ... eh, maksudnya aku ... aku cuman minta maaf ke Thalia kemarin karena aku salah bicara," jawab Farel.
"Jangan bohong!" dingin Marina yang menatapnya tajam.
"Bener, kok. Kamu bisa tanya Thalia," ujar Farel membela diri. Dia memang tidak bohong sama sekali.
"Terus, Thalia suruh lu apa? Dia udah maafin elu?" cecar Marina.
"Udah, dia ... uhm ..." Farel bergumam, tidak mungkin dia memberitahu perkataan Thalia kemarin. Bisa salah paham.
"Pokoknya bagi aku, Thalia perempuan tercantik di sekolah ini," ujar Farel menceritakan akhir dari pertemuannya kemarin dengan Thalia di taman sekolah.
Marina memicingkan mata sambil mengangguk-angguk.
"Terus, kalau menurut lu, Thalia cantik, lu bisa berpikir kalau dia bakal suka sama lu?" tukas Marina yang membuat mata Farel melotot.
"Apa? Marina, gue gak pernah mikir begi—"
"Pakai aku-kamu!" sergah Marina. Sontak Farel tersentak.
"Iya, ma-maaf. A-aku maksudnya gak pernah mikir gitu," ralat Farel.
'Ogah banget suka sama nenek sihir kayak dia,' batin Farel mengumpat.
"Terus, maksud lu tadi apa di kelas?" sungut Marina membuat dahi Farel berkerut.
"Di-di kelas? Ada apa di kelas?" Farel semakin bingung, tetapi dia berusaha maklum, Thalia and the geng memang sering menyalahkan hal yang bahkan ia tidak mengerti.
Marina mengangkat jarinya dan menunjuk wajah Farel.
"Lu suka 'kan sama Thalia? Tadi lu salting 'kan?" tukas Marina dengan mata yang menyalak.
Di antara semua laki-laki di dunia ini, Marina paling tidak sudi jika laki-laki bernama Farel jatuh cinta pada Thalia. Ia tidak rela, orang rendahan seperti Farel berani lancang dengan menyukai sahabatnya.
"Hah?" Farel kini bertanya-tanya.
"Hah? Reaksi lu cuman 'Hah'? Lu main-main sama gue, ha?" Marina mendorong tubuh kurus Farel hingga membuat lelaki itu hampir jatuh.
"E-enggak. Maksud gue—" Farel meringis karena keceplosan.
"Maksud aku, aku gak pernah punya rasa suka sama Thalia. Serius!" ucap Farel sambil menunjukkan dua jarinya.
"Ugh! Terserah!" pekik Marina.
"Yang pasti, awas lu berani-berani suka sama Thalia! Lu berurusan sama gue! Habis lu sama gue!" ancam Marina kemudian langsung meninggalkan Farel sendirian sambil menghentakkan kakinya.
Sementara Farel masih berusaha menahan emosinya akibat tudingan Marina. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil mendelik kesal.
"Cuih! Sinting emang!" umpat Farel.
"Pikir, dong, gimana coba bisa suka sama nenek sihir kejam dan sadis kayak Thalia, lu dan temen-temen lu!" sungut Farel.
"Yang ada, gue mau hancurin lu semua! Gue mau, lu ngerasain, apa yang gue rasain! Dasar orang kaya sombong, gila, gak jelas!" umpat Farel lagi sambil melipat tangannya.
"Terus, kenapa cuman di mulut doang?"
Tiba-tiba ada suara seorang laki-laki dari belakang Farel, membuat lelaki itu terhenyak. ia pun berbalik dan matanya membulat.
"Balas dendam aja. Buat diri lu lega!" ujar laki-laki itu dengan senyuman tampan khasnya.
Farel tak menyangka bahwa laki-laki yang berdiri di hadapannya bisa bicara begitu.
"K-kak Alan? Se-sejak kapan?" gumam Farel refleks.
"Kenapa? Lu takut?" tantang Alan sambil tersenyum angkuh.
***