
Farel dan Sheilla sama-sama menoleh ke belakang dan mata mereka berdua langsung melebar ketika mendapati sosok Alan sedang bertopang dagu dengan bersandar di sandaran bangku taman.
"K-kak Alan?" Farel reflek berdiri.
"Woy, lu kenapa? Santai aja kali. Balik sini duduk," ujar Alan sambil menunjuk tempat Farel duduk tadi. Farel pun menurut dan duduk di tempatnya barusan.
Alan pun memandang Farel yang masih menunduk.
"Jadi, apa pertanyaan lu tadi? Gue sama Sheilla udah putus?" Ya, Alan tidak sengaja mendengar pembicaraan dua adik kelasnya ini. Farel pun mengangguk pelan.
Sementara Alan melirik ke arah Sheilla yang menatapnya tajam.
"Shei, kalau anak ini, gak apa-apa kali. Aku 'kan juga udah dapat izin dari orang tua kamu, kita gak backstreet lagi itungannya," nego Alan yang membuat Farel mengangkat kepalanya dengan mata melotot.
"Izin orang tua? Jadi ..." Farel kini melempar pandangannya ke Sheilla yang sekarang menunduk.
"Iya, gue sama Sheilla udah balikan, Rel. Dan sekarang lebih ... Uhm, apa istilahnya? Lebih resmi?" ungkap Alan yang langsung membuat kedua mata Farel membulat.
"Serius? Kalian udah balikan?" tekan Farel lagi.
"Yah, begitulah. Jadi ..." Alan langsung merangkul Sheilla.
"Lu harus buat batasan ke cewek gue!" tekan Alan lagi.
Farel menghela napas.
"Emangnya gue bakal ngapain? Gue itu cuman teman sebangku Sheilla," ujar Farel. Namun dagi Alan malah mengernyit.
"Oh, ya? Tapi, lu aja bisa bersikap sweet gitu ke orang yang udah menindas lu, apa lagi ke 'TEMAN SEBANGKU' lu," tekan Alan.
"Ha-ah?" Farel langsung melirik ke arah Sheilla.
"Lu sebenarnya dengar dari mana, sih peecakapan gue sama Shei?" protes Farel.
Alan malah mengendikkan bahunya.
"Yah, dari Shei bilang lu sweet ke Thalia ... Sekarang gue paham, kenapa lu bentak gue waktu itu," ujar Alan sambil mengangguk-angguk.
"Bentak? Farel bentak Kak Alan? Bentak apa?" cecar Sheilla sambil melempar pandangannya secara bergantian ke Alan dan Farel.
"Yah, apa lagi, sayang? Dia belain Thalia karena sikap aku ke Cewek Nyebelin itu," beber Alan. Namun Farel diam saja, mau menyangkal, tetapi itu faktanya.
"Kak Alan emangnya ngapain?" tanya Sheilla lagi.
"Yah, biasalah, aku cuman menegaskan ke Thalia kalau aku gak suka sama dia," jawab Alan enteng yang membuat Farel mengepalkan tangannya. Entah kenapa dadanya terasa terbakar, Alan tidak membeberkan secara detail pada Sheilla apa yang sudah dia lakukan pada Thalia. Jika Sheilla juga ada di situ, pasti teman sebangkunya ini sudah mengomeli pacarnya.
"Waw ..." girang Sheilla sambil tepuk tangan yang membuat Farel langsung menoleh ke arahnya. Reaksi macam apa ini? Jadi Sheilla juga bangga atas perilaku salah pacarnya? Apa pengaruh Kak Alan sebesar itu sampai Sheilla mengubah kepribadiannya?
"Aku bisa membayangkan bagaimana reaksi Thalia dan kemudian Farel menghiburnya karena permintaan Thalia. Pasti begitu 'kan skenarionya?" Seketika Farel tertohok dengan ucapan Sheilla. Bagaimana dia yang tidak ada di sekolah bisa menebak dengan tepat?
"Uhm, a-apaan, sih? Gak! Gak gitu!" bohong Farel.
"Iya, Shei, fantasi kamu kejauhan. Farel dan Thalia gak mungkin kayak gitu."
Farel mampu bernapas lega, untung Alan membelanya.
"Yah, padahal itu biasanya yang terjadi di komik-komik shoujo yang aku baca," kecewa Sheilla.
"Hei, Sayangku, Sheilla! Cerita di komikmu itu hanya fantasi dari orang lain. Kamu jangan ikut terpengaruh juga!" nasihat Alan. Namun gadis berkulit sawo matang itu hanya memonyongkan bibirnya.
"Hey, kamu jangan monyong-monyong gitu, nanti aku cubit loh!" gurau Alan malah geli sendiri melihat muka kesal pacarnya, tetapi tawanya langsung berhenti ketika hidungnya malah dijepit duluan oleh dua jari Sheilla.
"Enak aja! Aku cubit duluan hidung Kak Alan!" gurau Sheilla, pasangan sejoli itu malah jadi geli berdua tanpa mengingat bahwa ada orang ketiga di depan mereka.
"Ya ampun, kalian kalau mau pacaran, bisa, gak sih, gak di depan orang lain?" protes Farel yang membuat tawa Sheilla dan Alan berhenti. Alan pun langsung melepas rangkulannya dari Sheilla.
"Ups, sorry!" ujar Alan malah jadi salah tingkah sendiri. Sementara Sheilla hanya geleng-geleng kepala.
"Ngomong-ngomong, Kak Alan kenapa ke sini? Kak Alan emang cari aku atau mau ke bangku taman aja?" tanya Sheilla.
"Oh, iya! Aku hampir lupa!" sahut Alan. "Sebenarnya, aku lagi cari kamu atau Farel," ujar Alan.
"Hah? Gue?" sahut Farel sambil menunjuk dirinya sendiri.
Alan mengangguk. "Tadi, salah satu temennya Thalia nanya-nanya gue, gue bakal lanjut ke SMA mana. Ya, gue kasih tahu aja. Terus dia pergi dengan girang. Kayaknya mau kasih tahu Thalia. Uhm, dan pertanyaan gue, Thalia gak ada niatan satu SMA sama gue 'kan?"
Farel dan Sheilla saling pandang.
"Yah, Kalau dia sampai mau ngikutin gue, gue kayaknya harus cari SMA lain lagi, terpaksa gue pakai kecerdasan gue untuk masuk ke SMA yang benar-benar hanya diisi orang-orang cerdas, apa masuk pesanteren, ya?" usul Alan yang langsung dapat kernyitan dahi dari kedua adik kelasnya ini.
"Lu sebegitunya gak mau satu sekolah lagi sama Thalia," komentar Farel.
"Ke pesantren? Yakin?" komentar Sheilla yang langsung membuat Alan cemberut.
"Sheilla, kamu gak percaya kalau aku bisa masuk pesantren? Aku waktu kecil pernah tahu berkunjung ke pesantren!" protes Alan sambil melipat tangannya.
Namun Sheilla malah terkekeh.
"Udah, tenang aja, Kak Alan gak usah ke pesantren atau masuk SMA yang diisi anak paling cerdas."
"Hah? Kenapa?" penasaran Alan.
"Karena Thalia udah gak akan peduli lagi sama lu," jawab Farel yang makin membuat Alan tercengang.
"Serius? Gue gak salah dengar, Rel? Thalia gak akan peduliin gue lagi?" ulang Alan.
"Iya, bener! Dan tebak itu karena siapa?" seru Sheilla girang sambil membentangkan kedua tangannya dan melebarkan senyumnya. Sementara Alan memandang pacarnya itu dengan dahi mengernyit.
"Siapa—" Alan menoleh ke arah Farel yang sekarang memalingkan wajahnya. Cowok tampan itu langsung menepuk bahu adik kelasnya.
"Karena lu? Serius? Jadi Thalia yang suka sama lu?"
Sontak Farel berdesis.
"Please, Kak Alan! Gue sama Thalia gak ada hubungan gitu!" Farel melirik ke arah Sheilla dengan sinis.
"Gara-gara lu juga, nih, Shei!" protes Farel.
"Wait, tapi gimana caranya lu bisa bikin Cewek Nyebelin itu gak peduli lagi sama gue?" penasaran Alan yang kini kembali bertipang dagu sambil bersandar di sandaran bangku taman.
Farel melirik ke arah Alan.
"Gue cuman ungkapin pendapat gue, ya gak beda jauh sama bentakan gue ke elu. Udah! Itu aja!" tekan Farel.
Alan hanya mengangguk-angguk dan atensinya beralih pada Sheilla yang kini tersenyum girang.
"Tapi gue gak nyangka, sih, ternyata seorang Farel bisa mempengaruhi seorang Thalia. Lu punya bakat kayaknya, Rel," gurau Alan.
"Bakat apaan? Momennya aja lagi pas," timpal Farel. Alan dan Sheilla saling pandang. Mereka berdua seolah berkomunikasi lewat mata dan sama-sama mengangguk.
"Oke, Rel. Yah, gue percaya ini gak sepenuhnya karena lu. Gue juga ikut andil karena menciptakan momen dimana Thalia sedikit benci sama gue ..." Alan kemudian merangkul Farel.
"Tapi hal ini gak akan terjadi kalau gak ada lu yang memperjelas perasaan benci Thalia ke gue yang samar."
Farel langsung menoleh ke arah Alan yang kini tersenyum lebar.
"Terus?" tanya Farel.
Alan pun melepaskan rangkulannya dan menepuk kedua pundak Farel dari belakang.
"Sebagai imbalannya, gue akan mengabulkan satu keinginan lu. Yang gak dimasuk akal juga boleh? Gimana, tertarik?"