
Thalia menunggu Farel di ruang tunggu. Ia menyisir seluruh isi rumah sakit berkali-kali. Harusnya tadi ia ikut saja jika ia tahu, menunggu akan jadi sangat membosankan. Jika ikut, Thalia juga bisa tahu, apa saja yang Farel dan Sheilla bicarakan hingga membuatnya harus menunggu lama.
"Thalia ... Sorry kelamaan, ya?" Suara yang sejak tadi Thalia tunggu-tunggu, akhirnya muncul juga. Thalia segera menoleh ke asal suara dengan senyum super lebarnya. Namun ia langsung memonyongkan bibirnya.
"Kamu ngapain aja, sih? Lama banget!" gerutunya sambil melipat tangan. Farel langsung duduk di samping Gadis Cantik yang telah menunggunya sejak tadi .
Farel menghadapkan tubuhnya ke arah Thalia seraya menurunkan alisnya.
"Maaf, tadi ada mamanya Sheilla. Terus aku agak diinterogasi. Kayaknya gara-gara aku cowok, deh." Farel malah cengengesan sambil garuk-garuk belakang kepalanya.
Thalia langsung menoleh sambil memicingkan matanya.
"Karena kamu cowok? Maksudnya apa? Mamanya Sheilla kira kamu pacarnya? Terus? Kamu senang dikira pacarnya Sheilla?" cecar Thalia dengan nada sinis. Apa coba, maksud Farel mengatakan itu?
Dahi Farel berkerut. Ia langsung menggeleng.
"E-enggak. Mana mungkin aku senang dikira pacarnya Sheilla!" beber Farel buru-buru, tetapi sama sekali tidak bisa mengubah wajah masam seorang Thalia.
Farel langsung menarik napas dalam-dalam.
"Uhm, gini ... menurutku, lucu aja gitu, kok bisa-bisanya aku dikira pacarnya Sheilla. 'Kan gak mungkin banget. Cowok kayak aku—"
Tiba-tiba Thalia malah menjempit kedua pipi Farel dengan kedua tangannya. Ia menarik wajah Farel sehingga menghadap wajahnya.
"Apa maksudnya cowok kayak kamu?" tekan Thalia sambil menatap lekat-lekat ke dalam mata Farel.
Farel mengerjapkan matanya seraya menyingkirkan kedua tangan Thalia dari pipinya. Ia menggeleng.
"Enggak, bukan apa-apa ..." Farel menggantung ucapannya seraya tersenyum getir.
Thalia menggigit bibir bawahnya. Ia tahu, ada sesuatu yang Farel sembunyikan. Ia juga tahu, ia bisa menggunakan wewenangnya untuk memaksa Farel mengatakannya. Namun hati nuraninya terus saja melarang.
"Ya sudah. Sekarang, ikut aku ke rumahku!" ujar Thalia. Atensi Farel langsung beralih padanya.
"Ke rumahmu? Apa tidak apa-apa, Thalia?" seru Farel. Ia ingat bagaimana Ibu Tiri Thalia memperlakukannya beberapa hari yang lalu.
"Kenapa? Kamu takut sama Tante Siska?" duga Thalia yang begitu tepat. Farel terpaksa mengangguk. Bagaimana jika ia akan dirundung oleh wanita itu juga, terlebih ia kemarin sengaja melemparkan adonan ke wajahnya.
"Tenang. Dia hanya wanita pengganggu. Dia tidak berhak melarangku! Aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu!" Thalia beranjak. Sementara Farel memandang Gadis itu dengan penuh tanya.
"Apa kamu lihat-lihat?" sinis Thalia yang langsung menyadarkan Farel. Ia sendiri juga heran, kenapa bengong barusan. Apakah perkataan Thalia tadi berhasil menyentuh hatinya?
"E-enggak—" Tiba-tiba Thalia meraih tangan Farel. Sontak Lelaki berkacamata itu terpaku.
***
Farel memandang tangannya yang masih digenggam erat oleh Thalia. Apakah hal ini wajar? Sejak kapan tangannya ini pantas digenggam begini oleh tangan seorang Thalia. Farel beberapa kali menoleh ke arah Thalia yang terus memandang ke luar jendela. Ia ingin menegur Thalia agar melepaskan tangannya, tetapi ia bingung bagaimana caranya.
"Sudah sampai, Non ..." ujar Pak Sopir yang memecahkan keheningan. Farel reflek menileh ke arah Pak Sopir yang langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Thalia.
"Uhm—" Belum sempat ia mengeluarkan suaranya, tiba-tiba tangannya sudah ditarik lagi oleh Thalia. Farel sungguh tidak bisa berbuat apa-apa.
Sekali lagi, Farel dibawa ke rumah mewah, tetapi sepi.
"Tante Siska lagi gak ada di rumah. Dia nemenin anaknya karyawisata ke Bali," ujar Thalia bak cenanyang yang bisa tahu pertanyaan yang muncul di kepala Farel.
"Oh, baguslah," timpal Farel reflek yang membuat langkah Thalia terhenti. Dahi Farel mengernyit. Apakah ia salah bicara lagi?
"Uhm, Thalia ... Maksud aku ..." Ucapan Farel terhenti saat Thalia membalikkan badanya seraya menunjukkan senyum yang lebar.
"Dasar kamu!" geli Thalia malah tertawa sendiri. Dahi Farel mengernyit. Entah kenapa, akhir-akhir ini, Thalia sering tersenyum dan tertawa di depannya, tetapi bukan untuk menertawakannya.
Farel hanya memandang Thalia yang masih asyik tertawa sendiri. Padahal suara tawa Thalia dulu selalu menjadi hal yang paling ia benci. Namun kali ini, melihat kulit putih Thalia yang berubah jadi merah muda, melihat kedua sudut bibir gadis ini yang terangkat dan matanya yang melengkung ke atas, entah kenapa malah membuat detak jantung seorang Farel berdebar. Tanda apakah ini?
"Kalau gini, kamu jadi kelihatan cantik, Thalia ..." celetuk Farel yang langsung menyingkirkan tawa Thalia. Gadis itu kini memandang Farel yang sedang memandangnya dengan tatapan yang mendalam.
Thalia langsung melipat bibirnya sembari menyelipkan helai rambut di belakang telinganya. Ia langsung berbalik membelakangi Farel.
"Ka-kamu ... Apa-apaan, sih? A-aku itu emang cantik! Se-semua orang juga tahu itu!" gagap Thalia. Diam-diam gadis itu memejamkan matanya erat-erat. Lagi-lagi detak jantungnya mukai tak beraturan dan wajahnya terasa panas.
Farel tertegun. Reaksi macam apa ini? Seingatnya, Thalia tidak pernah bicara putus-putus dengannya. Apa ia salah bicara barusan? Bukankah Thalia suka dibilang cantik?
"Uhm, maaf, Thalia—" Tiba-tiba Thalia memutar tubuhnya dan menarik tubuh Farel mendekat ke arahnya.
"Maaf? Kenapa kamu minta maaf? Justru aku senang ... uhm ..." Thalia diam-diam berdecak. Kenapa juga ia malah bilang senang.
"O-oh ... Begitu—"
"Pokoknya, aku senang kalau menurut kamu, aku cantik ... Ugh! Aku ngomong apa sih?" Thalia langsung melepaskan tanga Farel dan menutup wajahnya.
"Ugh! Dasar Farel nyebelin! Pokoknya kamu berdiri di sini dan dilarang ikutin aku!" titah Thalia mmlangsung berlari meninggalkan Farel sendirian.
Sementara Farel hanya memandang kepergian gadis itu.
"Lah? Terus ngapain gue dibawa ke sini?" bingung Farel.