
"Woy, gue ke kelas dulu, ya!" sahut Farel sambil menyerahkan bola berwarna jingga yang dia pungut.
"Lah? Lu aja belum masukin ke ring! Malu lu, ya gegara kalah dari kita?" ledek temannya yang berkaos hitam yang langsung disambut gelak tawa.
Farel hanya tersenyum sambil meninju pelan kedua teman duelnya.
"Gue ada urusan bentar. Nanti gue balik lagi, nih!" Farel langsung mengambil tangan temannya yang berkaos hitam untuk memegang bola jingga di tangannya.
"Lah? Urusan apaan lagi? Sok sibuk, lu! Ngaku aja, belum ngerjain PR!" seloroh si cowok berseragam olahraga yang langsung disambut gelak tawa. Farel hanya membalas ucapan kedua temannya itu dengan senyuman sambil berlari meninggalkan lapangan.
Farel segera berlari menuju kelas, tetapi belum jauh melangkah ia menemukan sebuah kotak berisi cookies yang berceceran di koridor. Farel menghela napas, kemudian kembali mempercepat langkahnya.
Langkah Farel melambat ketika mendengar isakan tangis seorang gadis di kelasnya. Perlahan-lahan ia mengintip lewat jendela dan terlihat Thalia yang tengah duduk sambil terisak. Cowok berkacamata itu menggigit bibir bawahnya seraya menatap ke arah Thalia.
"Thalia ...." Sekali lagi dada Farel terasa sesak.
Hal yang paling sulit selama menjauhi Thalia adalah menahan diri untuk tidak mendatanginya di kala bulir-bulir bening mulai membasahi pipi gadis itu. Farel menggeleng.
"Mungkin Thalia emang pernah bully gue ... Tapi seiring berjalan waktu, sikapnya berubah," gumam Farel kemudian memutar tubuhnya dan terduduk sambil bersandar ke dinding kelas.
"Kenapa di saat Thalia udah mulai berubah, gue gak bisa deketin dia?" sesal Farel seraya menatap langit.
...****************...
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kini sudah saatnya anak kelas sembilan menjalani try out sebagai persiapan Ujian Nasional. Ruang kelas pengerjaan try out diatur berdasarkan urutan abjad sehingga Thalia tidak sekelas dengan ketiga sahabatnya. Hal itu, ia gunakan sebagai kesempatan mencari keberadaan Farel. Entah kenapa ia ingin melihat wajah serius cowok berkacamata itu sebagai penyemangatnya di hari pertama try out, tetapi Thalia sama sekali tidak melihat batang hidungnya? Mungkinkah Farel terlambat?
Thalia tidak mau ambil pusing, toh setelah try out, mereka akan lanjut belajar seperti biasa. Sekalipun Thalia tidak bisa secara terang-terangan menatapnya, setidaknya ia bisa melihat sosok lelaki pujaannya itu. Untuk sekarang biarlah seperti ini.
Sayangnya hingga hari ketiga, Farel sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Tidak ada yang tahu kemana cowok berkacamata itu pergi.
"Thalia, makanan lu ditatap aja? Tadi try outnya susah?" tegur Vannessa yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya ini murung. Namun Thalia hanya menggeleng sambil mengaduk-aduk spaghettinya.
"Lagian cuman IPA. Susah apanya, sih?" seru Renata.
"Sok pinter lu! Lu ngerjainnya juga tang-ting-tung, 'kan?" ledek Marina.
"Yah, kalian kayak gak tau gue aja, haha!" tawa Renata yang langsung diikuti tawa Vannessa dan Marina, tetapi tidak untuk Thalia yang malah murung.
"Oh, iya! Jangan lupa, ya, hari ini kita belajar bareng di apartemen Kak Aldo. Besok bahasa inggris, 'kan?" ujar Vannessa.
"Oh, iya, katanya Kak Randy mau ikut bantu ajarin kita, ya? Gara-gara siapa, tuh?" seru Renata yang langsung melirik ke arah Marina. Namun Marina hanya memalingkan wajah.
"Apaan, sih?" timpal Marina.
"Waw, kayaknya, temen kita bakalan ada yang sold out lagi, nih!" goda Vannessa.
"Ih, diem, ya kalian!" malu Marina yang malah digoda oleh kedua sahabatnya. Namun tiba-tiba Thalia berdiri.
"Aku balik ke kelas. Udah kenyang," ujar Thalia lesu yang langsung menghentikan candaan ketiga sahabatnya.
"Kenyang? Lu belum makan satu suap pun, Thal!" seru Vannessa, tetapi Thalia tetap berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya.
Saat kembali ke kelas, Thalia memandangi bangku Farel di belakang yang sidah tiga hari ini kosong. Kira-kira ada apa dengan Farel? Kenapa dia tidak masuk selama tiga hari ini? Apakah dia dipukuli lagi? Atau sedang sakit? Atau malah terjadi sesuatu dengan mamanya?
Thalia menggeleng kuat hingga atensinya beralih pada Sheilla yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Sheilla!" seru Thalia yang mengagetkan cewek berkulit sawo matang itu. Sejak kapan Thalia mau menyapanya duluan, dengan menyebut namanya lagi?!
"Uhm, ya? Ada apa?" tanya Sheilla. Thalia pun langsung menghampirinya.
"Kamu ... Kamu tahu Farel ke mana? Kenapa dia gak masuk?" selidik Thalia.
Namun Sheilla malah menaikkan kedua pundaknya.
"Maaf, aku gak tahu," jawab Sheilla yang langsung membuat wajah Thalia semakin murung.
"Kenapa? Kenapa kamu gak tahu? Kamu, 'kan bisa hubungin dia! Kamu bisa SMS, LINE, WA, FB, atau apa, kek! Kenapa kamu gak tahu?" cecar Thalia.
Dahi Sheilla mengernyit.
"Aku udah hubungin dia, Thalia. Tapi Farel sama sekali gak bales bahkan gak baca pesan aku. Teleponku juga gak diangkat sama dia. Uhm ...." Sheilla bergumam.
"Mungkin dia butuh waktu sendiri," ujar Sheilla lagi.
"Butuh waktu sendiri? Terus, kamu diam aja? Kamu gak ke rumahnya? Kamu gak nengokin dia? Kamu temen macam apa, sih? Kalau dia alfa terus, yang ada beasiswanya bakal dicabut dan di-drop out!" tekan Thalia dengan mata yang melotot.
Namun Sheilla hanya menatap gadis yang sedang mencak-mencak di hadapannya ini dengan santai.
"Dia juga gak ada di rumah," jawab Sheilla yang langsung membuat Thalia membeku.
"Apa? Gak ada di rumah?" ulang Thalia.
Sheilla mengangguk.
"Aku udah ke rumahnya dua hari lalu dan tetangganya bilang, Farel dan ibunya udah pergi dari hari Minggu, buru-buru, tanpa pesan apa-apa. Cuman segitu doang info yang bisa aku kasih. Kalau kamu gak percaya, silakan datangin Farel di rumahnya," pungkas Sheilla langsung pergi melewati Thalia yang kini tercengang.
Farel tidak ada di rumahnya dan dia tidak masuk sekolah selama tiga hari tanpa kabar? Apakah Farel menghilang? Namun, kenapa dia menghilang? Apa alasannya? Thalia hanya bisa meremas roknya. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar tak karuan. Dia sungguh harus memastikannya!
...****************...
"Nomor yang anda hubungi tidak aktif atau berada dalam jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi." Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Marina seraya menatap kedua sahabatnya.
"Bahkan teleponnya gak diangkat. Kira-kira, Thalia ke mana, ya?" bingung Vannessa.
"Nessy, belajarnya mau mulai kapan? Masih mau nunggu Thalia?" tanya Aldo yang baru saja kembali dari supermarket.
Vannessa menoleh.
"Maaf, ya, Kak. Aku coba hubungi Thalia sekali lagi," izin Vannessa.
"Ya udah, aku sama Randy tunggu di ruang tamu, ya," izin Aldo yang langsung diiyakan oleh Vannessa kemudian cowok itu pergi.
Kini atensi Vannessa kembali pada kedua sahabatnya.
"Tadi, Thalia gak pesen apa-apa sama kalian?" cecar Vannessa yang langsung dapat gelengan kepala kedua sahabatnya.
"Ini aneh," pikir Renata.
Marina menggosok dagunya.
"Kira-kira dia ke mana, ya?"