
"Ta-da!" seru Thalia setelah selesai mendandani Farel dengan rasa bangga, tetapi tidak dengan teman-temannya.
Vannesa pun angkat tangan.
"Thalia, kalau misalnya lu mau dandanin Farel dengan gaya begitu, gue gak masalah ... Tapi kalau tujuan lu buat dandanin muka lu dengan gaya itu, gue jamin Kak Alan bakal pura-pura gak kenal sama lu!" komentar Vannesa dengan sangat jujur.
Bagaiman tidak. Bibir Farel jadi semerah cabai, bahkan pipinya juga jadi seperti dua buah tomat yang ditempel di sana saking merahnya. Sudah begitu, mata Farel jadi terlihat besar karena eye liner yang begitu tebal. Belum lagi terlihat begitu galak dengan bentuk alis yang cukup tinggi. Tidak sampai di situ, daerah mata Farel juga terlihat begitu ramai karena eye shadow yang entah bagaimana berkelap-kelip di sana.
'Sumpah, gue gak berani lihat muka gue! Bisa-bisa gue pingsan!' batin Farel merinding sendiri.
"Terus gimana, dong?" kecewa Thalia melihat sekali lagi hasil karyanya, tetapi dia sendiri juga sadar bahwa dirinya teralu berlebihan.
"Coba gue yang dandanin!" tawar Vannesa. Yah, dia sudah cukup berpengalaman kalau soal dandan karena setiap kencan dengan Aldo, dia tidak mau wajahnya terlihat kusam.
"Gak!" sontak Thalia sambil berteriak, membuat semua orang kaget.
"A-aku mau latihan sendiri, biar aku hapus lagi ... Mungkin aku gugup karena ada kalian!" seru Thalia yang langsung menggandeng tangan Farel, membuat lelaki itu terhenyak.
"Tapi—"
"Pokoknya, kalian lihat hasil karyaku aja!" seru Thalia langsung membawa Farel masuk ke kamar mandinya sambil membawa peralatan make-up.
Kini ketiga sahabat Thalia saling pandang.
"Kita gak apa-apa biarin mereka berdua di kamar mandi?" tanya Renata yang sebenarnya masih curiga. Sontak Marina melotot.
"Emangnya mereka mau ngapain, sih? Stop berpikiran aneh, deh, Ren!" timpal Vannesa.
"Oke, gue diem!" ucap Renata yang kembali memandang pintu kamar mandi Thalia. Renata dan Vannessa pun kembali mengitak-atik alat make-up mereka sedangkan Marina memandang kamar mandi Thalia yang tertutup rapat.
Marina menggeleng cepat. 'Apa, sih yang gue khawatirin? Thalia itu cewek kuat, Farel pasti kalah kalau berani macem-macem!' batinnya.
"Marina! Lu ngapain, gabung yuk!" tegur Renata. Marina langsung memasang wajah senyumnya dan bergabung dengan kedua sahabatnya.
Sementara itu, di kamar mandi, Thalia langsung meletakan kotak riasnya di atas meja westafel kemudian mengambil kapas dan micelar water lalu mengusap muka Farel dengan begitu kasar.
"Aduh, Thalia! Sakit, woy!" seru Farel reflek.
"Ugh!" Thalia melempar kapas bekas menghapus riasan di wajah Farel dan langsung berjongkok dan memeluk kedua lututnya.
"Kenapa, sih? Apa aku bener-bener gak bisa jadi pacarnya Kak Alan? Apa aku kurang cantik? Aku bahkan gak bisa milih riasan yang bagus!" gerutu Thalia sambil terisak.
Farel tertegun, baru kali ini ia lihat Thalia yang menyalahkan dirinya sendiri. Biasanya juga menyalahkan orang lain. Namun lelaki berkacamata itu hanya memandangnya saja.
"Padahal tinggal besok! Tapi aku masih gak bisa apa-apa! Apa gunanya aku belajar ribuan kali selama berhari-hari kalau gagal!" gerutu Thalia yang akhirnya menangis.
Sejujurnya Farel bingung dengan situasi ini. Mana pernah ada orang yang menangis dan berkeluh kesah terhadapnya, terlebih orang itu adalah yang selalu merundungnya. Ia pun jadi salah tingkah dan kikuk, haruskah ia menghibur Thalia? Namun sebenarnya ia lebih suka lihat Thalia menderita bahkan lebih menderita dari dirinya.
"Farel! Kok kamu diam aja, sih?" bentak Thalia yang tidak mendapat tanggapan sama sekali, membuat Farel kaget.
"Eh, i-iya! Uhm, sorry, gue ... eh, aku gak tahu harus apa?" jujur Farel yang langsung merutuki dirinya. Bisa habis dia, apalagi ini di kamar mandi, bisa aja, Thalia melakukan hal tak terduga, misal menenggelamkan wajahnya ke dalam air di bath-tub.
Thalia tiba-tiba berdiri dan memegang kedua telinga Farel sambil menatapnya tajam.
"Kenapa kamu gak tau? Pikirkan sesuatu!" pekik Thalia.
Farel melotot karena tak menduga tindakan Thalia, otaknya pun langsung berpikir cepat. Apa yang bisa ia lakukan untuk menghentikan kegilaan Thalia, sebelum hidupnya berakhir mengenaskan di sini.
"Uhm, lukis!" seru Farel yang membuat Thalia berhenti.
Thalia mengernyitkan dahi. Sepertinya ia juga tak begitu peduli dengan cara Farel menyebut dirinya sekarang.
"Gimana?" tanya Thalia melunak seraya memandang Farel dengan matanya yang basah.
"Ka-kalau boleh, gu— maksudnya aku dandani kamu dan kamu bisa ikutin cara aku dandanin kamu di wajah aku. Gimana?" tawar Farel. Sebenarnya ia tidak mau, tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya jalan yang bisa memberikan solusi atas permasalahan Thalia.
Gadis cantik itu pun berpikir sejenak sembari beberapa kali melihat wajah Farel yang tak karuan karena polesan yang belum tuntas dibersihkan.
"Baiklah!" seru Thalia kemudian menaikkan dagunya.
"Kamu harus dandanin aku se-cantik mungkin, kalau enggak, aku akan tenggelemin muka kamu di bath-tub selama sepuluh menit!" ancam Thalia.
'Duh, beneran aja dugaan gue!' batin Farel.
Farel hanya bisa mengangguk dengan agak ragu. Namun ia tidak ada pilihan lain.
"Kalau begitu, ayo kita mulai!" seru Farel yang mulai menghapus riasan di wajahnya terlebih dahulu.
Farel pun memulai dengan membersihkan wajah Thalia, yah dia ingat step awal sebelum gadis ini memoles wajahnya.
"Bener 'kan harus pake ini dulu?" tanya Farel yang agak ragu. Thalia hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.
"Ka-kamu jangan merem ..." ucap Farel, membuat Thalia membuka matanya dan menatapnya tajam.
"Kamu merintah aku?" tekan Thalia.
"Eh? E-enggak!" sahut Farel kemudian mengarahkan wajah Thalia ke cermin.
"Setidaknya kamu harus tahu melalui cermin ..." ujar Farel. Thalia bisa melihat dirinya dan Farel di cermin bersama-sama. Hal itu entah kenapa membuat kedua sudut bibir Thalia naik sedikit.
"Aku mulai ..." Farel menelan ludahnya. Ia tidak pernah mendandani orang, tetapi sesekali melihat sang Mama berdandan. Ia juga berusaha memahami keinginan Kak Alan yang suka dengan cewek natural. Itu berarti ia tidak perlu mendandani Thalia teralu berlebihan.
"Kulit kamu cantik ... warnanya pink ..." ucap Farel yang manarik atensi Thalia.
"Kamu akan lebih cantik dengan warna merah yang tipis, untuk memepertegas kecantikan kamu ..." ujar Farel yang baru saja selesai memakaikan foundation dan BB cream di wajah Thalia.
"Sebenarnya wajah kamu juga udah sempurna. Hidung mancung, alis cukup tegas dan tipis, bahkan gak ada jerawat ..." Kini Farel memandang wajah Thalia di cermin.
"Kamu gak perlu make-up tebal-tebal karena udah cantik natural ..." ujar Farel sambil memoleskan eyeshadow merah muda di mata Thalia dengan tipis.
"Kalau buat nge date, juga gak usah berlebihan ..." sahut Farel lagi yang mulai memoles pipi Thalia agar terlihat lebih merona.
"Terakhir bibir ..." ucap Farel yang mengaplikasikan lipstik berwarna merah sedikit di bibir mungil Thalia.
"Warna ini teralu menor, tapi kalau sedikit dan diratakan begini ..." Farel menggunakan ibu jarinya untuk meratakan warna lipstik yang ia poles sedikit di bibir Thalia.
"Maka, akan jadi warna yang gak begitu mencolok," sahut Farel sambil tersenyum.
Namun lain halnya dengan Thalia yang tak bisa berhenti menatap wajah bangga Farel yang tengah memandangnya.
"Nah, lihat di cermin," ujar Farel. Thalia pun mengikuti ucapan Farel. Kedua matanya membulat saat melihat bayangannya di cermin. Jari-jari lentiknya mulai menyentuh wajahnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Gimana? Kamu puas—" Ucapan Farel terhenti ketika tiba-tiba Thalia malah mencium pipinya.
'Gila! Apaan lagi ini?' panik Farel dalam hati.