
Suasana jadi hening. Situasi ini benar-benar canggung, Farel bahkan tidak tahu harus melakukan apa, sementara Thalia terdiam sambil memalingkan wajahnya. Diam-diam Cowok Berkacamata itu melirik ke arah Thalia yang sedang menggigit bibir bawahnya.
"Uhm ... Thalia ..." Farel memberanikan diri membuka percakapan, tetapi Thalia sama sekali tidak ada responnya.
Farel pun menggaruk belakang kepalanya. Ia sendiri masih berdebar karena perlakuan tak terduga Thalia barusan. Namun, Thalia seperti itu, mungkin karena bangga padanya.
"Ka-kamu benar Thalia," ucap Farel yang akhirnya berhasil menarik atensi gadis cantik di hadapannya.
"Ma-maksud kamu?" tanya Thalia yang dahinya dipenuhi kerutan.
Farel berusaha mengangkat kepalanya seraya menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"Ya, kamu benar kalau aku itu milik kamu," tutur Farel yang mampu membulatkan kedua mata gadis cantik di hadapannya. Sontak kulit putih di wajah Thalia, perlahan berubah jadi merah jambu.
"Ka-kamu mi-milikku?" ulang Thalia seraya menatap Farel lekat-lekat. Farel pun mengangguk sambil tersenyum.
"Iya," tegas Farel yang langsung mengembangkan senyum Thalia, tetapi gadis itu malah memalingkan pandangannya sambil tersenyum kecil. Dahi Farel mengernyit, reaksi macam apa itu?
Namun tiba-tiba, Thalia kembali menoleh ke arah Farel sambil menyatukan alisnya.
"Kalau kamu milikku, kamu harusnya tau 'kan artinya apa?" ketus Thalia yang sekali lagi dijawab dengan anggukan kepala Farel.
"Aku tidak boleh mengalihkan perhatian pada siapapun. Tadi kamu udah bilang itu. Aku dengar, kok," tutur Farel dengan lembut. Sekali lagi senyum di wajah Thalia mengembang. Namun, raut wajah Thalia tiba-tiba berubah lagi. Ia melempar tatapan sinisnya pada Farel.
"Lalu, hubungan kamu sama Sheilla apa? Tadi kalian bicarain apa? Kenapa terdengar serius?" lontar Thalia yang tak sabaran.
"Uhm, satu-satu, Thalia ..." bingung Farel yang makin membuat kerutan di dahi Thalia. Gadis itu bahkan mengeraskan rahangnya seraya melipat tangannya. Jika begini, Farel sudah tidak boleh protes.
"Yah, oke, aku jawab semua," ujar Farel menyerah.
"Ya udah, jawab!" titah Thalia.
"Yah, intinya aku gak ada hubungan spesial sama Sheilla. Yah, kita cuman teman sebangku aja ..." Farel garuk-garuk kepala sambil menggerakkan kedua bola matanya ke kanan dan ke kiri.
"Terus?" tekan Thalia yang malah memberikan tekanan pada Farel. Cowok Berkacamata itu pun menaikkan kedua sudut bibirnya.
"Maaf, Thalia, pertanyaan kamu yang kedua apa, ya?"
Thalia hanya memutar kedua bola matanya.
"Apa yang kamu bicarain sama Sheilla?" geram Thalia.
"O-oh! Uhm, yah ... Gimana, ya?" Farel bingung sendiri, sebenarnya dia bukan bicara pada Sheilla, tetapi Alan. Sheilla hanya berusaha membujuk dirinya karena ia mendukung pendapat Alan. Namun bagaimana cara dia menjelaskan pada Thalia?
"Apa? Kenapa kamu gugup? Kamu berusaha bohong sama aku, ya?" tukas Thalia yangbtepat sasaran. Farel menelan salivanya. Selama ini, Thalia tidak tahu kalau Farel punya hubungan dekat dengan Alan. Ia sendiri tak menduga kalau Thalia tahu, Farel mampu bicara santai dengan lelaki yang pernah jadi pujaan gadis cantik ini.
"Uhm, gini ..." Tiba-tiba muncul sebuah ide di benak Farel.
"Gini apaan? Bicara yang benar!" tekan Thalia lagi.
Farel malah menunjukkan gigi-giginya.
"Yah, uhm, Sheilla itu ... Dia ngajak aku untuk ikut kelas beladiri ..." ungkap Farel yang membuat alis Thalia naik sebelah.
"Kelas Bela diri? Untuk apa?" cecar Thalia
Farel mengendikkan bahunya.
"Yah, aku nolak karena aku rasa belum butuh itu," ungkap Farel.
Thalia mengerutkan dahinya sambil menggosok-gosok dagunya.
Thalia pun berdehem.
"Jadi dia masih maksa kamu?" duga Thalia yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Farel.
"Uhm, gak maksa, sih ... Cuman berusaha kasih pengertian," jawab Farel. Ia sudah menduga arah bicara Thalia.
"Oh, gitu ..."
Farel langsung melirik ke arah Thalia. Sepertinya gadis ini mau menerima penjelasananya. Baguslah, setidaknya ia tidak harus menggunakan energi otaknya lebih banyak untuk memikirkan alasan. Rasanya tubuh Farel sangat lelah.
"Kalau begitu, habiskan kuenya, ya. Nanti aku akan minta supirku mengantarmu pulang," ujar Thalia sambil tersenyum tipis, sementara Farel mengernyitkan dahinya.
'Cuman kayak gitu?' batin Farel seraya melirik sisa kue di piring. Ia kembali memandang Thalia yang kini sibuk menatap ponselnya. Farel langsung menggelengkan kepalanya. 'Apaan, sih Rel? Justru bagus 'kan kalau Thalia gak ngamuk atau merintahin lu yang aneh-aneh ...' Farel pun mengambil kue di atas piring dan memakannya. Ya untuk sekarang, begini lebih baik.
******
Esoknya, di saat bel masuk belum berbunyi, tetapi Alan tiba-tiba sudah dikerubungi oleh tiga gadis cantik yang kini mentapnya sinis.
"Uhm, ngomong-ngomong, kalian ada perlu apa, ya? Gak bisa membiarkan gue sarapan dengan tenang? Gue mau ujian, nih!" protes Alan sehalus mungkin. Namun ketiga gadis itu menggeleng.
"Kita di sini untuk membuat perhitungan sama Kak Alan!" tegas Renata.
"Hah? Perhitungan apa?" bingung Alan. Seingatnya masalahnya dengan Thalia sudah selesai. Dia hanya ingin menikmati beberapa ujiannya, lalu mengikuti upacara perpisahan dan lulus serta keluar dari Yayasan ini dengan tenang.
"Gara-gara Kak Alan, Thalia jadi aneh!" tukas Vannesa.
Dahi Alan mengernyit.
"Hah? Kenapa jadi gara-gara gue?" bingung Alan.
"Ya, ini yang disebut sindrom patah hati!" sahut Marina yang makin membuat Alan tercengang. Dari mana mereka dapat istilah itu?
"Wait, syndrome patah hati? Istilah itu bahkan gak ada di ujian UN kemarin!" kekeh Alan, tetapi wajah ketiga gadis di hadapannya sama sekali tak berubah.
"Ya, jelas gak ada! Karena itu istilah populer!" timpal Marina.
Alan menghela napas panjang.
"Oke, gue males debat, terus kalian mau apa dari gue?" tanya Alan.
Tiga Gadis di hadapannya saling pandang seolah berkomunikasi lewat mata, kemudian mereka kompak menggangguk.
"Kak Alan harus bujuk Thalia suka sama Kak Alan!" tekan Renata.
"Lebih baik lagi kalau Kak Alan jadi pacarnya Thalia!" tegas Vannesa yang mampu membuat Alan membulatkan matanya dan langsung berdiri.
"Hah? Pacar Thalia? Kalian gila, ya?" tukas Alan.
"Enggak, kita serius!" jawab Marina bergeming.
Alan langsung kembali duduk sambil mendelik kesal. Ia melirik ke arah tiga gadis yang kini menatapnya lurus.
"Kenapa harus gue? Dia aneh, atau kena sindrom apa tadi?"
"Sindrom patah hati," ujar Marina.
"Nah, itu!" Alan kemudian melirik ketiga gadis di hadapannya dengan sorot mata yang tajam.
"Kenapa malah jadi salah gue?"