Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Bersandar


Thalia mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam tasnya. Awalnnya, dia mau bergabung bersama ketiga sahabatnya untuk belajar bahasa inggris, tetapi hatinya yang gundah tak bisa ia tahan sehingga di pertengahan jalan, ia meminta supirnya untuk putar arah. Alhasil, ia kembali ke rumah ini—rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama Farel. Namun, langkah Thalia melambat ketika melihat ada bendera kuning yang sudah terpasang di pagar rumah Farel.


"Si-siapa yang meninggal?" gumamnya yang langsung masuk tanpa permisi. Jantungnya berdebar semakin cepat seolah ia sedang berlari padahal langkahnya lambat.


"Apa selama ini Farel sakit dan ...." Thalia langsung menggelengkan kepalanya. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya.


"Aku harus kuat!" ucapnya yang langsung membuka pintu rumah Farel yang tertutup dengan tangan gemetaran. Sejujurnya, ia agak takut menghadapi kenyataan yang segera akan ia hadapi. Namun, rumah ini terlihat sepi, seharusnya ada beberapa orang yang melayat jika memang ada yang meninggal. Tidak. Thalia tetap harus berpikir positif!


"Assalamualaikum ...."


"Wa alaikum salam ...." Seketika tubuh Thalia meluruh ke lantai saat ia melihat Farel yang sedang duduk termenung di ruang tamu dengan mata yang sembab.


"Farel ...." Tanpa ia sadari, bulir-bulir bening langsung keluar dari sudut matanya.


"Fa-rel ... Kamu ..." Seketika wajah Thalia dipenuhi oleh derai air mata. Sementara cowok yang sedang mrlepas kacamatanya itu yang menyadari kedatangan Thalia kemudian langsung berdiri seraya menatap gadis itu dengan bingung.


"Tha-thalia?" Farel mendekati Thalia yang masih terisak serta berderai air mata. Tangan mulus gadis itu menyentuh pipi Farel lembut tanpa melepas tatapan sendunya.


"Fa-farel ... Kamu ... Kamu masih ..." Dahi Thalia mengernyit mendapati wajah Farel yang sembab. Cowok itu menggigit bibir bawahnya sambil memegang tangan Thalia yang menyentuh pipinya. Ia malah terisak.


"Thalia ... Thalia ...." suara lirihnya yang begutu piku seolah manpu menyayat hati Thalia. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Thalia kemudian memegang kedua pipi Farel.


"Tenang, Farel ... Tenang ...." ucap Thalia lembut yang membuat kepala cowok itu terangkat. Ia menatap Thalia lamat-lamat. Ia tertegun, ternyata Thalia masih menitikkan air matanya.


"Thalia, Kenapa kamu—"


Tanpa basa-basi, Thalia langsung menarik tubuh Farel dan memeluknya. Sontak Farel kaget dan langsung membeku. Namun, tiba-tiba ia merasakan belaian hangat di punggungunya.


"Lepaskanlah. Lepaskanlah ..." bisik Thalia yang membuat kedua tangan Farel memeluk Thalia dengan erat. Seketika tangisan Farel pecah. Cowok itu tidak mengatakan sepatah kata pun dan hanya menenggelamkan wajahnyandinpundak Thalia seraya meluapkan tangisan sepuasnya di sana.


Farel cukup lama menangis sambil memeluk Thalia. Setelah cowok itu tenang, ia mengajak Thalia duduk bahkan menyediakan segelas air putih untuk gadis itu.


"Maaf, aku cuman bisa sediain air," ujar Farel yang kini duduk sambil menunduk. Thalia bisa lihat, tangan Farel gemetaran. Gadis cabtik itu pun langsung mengambil gelas berisi air itu dan menyodorkannya pada Farel.


"Justru kamu yang harusnya minum, Farel. Wajah kamu sampai bengkak begitu," tutur Thalia yang membuat Farel menatapnya.


"Thalia ...." Farel menggigit bibir bawahnya. Kemudian berusaha sekuat tenaga mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Terima kasih, tetapi aku baik-baik aja ..." ucapnya, kemudian raut wajahnya langsung murung. "Dan, aku minta maaf," ucap Farel.


Thalia kembali meletakkan gelas tersebut ke meja dan mendekati Farel.


"Maaf? Maaf untuk apa?" bingung Thalia.


Farel sama sekali tidak berani menatap wajah gadis cantik di hadapannya.


"Maaf karena tadi aku memelukmu," jujur Farel.


"Memelukku? Terus, kenapa kamu harus minta maaf?" cecar Thalia.


"Uhm, soalnya ... Soalnya gak pantes aja," jawab Farel.


Thalia geram dan langsung menarik pipi Farel agar wajah cowok itu menghadap ke arahnya. Ia menatap Farel dengan serius.


"Aku peluk kamu untuk nenangin kamu dan kamu cuman balas pelukanku! Gak ada yang salah! Atau jangan-jangan ini soal temen-temenku?" duga Thalia yang langsung mendapat gelengan kepala dari Farel.


"Terus apa?" cecar Thalia lagi. Cewek itu mengeraskan rahangnya.


"Farel, asal kamu tahu, ya, di sini cuman ada kita berdua. Gak ada temen-temenku. Gak ada orang yang akan memojokan kamu. Jadi, kenapa kamu masih bilang gak pantas? Aku yang memutuskan, kamu pantas buatku atau enggak!" cerocos Thalia panjanh lebar. Namun Farel hanya menatapnya bingung. Thalia pun tersadar, kenapa ia malah marah di momen seperti ini pada Farel?


"Uhm, ma-maaf," ucap Thalia. Namun Farel malah bergumam.


"Uhm, begini, Thalia, mana mungkin aku boleh peluk cewek yang udah punya cowok!" ujar Farel dengan suara yang agak bergetar. Sontak Thalia menatap ke arah Farel sambil membukatkan matanya. Kemudian dahinya malah mengernyit.


"Punya cowok? Maksud kamu, pacar? Aku punya pacar?" tekan Thalia yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Farel.


"Iya, gimana kalau pacar kamu tahu dan marah sama aku? Aku gak mau merusak hubungan kamu, Thalia," tutur Farel yang suaranya semakin mengecil.


Thalia malah menggeleng.


"Aku gak punya pacar, Farel!" ungkap Thalia.


'Gimana aku mau pacaran? Cowok yang aku suka itu kamu, tapi kamunya malah menjauhi aku,' jerit Thalia dalam hati.


"Oh, gi-gitu, ya ..." ujar Farel sambil garuk-garuk belakang kepalanya lagi.


'Mungkin Thalia udah putus sama cowok waktu itu,' batin Farel. Kemudian Thalia malah memegang tangan Farel yang ia letakkan di sofa. Sontak atensi Farel beralih pada gadis di hadapannya.


"Thalia?" Seketika tatapan mereka bertemu, tetapi Farel seolah enggan melepas tatapannya dari tatapan Thalia yang begitu lembut, seolah bisa menenangkan hatinya yang sejak tiga hari lalu tak karuan.


"Farel, sekarang katakan padaku, sebenarnya kamu kenapa? Kenapa kamu gak masuk selama tiga hari ini?" selidik Thalia yang sama sekali tidak dijawab oleh Farel. Cowok itu malah menunduk sambil menyingkirkan tangan Thalia.


"Farel?" bingung Thalia yang mendapati Farel kini meremas kedua lututnya.


Mata Thalia mengerjap.


"Farel ... Mungkin kamu bisa menjelaskannya padaku pelan-pelan ..." Thalia melipat bibirnya. Ia agak ragu mengatakannya, tetapi ia sangat penasaran. Sayang Farel hanya terdiam.


Thalia pun menarik napas dalam-dalam seraya memegang dan mengelus punggung tangan Farel. Sontak cowok itu mengangkat kepalanya sembari menatap ke arah tatapan Thalia yang lembut.


"Farel, please, kasih tahu aku ... Kenapa di depan rumahmu dipasang bendera kuning?"


Sontak Farel terkesiap sambil menelan ludahnya.


"I-itu ...."


"Si-siapa yang meninggal?"