Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Perintah Alan


"Ta-tapi, Bang ... Gu-gue gak merebut posisi lu—"


Alan malah menarik rambut Aldo semakin kencang hingga kepala Aldo ketarik ke belakang.


"Ba-bang—" rintihnya.


"Lu barusan bilang, lu yang perintahin dia?" geram Alan. Kini suasana Kantin semakin mencekam. Vanessa yang melihat itu juga jadi panik, dirinya tak tega melihat kekasih hatinya diperlakukan seperti itu oleh Alan. Ia ingin menghentikan Kakak kelasnya, tetapi tak berdaya.


"E-emangnya salah—"


Alan langsung melempar Aldo hingga jatuh tersungkur.


"Sayang!" jerit Vanessa yang tak bisa tahan melihat kekasihnya diperlakukan kasar oleh Alan. Gadis itu segera menghampiri sang pacar dan membantunya bangun.


"Ya ampun, Sayang ..." panik Vanessa.


"Harusnya dari awal, gue yang kasih perintah!" tegas Alan dengan suara lantangnya, hingga membuat siapa saja bergidik ngeri mendengarnya.


"Bubar lu semua!" sergah Alan yang juga membuat seluruh murid di Kantin buru-buru meninggalkan Kantin termasuk Aldo and the geng yang lari terbirit-birit.


Sementara Thalia sudah berlari pergi duluan, Marina dan Renata pun mengejarnya.


"Thalia! Tunggu!" seru Renata.


"Aku mau ke toilet! Kalian ke kelas aja duluan!" ujar Thalia langsung berlari meninggalkan kedua temannya.


"Loh? Dia kenapa?" bingung Renata.


"Entahlah," timpal Marina yang mencurigai sesuatu.


"Jangan-jangan dia kesel sama Vanessa!" tebak Renata.


Marina langsung menoleh cepat.


"Kesel? Maksudnya?"


'Apa karena Vanessa—'


"Karena dia datengin Aldo. Bisa-bisa Kak Alan gak mau deket-deket lagi sama Thalia," lanjut Renata. Marina pun langsung ber-oh ria.


"Bisa jadi," timpalnya.


"Tapi gue yakin, Kak Alan bakal ngasih pelajaran yang lebih sadis buat Farel. Sama Aldo aja kayak gitu tadi," ujar Renata.


"Menurut lu gitu, Ren?" timpal Marina. Dari caranya tadi, memang sepertinya Alan akan menunjukkan giginya. Namun berita tentang lelaki populer itu merundung adik kelas tidak pernah terdengar.


"Iya! Gue tadi pagi lihat, Kak Alan ngerebut tas Farel dan keluarin isinya sampai jatuh berserakan," lapor Renata.


Marina membulatkan matanya.


"Emangnya Kak Alan ada masalah apa sama Farel?" selidik Marina.


Renata mengendikan bahunya.


"Mungkin emang kesel aja lihat gelagatnya!" kekeh Renata asal. Marina malah terdiam seolah berpikir.


"Duh, udah, yuk, Mar! Balik ke kelas. Dan kita harus siap karena bakalan ada pertengkaran antara dua cecan!" sahut Renata sambil cemberut. Marina hanya terdiam dan mengikuti Renata saja.


Sedangkan, di Kantin Farel masih takjub terhadap apa yang terjadi.


'Parah! Semua orang langsung nurut sama omongan Kak Alan!' batinnya dalam hati, tetapi sebenarnya ia juga agak takut.


Kini tinggal dirinya dan Alan saja serta beberapa penjual di Kantin. Alan pun berjongkok dan menemukan kacamata Farel yang frame-nya patah dan lensanya pecah.


"Gak tertolong," kekehnya sambil geleng-geleng.


Farel buru-buru bangun dan duduk bersimpuh di hadapan Alan.


'Kira-kira, gue bakalan diapain? Dia masih dendam gak, ya gara-gara gue pake tas Shei tadi pagi?' batin Farel agak was-was, tetapi dia tak berdaya juga.


"Bangun lu! Berdiri!" perintah Alan yang juga berdiri.


Farel dengan sigap pun mengikuti perintah Alan.


'Ah, sudah, pasrah saja,' batin Farel tidak tahu harus menghadapinya bagaimana.


Alan pun melepaskan tangannya.


"Gue perintahin elu sekarang—"


"I-iya, kak! Apapun yang Kak Alan perintahin bakalan saya turutin!" ujar Farel sigap.


Alan malah mengernyitkan dahi kemudian malah menoyor kepala Farel.


"Heh, yang ada, dengerin dulu perintahnya, baru di-iya-in!" kekehnya.


Farel malah bingung, kenapa sepertinya Alan tidak akan memerintahkan hal di luar nalar padanya?


Alan pun melihat jam tangannya.


"Sekarang bel masuk udah mau bunyi. Dan gue merintahin lu buat pergi ke UKS!" seru Alan.


'UKS? Apa Kak Alan butuh obat?' pikir Farel.


"Lapor ke guru UKS tentang luka di pipi lu!" ujar Alan sambil menunjuk pipinya.


"Udah, abis itu balik ke kelas!" lanjutnya.


Farel malah mengerutkan dahinya.


"Cuman itu, kak?" tanyanya refleks, tetapi segera menutup mulutnya. Ia langsung merutuki dirinya sendiri.


"Ya iyalah! Apa lagi? Gue sibuk! Toh, bentar lagi juga gue pulang! Males banget ngurusin lu!" ketus Alan.


Farel hanya mengiyakan sambil menunduk.


"Kalau gitu, tunggu apa lagi?!" gertak Alan, Farel pun refleks berlari keluar kantin, tetapi karena penglihatannya buram, ia malah menghantam tembok hingga kepalanya terpelanting ke belakang. Alan yang melihatnya sempat terhenyak, tetapi ia malah terkekeh.


"Dasar!" Lelaki itu pun terpaksa turun tangan. Ia menghampiri Farel dan langsung menarik kerah adik kelasnya itu.


"Ayo, ikut gue!" sahut Alan sambil menyeret Farel menuju UKS.


Sementara itu, di salah satu bilik toliet perempuan, Thalia berusaha menghentikan cucuran air matanya. Dirinya juga bingung, kenapa ia terus saja menangis.


'Argh!'


Terngiang rintihan Farel di telinganya, bahkan terbayang ekspresi lelaki culun itu di benaknya, membuat air mata Thalia kembali menetes.


"Ke-kenapa mereka kejam ... Farelku—" Thalia langsung menghentikan ucapannya. Matanya membulat, ia kaget atas apa yang baru saja ia ucapkan.


"A-apaan, sih?" sahutnya langsung menghapus air matanya. Namun ia tak dapat memungkiri lagi-lagi jantungnya berdebar-debar. Ia bisa merasakan bahwa wajahnya terasa panas.


"A-apa yang terjadi sebenarnya?" bingung Thalia. Padahal ia sendiri yang menyetujui usulan Vanessa untuk memberikan pelajaran pada Farel. Namun sampai akhirnya, ia sendiri tak kuasa melihat hasilnya.


Thalia langsung menggeleng.


"Gak! Yang aku suka itu Kak Alan!" tegas Thalia.


"A-aku nangis karena Kak Alan yang berteriak ketus seperti itu. Ta-tadi dia terlihat menyeramkan ..." Thalia mengertakkan giginya.


"Yah, ta-tapi aku tahu, Kak Alan pasti tidak marah padaku," ujar Thalia.


"Yah, Aku sukanya sama Kak Alan. Cuman Kak Alan," ujar Thalia lagi berusaha menjernihkan pikirannya.


***


Thalia pun kembali ke kelas, wajahnya basah karena ia mencuci mukanya setelah puas menangis. Jangan sampai ketiga temannya menyadari bahwa ia ke toilet karena menangis.


Namun hati Thalia langsung lega begitu melihat Renata dan Marina sedang sibuk menenangkan Vanessa yang tengah menangis. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Mungkin karena tak kuasa melihat perlakuan Alan terhadap pacarnya.


Thalia pun memilih untuk kembali ke bangkunya karena tepat pada saat itu bel masuk berbunyi. Di bangkunya ia langsung menemukan Farel yang tengah duduk di sana. Lelaki itu sedang bersikeras untuk membaca buku pelajaran selanjutnya.


Thalia pun menarik kursinya dengan agak kasar untuk memberikan kode, bahwa dirinya sudah datang. Atensi Farel langsung direbut, lelaki itu sontak menunduk.


Thalia juga hanya diam, tetapi menoleh ke arah teman sebangkunya itu. Matanya sempat membulat ketika melihat plester di pipi seorang Farel.


"Pipi kamu—"


"PAK RUSLI DATANG!" seru seseorang, membuat Thalia tidak jadi melontarkan pertanyaannya dan hanya bisa mengurungkan niat.