Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Tersentuh


Tubuh Thalia membeku mendengar pertanyaan Farel. Jantungnya kini berdetak lebih cepat, tetapi ia benci dengan sensasi ini. Rasanya mirip seperti saat keadaan sang Mama dulu memburuk. "Sampai kapan kita akan seperti ini?" Itu adalah pertanyaan yang paling tidak ingin Thalia dengar dari mulut Farel.


"Mungkin ..." Tiba-tiba Farel kembali membuka suara, membuat lamunan Thalia buyar.


"Jika sudah lulus nanti, jika kita bertemu orang-orang baru lagi ... Kita bisa jadi teman juga di sekolah ..." Ucapan Farel berhenti, ia melirik ke arah Thalia yang kini menatap lurus ke arahnya.


"Ah-hahaha ..." Farel malah tertawa remeh sambil garuk-garuk belakang kepalanya. Kemudian malah memukul mulutnya.


"Uhm, maaf, anggap aja ucapanku tadi angin lewat aja!" Dia langsung mengambil cemilan yang tersisa di piring dan memakannya.


'Dasar Farel bodoh! Emangnya, lu mau satu sekolah lagi sama dia? Lagian, gak mungkin Thalia sekolah di sekolah lain selain Yayasan punya bokapnya. Justru, kalau lulus, lu harus cari sekolah lain, yang biayanya murah. Atau kalau perlu cari beasiswa di sekolah lain. Jangan satu sekolah sama Thalia. Atau hidup lu akan kembali sengsara!' rutuk Farel dalam hati sembari melirik ke arah Thalia yang diam saja. Bahkan gadis itu tak mengeluarkan sepatah kata pun.


'Teman, lagian itu lagunya dia aja supaya gak kelihatan jahat di depan mama— Ugh, sial!' Tiba-tiba Farel malah merasa sesak saat sedang menggunjing Thalia dalam benaknya. Tangan Cowok itu mulai memukul-mukul dadanya sendiri. Kenapa ia malah merasa seperti ini? Sekali lagi ia melirik ke arah Thalia yang malah terlihat murung. Mungkinkah Thalia bersedih lagi ?


"Teman di sekolah baru?" ucap Thalia lirih yang membuat Farel tertegun. Gadis itu pun menatap wajah Farel.


'Bukan! Aku gak mau jadi teman Farel lagi!' jerit Thalia dalam hati seraya menatao Cowom di depannya lekat-lekat.


'Aku mau Farel jadi pacarku!' jerit Thalia lagi dalam hati sambil mendekati Farel yang malah mengernyitkan dahinya sambil buat ancang-ancang.


"Thalia, kamu ..."


'Ya, aku menyukai Farel! Farel harus membalas perasaanku!' tekad Thalia dalam hati yang perlahan tangannya malah menyentuh pipi Farel. Reflek, Farel memegang tangan Thalia seraya memandangnya.


"Tha-thalia—"


Thalia mendaratkan bibirnya di pipi kanan Farel hingga membuat cookies di tangan Cowok Berkacamata itu jatuh ke lantai. Matanya melotot seakan mau copot dan kepalanya terasa mendidih.


"Tha-thalia ... Ba-barusan ..."


Thalia terhenyak saat menyadari apa yang barusan ia lakukan pada Farel. Seketika seluruh tubuh Thalia terasa panas. Gadis itu langsung menjauh dan menutup wajahnya.


Sedangkan Farel malah telentang di lantai. Sekujur tubuhnya sekarang terasa lemas. Sebenarnya ini bukan kali pertama gadis gila ini mencium pipinya. Lebih tepatnya ini yang kedua kali. Namun entah kenapa, lembutnya bibir lembab Thalia terasa begitu jelas di pipinya—menimbulkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya yang menyedot semua energinya.


Satu pertanyaan yang sekarang berputar di kepala Farel. Kali ini apa alasan Thalia menciumnya?


"Apa ... Apa lu barusan berterima kasih sama gue?" tanya Farel yang masih telentang dan hanya berani menatap langit-langit kamar.


Thalia yang duduk sambil membelakangi Farel pun tertegun. Terima kasih? Ia memegangi bibirnya. Apakah tadi tabda terima kasih untuk Farel? Tidak! Ia tidak berterima kasih. Thalia pun membalikkan tubuhnya menghadap seorang cowok yang masih setia menatap langit-langit kamarnya.


Thalia memandang cowok itu lamat-lamat. Ciumannya bukan tanda terima kasih. Melainkan cara Thalia mengungkapkan isi hatinya.


'Aku menyukaimu Farel!' jerit Thalia dalam hati, tetapi tangannya mengepal. Apa jadinya jika ia mengatakan itu sekarang? Apa Farel akan mempercayainya? Tidak, sebelum itu, apa yang akan dipikirkan Farel? Thalia pasti akan dianggap gila.


Tiba-tiba kembali terputar semua waktu dan kenangan yang telah Thalia lewati bersama Farel. Bukankah tidak ada sedikit pun kenangan yang membahagiakan?


Thalia memeluk dirinya sendiri, jika jadinya akan begini, kenapa ia tidak membuat kenangan indah bersama Farel dari dulu? Kenapa ia malah merundung cowok ini? Apa tujuannya?


"Thalia?"


"Fa-farel ... Uhm, itu ... Kesalahan!" lontar Thalia yang langsung membulatkan matanya. Apa yang ia katakan barusan?


"Kesalahan? Maksudnya, lu gak sengaja cium gue?" tanya Farel yang cara bicaranya malah menggunakan kata gue-lu.


Namun, Thalia hanya terdiam. Kepalanya tiba-tiba sakit. Tak ada jawaban yang muncul di kepalanya.


"Oke, gak apa-apa," ujar Farel yang menarik atensi Thalia. Seketika, ucapan Cowok Berkacamata utu membuat ketegangan di dalam kepalanya memudar. Rasanya hatinya lega.


"Gue harap—Eh!" Farel langsung menutup mulutnya sembari memandang ke arah Thalia.


"Sorry, gue—Ck! Maksudnya aku malah ngomong pake gue-elu ..." panik Farel, tetapi Thalia malah memegang tangan Farel dan menyingkirkannya dari mulut Farel.


"Gak apa-apa. Bicara senyamannya aja," tutur Thalia seraya tersenyum lembut. Farel pun ikut tersenyum.


"Terima kasih, Thalia," ucap Farel.


Thalia mengangguk, tetapi kemudian dahinya mengernyit.


"Soal sekolah baru ..."


"Oh, i-itu. Maksudnya, uhm, lupain aja ..." ucap Farel sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. Ia sendiri juga tidak mengerti, kenapa angan-angan berteman dengan Thalia di sekolah baru bisa muncul di kepalanya.


"Kenapa? Aku mau, kok temenan sama kamu di sekolah ... Tapi emang sahabat-sahabat aku ..." Thalia terdiam, ia sendiri bingung harus mengungkapkan perasaanya pada Farel seperti apa ke ketiga sahabatnya.


Farel tertegun.


'Lu gak akan pernah pantas buat sahabat gue Thalia Gwen Septiadi!'


Di kepalanya kembali terputar ucapan Marina padanya. Kata pantas yang Marina ucapkan, apakah termasuk menjadi teman Thalia?


Farel menggeleng.


"Gak apa-apa. Lupain aja. Lagian bicara nyaman sama lu di luar sekolah udah cukup, kok. Hehe." Farel rasanya mau menonjok dirinya sendiri. Dia mau jadi teman Thalia? Dia pasti sudah mulai ketularan kegilaan Thalia.


Thalia pun menghela napas sembari mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Farel.


"Farel, mau, gak kamu janji sama aku?"


Dahi Farel. Janji apa lagi yang harus ia buat?


"Ja-janji apa?" tanya Farel agak hati-hati.


"Kalau udah lulus SMP, kita satu sekolah lagi. Kalau kamu gak suka sekolah di Yayasan yang sama dengan SMP kita, aku akan minta papa cari SMA bagus yang bisa kasih kamu beasiswa. Kalau kamu mau suasana baru, maka aku akan bawa kamu ke sekolah yang bisa menciptkan suasana baru buat kamu. Yang penting kita satu sekolah. Gimana—"


Tiba-tiba Farel menarik jari kelingkingnya. Seketika senyum di wajah Thalia sirna.


"Farel? Kamu gak mau?"