Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Berpisah dengan Damai


Alan tersenyum seraya memandang Thalia yang kini menatapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Yah, sejujurnya gue benci sama lu karena alasan yang gak mau gue ungkapin, tapi ..." Alan kembali mengulurkan tangannya.


"Gue mau maafin lu dan melupakan kebencian gue, jadi gue bisa hidup tenang," jelas Alan.


"Lu juga udah gak punya perasaan sama gue 'kan? Jadi, hubungan kita ke depannya mungkin kayak, kakak dan adek kelas biasa," tambah Alan lagi.


Thalia hanya menghela napas panjang sambil menatap uluran tangan Alan. Cowok ini semakin dikenal, ternyata semakin menyebalkan. Entah apa yang merasukinya dulu bisa sangat tergila-gila dengan Alan.


"Deal?" tekan Alan yang sama sekali tidak mendapatkan respon.


Thalia pun menatap sinis ke arah Alan.


"Kalau di masa depan, kita ketemu, Kak Alan bakal ngapain?" selidik Thalia.


Dahi Alan mengernyit.


"Gue ngapain? Ya gue sapa lu ..." Alan langsung menarik uluran tangannya. Kemudian menarik kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi sambil melampaikan tangan pelan.


"Hai, Thalia. Apa kabar? Gimana sekolah lu? Lancar?" ujar Alan dengan nada super ramah dan ceria. Thalia hanya mengernyitkan dahi kemudian kembali menghela napas.


Atensi Alan kembali fokus pada Thalia.


"Kira-kira gue akan seperti itu. Maklum, gue emang se-ramah itu," sombong Alan sambil menyisir poninya.


"Jadi gimana? Mau berdamai?" Alan kembali mengulurkan tangannya. Thalia pun memandang uluran tangan itu. Ia kembali melirik ke arah Alan yang kini tersenyum lebar.


'Yah, kalau dipikir, buat apa aku punya masalah sama Kak Alan?' batin Thalia. Ia pun menjabat tangan Alan.


"Oke. Kita damai!" ujar Thalia, Alan langsung menggenggam erat dan mengayunkan jabatan tangannya dengan Thalia.


"Wah, terima kasih Thalia! Ternyata lu berjiwa besar," puji Alan yang membuat Thalia geleng-geleng kepala.


"Udah, kayak gitu aja 'kan?" Thalia langsung menarik tangannya, membuat raut ceria Alan sirna.


Cowok itu sempat terdiam, tetapi kembali tersenyum lebar.


"That"s right! Dengan begini, hubungan kita sudah direset!" seru Alan yang membuat Thalia mengernyitkan dahinya.


"Direset—"


"Kak Alan!" Tiba-tiba muncul seorang gadis cantik dengan mata bulat yang besar berjalan mendekati Alan. Thalia dan Alan pun menoleh.


"El!" girang Alan langsung menghampiri gadis itu dan merangkulnya, sementara Thalia memperhatikan dengan serius.


"Kak Alan dicariin Daddy tuh ..." Cewek bermata bulat itu melirik sinis ke arah Thalia.


"Udah 'kan urusannya sama dia?" katanya dengan nada manja. Alan langsung mengangguk.


"Udah, sayang," jawab Alan yang membuat Thalia tertegun. Sayang? Alan baru saja menyebut gadis itu dengan sebutan Sayang. Mungkinkah cewek itu pacarnya?


"Thalia, gue sama adek gue balik duluan, ya!" sahut Alan yang langsung menghapus spekulasi di kepala Thalia. Ternyata gadis itu adiknya Alan. Ya, seharusnha Thalia tahu itu, bahkan gadis itu menyebut "Daddy" yang pasti sebutan ayah di keluarga Alan.


Thalia pun mengangguk.


"Uhm, lu gak apa-apa 'kan balik sendiri?" tanya Alan lagi. Sekali lagi Thalia mengangguk.


"Ih, biarin aja kali, Kak! Lagian, jadi cewek, kok manja banget!" sahut Gadis itu lagi sambil menyenderkan kepalanya di dada Alan.


"Yang berhak manja ke Kak Alan, tuh aku doang!" tekan Gadis itu lagi sambil menatap sinis ke arah Thalia lagi.


Thalia hanya bisa geleng-geleng kepala. Alan yang barusan ia hadapi dan Alan yang sekarang bermanja-manja dengan adiknya seperti dua orang yang berbeda. Thalia pun pergi meninggalkan Kakak-beradik itu sebelum ia muntah.


Thalia menyeret langkahnya menuju tempat peristirahatan. Di salah satu meja yang tersedia, ia bisa melihat ketiga sahabatnya sedang berbincang-bincang seru. Thalia hanya bisa menghela napas, entah kenapa ia merasa jiwanya tidak bersama raganya.


"Coba aja ada Farel ..." gumam Thalia.


Setelah Farel pergi dari rumahnya kala itu, Thalia sama sekali belum menghubungi Farel, begitu juga sebaliknya. Entah Farel sedang melakukan apa. Mungkin Cowok Berkacamata itu sibuk membereskan rumahnya. Tanpa sadar sebuah senyum terlukis di wajahnya


"Thalia!" seru Vannessa yang memecahkan lamunan Thalia. Gadis cantik itu yang tadi tersenyum angsung mengubah wajahnya menjadi datar.


Vannessa langsung berlari menghampirinya dan menggandeng tangannya.


"Thalia, kayaknya muka lu bahagia banget, ayo ikut gue, lu harus cerita semuanya apa yang terjadi antara lu dan Kak Alan," ujar Vannessa yang langsung membawa Thalia bersamanya.


Kini Thalia berakhir di meja yang sama dengan ketiga sahabatnya. Thalia memandang wajah serius mereka satu per satu.


"Jadi, ceritain, Thalia!" seru Vannessa. Thalia hanya mengernyitkan dahinya.


"Jadi, lu sama Kak Alan udah resmi pacaran?" sosor Renata yang memajukan badannya, tetapi Marin segera mendorongnya menjauh.


"Kenapa lu balik sendiri? Kak Alan mana?" cecar Marina yang sekarang memicingkan matanya.


Thalia menarik napas panjang.


"Yah gitu, deh ..." ujar Thalia.


"Yah gitu, deh apa?" tanya ketiga sahabatnya kompak.


Thalia hanya mengerjapkan mata seraya menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Kak Alan gak nembak aku. Kita gak pacaran. Udah," jawab Thalia.


"What? Kalian gak pacaran? Kok bisa?" sahut Renata sambil menggebrak meja.


"Ya bisa. Lagian Kak Alan gak suka aku, aku gak suka Kak Alan. Kalaupun Kak Alan nembak juga bakal aku tolak," beber Thalia panjang lebar.


"Tapi kenapa? Terus, ngapain Kak Alan effort sampai ke Bali buat nemuin Thalia?" kecewa Vannessa.


"Kak Alan gak effort ke Bali buat Thalia. Dia emang ada di sini, emang lagi liburan di sini. Jadi ini kebetulan aja," timpal Marina.


"Tapi, Mar ... Emangnya lu gak curiga, Kak Alan kenapa bisa tepat milih temoat liburan yang sama kayak Thalia? Apa itu beneran cuma kebetulan?" imbuh Renata.


"Yah, mau kebetulan atau enggak, aku gak peduli. Pokoknya, urusan aku sama Kak Alan udab kelar. Jadi, jangan bahas cowok itu lahi di depan aku atau kalian berusaha bikin aku sama Kak Alan dekat. Gak akan berhasil. Oke?" pungkas Thalia yang membuat ketuga sahabatnya melongo. Mereka bertiga pun mengangguk.


"Ya udah, kalian masih mau di sini? Aku laper, nih." Thalia langsung mengusap perutnya.


Marina langsung berdiri.


"Iya, gue juga laper! Mendingan kita kulineran dan makan semua yang enak-enak di Bali! " seru Marina yang membuat Vannesa dan Renata melongo.


"Sejak kapan lu jadi heboh gini, Mar?" selidik Renata yang duduk di sampingnya. Sontak Marina langsung duduk.


"Yah, gue mau ganti suasana aja," bela Marina sambil memalingkan pandangannya. Sontak gelak tawa ketiga sahabatnya meledak.


"Ya udah, yuk ... Kita mending cari makan!" ajak Thalia seraya memandang langit. Di kepalanya masih terngiang ucapan Alan tadi. "Hubungan kita sudah direset!"


Rasanya beban di hati Thalia yang diakibatkan obsesinya pada Alan hilang dan tubuhnya terasa ringan sekarang. Thalia tersenyum semakin lebar. Mungkin bukan hanya hubungan Thalia dan Alan yang direset, melainkan juga esok hari, segalanya akan direset.


Thalia benar-benar sudah tidak sabar masuk sekolah lagi. Ia akan bertemu Farel dan menjalani hari barunya dengan hati yang lebih tegas dan pasti. Bukan Alan yang Thalia suka, melainkan Farel. Thalia memandangi satu per satu sahabatnya, mungkin ketiga sahabatnya akan kecewa, tetapi ia harus berani jujur akan perasaannya.