Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Larangan Marina


Mata Thalia membulat, ia reflek melepaskan genggamannya di tangan Farel. Farel segera melihat ke belakang Thalia dan ia langsung mendapat tatapan sinis dari Marina. Gadis berponi itu berjalan cepat ke arah Thalia dan langsung menggandeng tangannya.


"Thalia, lu tahu 'kan kita sekelas?" sahut Marina yang mengabaikan keberadaan Farel. Thalia yang masih membulatkan matanya berusaha mengangguk sambil menaikkan kedua sudut bibirnya.


"Tadi aku sudah periksa daftar nama murid di kelas kita ..." imbuh Marina.


"Ya, aku juga ..."


"Itu berarti, kamu tahu kita yang satu kelas di kelas tujuh, satu kelas lagi? Kita berempat loh!" antusias Marina yang hanya ditimpali senyum tipis Thalia. Seketika senyum lebar Marina memudar. Tatapan gadis berwajah oriental itu langsung berubah sinis.


"Lu gak suka, Thal kalau kita sekelas lagi?" selidik Marina sembari melirik ke arah Farel yang langsung memalingkan wajah saat ketahuan sedang menatap Thalia dan Marina dari belakang.


"Heh, Culun!" sarkas Marina yang langsung berjalan melewati Thalia dan mendekati Farel dengan langkah yang besar.


Gadis berwajah oriental itu mendongak karena tubuh Farel yang lebih tinggi.


"Heh, lu ngapain di sini? Lu mau deketin Thalia? Lu pikir, lu berguna buat Thalia? Sana menjauh!" pekik Marina yang mendorong Farel, tetapi kekuatannya tak cukup untuk membuat Farel tidak bergeming. Mata Marina membulat, kenapa Cowok Berkacamata ini sekarang begitu kokoh? Jika dulu, Farel pasti langsung terjatuh.


"Ugh! Sialan! Pergi sana!" usir Marina hendak mendorong Farel lagi, tetapi tangannya langsung ditangkap oleh Farel. Sekali lagi tindakan Farel membuat mata Marina membelalak.


"Ugh! Lepasin gue!" jerit Marina yang menarik atensi semua siswa yang berkumpul di lobby. Marina yang mendapati itu langsung menunduk hingga lengannya diraih oleh seseorang dari samping. Marina menoleh.


"Marina, udah, ayo ke kelas," bisik Thalia. Marina pun langsung menoleh ke arah Farel yang menatapnya dengan nanar.


'Sial! Dia kasihanin gue?' gerutu Marina dalam hati. Bahkan Thalia tak membelanya, setidaknya buat Farel tahu diri, bukan malah begini! Kenapa jadi Marina yang merasa malu?


"Ayo Marina, kita ke kelas," ucap Farel yang membuat Marina melotot. Bahkan Cowok Berkacamata ini sok akrab dengannya. Marina benar-benar mau muntah. Namun Cewek Berwajah Oriental itu langsung melepas tangannya dari tangan Farel dan langsung menggandeng Thalia pergi dari hadapan Farel.


Marina berjalan cepat sambil menyeret Thalia.


"Marina ... Marina ..." panggil Thalia yang sama sekali tak digubris. Marina terus melangkah tanpa memerhatikan jalan. Thalia langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, ini bukan jalan ke kelas, melainkan ke taman sekolah. Padahal sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dan mereka harus upacara.


"Marina!" jerit Thalia yang akhirnya berhasil menghentikan langkah sahabatnya itu. Marina juga langsung melepaskan gandengannya sambil menunduk.


"Mar ... Kamu kenapa—"


"Justru lu yang kenapa!" pekik Marina yang langsung membalikkan badan. Thalia tertegun melihat wajah merah sahabatnya.


"Ma-marina ..."


Marina langsung menunjuk wajah Thalia.


"Lu itu kenapa, sih Thal? Kenapa lu tiba-tiba berubah sikapnya sama Farel? Kenapa lu baik sama dia? Lu gak mikir apa, kalau lu begini terus, Farel bakal ngelunjak?" tukas Marina.


"Ngelunjak?" gumam Thalia. Farel memang beberapa kali melunjak padanya. Seperti saat terluka, Farel akan mengomelinya sambil mengobati lukanya. Apa lagi kalau tiba-tiba Siska menganggunya, Cowok itu tidak akan segan-segan membelanya, bahkan Farel sudah dimasukkan ke daftar hitam tamu rumah oleh ibu tirinya. Sehingga kalau ada Siska di rumah, Farel harus diam-diam masuk ke rumah Thalia untuk bermain.


Tanpa sadar Thalia malah tersenyum sambil mengangguk.


"Ya, dia emang orangnya ngelunjak," tutur Thalia.


Marina mengernyitkan dahi, sahabatnya ini benar-benar gila! Kenapa dia tersenyum?


"Thalia!" Marina mengguncangkan tubuh Thalia.


"Thalia, lu paham 'kan kalau Farel bahaya buat lu? Lu sadar gak, sih?" gemas Marina. Kenapa Thalia malah terlihat bahagia?


"Bahaya?" ulang Thalia sambil menggeleng.


"Marina, Farel gak seperti yang kamu pikirkan," ungkap Thalia.


"Dia gak mungkin membahayakan aku. Dia itu, ada di pihakku—"


"Tapi, lu bilang sendiri kalau dia udah mulai ngelunjak!" tukas Marina.


"Asal lu tahu, sejak lu mulai melunak sama dia, gue udah mulai khawatir, apalagi, tahun lalu, tiba-tiba lu malah sekelas sama dia, sementara gue dan yang lainnya ditempatkan di kelas yang berbeda!" beber Marina.


"Setidaknya, lu harus kasih dia batasan! Lu sama dia gak akan pernah bisa jadi teman—"


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat begitu saja di pipi Marina. Sontak Gadis Berwajah Oriental itu terbelalak sambil memegangi pipinya yang terasa panas.


"Thalia ... Lu ..."


"Jangan bicara sembarangan tentang Farel!" tekan Thalia dengan sorot mata yang tajam.


"Dia ... Farel milikku, jadi, terserah aku, mau memperlakukan dia seperti apa. Kamu atau Vannessa dan Renata gak berhak ngatur-ngatur hubunganku dan Farel!" tegas Thalia langsung pergi meninggalkan Marina sendirian.


"Thalia!" panggil Marina, tetapi sahabatnya itu tidak menggubrisnya.


...****************...


Farel pergi ke kelas dan langsung disambut oleh Sheilla yang hendak keluar kelas. Mereka berdua terpaku dan saling pandang.


"Uhm, Kita sekelas lagi, Shei?" tanya Farel. Sementara Sheilla hanya mengangguk.


"Kamu mau duduk sebangku sama aku? Atau sama Thalia?" tanya Sheilla, sontak Farel terkesiap. Cowok Berkacamata itu langsung garuk-garuk kepala.


"Uhm, yah ... Duduk sama lu kayaknya. Soalnya Thalia sekelas sama tiga temennya. Gak mungkin, dia lebih milih duduk sama gue—"


"Farel!" Tiba-tiba di belakangnya sudah muncul sosok yang sedang ia bicarakan. Farel pun membalikkan tubuhnya, sedangkan Thalia langsung menghampirinya dan menggandeng tangannya.


"Aku gak mau tahu, kita duduk sebangku!" tekan Thalia yang membuat mata Farel terbelalak.


"Hah? Kita duduk sebangku? Tapi bukannya ada temen-temen kamu?" kilah Farel. Dibanding Thalia, ia paling malas berurusan dengan tiga sahabatnya Thalia.


Namun Thalia malah memicingkan matanya ke arah Sheilla.


"Biarin aja! Aku gak bisa membiarkan kamu duduk sama cewek ini!" ketus Thalia. Dahi Sheilla mengernyit mendengar penuturan Thalia. Apa Thalia masih punya masalah dengannya? Bukankah dulu, Thalia memusuhinya karena Alan?


Namun Farel malah melepaskan genggaman Thalia yang langsung menarik perhatian gadis cantik itu.


"Farel!" jerit Thalia kesal. Sontak Cowok Berkacamata itu langsung menangkupkan kedua tangannya di hadapan Thalia.


"Ma-maaf, Thalia ... Tapi kayaknya kita gak bisa duduk sebangku, deh ..." gagap Farel.


Kerutan di dahi Thalia bertambah.


"Kenapa? Kenapa kita gak bisa duduk sebangku?" pekik Thalia.