Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Gelagat Tak Wajar


Farel beberapa kali melirik ke arah Alan yang sepertinya sekarang terlihat putus asa. Ternyata Pria yang sempurna dan memiliki kehidupan tanpa beban seperti Alan bisa juga merasa putus asa.


"Nanti gue ganti jus lu ..." ujar Alan yang kembali terdiam. Farel sendiri kelimpungan, kenapa tiba-tiba Alan mengajaknya bicara? Memang mereka punya hubungan apa? Kemana dua sahabat kerennya itu?


"Gue ... Gue Sayang banget sama Sheilla," ungkap Alan tiba-tiba. Farel membulatkan matanya sambil memalingkan wajahnya. Kenapa juga ia menyatakan hal itu pada Farel? Bukan kah harusnya pada Sheilla?


"Tapi ..." cetus Alan lagi.


"Gue malah bilang kalau kita gak pernah pacaran di hadapan semua orang ..." Alan langsung menjambak rambutnya sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Farel tertegun sambil mengerjap mendengar ucapan Alan. Kemudian Alan menghela napas panjang sambil mengangkat kepalanya lagi. Tatapannya kosong.


"Kenapa, kenapa gue gak bisa bilang dengab lantang kalau Sheilla pacar gue?" Alan terdiam dengan mata yang membulat.


"Shei ... Dia gak mau jadi pacar gue ..." ungkap Alan lagi kemudian menatap Farel dengab penuh pengharapan.


"Gue ... Gue gak salah 'kan? Gue terpaksa bilang dia bukan pacar gue!" Alis Alan langsung turun.


"Cuman itu satu-satunya cara buat ngelindungin Shei dari Thalia ..." Sontak mata Farel membulat.


"What? Thalia? Thalia ngelakuin apa ke Shei, Kak?" refelk Farel. Seharusnya gadis cantik itu sudah berubah jadi lebih baik sedikit. Namun kenapa dia malah mengganggu Sheilla? Apa karena dia sudah lama tidak melampiaskan hasrat ingin merundung orang pada Farel dan sekarang malah beralih ke Sheilla?


Farel pun mengangkat kepalanya dan malah menemukan kilatan tajam dari mata Alan.


"Apa peduli lu sama Sheilla gue?" sinis Alan.


"Uhm ... Bu-bukan Sheilla, Kak ... Tapi fue kira Thalia—" Alan berdecak keras.


"Thalia? Lu pikir dia akan berubah? Lu gak ngerasa apa, dia udah menginjak-injak lu dengan bebas?"


Farel tertegun. Ia diam-diam mengepalkan tangannya.


"Ck! Jadiin dia 'Majikan' lu bukan solusi. Gue udah bilang itu berkali-kali!" tekan Alan sambul menggebrak meja.


"Lagian orang gak punya hati kayak dia, rasanya mau gue singkirkan! Sial! Shei juga pingsan dan gue gak bisa berbuat apa-apa!" gerutu Alan.


Farel hanya terdiam. Dia sendiri sedang merasa bimbang. Entah kenapa ada secerca rasa kesal dalam dadanya ketika Alan menuding kejahatan yang Thalia lakukan, tetapi ia juga setuju pada ucapan Alan bahwa Thalia tidak punya hati jika sampai merundung Sheilla.


"Sekarang jangan bahas soal Thalia dulu," cetus Alan lagi yang membuyarkan lamunan Farel.


"Gue muak sama cewek itu!" ucap Alan penuh dendam.


"Uhm, Rel ... Lu tadi yang bantuin Alvin buat bawa Sheilla ke rumah sakit 'kan?" tanya Alan. Farel hanya mengangguk.


"Lu tahu dimana rumah sakitnya? Gue mau jenguk dia abis ini. Gue mau bicara dan menjelaskan semuanya ..." Ucapan Alan terhenti begitu melihat Farel menggeleng.


"Gue gak tahu dia dibawa ke rumah sakit mana. Soalnya guru-guru yang bawa ... Uhm, Kak ..." Farel agak ragu mengemukanan pendapatnya.


"Kenapa? Lu mau bilang apa? Lu ada saran supaya gue bisa minta maaf ke Shei?" cecar Alan.


Dahi Farel mengernyit seraya mengangguk pelan.


"Yah, mending lu sabar dulu. Gue yakin, Shei juga belum mau ketemu sama lu. Tunggu setidaknya tiga hari dan baru lu jelasin semuanya ke dia," ucap Farel panjang lebar.


Alan terdiam sembari memandang Farel.


Sekali lagi Farel menggeleng.


"Gue yakin, dia juga sebenernya sayang sama lu," ujar Farel lagi sambil menatap wajah putus asa Alan.


'Yah, karena gue tahu Shei sayang sama lu, makanya gue nyerah ...' batin Farel yang berusaha menorehkan senyumnya pada Alan. Alan pun akhirnya tersenyum, tetapi ia sama sekali tak menimpali ucapan Farel. Dia terdiam sejenak seolah sedang berpikir.


"Thanks, Rel. Setidaknya gue tahu apa yang harus gue lakuin ..." ujarnya. Farel sampai tertegun. Cepat sekali kakak kelasnya ini menemukan solusi dari permasalahannya. Ah, Farel lupa. Dia bukan hanya tampan dan populer, tetapi juga jenius.


"Oh, iya, jus lu, gue ganti dua kali lipat, ya," sahut Alan sambil berdiri dan mengeluarkan dompetnya.


"Jangan nolak kelebihannya. Anggap ini sebagai tanda terima kasih gue karena lu udah mau dengerin keluh kesah gue," ujar Alan sambil menyodorkan beberapa lembar uang pada Farel.


Farel sendiri tidak mau munafik. Ia langsung menerima uang pemberian Alan, siapa tahu empat cewek beringas itu menyuruhnya untuk membelikan mereka sesuatu lagi tanpa dibayar.


"Gue terima. Thanks," sahut Farel.


"Kalau gitu, gue balik, dah!" pamit Alan yang langsung meninggalkan Farel begitu saja, sementara Farel beranjak dan kembali membeli jus pesanan Thalia and the geng karena jus yang sudah ia beli tidak dingin lagi.


Saat sampai di kelas, Farel langsung menghampiri bangku Marina yang di sana sedang berkumpul empat cewek beringas dalam kehidupan Farel.


"Ini jusnya," ujar Farel yang memutus candaan keempat gadis itu. Alhasil Farel dapat tatapan sinis dari mereka.


"Apaan, sih lu Culun! Kalau ngasih yang baik, dong!" sindir Vannessa.


"Tahu! Gak ngerti sopan santun. Anak miskin, sih!" tambah Renata yang membuat Farel geram.


'Anak miskin? Kalau gue miskin, lu pada apaan, minta dibayarin jus. Dasar orang kaya berkepribadian rakyat jelata!' umpat Farel dalam hati. Namun ia malah menarik napas dalam-dalam.


"Thalia, Vanessa, Renata, Marina, ini silakan jusnya," ujar Farel meralat cara memberi jus pesanan empat cewek bar-bar itu sambil menyodorkan lagi empat gelas jus di tangannya. Thalia pun mengambilnya sambil menatap wajah Farel.


"Makasih, Rel ..." sahut Thalia lembut sambil tersenyum. Sontak Farel tertegun mendapati senyum cantik dari Thalia. Ia seolah mendapat sengatan listrik di tubuhnya. Farel buru-buru memalingkan wajahnya.


Sementara Marina, Vanessa dan Renata malah saling pandang sambil mengerutkan dahi, mereka bertiga seolah berkomunikasi lewat mata dengan sikap Thalia yang agak aneh. Namun, Thalia malah berusaha menusuk sedotan di gelas jusnya. Sayang, entah kenapa penutup gelas jus dari plastik itu terlalu lentur hingga sedotan Thalia malah bengkok.


"Yah ..." kecewa Thalia sambil memandang sedotannya yang bengkok.


Renata langsung melirik sinis ke arah Farel yang malah berdiri saja di samping meja mereka sambil memalingkan wajahnya. Renata pun langsung mendorong meja hingga tubuh Farel terdorong. Reflek, Farel memegang pinggir meja yang di sana ada tangan Thalia. Tanpa sengaja, Farel malah memegang tangan halus dan putih itu. Seketika ketiga sahabat Thalia terkesiap.


"So-sorry, Thalia!" panik Farel yang langsung berdiri tegak. Thalia hanya menggeleng kemudian menatap Farel yang menunduk.


"Farel ... Ambilin aku sedotan baru. Sedotan aku robek ..." ujar Thalia dengan nada manja yang membuat ketiga sahabatnya melotot.


Farel pun mengambil sedotan jus Thalia yang ditunjukkan oleh gadis cantik itu. Dahinya mengernyit seraya memandang heran pada Thalia yang masih setia menatapnya. "Oke, tunggu, ya. Aku segera ambilin yang baru," ujar Farel sambil tersenyum tipis yang membuat Thalia tertegun. Seketika tubuhnya terpaku.


Farel pun langsung berlari pergi kembali ke kantin meninggalkan Thalia yang detak jantungnya tak karuan. Lagi, ia merasa wajahnya terasa panas. Thalia reflek memegang kedua pipinya sambil mengerjap. Namun tiba-tiba, ada seseorang yang menarik bahunya, membuat atensi Thalia beralih.


"Thalia!" seru Renata yang duduk di sampingnya. Thalia pun menoleh dan mendapati ketiga sahabatnya yang kini sedang memicingkan mata. Dahi Thalia mengernyit.


"Kenapa kalian lihat aku begitu?" bingung Thalia.