
Sembari menunggu datangnya guru di pelajaran selanjutnya, Sheilla membaca komik online. Saat sedang seru-serunya, tiba-tiba ponselnya berdering, tanda ada sms masuk. Sheilla pun terpaksa membuka pesan itu.
[Jadi, gimana? Farel baik-baik aja? Kacamatanya siapa yang ganti?]
Sheilla menghela napas. Kenapa juga ia menurut saja disuruh-suruh oleh lelaki yang jadi pacarnya secara sembunyi-sembunyi ini.
Sheilla pun membalas pesannya sesuai dengan yang Farel katakan tadi. Kemudian ia kembali membuka web komik online-nya. Namun tak lama, pesan berikutnya datang lagi.
[Oke, thanks.] Sheilla memutar bola matanya. Alan itu benar-benar aneh. Ketika dengan pacar lainnya, ia sama sekali tidak peduli, termasuk dirinya, tetapi pada Farel, dia malah se-khawatir ini.
"Kapan aku bisa putus sama dia," harapnya kembali membaca komik online-nya.
***
Farel berusaha mencari keberadaan Thalia. Entah apa yang mendorong langkahnya mencari Si Nenek Sihir itu. Padahal, ia bisa saja mendapat malapetaka kalau mencarinya dalam keadaan emosi begini. Bahkan mungkin saja hal yang lebih parah akan terjadi.
Hingga Farel mendengar suara isakan tangisan seorang gadis di taman sekolah. Lelaki itu pun mendekati asal suara.
Langkahnya langsung terhenti ketika menemukan sesosok gadis yang ia cari sedang menangis tersedu-sedu sendiri.
"Kenapa dia bisa nangis sampai kayak gitu? Emang ucapan gue salah?" bingung Farel. Lelaki itu pun mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk memghadapi seorang Thalia.
"Jahat! Farel jahat! Jahat banget!" umpat Thalia sambil sesenggukan.
'Dih, kalau gue jahat, lu apa namanya? Dasar nenek sihir!' tukas Farel dalam hati.
"Thalia ..." Akhirnya ia pun mengucapkan namanya. Seketika, suara isakan tangis gadis cantik itu berhenti, tetapi gadis itu sama sekali tidak mau berbalik dan malah membelakanginya.
Farel pun terpaksa duduk di bangku yang sama dengan Thalia.
"Thalia ... sorry, aku ... aku minta maaf. Kamu jangan nangis, ya?" mohon Farel. Rasanya ia mau muntah setelah mengatakan itu semua.
"Apaan, sih? Ngapain kamu datang ke sini? Kenapa gak datangin pacar kamu aja, tuh!" ketus Thalia kemudian kembali sesenggukan.
"Pacar? Pacar aku siapa?" bingung Farel.
"Ya, Sheilla lah! Siapa lagi!" sungut Thalia.
"Aku gak pacaran sama dia. Kita cuman ngobrol tadi—" Tiba-tiba Farel menyadari sesuatu.
'Kok kayak gue lagi ngebujuk pacar, sih? Idih, jijay bajay!' gerutunya dalam hati.
"Terus, kamu bilang, dia lebih cantik daripada aku? Apa namanya kalau bukan pacaran?" sungut Thalia lagi.
"Aku gak bilang gitu!" bela Farel.
"Aku bilang kalian gak bisa dibandingin—"
Thalia pun berbalik dan menunjukkan wajah sembabnya.
"Kenapa?" pekik gadis itu.
"Padahal semua orang bilang aku cantik, banyak cowok yang mau jadi pacar aku, tetapi kenapa kamu bilang aku gak bisa dibandingin sama cewek jelek kayak Shei yang bahkan gak ada yang mau jadi pacar dia?" gerutu Thalia sambil sesenggukan.
Farel diam-diam memutar bola matanya.
'Dia pacarnya Kak Alan, tau! Cowok yang lu kejar-kejar!' ujarnya dalam hati agak gemas.
Thalia pun kini menatap wajah lelaki kurus di depannya, kemudian gadis itu menghapus semua air mata yang membasahi pipinya.
"Sekarang, coba kamu lihat aku!" perintah Thalia.
Farel mengernyitkan dahinya. Ia masih enggan mengangkat kepala.
"Lihat aku, Farel Barata Septian!" paksa Thalia sambil mengangkat dagu Farel hingga lelaki itu mengangkat kepalanya.
"Ka-kamu 'kan yang suruh aku nunduk!" bela Farel lagi.
"Sekarang aku suruh kamu lihat muka aku!" paksa Thalia geram.
Farel pun mengangkat kepalanya pelan-pelan sembari menatap wajah Thalia. Bawah matanya agak merah, mungkin karena sembab. Hidungnya memerah, terlihat begitu kontras karena kulit putih gadis itu, meskipun selebihnya wajah Thalia terlihat buram di matanya.
'Apa yang bikin dia se-sedih ini sampai kacau balau begini mukanya?' gumam Farel dalam hati.
Sementara Thalia malah terpaku melihat mata Farel yang tanpa kacamata memandang dirinya.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
'Perasaan aneh apa ini?' gumam Thalia dalam hati. Kini mata Farel benar-benar sedang memandangnya.
"Gue harus apa, Thalia?" tanya Farel keceplosan, ia langsung sadar kalau cara bicaranya salah, tetapi tidak ada reaksi apapun dari Thalia. Entah gadis itu juga tak menyadarinya atau tidak. Farel pun pura-pura tak terjadi apa-apa.
"Ehm! Kamu mau aku apa?" tanya Farel lagi.
Perlahan tangan Thalia menyentuh wajah Farel. Tangan gadis itu bahkan menyingkirkan poni yang menutupi mata Farel. Tatapan Thalia berubah jadi sendu.
"Thalia?"
"Kamu bisa lihat wajahku? Lihat dengan seksama," perintah Thalia dengan suara yang lembut.
Farel mengernyitkan dahi. Sejak kapan Thalia jadi se-ramah ini padanya? Apakah dunia sudah terbalik? Atau kiamat sudah dekat?
"Ma-maaf Thalia, aku gak bisa lihat wajah kamu. Mataku buram," ujar Farel jujur.
"Dasar!" umpat gadis itu langsung menarik kerah Farel hingga wajah mereka berdekatan.
Farel kaget bukan main, jika ada orang yang tak sengaja menyenggolnya, mungkin bibir mereka akan saling bertubrukan. Anak remaja itu pun terpaksa memejamkan matanya.
"Kenapa? Buka matamu, dan perhatikan wajahku baik-baik!" pinta Thalia dengan suaranya yang sangat lembut, membuat telinga Farel geli mendengarnya.
"Thalia, iya, kamu can—"
Thalia mendorong dan menarik kembali kerah Farel hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
Farel pun terpaksa membuka matanya. Kini ia bisa melihat dua bola mata indah sedang menatap lurus dengan tatapan tajam ke arahnya.
Sontak wajah Farel terasa panas.
"Sekarang katakan, apakah aku cantik?" tanya Thalia manja.
Farel hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
"Apakah aku cantik? Jawab!" paksa Thalia.
'Dia memang nenek sihir, tetapi bola matanya ... bola matanya yang terang ... benar-benar indah,' gumam Farel dalam hati.
"Jawab Farel!" paksa Thalia lagi.
"Kamu cantik!" seru Farel, seketika mulut Thalia bungkam.
"Mata kamu indah dan kamu cantik," ujar Farel lagi.
Thalia pun melepaskan cengkramannya di kerah seragam Farel.
"Bilang sekali lagi," pinta Thalia.
"Kamu cantik, Thalia!"
Sontak Thalia terhenyak, seolah ada kupu-kupu terbang di dalam perutnya hingga menerbitkan sebuah senyuman di wajah sembab gadis ABG itu.
"Kamu cantik banget!" seru Farel lagi.
'Setidaknya dengan begini, gue akan selamat 'kan hari ini?' batin Farel. Ia bisa melihat bahwa Thalia tersipu malu akibat ucapannya.
'Apa setiap perempuam semudah ini? Si Nenek Sihir tiba-tiba berubah jadi kucing yang menggemaskan,' kekeh Farel dalam hati.
'Toh, dia emang cantik,' batin Farel mengatakan apa adanya saja.
'Tapi kalau Shei, cantiknya dari dalam. Kalau Thalia kulitnya doang! Hatinya busuk!' Farel masih belum lupa kejadian hari ini terjadi atas perintah siapa.
Thalia tiba-tiba kembali menoleh pada Farel dengan wajah semringah, membuat Farel tertegun. Ini pertama kalinya Thalia menunjukkan senyuman seperti ini padanya.
"Terus kamu jawab!" Thalia mengambil kedua tangan Farel.
"Kalau misal kamu jadi pacar aku, mau atau enggak?"
Farel langsung melotot.
"Hah? Apa?" katanya bingung. Ia salah dengar atau tidak. Thalia pun langsung menyadari perkataannya. Ia sontak melepas genggaman tangannya.
'A-apa yang barusan aku bilang?' panik Thalia dalam hati.