Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Sedih dan Gelisah


Farel berkali-kali memandang wajah Alan dan uluran tangannya. Sebenarnya ia sangat takut kalau hidupnya akan bergantung dengan kakak kelasnya yang sebenarnya memiliki kekuasaan lebih besar dari perundungnya yang sebelumnya.


"Yah, kalau masih mau mikirin, gue juga gak akan maksa," ujar Alan yang menarik kembali tangannya.


"Gue tahu, lu pasti punya banyak pertimbangan. Seperti kata gue waktu itu, gue akan terus datang dan terus berusaha ngebujuk lu," ujar Alan.


Farel hanya terdiam sambil memandang Alan.


"Pesen gue, lu gak perlu minta dokter atau petugas kesehatan lainnya buat pindah kamar. Lu harua di sini sampai benar-benar pulih!" ujar Alan.


"Gue akan minta maaf sama nyokap lu. Jadi lu gak perlu mikirin apa-apa. Istirahat yang bener!" ujar Alan kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.


"Kak Alan!" seru Farel yang membuat langkah Alan terhenti.


"Gue ... Gue punya cara sendiri buat keluar dari segala kesialan ini. Lihat aja. Solusi ini akan jauh lebih baik dari solusi lu!" ujar Farel.


Alan pun tersenyum miring.


"Oke, gue penasaran, lu bakalan ngapain," ujar Alan yang kemudian keluar dari ruang rawat inap Farel.


Tatapan Farel pun jadi serius.


"Kuncinya ada di Thalia. Gue cuman harus bikin Thalia berhenti," gumam Farel bertekad.


***


Kini empat gadis cantik sedang bergerombol di depan kelas IX-A, membuat jalan masuk kelas terhalang.


"Woy, cewek-cewek cantik, pada ngapain di sini? Bisa, gak, berdirinya di tempat yang agak jauh, misal di lapangan? Pft!" Alvin yang hendak masuk malah menggoda empat adik kelasnya itu.


"Kak Alvin!" kesal Renata.


"Lagian, lu pada ngapain, sih? Gue mau leeat! Permisi!" ledek Alvin yang mendorong Vannesa dan Renata yang berdiri sebelahan agar menjauh.


"Kak Alvin, tunggu!" Renata langsung menarik tangan kakak kelasnya itu.


"Apa? Ada perlu apa sama gue?" tanya Alvin.


"Kak, kakak tau, gak Kak Alan kemana?" tanya Renata lagi.


Alvin mengernyitkan dahinya sambil memandangi keempat adik kelasnya saru persatu.


"Seinget gue, yang bucinin Alan di antara kalian berempat itu adalah Thalia. Kok, malah lu yang nanya?" selidik Alvin.


"I-itu—"


"Aku juga penasaran, Kak! Kak Alan kemana? Kenapa gak masuk selama tiga hari?" ucap Thalia buru-buru, membuat Alvin terkekeh.


Lelaki bermata sipit itu pun bergumam seraya berpikir.


"Alan? Uhm, paling dia bolos! Orang ganteng, kaya, populer, mah mau ngapain aja bebas!" jawab Alvin hendak pergi, tetapi tangannya kembali ditarik, tetapi kali ini oleh Thalia.


"Bolos? Bukannya sakit?" tanya Thalia.


"Enggak ... Manusia kayak Alan gak bisa sakit. Kalau pura-pura sakit mungkin!" kekeh Alvin lagi.


"Ih, Kak Alvin, kita beneran tanya, nih!" kesal Thalia.


"Wey, ada apaan, nih ngalangin jalan?" Andra, sahabat Alan yang lain pun datang sambil membawa es tehnya.


"Andra, anak-anak ini kekeuh kalau Alan sakit. Dia bukannya bolos, ya?" ujar Alvin cari pembelaan. Andra malah tertawa mendengar penuturan sahabatnya.


"Alan bisa sakit? Dunia udah kebalik kali, Tuh anak paling lagi maled sekolah aja, haha!" Andra pun masuk ke dalam kelas sambil tertawa terbahak-bahak.


Alvin pun melempar senyum pada empat gadis di hadapannya sambil melepas cengkraman tangan Thalia.


"Kak Alan bolos? Gak mungkin!" seru Renata.


"Kalau gitu, mending kita datengin ke rumahnya aja!" usul Vannesa.


"Emangnya lu tahu?" timpal Marina.


"Aku tahu, kok," ujar Thalia yang pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya.


"Loh? Kok ditinggal, sih? Thalia! Tunggu!" Ketiga sahabatnya pun berlari mengikuti Thalia.


Sepulang sekolah, Thalia and the geng memutuskan untuk pergi ke rumah Alan. Namun saat sampai di depan gerbang mereka malah menemui kesulitan. Satoam rumah Alan sama sekali tidak mengizinkan mereka masuk.


"Kami ini temannya Kak Alan. Saya bahkan jalan sama Kak Alan kemarin," mohon Thalia.


"Maaf, Non ... Tapi aturan rumah ini melarang perempuan asing yang tidak dikenal sama Nyonya Besar untuk masuk. Dan lagi, Tuan muda Alan sedang tidak ada di rumah," ujar Pak Satpam.


"Lalu, Kak Alan dimana kalau tidak di rumah?" tanya Thalia.


"Tuan Muda Alan hari ini pergi ke rumah sakit untuk cek kesehatan rutin dan masih belum pulang. Mungkin Tuan Muda akan pulang malam, jadi sebaiknya Non pulang," ujar Pak Satpam.


"Pak, tapi—" Pak Satpam sudah tak mau menerima pertanyaan lagi. Thalia pun tidak bisa apa-apa. Gadis itu pun kembali ke mobilnya sambil cemberut.


"Gak boleh, Thal?" tanya Marina.


Thalia hanya menggeleng.


"Penjagaan rumah Kak Alan ketat banget. Aku gak ngerti dengan aturannya yang gak memperbolehkan perempuan yang gak dikenal mamanya untuk masuk!" gerutu Thalia.


"Hem ... berarti lu harus pedekate sama mamanya Kak Alan gak, sih? Masa gini doang gak boleh masuk?" timpal Renata.


"Udah, ah! Aku pusing! Aku mau pulang!" kesal Thalia. Harinya benar-benar buruk.


"Pak, langsung antar temen-temen saya pulang!" perintah Thalia. Sang Supir pun memutar mobilnya dan pergi dari kediaman Alan.


Setelah mengantar ketiga temannya, Thalia kembali ke kamarnya, satu-satunya tempat yang bisa membuatnya tenang.


Ia pun menjatuhkan dirinya di tempat tidur.


"Kak Alan tuh hidupnya aneh!" kesal Thalia.


"Untung ganteng!" gerutunya.


Ia pun memutar tubuhnya seraya memandang langit-langit kamarnya kemudian memegang dadanya.


"Tapi, kok aku gak ngerasa apapun, ya? Aku juga merasa kalau Kak Alan bolos ...." gumam Thalia.


"Tapi tadi kata Pak Satpam, Kak Alan pergi ke rumah sakit buat cek kesehatan. Emangnya Kak Alan sakit apa, ya?" gumam Thalia kemudian memutar tubuhnya ke samping. Tanpa sengaja ia menemukan sebuah foti di atas kasurnya.


"Farel ..." Tentu, orang yang berada di foto itu adalah Farel dengan dandanan perempuan. Kemarin mereka sempat memotret Farel sebagai bahan lelucon.


Thalia pun memandang foto tersebut sambil bergumam.


"Kapan kamu balik lagi ke sekolah? Dasar pemalas! Kenapa kamu lama banget istirahatnya di rumah sakit!" omel Thalia dengan mata yang berkaca-kaca sambil terus memandang foto itu.


"Kamu harus segera sembuh! Kamu kira kamu bisa lepas dari aku dengan pura-pura sakit begini?" kesal Thalia lagi yang tabpa sadar malah menitikkan air mata dari sudut matanya.


Ia pun menutup kedua matanya dengan lengan. "Aku mau lihat kamu lagi ... Kapan kamu balik ke sekolah lagi!" tangis Thalia pun pecah. Ia tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini hatinya diselimuti kesedihan dan kegelisahan. Apa Farel penyebabnya? Tapi kenapa bisa? Memangnya apa arti Farel bagi dirinya?


Thalia pun membuka matanya dan kembali memandang foto Farel.


"Aku harap, besok aku bisa bertemu denganmu," ucap Thalia sambil mencium potret Farel.