Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Tidak Ada Rasa


Tatapan Thalia tidak bisa beralih dari Farel dan Sheilla yang seolah sedang membicarakan hal yang seru hingga membuat senyuman tidak menghiasi wajahnya di tengah-tengah antusias para sahabatnya yang ingin mendandani Thalia secantik mungkin. Thalia tidak bisa mencuri dengar karena suara ketiga sahabatnya yang begitu cempreng.


Hingga tiba-tiba Sheilla menarik dasi Farel sampai membuat kening mereka menempel. Sontak mata Thalia pun membulat.


"The Beast!" pekik Thalia yang langsung membuat suasana kelas menjadi tegang. Seketika semua mata tertuju pada Sheilla dan Farel yang masih menempelkan kening.


Farel sendiri juga kaget dengan perlakuan Sheilla yang begitu tiba-tiba. Namun dia merasa ada yang aneh. Farel diam-diam menatap Sheilla yang perlahan menjauhkan wajah mereka kemudian menoleh ke arah Thalia.


'Gue ... gue gak deg-deg-an ...' batin Farel heran.


Thalia pun berdiri dan menujuk Sheilla.


"Apa yang kalian lakukan? Mau ciuman, ha?" tukas Thalia sambil menggigit bibirnya. Bicara seperti itu saja membuat dada seorang Thalia sesak. Namun ia harus tahu kebenarannya.


Sedangkan Sheilla hanya terdiam sembari memerhatikan bahasa tubuh Thalia.


"Jawab The Beast! Ngapain kamu tadi sama Farel?" paksa Thalia.


Sayang, Sheilla tak kunjung menjawabnya. Farel pun berdiri dari bangkunya.


"Ki-kita cuman ngobrol aja, kok, Thal! Ja-jangan salah paham!" seru Farel sambil mencolek lengan Sheilla agar mendukungnya. Namun Sheilla hanya meliriknya saja.


"Ngobrol tapi ngapain sampai tarik-tarik dasi segala?" sewot Thalia.


"I-itu ... " Farel malah bingung sendiri, tetapi Sheilla tidak berusaha membantunya.


"Shei, bilang sesuatu. Jangan sampai ada salah paham," bisik Farel sambil mencolek lengan Sheilla.


"Iya, benar! Kalian ini harus dilaporkan guru! Itu perbuatan yang tidak pantas sama sekali!" seru Renata.


"Cepat ngaku! Kalian mau ngapain tadi, ha?" paksa Vannesa.


Namun Sheilla hanya menghela napas. Ibu jarinya menunjuk ke arah Farel.


"Tadi dia bikin aku emosi, dan sama sekali berbeda, kok dengan yang kalian pikirkan." Sheilla mulai angkat bicara.


"Apa maksudnya? Jangan berusaha menyangkal!" tukas Thalia lagi yang kini mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin memukul wajah Sheilla yang bahkan terlihat tenang, seolah kelakuannya tadi wajar dilakukan.


"Aku tidak menyangkal. Di penglihatan kalian mungkin seperti itu, tapi tadi ucapan Farel bikin aku kesal, jadi aku memukul dahinya dengan dahiku," jelas Sheilla. Farel membulatkan matanya, dia sangat takjub dengan alasan Sheilla. Farel pun kembali memerhatikan raut wajah Thalia yang merah karena marah.


"Udah lah, Thal ... Biarin aja, lagian Si Culun Farel yang dia deketin," celetuk Marina.


"Ngapain kamu fokus sama mereka. Mending kita fokus buat rencana nge-date kamu sama Kak Alan," sahut Marina lagi.


Farel tertegun, ia pun langsung menoleh ke arah Sheilla yang sedang menunduk.


"Farel, aku keluar dulu, ya," pamit Sheilla yang langsung beranjak dari tempat duduk dan pergi begitu saja. Farel bisa merasakan ada aura kemarahan di sekitar Sheilla.


"Bilangnya mau putus, tapi sampai akhirnya cemburu juga, dasar!" gumam Farel sambil geleng-geleng


Istirahat pun berakhir, tepat saat bel masuk, guru di pelajaran berikutnya langsung masuk. Thalia and the geng langsung kembali ke tempat mereka.


Farel langsung bisa merasakan aura kemarahan di sampingnya. Namun lelaki itu tahu, ia tidak perlu menegur Thalia sampai gadis dominan itu menegurnya.


Farel pun menyibukkan diri dengan menyiapkan buku cetak serta alat tulis lainnya di atas meja. Tanpa sadar, ia tengah diperhatikan oleh Thalia, tetapi gadis itu tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Kali ini guru yang mengajar cukup killer. Thalia hanya menunggu timing untuk menginterogasi seorang Farel.


Pelajaran berakhir dengan diberikannya tugas yang cukup banyak. Meskipun anak-anak mengeluh, guru mereka tak mau tahu. Mau tidak mau, tugas yang begitu banyak harus mereka terima dan kerjakan. Untung masih dikumpul minggu depan.


Tiba-tiba Thalia menyodorkan buku PR-nya di hadapan Farel, lelaki berkacamata itu sama sekali tak mengerti dan hanya menoleh dengan dahi mengernyit pada Thalia.


"Ambil!" seru Thalia.


"Lelet banget, sih? Emangnya kamu berani nolak permintaanku? Ingat janji kamu!" tagih Thalia sewot.


Farel semakin tak mengerti, kenapa ti a-tiba bahas janji?


Sontak Thalia membanting bukunya hingga membuat Farel terhenyak.


"Masa gitu aja gak ngerti, sih?" tekan Thalia yang membuat seisi kelas hening.


"A-aku—"


"Pake ngejawab lagi!" bentaknya kesal. Farel oin menundukkan kepalanya.


"Aku kasih buku PR aku, ya buat kamu kerjain lah! Pake nanya lagi!" ketus Thalia.


"Ma-maaf ..." ujar Farel buru-buru.


Thalia langsung melempar buku PR nya ke meja Farel.


"Gara-gara kami bikin aku makin bete, pokoknya aku gak mau tahu, PR itu harus selesai hari Sabtu!" titah Thalia.


Farel pun mengangkat kepalanya.


"Thalia, itu teralu cepat!" protes Farel.


Thalia pun mendorong bahu Farel hingga tubuh kurus lelaki itu menabrak sandaran bangku yang terbuat dari kayu.


"Kamu berani, ya bantah aku?" geram Thalia sambil memelototi Farel.


"E-enggak, Thalia ... A-aku cuman mau minta keringanan—"


"Gak ada! Pokoknya kerjain aja sesuai perintah aku, atau kamu mau tulang kamu remuk ama temen-temennya Kak Aldo?" ancam Thalia.


Seketika kembali teringat bagaimana tadi Farel dikeroyok oleh Aldo dkk. Ia bahkan masih merasakan ngilu di perutnya akibat pukulan di sana berkali-kali. Untung saja tadi ada guru lewat, kalau tidak, mungkin Farel tak bisa kembali ke kelas.


"Ja-jangan, Thalia ..." mohon Farel.


"Makanya, nurut aja kata aku! Susah banget, sih!" ketus Thalia.


"I-iya. Aku kerjain. Kamu tenang aja, ya—"


'Ngalahin cewek aja gak bisa, apalagi ngelawan gue?' Tiba-tiba di benaknya malah terngiamg kalimat Alan. Farel pun segera menggeleng-geleng dengan cepat.


"Apaan itu? Kamu geleng-geleng, gak suka sama permintaanku?" tukas Thalia yang memangkap tingkah aneh Farel.


"Eh, e-enggak, Thalia. A-aku cuman kepikiran hal buruk. Tenang. Aku mau, kok kerjain PR kamu," ujar Farel berusaha menjelaskan.


"Kepikiran hal buruk? Kamu pikir, permintaan aku itu hal buruk, ha?" tukas Thalia lagi.


"Aduh, enggak, Thalia—"


Tiba-tiba Thalia mencengkram kedua bahu Farel.


"Kamu, tuh apaan, sih? Nyebelin banget, tau, gak!" tuding Thalia sambil membenturkan punggung Farel ke sandaran bangku.


"Kenapa, sih, nurutin permintaanku aja, susah banget? 'Kan kamu sendiri yang janji!" jerit Thalia yang menarik perhatian seisi kelas.


"Duh, gak gitu, Thalia ... aku—"


"Terus kenapa malah bilang permintaanku adalah hal buruk, ha? Emangnya kenapa? Kamu gak suka aku ada di sekitar kamu?"


'Duh, rasanya mau bilang iya!' jerit Farel dalam hati.


"Jawab!" sergah Thalia.


"Kamu nyebelin kayak gini karena kamu suka sama Sheilla 'kan?" Sontak kedua mata Farel membulat.


"Kamu suka sama Sheilla makanya, kamu mau aku jauhin kamu 'kan? Jawab dengan jujur!" perintah Thalia.