
Thalia langsung menjauh.
"Ma-maaf, Farel, uhm ta-tadi, tadi ada nyamuk!" karang Thalia.
Farel langsung duduk, tetapi dia memastikan bahwa adik perempuannya masih terjaga. Atensinya kembali pada Thalia.
"Uhm, maaf, Thalia, harusnya aku gak tidur di sini," Farel hendak turun dari tempat tidur, tetapi Thalia mencegahnya.
"Gak apa-apa. Santai. Kita, 'kan teman," ujar Thalia ramah.
"Tapi—"
"Gak apa-apa!" tekan Thalia. Farel pun tak bisa menentang Thalia lagi.
"Uhm, jadi, apa kamu sudah terpikir sesuatu tentang adik perempuan kamu?" tanya Thalia.
Farel pun kembali memandangnya. Wajah bayi perempuan itu bahkan mirip wajah ayahnya.
"Aku gak tahu ini ide yang bagus atau enggak. Tapi aku akan tetap bawa dia pulang. Mau gimanapun, kami keluarga dia satu-satunya," tutur Farel.
"Tapi, Mama kamu ...."
Farel mengusap seluruh wajahnya.
"Itu. Nanti aku akan berusaha kasih pengertian ke Mama," ujar Farel, tetapi sebenarnya dia agak tidak yakin.
"Tapi itu sulit, Farel. Bahkan aku sendiri masih sulit menerima keberadaan adikku," jujur Thalia.
"Aku juga maunya egois, Thal. Aku maunya bayi ini gak ada dalam kehidupanku ataupun kehidupan Mama. Tapi dia sebatang kara sekarang. Kalau dipikir, dia sama sekali gak salah, yang salah itu Ayahku dan istri keduanya itu!" Suara Farel bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Toh, mereka juga sudah dihukum dengan kematian! Terus, aku mau dendam apa lagi sama dia?" Kini Farel menatap Thalia dengan mata yang menggenang.
"Farel ..." Thalia langsung mendekati Farel dan menarik cowok itu ke dalam pelukannya.
"Aku ... aku benci setengah mati sama Ayah!" ungkap Farel yang akhirnya memeluk tubuh Thalia. Cowok Berkacamata itu menenggelamkan wajah basahnya ke pundak Thalia.
"Apa aku sekarang jadi anak durhaka?" lirih Farel yang melepas pelukannya dari Thalia.
Thalia menyentuh pipi Farel dengan lembut sambil menggeleng.
"Enggak, Farel. Enggak. Bagaimana kamu disebut sebagai Anak Durhaka? Bahkan kamu mau merawat anak ayahmu. Kamu gak durhaka sama sekali," ujar Thalia. Farel pun memegang tangan Thalia yang menyentuh pipinya.
"Terima kasih Thalia. Terima kasih kamu sudah berusaha membuat hatiku tenang," tutur Farel sambil melempar senyum putus asanya searaya memandang adik bayinya.
"Namanya Alika. Aku udah lihat akta kelahirannya," seru Farel tiba-tiba. Atensi Thalia beralih pada bayi perempuan itu.
"Tadi, Bibi sudah ngajarin aku cara gendong bayinya. Aku masih agak kagok, sih. Tapi aku alan belajar." Farel melempar senyumnya pada Thalia.
"Uhm, Thal, kalau gitu, aku mau pulang dulu, ya?" pamit Farel. Namun, Thalia langsung mencegatnya.
"Mau pulang? Kamu mau pulang sama adik kamu? Nanti mama kamu gimana? Alika nginap di sini aja," tawar Thalia lagi, tetapi Farel menggeleng.
"Gak, Thal ... Mama harus tahu kalau aku gak nyerahin Alika ke Panti Asuhan. Mama juga harus nerima Alika. Karena pada dasarnya, Alika gak bersalah," ujar Farel lagi.
Sekali lagi Farel menggeleng.
"Gak, Thalia. Tadi aja Marina udah mulai curiga, lagian Bibi ngakunya Alika cuman dititipin sebentar. Aneh, kalau besok temen kamu datang ke sini malah ketemu Alika," beber Farel.
Thalia tertegun. Jadi, Farel dengar semuanya. Apakah Farel juga dengar tentang Vicko? Haruskah Thalia tanya?
"Makasih, ya. Aku beruntung, ada kamu di sisi aku," ucap Farel yang langsung sampai ke dalam lubuk hati Thalia, membuat gadis itu membeku sesaat.
"Fa-farel beruntung karena a-ada aku?" gumam Thalia yang diam-diam tersenyum.
"Thanks, ya, Thalia. Karena aku diantara ke sini, setidaknya aku punya ruang dan waktu untuk lebih berpikir jernih dan menemukan jalan keluar," lanjut Farel lagi kemudian memandang tempat tidur Thalia yang agak berantakan.
"Uhm, aku beresin tempat tidur kamu dulu, ya, baru pulang," sahut Farel ya g membuyarkan lamunan Thalia. Gadis itu buru-buru mencegat Farel sekali lagi.
"Udah, gak usah, Farel. Gak apa-apa!" ujar Thalia.
"Yakin? Aku dan Alika udah berntakin seprai kamu," ungkap Farel agak merasa bersalah.
"Beneran, gak apa-apa. Nanti biar aku yang beresin. Uhm, kamu kalau mau pulang, nanti supirku antar, ya? Udah malem," ujar Thalia.
"Enggak. Gak apa-apa. Aku bisa naik kendaraan umum," tolak Farel.
"Farel, ini demi Alika. Angin malam itu dingin buat anak baik. Mending kamu naik mobilku yang suhunya bisa diatur, oke?" saran Thalia yang agak memaksa.
Farel sebenarnya merasa tidak enak, tetapi ia tidak bisa memungkiri ucapan Thalia.
"Oke, makasih sekali lagi, Thalia," ujar Farel.
...****************...
Alhasil Farel pulang ke rumahnya sambil menggendong Alika. Ia membuka pintu dengan pelan-pelan, khawatir sang Mama ada di ruang tamu, tetapi ternyata tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Farel pun bisa bernapas lega.
"Oek!" Tiba-tiba saja Alika bersuara, membuat jantung Farel behenti berdetak sesaat. Ia langsung menyisir sekelilingnya. Apakah sang Mama akan muncul? Namun tidak terlihat tanda-tanda ibunya itu muncul. Sekali lagi Farel bisa bernapas lega.
"Kamu baru pulang, Farel?" Sontak tubuh Farel membeku saat mendengar suara sang Mama dari belakang. Haruskah ia berbalik?
"Uhm, i-iya, Ma ...." ujar Farel gugup.
"Oh, urusan di Panti Asuhan panjang, ya?" Sang Mama malah berjalan mendekati Farel yang membelakanginya. Farel harus apa? Farel harus apa? Ia hanya bisa memejamkan matanya erat-erat.
"Loh? Bayinya masih kamu bawa?" Seketika suara sang Mama yang meninggi mengisi seluruh isi ruangan hingga membuat bayi di gendongan Farel menangis.
Farel langsung membuka matanya dan menatap sang Mama.
"Uhm, i-ini ... Iya, Ma. Masih Farel bawa," jujur Farel. Ia juga tidak punya kesempatan untuk menyembunyikan Alika.
"Kamu sudah bawa ke Panti Asuhan? Sudah kamu serahkan?" cecar Mama.
"I-itu. Sudah, Ma. Tapi—"
"Jawab yang jujur! Sudah atau belum?"