Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Pertunjukkan di Kantin


Farel meringis, berusaha menahan rasa pedih dari jambakan Aldo—Anak kelas VIII yang populer, tetapi terkenal pembuat onar.


"Tadi lu bilang apa? Lu gak terima jadi babu gue?" tukas Aldo.


"Bu-bukan, Kak—"


Aldo menarik jambakannya makin erat, membuat Farel makin meringis.


"Hari ini lu adalah babu gue dan temen-temen gue! Jadi, gue gak mau denger suara lu! Hari ini, lu cuman boleh ngangguk! Ngerti gak lu?!" Aldo langsung melempar Farel hingga jatuh tersungkur.


Kini semua pasang mata tertuju pada Aldo, seperti biasa, tidak ada yang berani berkutik dan hanya bisa berbisik-bisik saja.


Farel hendak berdiri, tetapi tepat saat itu perutnya ditendang oleh salah satu teman Aldo yang membuka kerahnya hingga tubuh Farel kembali terjatuh.


"Bangun lu! Lelet banget!" kekehnya.


Farel tak bisa bersuara, ia tahu, jika bersuara akan semakin parah. Lelaki itu hanya mampu menganggukkan kepala sesuai perintah Aldo, para anak kelas VIII itu pun tertawa puas dengan apa yang mereka dapati.


Sementara di salah satu meja Kantin, ada dua pasang mata yang memerhatikan.


"Heh, lihat, selingkuhanmu ditindas, tuh!" tukas lelaki tampan itu sambil menggeram.


"Dia bukan selingkuhan, cuman temen sekelas," jawab gadis bertubuh gemuk di hadapannya.


"Bukannya tadi sudah aku jelaskan? Kakak masih marah?" lanjut gadis itu yang tidak lain adalah Sheilla.


Lelaki itu alias Alan hanya mendelik kesal.


"Gue masih kesel karena lu bisa-bisanya ngasih totebag yang gue kasih ke dia!"


Sheilla hanya bisa menghela napas.


"Iya, aku gak akan ngasih lagi ke siapapun barang yang kakak kasih!" ujar Sheilla yang sangat menyesali ucapannya sendiri.


Namun Alan tak mendengarkannya dan atensinya malah fokus pada Farel yang sedari tadi dijadikan bulan-bulanan oleh Aldo and the geng.


Alan bisa melihat Farel yang terus berusaha menangkap sebuah botol teh kemasan yang dilempar oleh para anak buah Aldo. Entah apa yang membuat Farel begitu gigih menangkap botol itu. Sedangkan orang-orang itu malah tertawa terbahak-bahak.


"Kak Alan, Shei ke kelas dulu, ya," izin Sheilla.


"Ya udah, sana! Pergi!" usir Alan masih ketus. Dirinya masih kesal terhadap gadis yang diam-diam ia pacari itu. Tanpa berkata apapun, Shella langsung beranjak dan pergi meninggalkan Alan. Ia harus segera pergi sebelum Thalia and the geng muncul.


Kini Alan bertopang dagu sambil memperhatikan perlakuan Aldo and the geng pada adik kelas berkacamata tebal itu.


Di sana, Aldo yang sedang duduk pun menggebrak-gebrak meja.


"Woy, cumi! Lu lelet banget, sih? Masa nangkep botol aja gak becus?" tukas Aldo.


Sementara napas Farel masih tersengal-sengal karena kegigihannya. Ia tahu, konyol untuk mendapatkan botol itu, tetapi itu adalah satu-satunya cara agar segera lepas dari anak kelas VIII yang sembrono seperti mereka. Aldo menyatakan, jika Farel bisa memberikan botol teh kemasan itu pada Aldo, maka ia akan melepas Farel.


"Ayo! Kenapa berhenti?" sahut Aldo. Mata Farel pun berubah jadi serius, ia langsung bangkit dan berlari, tetapi belum sempat melangkah, tiba-tiba ada sebuah kaki di depannya hingga membuat ia tersandung sampai wajahnya membentur tanah dan kacamatanya terlepas begitu saja. Sontak tawa Aldo and the geng pecah.


"Rasain lu, Cumi! Berani-beraninya bikin cewek gue kesel, sih lu!" ketus Aldo lalu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Farel.


'Cewek? Apa ini ulah Thalia and the geng?' tebak Farel dalam hati. Ia pun diam-diam mengepalkan tangannya dan berusaha bangkit. Penglihatannya buram karena kacamatanya terlepas. Ia pun berusaha mencarinya.


Krak!


Belum sempat menemukannya, telinganya malah mendengar suara benda keras yang patah. Farel langsung mencari asal suara.


"Ups! Sorry, kacamata lu keinjek sama gue, pft!" Aldo langsung tertawa terbahak-bahak.


Mata Farel membulat mendengar ucapan maaf Aldo yang sama sekali tidak merasa bersalah.


"Sukurin lu! Songong, sih jadi anak miskin!" Aldo langsung menggunakan kakinya untuk menendang wajah Farel hingga anak itu terjatuh lagi. Sontak tawa Aldo and the geng kembali pecah.


***


Di kelas VII B, Thalia and the geng sedang menunggu kutek mereka kering. Mereka berempat hampir menghabiskan waktu istirahat mereka untuk menggunakan kutek agar kuku mereka terlihat cantik.


"Hai guys, kita coba yuk lihat apa yang cowok gue lakuin ke anak culun itu!" cetus Vanessa tiba-tiba. Sontak ketiga temannya langsung menatap Vanessa dengan heran.


"Ngapain sih nontonin anak culun itu! Males banget!" sambar Renata.


"Yah gue cuman mau mastiin aja, kalau cowok gue udah ngelakuin apa yang gue suruh," ujar Vanessa.


Sementara Thalia hanya terdiam, di dalam kepalanya ia bisa membayangkan bagaimana pacar Vanesaa alias Aldo memperlakukan Farel secara semena-mena. Dari dalam lubuk hatinya, Thalia enggan untuk menyaksikan perlakuan Aldo and the geng pada Farel.


"Ih, gak seru kalian!" tukas Vannesa sambil beranjak.


"Lah, lu mau kemana, Nes?" sahut Marina.


"Mau ke Kantin. Gue belum puas kalo belum lihat dia menderita!" ujar Vannesa langsung pergi ke Kantin.


"Eh, tunggu, Nes, gue ikut, deh!" celetuk Renata yang juga ikut beranjak dari bangkunya.


"Lu berdua juga ikut, yuk!" ajak Renata.


"Iya-iya, deh!" sahut Marina malas. Thalia yang sebenarnya enggan pun akhirnya terpaksa mengikuti ketiga temannya.


Di kantin ternyata suasana sedang memanas. Thalia bisa melihat bahwa Farel baru saja terjatuh sampai mencium tanah. Namun ada yang aneh dari laki-laki culun itu.


'Kacamatanya!' seru Thalia panik. Jika Farel sampai melepas kacamatanya, itu berarti setiap orang akan menyadari wajah tampannya.


Namum belum sempat Farel mengangkat kepalanya, Aldo yang berdiri di depannya langsung menginjak kepala Farel.


"Argh!" rintih Farel.


Sontak Thalia terkesiap mendengar rintihan itu. Sayang, gara-gara rintihan itu, Aldo malah menekan sepatunya hingga Farel menjerit sambil merintih kesakitan.


"Sukurin!" ujar Vannesa dan Renata yang begitu puas. Thalia langsung menoleh cepat dengan tatapan khawatir.


"Ampun, Kak—Argh!" Aldo sekali lagi menekan sepatunya hingga Farel merintih dalam kebisuan.


"Udah gue bilang, lu gak boleh bicara! Lu cuman boleh ngangguk!" tekan Aldo kemudian menggunakan sepatu bagian tumit untuk menginjak pipi Farel dan memutarnya hingga murid kelas tujuh itu merasakan perih, tetapi ia berusaha keras menahan rintihan sakitnya.


Thalia menggigit bibir bawahnya.


'Cukup!' jerit Thalia tidak tega dalam hati.


"Kurang, Sayang!" teriak Vanessa yang sontak membuat Thalia melotot. Marina yang tak sengaja menyadari reaksi Thalia pun mengernyitkan dahi.


Sementara Aldo yang mendengar suara pacarnya pun mengacungkan jempolnya. Ia pun berhenti menginjak wajah Farel kemudian menarik rambut adik kelasnya itu ke belakang.


"Lu mau gue lepasin?" tanya Aldo.


Seperti perintah Aldo, Farel hanya bisa mengangguk.


"Kalau gitu, jilat sepatu gue! Jilat tiga kali, maka gue akan ngelepasin elu!" perintah Aldo.


Peluh Thalia menetes dari pelipis mendengar itu.


'Apa, sih yang dipikirkan Kak Aldo?' geram Thalia hendak melangkah, tetapi niatnya terhenti ketika melihat Alan tiba-tiba menggebrak meja dengan keras hingga semua atensi kini berpaling padanya. Alan bertepuk tangan dengan keras.


"Hebat! Hebat! Hebat banget lu, Aldo!" seru Alan sembari menghampiri Aldo.


Aldo pun tersenyum. Jarang sekali seorang Alan mau meliriknya, apalagi memujinya. Bisa dekat dengan Alan adalah impian setiap siswa di sekolah ini.


"Kayaknya seru ngelakuin hal ini sama dia!" ujar Alan yang membuat Farel diam-diam mendelik.


"Bang Alan mau coba? Silakan!" ujar Aldo kemudian beralih pada Farel yang masih ia jambak rambutnya.


"Heh, mulai sekarang gue perintahin lu untuk ikutin semua perintah Kak Alan!" sahut Aldo memberi perintah.


"Hah? Apa lu bilang perintah lu?" ulang Alan.


"A-ada yang salah, Bang?" tanya Aldo.


Alan pun menjambak rambut jabrik anak kelas delapan itu.


"Apa lu gak tahu, kalau gue benci sama orang yang merebut posisi gue?" sinis Alan yang membuat bulu kuduk Aldo berdiri.


***