
Satu detik, dua detik, tiga detik ....
"Siapa yang belain Farel!" seru Thalia lalu menoleh ke arah Farel yang sedang memandangnya sambil mengernyitkan dahi.
"Justru, aku teriak Farel karena ingetin dia! Meja aku jadi tergeser karena kena badan kamu! Benerin sana!" perintah Thalia yang diam-diam menggigit bibir bawahnya.
Farel malah tersenyum miring sambil menundukkan kepalanya. Lelaki verkacamata itu berusaha bangkit.
'Gue kira, dia beneran kesambet, ternyata masih sama,' gumam Farel dalam hati yang lamgsung mebenarkan posisi meja Thalia.
"Gue kira apa," sahut Marina yang merasa lega.
"Ka-kalian ini ngaco, deh! Kenapa juga aku belain Farel?" Thalia melirik ke arah Farel yang mengambil muffin hancurnya yang masih terbungkus. Namun tiba-tiba Farel malah tertawa.
"Kalo misalnya gue mau nembak cewek, apa urusannya sama lu semua?" kekeh Farel yang kali ini mengangkat wajahnya dan menatap Thalia and the geng satu per satu.
Renata hendak maju, tetapi ditahan oleh Marina, sedangkan Thalia membulatkan matanya yang mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba dada Thalia terasa sesak, lehernya seolah tercekik.
'Fa-farel mau nembak siapa? Siapa cewek yang selama ini dia sukain?' batin Thalia.
"Apa gak cukup jadiin gue babu lu semua? Lu juga mau atur hidup gue?" geram Farel yang sebenarnya tak tahan.
"Terus, gue gak boleh suka sama cewek? Apa lu juga mau milihin cewek mana yang harus gue sukain?" Tiba-tiba Farel menatap Thalia yang sedang menggigit bibirnya, berusaha menahan rasa sakit akibat hatinya yang terasa remuk.
"Apa gue harus suka sama lu?" tunjuk Farel pada Thalia.
"Heh, Farel!" sergah Marina.
"Kenapa? Lu gak suka juga kalau gue suka sama Thalia?"
Sontak kedua mata Thalia terbelalak.
'Fa-farel suka sama aku?' ucapnya dalam hati, tiba-tiba rasa sesak yang ia rasakan barusan berubah menjadi sengatan listrik di seluruh tubuhnya.
"Heh, jaga mulut lu, Culun!" Kini Vannesa yang maju sambil menarik kerah Farel.
"Lu pikir lu pantas bahkan cuman berbohong soal suka sama Thalia?" pekik Vannesa.
Namun Farel malah tersenyum.
"Bohong? Gue cuman kasih contoh," ujar Farel yang langsung menghancurkan hati Thalia saat itu juga.
"Kasih contoh?" lirih Thalia sembaei menghampiri Farel. Vannesa yang menyadari pergerakan Thalia pun melepas cengkramannya pada kerah Farel. Tepat pada saatbitu Thalia melayangkan tangannya dan mendarat dengan sangat keras ke pipi Farel hingga membuat kepala lelaki itu terlempar.
"Apa maksudmu, ha?" sergah Thalia hingga membuat seorang murid yang hendak masuk mematung di depan pintu dan memilih lari.
"Kamu bahkan gak pantas mengatakan suka padaku! Kamu jahat!" ucap Thalia sambil tercekat.
"Dasar jahat!" pekiknya lagi dengan suara melengking.
Farel menoleh ke arah Thalia yang entah kenapa mengeluarkan bulir-bulir bening dari sudut matanya.
'Kenapa dia nangis?'gumam Farel heran.
"Urus dia!" perintah Thalia kemudian berlari keluar kelas.
"Thalia—" Tiba-tiba kerah Farel ditarik oleh Renata.
"Lu mau apa, ha?" sinis Renata.
"Lu pikir, lu akan baik-baik aja setelah vicara kayak tadi sama kita?" ujar Marina.
"Tenang, Ayang beb gue akan segera ke sini dan ngasih lu pelajaran!" ujar Vannesa yang baru saja mengetikkan sesuatu lewat ponselnya.
"Apa—" Farel segera menelan salivanya. Jika Aldo dkk yang menyerangnya, maka dia harus mempersiapkan diri. Semoga saja hari ini ia masih bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan ibunya.
***
Thalia berlari ke taman sekolah. Dunianya seakan hancur mendengar penuturan Farel barusan.
"Kenapa dia berani-beraninya mempermainkan aku!" jerit Thalia, tetapi ia segera menutup mulutnya begitu menyadari seseorang muncul di hadapannya.
"Ka-kak Alan?" seru Thalia.
Lelaki itu alias Alan malah menorehkan senyuman tampan khasnya, tetapi raut tampan kakak kelas Thalia itu langsung merengut. Lelaki itu menghampirinya kemudian menghapus bekas air mata yang masih tersisa di pipi Thalia.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada yang bikin kamu sedih, hm?"
Lelaki tampan itu malah menyenderkan tangannya di belakang Thalia.
"Siapa yang membuat gadis cantik sepertimu menangis, hm?"
"Kak Alan ..." Thalia malah terisak mendapati sikap lembut dan kepedulian Alan. Selama ini, ia yang berusaha mendapat perhatian lelaki tampan ini, selalu mendapat sikap dingin Alan. Meskipun Alan menimpalinya dengan nada bicara yang ramah, tetapi Thalia tahu, kalau Alan tak begitu peduli padanya.
Sementara Alan mengernyitkan dahinya.
'Hello, drama queen banget, sumpah! Kalau gal gue jawab dalam hitungan ketiga, bodo, gue tinggal!' kesal Alan dalam hati.
'Satu—'
"Thalia abis dipermainkan, Kak ..."
Alan berhenti berhitung di dalam hati ketika mendengar ucapan Thalia. Mata lelaki itu terbelalak.
"Dipermainkan?" ulang Alan setengah percaya.
'Siapa yang berani mempermainkan Thalia? Parah!' kekeh Alan dalam hati salut.
'Gue aja baru mau mainin dia, eh malah keduluan,' batin Alan lagi malah takjub.
Thalia mengangguk sambil sesenggukan.
"Iya, dia—" Thalia tiba-tiba terhenti. Ia baru sadar apa yang terjadi pada dirinya.
'Kenapa aku harus nangis?'gumamnya.
Alan menatap wajah Thalia dengan serius.
"Dia ... dia kenapa? Dia apain kamu? Siapa orangnya?" tanya Alan yang tidak sabar.
'Berita besar. Setahu gue, Thalia itu cewek populer di angkatannya. Tapi dia sukanya sama gue!' kekeh Alan lagi dalam hati.
Thalia malah terdiam sambil menggigit bibirnya. Ia masih heran dengan reaksi dirinya sendiri.
'Untuk apa aku nangis? Harusnya aku hukum dia!' marah Thalia dalam hati.
'Tapi, tadi aku udah minta Vannesa hukum dia!' Thalia baru ingat perintahnya barusan.
"Thalia, hello!" tegur Alan yang sebenarnya agak malas.
'Sumpah, gue dicuekin. Oke, males banget gue! Mending ketemu sama Shei ...' gerutu lelaki tampan itu dalam hati sambil menyisir taman sekolah.
Awalnya, Alan memang janjian dengan Shei di sini karena mereka sulit bertemu akibat hubungan mereka yang dirahasiakan. Namun Alan malah menemukan Thalia.
'Tunggu! Vannesa apain Farel? Jangan-jangan dia minta Kak Aldo buat hajar Farel!' duga Thalia yang sontak berdiri, membuat Alan kaget.
"Thalia, kamu mau kemana, Sayang?" tanya Alan.
'Sesi curhatnya udah jelar, nih?' kecewa Alan lagi dalam hati.
"Uhm, Kak Alan ..." Thalia menghapus semua sisa air matanya.
"Kak, makasih, ya hiburannya. Uhm, aku mau pergi dulu!" sahut Thalia.
"Oh, oke. Kamu udah baikan, hm?" Alan masih berusaha memancing Thalia, tetapi gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Nanti istirahat, kita ngobrol lagi ..." Thalia bergumam seolah sedang memikirkan sesuatu.
Alan pun mengangguk dengan bersemangat.
"Oke—" Ucapan lelaki tampan itu terhenti ketika bibir Thalia secara tiba-tiba mendarat di pipi kirinya.
'Songong!' kesal Alan dalam hati seraya melotot pada Thalia.
"I-itu tanda terima kasih aku. Dah, Kak Alan!" pamit Thalia yang langsung berlari pergi meninggalkan Alan sendirian.
Alan berdecak kesal sambil mengusap-usap pipi kirinya.
"Sekate-kate dasar! Emang cewek jaman sekarang main sosor aja—" Lidahnya tiba-tiba kelu melihat sosok gadis yang sedang menatapnya tajam.
"Enak, ya, dicium sama cewek cantik?" dingin gadis itu yang seolah menusuk-nusuk kulit seorang Alan.