Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Percikan Aneh dalam Dada


Thalia buru-buru berdiri dengan tegak sambil merapikan kemejanya. Namun ia tak sanggup jika harus menatap wajah Farel. Kini wajah gadis itu terasa sangat panas.


"Uhm, Ka-kamu!" Thalia malah bingunh sendiri mau bilang apa. Sementara Farel malah menatapnya khawatir, kira-kira dia mau disuruh apa lagi?


"Ba-bagus, su-sudah sepatutnya ka-kamu se-sigap itu. Uhm ..." otak Thalia langsung "blank". Ia bahkan salah tingkah.


"A-ayo, kita kembali ke kelas!" sahut Thalia yang malah menggandeng tangan Farel. Sekali lagi Lelaki itu kaget bukan main, tetapi dia diam saja seraya memandang Thalia dari belakang.


'Thalia, sebenarnya dia orang jahat atau baik, sih? Gue, kok jadi ragu kalau dia jahat ...'batin Farel sambil memegang kacamatanya yang merupakan pemberian Thalia. Jika diingat, beberapa kali Thalia menunjukkan perhatiannya. Farel bukannya mau menyangkal, tetapi itu adalah hal yang mustahil jika Thalia memiliki sifat begitu, sehingga ia memilih untuk tidak berasumsi bahwa ada kebaikan di hati gadis ini. Namun, kenapa kali ini ia jadi ragu?


'Lu mikir apaan, sih? Kalau dia baik, itu karena kesepakatan antara gue dan dia! Bukan karena dia orang baik! Jangan berpikiran aneh-aneh, deh!' ujar Farel dalam hati. Ia pin hanya bisa mengikuti langkah Thalia pergi.


***


Semester dua hampir saja berakhir, Thalia sama sekali tidak mengingkari ucapannya yang akan melindungi Farel. Aldo and geng bahkan sudah tidak mengerjainya lagi. Begitu juga teman-temannya Thalia. Hanya saja, Farel masih sangat menurut dengan apapun permintaan Thalia, salah satunya sekarang, dirinya yang duduk sebangku dengan Sheilla karena Thalia kini duduk dengan Reyna—Sahabat Sheilla.


Dibandingkan kecewa, ia malah sangat bersyukur karena tidak akan ada suara melengking Thalia yang menyuruhnya ini-itu bahkan hal kecil seperti mengambil pulpen yang jatuh. Ia akan lebih tenang duduk dengan Sheilla yang tidal banyal bicara, tetapi bijak jika sekalinya bicara.


Namun Farel sadar, pindahnya Sheilla jadi teman sebangkunya karena ada masalah dengan sahabatnya, Reyna.


"Lu baik-baik aja, Shei?" tanya Farel. Ia yang melihat sikap Thalia dan teman-temannya saja kesal karena mengkompori Reyna untuk menjauhi Sheilla.


"Gak apa-apa. Reyna cuman lagi marah sesaat sama aku. Nanti juga baikan lagi," ujar Sheilla yang begitu santai


"Uhm, aku gak apa-apa 'kan duduk di sini?" tanya Sheilla.


Farel mengangguk.


"Santai aja. Gue malah seneng karrna gak harus denger suara nenek sihir itu!" kekeh Farel.


Sheilla malah tersenyum miring.


"Shut! Hati-hati loh, nanti malah karma, kamu suka sama dia!" ledek Sheilla yang berhasil membuat mata Farel membulat.


"Gue? Suka sama dia? Ogah! Itj adalah hal yang paling mustahil terjadi! Lu tahu sendiri perlakuan dia ke gue," timpal Farel. Jatuh cinta pada Thalia adalah hal paling mustahil terjadi. Apa coba alasannya, jika ia benar-benar jatih cinta pada Perundungnya nomor satu itu.


"Kalau ternyata Thalia yang suka sama kamu, gimana?" gurau Sheilla lagi.


"Gila lu, Shei! Mana ada! Kalau dia suka sama gue, dia gak akan nge-bully gue. Yang ada dia bakalan nunjukin perhatian dan kasih sayangnya—" Tiba-tiba Farel terhenti, di kepalanya langsung teputar beberapa kali Thalia memberikan perhatian bahkan bantuan padanya, membuat jantungnya berdetak semakin cepat hingga napasnya menderu-deru.


"Rel, kok diem?" seru Sheilla yang membuyarkan lamunan Farel. Lelaki berkacamata itu pun menoleh ke arah Sheilla.


"Gue barusan kenapa?" tanya Farel malah bingung sendiri.


"Lah, dari tadi kamu bengong aja. Aku mana tahu kamu kenapa?" timpal Sheilla agak cuek. Ia pun kembali menyibukkan diri dengan membaca buku pelajaran selanjutnya.


Sementara Farel malah bingung sendiri dengan reaksi aneh barusan. Hanya karena ia menhingat beberapa kenangan yang tidak teralu buruk dengan Thalia, detak jantungnya berubah semakin cepat. Ia pun menoleh ke arah Thalia yang sedang asyil bercanda dengan teman-temannya. Gadis itu sempat menyadari bahwa Farel sedang menatapnya dan dia malah melemparkan senyum serta kedipan mata pada Farel, membuat Farel makin merinding. Ia tak lupa membalas senuman Thalia agar tidal terkena masalah kemudian menepuk-nepuk pipinya.


Setidaknua semenjak Thalia tak sebangku lagi dengannya, hidup Farel benar-bebar tenang. Ia malah jadi sering mengobrol dengan Sheilla yang sampai akhirnya tak pernah baikan dengan Reyna. Ia bahkan jadi sering kebetulan pulang bersama gadis ini. Namun Farel menolak lupa bahwa gadis ini ada yang punya.


"Ngapain lu deket-deket cewek gue?" ketus Alan yang baru-baru ini terlihat lagi karena beberapa masalah yang ia hadapi. Gosipnya, Ayah dari Alan berselingkuh dengan tante sahabatnya sendiri, yaitu tantenya Andra. Gara-gara itu mereka sempat adu tinju di tengah lapangan. Image buruk Alan pun tersebar dimana-mana.


"Gu-gue mana berani, Kak ..." ujar Farel langsung mengikis jarak di antara dia dan Sheilla. Namun lelaki berkacamata itu malah menatap Alan dengan nanar.


"Kak Alan!" tegur Sheilla yang khawator pacarnya bertindak berlebihan lagi, tetapi Alan tetap menatap Farel tajam, sementara Sheilla masuk ke dalam mobilnya.


"Lihat apa lu?" ketus Alan yang risih dilihat begitu oleh Farel.


'Gak ada yang sempurna di dunia ini, Rel!' Farel mengingat tentang perdebatannya dengan Alan beberapa saat yang lalu. Apakah gosip tentang orang tua Alan itu adalah fakta. Kenapa kakak kelasnya ini tak berusaha mengklarigikasi.


"Lu baik-baik aja, Kak Alan?" tanya Farel, dibanding menghakimi kakak kelasnya ini, ia lebih khawatir terjadi sesuatu pada Alan.


Alan pun tertegun kemudian menghela napas.


"Lu gak perlu khawatirin gue. Yang ada, lu harusnya mengkhawatirkan diri lu sendiri! Lu masih berada di bayang-bayang majikan lu 'kan?" sindir Alan yang jadinya agak kesal karena sampai sekarang Farel masih menolak tawarannya.


Farel pun menunduk.


"Jangan sebut dia begitu. Dia beneran menepati janjinya. Dia gak ganggu gue kayak dulu!" Farel malah membela Thalia.


"Yah, terserah lu nganggepnya apa. Tapi kalau dia berani-berani sentuh cewek gue, gue gak akan tinggal diam!" ancam Alan. Ia masih ingat bagaimana Thalia and the geng menjadikan Sheilla sasaran perundungan karena dikabarkan dekat dengan Alan dan kedua sahabatnya.


Farel kembali menunduk. Ia sangat mengerti maksud Alan. Lelaki ini punya power, jelas akan bicara begitu.


"Itu bukan urusan gue," ujar Farel.


Namun Alan malah tersenyum miring.


"Bisa jadi urusan lu, sekarang lu yang deket 'kan sama cewek gue? Dia bisa manfaatin lu buat hancurin cewek gue. Sampai itu terjadi, gue gak akan kasih lu ampun. Tapi tenang ..." Alan tersenyum penuh arti.


"Gue gak suka main labrak kayak majikan lu itu! Gue sukanya main cantik," ujar Alan kemudian mengacak-acak rambut Farel.


"Kak Alan, ayo pulang!" sahut Sheilla dari dalam mobil.


Alan pun menunjuk ke arah Sheilla.


"Tuh, cewek gue udah gak sabar mau pulang. Lu, camkan apa yang tadi gue bilang," sahut Alan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Farel hanya menatap kepergian mobil itu.


"Ah, gimana caranya supaya gue gak terlibat dalam permasalahn cewek-cewek ini?" gumam Farel, tepat ketika ia ingin pergi ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Kaca mobil itu pun terbuka.


"Farel! Masuk, ayo kamu ikut aku!" seru gadis cantik dari dalam mobil itu.