
Ini adalah pertama kalinya Thalia mengungkapkan siapa Siska sebenarnya. Ya, tentu ketiga sahabatnya tahu tentang keberadaan Siska. Namun, yang mereka tahu, Siska adalah ibu tiri Thalia yang menjadi pengganti setelah kepergian ibu kandungngya. Seorang ibu baru yang datang tanpa masalah.
Thalia tidak pernah menceritkan pahitnya kehidupan remajanya karena wanita itu. Baginya, bisa bersenang-senang dengan ketiga sahabatnya sudah cukup untuk melampiaskan penat yang diciptakan oleh Wanita Ular tersebut.
Namun hari ini, ia malah membuka luka yang selalu ia balut agar tidak terasa perih di depan Farel. Laki-laki yang selalu jadi suruhannya dan akhir-akhir ini lebih menurut karena kesepakatan mereka. Thalia bisa lihat bahwa terdapat segudang pertanyaan dari wajah lelaki berkacamata itu, tetapi Farel memilih untuk tak banyak berkata dan hanya memberikan belaian lembut padanya di pundak. Sampai akhirnya, itu lah yang selalu Thalia inginkan ketika ia sedang sedih.
Sejak kepergian ibu kandungnya, tidak ada lagi orang yang memberikannya belaian lembut tanpa melempar banyak pertanyaan di kala ia sedih. Pada akhirnya, semua orang akan melempar semua kesalahan padanya, sehingga ia tidak berhak bernapas. Bulir bening terus bercucuran dari sudut matanya. Entah sampai kapan ia akan mengeluarkan air mata ini.
Pertanyaan yang kini timbul di benak Thalia, kenapa ia bisa berani mengungkapkan fakta hidupnya pada Farel? Apa Farel tidak akan membocorkannya? Yah, meskipun lelaki itu telah berjanji untuk selalu ada di pihaknya.
Ceklek!
Pintu kamarnya terbuka. Mungkin kah itu Farel? Apakah ada barangnya yang tertinggal? Thalia segera menghapus air matanya yang masih bercucuran dan segera bangkit. Namun, dugaannya salah, yang muncul dari balik pintu malah Wanita Ular itu. Tatapannya pun langsung berubah jadi tajam.
"Apa yang kamu ingin kan?" dingin Thalia.
Wanita itu masuk sambil menaikkan dagunya kemudian berjalan dengan angkuh. Ia menunjuk Thalia dengan kipas tangannya.
"Sepertinya kamu semakin hari, semakin lancang, ya?" tukas Siska yang kini sudah berganti baju. Thalia hanya menatap wanita itu dengan tajam.
"Entah kamu atau memang lingkar pertemananmu yang kurang baik!" tudingnya kemudian membuka kipas tangannya dan mulai mengipasi dirinya sendiri. Thalia hanya memutar bola matanya muak.
"Saran saya, sebaiknya, jangan membawa temanmu itu ke rumah ini lagi! Tidak baik, berteman dengan anak yang tidak sopan seperti dirinya!" Kali ini Siska menuduh Farel yang membuat Thalia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Jika tidak, akan aku laporkan pada Suamiku!" ancam Wanita Ular itu lagi.
'Kamu orang baru dan ini adalah rumahku! Kenapa kamu yang harus mengatur!' gerutu Thalia dalam hati, tetapi ia tahu, sang Papa akan lebih mendengarkan ocehan berisik wanita ini.
Jika begitu, kemungkinan besar, bisa berakibat beasiswa Farel yang dicabut, setelah itu Farel tidak lagi bersekolah di sekolah yang sama dengannya, kemudian ia tidak lagi bisa melihat sosok lelaki itu. Tubuh Thalia langsung merinding. Berpisah dari Farel? Apa itu yang ia inginkan?
Siska tersenyum miring menyaksikan ketidakberdayaan Thalia. Ia bisa memastikan bahwa gadis itu terguncang. Siska berani bertaruh, ada sesuatu di antara putri suaminya ini dengan anak lelaki tadi, tetapi Siska tidak mau ambil pusing. Bukan tugasnya juga memilihkan pacar yang sempurna untuk Thalia. Biar saja ia memilih laki-laki yang buruk, supaya lebih mudah mengendalikannya.
"Aku anggap kamu mengerti!" ujar Siska yang sama sekali tak digubris oleh Thalia. Siska sama sekali tidak mau menunggui respon Thalia. Wanita itu pun meninggalakn putri suaminya yang mematung akibat ancamannya.
Tepat ketika Siska keluar, Thalia langsung terjatuh. Ia kembali menangis, tetapi kali ini bukan karena meratapi kehidupannya, melainkan dirinya yang sedang membayangkan jika perkataan Siska terjadi.
"Tidak. Tidak boleh terjadi!" ujarnya.
***
"Farel ..." Saat istirahat, akhirnya gadis itu mendatanginya. Pasti mau memberikannya perintah. Farel yang sedang menggambar pun segera menghentikan aktivitasnya dan mengambil buku catatan kecil. Gadis Penguasa satu ini pasti mau minta dibelikan hal-hal aneh.
"Bisa beliin aku—"
"Thalia!" seru Renata yang datang dari luar kelas. Dahi Thalia mengernyit.mendapati Renata yang bercucuran keringat.
"Kamu kenapa Renata? Apa ada masalah?" tanya Thalia langsung mengeluarkan tisue dari sakunya dan menyeka keringat Renata di wajahnya.
Renata menggeleng. "Gue baru aja ngobrol sama Reyna, mantan temennya Shei di Kantin ..." ujar Renata sambil terengah-engah karena baru saja berlari.
"Terus?"
"Lu ingat 'kan, Kak Alan pernah cium Sheilla?" seru Renata yang membuat Farel langsung berdiri.
"Apa? Kak Alan cium Sheilla?" reflek Farel yang langsung dapat tatapan sinis dari Thalia dan Renata.
"Ih, apaan, sih lu cupu? Nyambung aja kayak kabel listrik!" umpat Renata. Sementara Thalia menggigit bibir bawahnya. 'Kok, Farel reaksinya begitu? Emang kenala kalau Sheilla dicium sama Kak Alan?' gerutu Thalia.
Atensi Thalia kembali pada Renata yang sedang mengatur napasnya. "Terus, apa yang baru kamu dengar dari Reyna tentang itu?" cecar Thalia.
"Reyna bilang, Kak Alan dan Sheilla sebenarnya selama ini pacaran!"
BRAK! Farel reflek menggebrak meja.
"Gila Reyna!" celetuk Farel lagi. Sontak Renata dan Thalia kembali menatapnya sinis. Farel pun langsung menutup mulutnya dan duduk.
Thalia kini berdiri menghadap Farel.
"Heh, Farel, kamu tahu sesuatu? Apa yang Reyna bilang tentang Sheilla dan Kak Alan bener?" selidik Thalia.
Farel terdiam. Ia sebenarnya tahu, ucaoan Retna adalah fakta. Namun, mengiyakan pertanyaan Thalia sama saja akan menghancurkan hidup Sheilla. Bagaimana jika Sheilla jadi korban perundungan Thalia. Atau jangan-jangan selama ini Sheilla sudah dirundung? Tidak. Sheilla kuat, tidak seperti dirinya.
Farel pun memilih untuk menggeleng. Ia membuka mulutnya tanpa melepas tatapannya dari Thalia. "Uhm, ma-maksud aku ... Reyna gila aja, gak mungkin Kak Alan sama Sheilla pacaran. Hahah, iya. Gak mungkin," ujar Farel.
Renata berdecak kesal. "Udah, ngapain kita dengerin ucapan si Cupu ini yang gak tahu apa-apa! Mending kita ke Kantin. Sekarang anak-anak lagi interogasi Kak Alan! Ayo, kita ikutan dan denger sendiri jawabannya!" ajak Renata. Thalia pun mengangguk.
"Ayo, awas aja kalau sampai ternyata benar, hidup Sheilla gak akan tenang!" ujar Thalia yang langsung berlari keluar kelas bersama Renata.