
Orange jus akhirnya datang. Farel masih menunggu Thalia menjelaskan semuanya setelah wanita itu meminum orange jus nya dalam satu kali teguk.
"Oke ... oke ..." Thalia berusaha serius sekarang karena wajah bingung Farel sudah tak tertolong lagi.
"Farel, aku sekarang mau tanya kamu!" seru Thalia. Farel menganggu serius.
"Apa kamu sengaja atau tidak sengaja melempar adonan tadi ke arah wanita menor barusan—pft!" Lagi-lagi Thalia malah tertawa, membuat Farel merasa gadis ini sedang bercanda. Namun ia tidak suka sama sekali.
"Thalia, sepertinya kamu harus puas-puasin tertawa dulu ... Aku sama sekali gak ngerti sama pertanyaan kamu," ujar Farel berusaha bersabar. Ia lelah dengan kebingungan ini.
Sontak tawa Thalia langsung sirna. Entab kenapa, ia merasa Farel sedang menganggapnya bodoh.
"Apa maksud kamu! Aku ini serius! Dan kamu harus jawab dengan jujur!" Kini ucapan Thalia lebih terdengar seperti ancaman.
Farel terhenyak, ia mana menduga kalau Thalia akan berubah drastis seperti ini. Lelaki itu pun bergumam. Ia sebenarnya agak takut mengakui yang sejujurnya.
"Farel! Jawab!" paksa Thalia sambil melotot.
Farel yang tegang pun berusaha tetap bisa berpikir. Terkadang bentakan membuat apa yang dia pikirkan hilang begitu saja.
"Ja-jadi ... A-aku tadi—"
"Apa kamu gak bisa bicara dengan jelas?" omel Thalia lagi.
Farel yang gemetaran hanya busa mengangguk. Ia pun menarik napas panjang-panjang.
"Maaf! Tadi aku sengaja melakukannya!" ujar Farel dalam satu kali napas tanpa menatap wajah Thalia. Ia tidak berani menghadapi ekspresi marah gadis cantik itu.
Namum tidak terdengar suara amarah atau mungkin decakan kesal dari Thalia. Farel oun memberanikan diri mengangkat keoalanya dan memandang wajah seorang Thalia.
Ternyata gadis itu sedang takjub dengan mata yang berkaca-kaca. Farel makin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa kamu sengaja?" lirih Thalia.
Haruskah Farel mengakuinya lagi? Ah, sepertinya ia akan dapat hukuman yang lebih berat dari biasanya.
"Be-begini Thalia ..." lelaki itu mulai menggaruk telinganya yang tiba-tiba terasa gatal.
"A-aku ... Maaf! Aku kesal melihat sikap tante tadi sama kamu! Makanya ... makanya, reflek, aku mau buat dia berhenti dah ..." Ucapan Farel terhenti begitu menyadari bahwa Thalia kini sedang menatapnya lamat-lamat.
"Ah ... Tha-thalia! Ka-kamu boleh hukum aku apa aja! Aku akan menerima!" ujar Farel taboa pikir panjang. Toh, ia tidak bisa lagi membela diri. Menerima hukuman adalah satu-satunya jalan agar tidak harus menjalani hukuman berat.
"Farel ..." Namun Farel malah mendegar suara Thalia yang bergetar.
"Thalia, kamu—" Tiba-tiba Thalia malah memeluknya, membuat Farel semakin bingung dan pusing. Otaknya tak mampu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan situasi aneh sejak tadi.
Thalia sendiri malah memeluk Farel dengan sangat erat, seolah ada sebuah emosi mendalam yang dilampiaskan oleh gadis itu.
"Farel ... Aku tahu, kamu milikku," bisik Thalia yang sontak membuat tubuh Farel merinding. Namu rasa merinding sesaat itu malah menyisakan rasa candu bagi Farel. Ia ingin merasakannya lagi.
"Aku tahu, kamu pasti akan selalu di pihakku," ucap Thalia lagi, tetapi ucapan itu tidak memunculkan sensasi yang sama.
'Duh, gue mikir apa, sih? Ini yang lagi meluk elu itu Thalia! Si Nenek Sihir Gila!' umpat Farel berusaha menyadarkan dirinya.
"Aku gak akan hukum kamu. Aku justru bangga sama kamu!" ujar Thalia sambil mencubit gemas kedua pipi tirus Farel.
"Tapi tadi aku udah ..." Farel menggantung kalimatnya. Jelas-jelas Thalia baru saja memberikan belas kasihnya, kenapa dia sendiri yang malah minta dihukum?
Thalia pun melepas pelukannya seraya menaruk napas.
"Wanita itu adalah istrinya Papa ..." ujar Thalia agak lirih.
Farel mengernyitkan dahi, kenapa Thalia menyebut "Istrinya Papa". Bukankah orang tang jadi istri ayahnya sama saja dengan ibunya?
"Aku tidak pernah mau menyebut wanita utu ibuku!" Kini terdengar nada miris dari suara Thalia.
"Wanita itu telah merebut Papa dari Mamaku yang sakit!" Kini gadis itu terisak.
Terlebih Farel yang membulatkan matanya mendengar sebuah fakta yang tidak pernah ia duga dari seorang Thalia.
'Tidak ada hidup yang sempurna, Farel!' Tiba-tiba ia jadi teringat ucapan Alan.
"Sudah berhasil merebut Papa hingga membuat Mama meninggal, sekarang mau merebut hakku sebagai putri pertama dari istri sahnya!" emosi Thalia yang sekali lagi membuat Farel kaget. Kenapa Thalia bisa menyebut kata "istri sah"? Apa itu berarti wanita tadi adalah wanita simpanan? Ya ampun, kenapa ucapan Thalia terdengar seperti sinetron favorit ibunta yang Farel dengar di malam hari?
"Dia telah menjebak Papa untuk menikahinya. Namun, dia begitu serakah ..." Thalia kini menunjukkan wajahnya yang sudah berlinang air mata.
"Dia bahkan selalu berusaha mencari kesalahanku! Dia ingin aku juga hilang dari hidup Papa seperti dia menyingkirkan Mama ..." Seketika tangisan Thalia pecah, menciptakan ratapan yang pilu.
Hati Farel yang selalu mengutuk Thalia kini malah merasa bersalah mengetahui bahwa gadis ini telah menjalani hidup yang begitu sulit. Jelas, ia tadi tertawa terbahak-bahak. Kalau Farel jadi dirinya, ia juga akan melakukan hal yang sama.
Farel yang agak ragu-ragu pun berusaha membelai punggung Thalia agar gadis itu bisa merasa lebih baik. Tanpa berkata-kata, lelaki berkacamata itu mengirim empatinya pada gadis cantik di sampingnya.
"Aku senang, karena kamu di pihakku," ucap Thalia di sela tangisnya. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Farel sembari tersenyum.
"Terima kasih, Farel ..." ucapnta yang seketika masuk ke dalam lubuk hati Farel, membuat lelaki berkacamata itu beku sejenak.
'Thalia bilang terima kasih? Apa nenek sihir telah berubah jadi tuan putri?' tanya Farel dalam hati.
Mana pernah ia menyangka akan mendapat ucapan begitu dengan ekspresi tulus dari seorang Thalia.
Air mata yang masih tersisa di pipi Thalia tidak membuat kecantikan gadisnitu pudar ketika melemparkan senyuman lembut pada Farel.
"Kumohon, selamanya lah berada di pihakku, hm?" pinta Thalia yang kali ini tidak memerintahnya, tetapi kenapa? Seharusnya gadis ini bilang, "Kamu harus ada di pihakku selamanya?" Permintaannya terdengar putus asa, seolah tidak ada orang yang berada di pihaknya.
Lantas, bagaiman dengan ketiga sahabatnya yang kejam itu? Apakah mereka tahu kondisi menyedihkan seorang Thalia?
"Farel ..." Seruan Thalia terhadap dirinya sontak membuyarkan lamunan lelaki berkacamata itu.
"Kita bikin kuenya lain kali aja, ya ... Uhm, aku akan minta supirku untuk mengantarmu pulang," ujar Thalia yang kembali berlinang air mata. Mungkin kesedihannya belum selesai.
Sebenarnya Farel ingin berada di samping gadis ini, tetapi apa gunanya. Toh, ia tidak bisa bertindak lebih jauh lagi. Ia hanyalah "Anjing" Thalia yang hanya boleh menuruti perkataan majikannya. Farel hanya bisa mengangguk. Thalia pun tersenyum tipis melihat Farel menurutinya.
Farel pun segera membereskan barang-barangnya dan meninggalkan gadis itu sendirian. Tepat setelah Farel pergi, Siska—Wanita yang dinikahi oleh Papa Thalia pun pergi ke kamar anak tirinya itu.