Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Kamu Harus jadi Temanku!


Kedua sudut bibir Thalia terangkat kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Farel.


"Kalau di luar sekolah, kamu harus jadi temanku!" bisik Thalia kemudian menatap serius ke arah Farel yang mengernyitkan dahi.


"Hah? Te-teman? Maksudnya teman?" bingung Farel. Bukankah hubungannya dengan Thalia seperti majikan dan pelayan? Ide gila.macam apa yang ada di pikiran gadis ini? Mana ada orang membuat hubungan yang dipaksakan seperti ini?


"Kenapa? Kamu gak mau jadi teman aku? Kamu sebenarnya benci sama aku, ya?" tukas Thalia.


"Hah? E-enggak!" reflek Farel. Benci? Farel bahkan tidak ingat seberapa banyak kadar kebenciannya pada gadis ini. Semenjak ia gencatan senjata dan membuat kesepakatan dengan Thalia, satu per satu hal yang dulu ia pandang sebelah mata tentang Thalia terungkap. Gadis ini juga kadang masih mau menggunakan hati nuraninya.


"Terus? Kenapa kamu gak mau jadi temanku?" protes Thalia.


"Uhm, itu ... Kayaknya gak mungkin," jujur Farel.


"Kenapa? Kamu bisa jadi temannya Sheilla! Kenapa jadi temanku gak bisa?" protes Thalia lagi. Kedua alis Farel kini menyatu. Kenapa Thalia malah bahas Sheilla lagi?


"Lagian, apa ruginya kalau jadi temanku? Aku akan memperlakukan kamu sama kayak sahabat-sahabat aku!" Thalia kemudian melirik ke arah Farel yang masih agak tercengang. Gadis itu pun mendelik sambil melipat kedua tangannya.


"Padahal, kalau kamu jadi temanku, aku bisa hibur kamu kalau kamu sedih, kamu juga harus hibur aku kalau aku sedih!" tekan Thalia lagi, tetapi Farel malah semakin gusar. Rasanya jadi teman Thalia sungguh aneh.


Thalia pun mendengsu kesal.


"Kalau kamu nolak, sama aja kamu ingkar janji!" tekan Thalia yang langsung mengangjmkat kepalanya.


"Thalia ..." bujuk Farel.


"Jadi sekarang kamu mau 'kan jadi temanku di luar sekolah?" tanya Thalia lagi.


"Uhm, begini, Thalia ..." Farel kembali garu-garuk belakang kepalanya sambil melirik ke arah Thalia yang bergeming.


"Apa? Apa masalahnya?" ketus Thalia.


"Kamu tahu 'kan, kalau teman itu gak ada unsur paksaan? Teman yang normal itu kita saling menerima apa adanya, dan kita setara, tapi kalau kita ... Mau gimana pun, kita gak bisa setara. Aku pasti segan sama kamu ..." beber Farel sambil menunduk.


Thalia pun terdiam.


"Begitu, ya?" dinginnya sambil menunduk dan meremas lututnya.


"Maaf, Thalia—" Ucapan Farel terhenti ketika ia mendengar sebuah isakan tangis.


"Thalia, kamu—"


"Ternyata, sampai akhirnya aku benar-bebar sendirian ..." lirihnya dengan suara yang bergetar. Sekali lagi, dahi Farel dibuat berkerut.


"Sendirian? Apa maksud kam—"


Thalia langsung memgangkat kepalanya dengan dan menujukkan wajahnyanyang kini dibanjiri air mata.


"Kamu begini karena sebenarnya kamu mau ninggalin aku sendirian 'kan di masa depan? Sampai akhirnya, kamu sama aja kayak mereka!" Thalia langsung berdiri dan berlari keluar dari rumah Farel.


"Apa?" Farel benar-benar bingung. Apa maksud Thalia semua orang meninggalkannya? Apa ini tentang sahabatnya atau keluarganya?


Farel tertegun.


"Jangan-jangan, alasan dia ke sini karena ..." Farel mengepalkan tangannya.


"Aduh, dasar Farel! Kenapa lu gak peka?" Farel langsung berdiri dan mengejar Thalia. Memangnya gadis itu mau kemana? Supirnya bahkan tidak menungguinya!


Farel langsung berlari keluar perumahannya, setidaknya Thalia mengenakan baju yang mencolok, jadi seharunya tidak sulit mencari sosoknya. Namun, kenapa ia masih belum menemukannya?


Ia langsung memasang matanya dan menyisir seluruh trotiar dan jalan. Hingga ia menemukan gadis yang mengenakan baju serba pink! Itu pasti Thalia. Farel pun mengejar gadis itu.


"Thalia!" panggil Farel, tetapi gadis itu malah terus berjalan hingga melangkahkan kaki ke jalan raya. Farel langsung menoleh ke arah berlawanan dimana di sana ada sebuah mobil yang melaju kencang.


"Enggak! Thalia! Awas!" sahut Farel yang membuat gadis itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh. Mereka berdua bertatapan, tetapi Thalia malah berpaling lagi dan hendak melangkah.


Namun, tiba-tiba terdengar suara nyaring klakson mobil yang membuat kaki Thalia tak bisa bergerak. Dirinya hanya bisa melotot melihat mobil yang melaju kencang ke arahnya. Thalia pun memejamkan mata hingga sebuah tangan menaeik pinggangnya ke pinggir jalan tepat sebelum mobil itu melewatinya. Seketika tubuhnya jatuh ke tanah.


"Hampir aja!" ujar seorang lelaki di belakangnya yang napasnya terengah-engah. Thalia pun menoleh ke belakang dan menemukan Farel yang terduduk juga di belakangnya.


"Dek, kalian gak apa-apa?" Tiba-tiba mereka dikerumuni oleh banyak orang. Namun, Thalia benar-benar tak bisa menimpali mereka. Alhasil, Farel yang menjelaskan bahwa mereka tidak apa-apa. Farel dan Thalia pun diantar warga ke rumah Farel.


...****************...


"Sa-sakit, Farel!" desis Thalia saat Farel mengoleskan antispetik di telapak tangannya. Akibat terjatuh tadi, telapak tangan Thalia tak sengaja menggesek jalanan trotoar yang panas sehingga melepuh.


"Tahan sedikit, Thalia! Kalau gak diobati, nanti malah berbekas," tekan Farel.


"Ini semua gara-gara kamu!" tukas Thalia.


Farel pun melirik ke arah Thalia. Ia menghela napas panjang.


"Iya, maaf. Harusnya aku gak bikin kamu lari keluar," sesal Farel. Ia sendiri sadar, kejadian menegangkan tadi terjadi setengah karena dirinya.


"Baguslah kalau kamu sadar diri!" ujar Thalia. Namun Farel malah terdiam.


"Thalia ... Sebenarnya kamu ke sini bukan untuk.bilang kalau kita teman doang 'kan?"


Thalia tertegun mendengar penuturan Farel, tetapi gadis itu memilih bungkam.


"Maaf, aku gak sadar ... Mungkin udah terjadi sesuatu di rumah kamu," lanjut Farel yang membuat Thalia menggigit bibir bawahnya.


Farel pun menutup luka di tangan Thalia dengan plester. Ia kini memandang telapak tangan Thalia.


"Teman? Kamu bebas mau jadiin aku teman, pesuruh, atau apapun itu ..." ucap Farel lagi yang mampu menarik perhatian Thalia.


Farel kemudian mengambil telapak tangan Thalia dan meletakkannya di pipi seraya menatao gadis itu.


"Aku 'kan milik kamu."


Sontak, Thalia tertegun mendengarnya.


"Jadi, jangan marah dan melakukan hal kayak tadi lagi. Aku beneran takut," ucap Farel lagi. Thalia menatap lamat-lamat ke arah Cowok Berkacamata yang kini bersimpuh seraya menatapnya. Gadis cantik itu pun mengangguk.


"Maaf, tadi aku beneran gak sadar kalau ada mobil yang melaju kencang. Aku cuman mau nyeberang jalan untuk naik taksi," jujur Thalia yang malah membuat Farel melongo.


"Ja-jadi, kamu cuman mau ... Argh! Sial! Aku terlalu berlebihan!" sesal Farel, tetapi malah menciptakan senyum di wajah Thalia. Gadis itu malah mencolek ujung hidung Cowok di depannya.


"Tapi, Thanks, ya. Udah kejar aku dan nyelamatin aku," ujar Thalia lagi.


Farel memgangguk.


"Bukankah itu yang dilakukan teman?" sahut Farel yang semakin mengembangkan senyum Thalia.


"Uhm, jadi boleh aku tahu, apa alasan kamu ke sini? Apa ada yang mau kamu bicarain?" tanya Farel hati-hati. Namun seketika senyum di wajah Thalia sirna.