Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Beli Jus


Waktu istirahat pun tiba, semua anak langsung berhamburan keluar kelas, tetapi tidak untuk Farel yang sibuk membereskan bukunya. Namun Thalia tiba-tiba menyodorkan selembaran uang lima puluh ribu di hadapan lelaki berkacamata itu. Farel pun menoleh.


"Apa ini?" tanya Farel.


"Beliin aku jus terong belanda, tanpa susu dengan sedikit gula," perintah Thalia.


"Kamu gak mau ke Kantin?" tanya Farel.


"Enggak, ah! Males. Gak jadi ketemu Kak Alan," kata Thalia sambil senyum-senyum sendiri.


Farel memandang Thalia dengan aneh.


'Gak ketemu, malah seneng. Aneh ...' batin Farel, tetapi atensinya segera beralih pada Sheilla yang jalan buru-buru keluar.


'Jangan-jangan Kak Alan mau ketemu Sheilla, makanya gak jadi ketemu sama Thalia,' tebak Farel dalam hati, seketika dadanya terasa sesak.


'Ya ampun, gue kasihan sama Thalia atau gue masih ada rasa suka sama Shei?' bingung Farel yang memandang Thalia dengan nanar sembari memegangi dadanya.


"Heh! Ambil!" bentak Thalia hingga Farel terhenyak.


"Ngapain kamu lihatin aku terus? Merasa bersalah karena muffin tadi hancur, ha?" tukas Thalia asal sambil menyisipkan rambutnya ke belakang telinga.


Farel malah mengernyitkan dahi kemudian mengambil uang Thalia dan menyimpannya di saku kemeja.


'Bukannya lu yang harusnya merasa bersalah, nenek sihir!' gerutu Farel dalam hati.


"Mendingan kalau kamu merasa bersalah, mendingan bikin lagi nanti!" sahut Thalia lagi yang membuat Farel membulatkan matanya.


'Gila aja! Dia kira gampang bikin begituan? Dasar seenak jidat!' umpat Farel lagi dalam hati.


"Tapi ..." Tiba-tiba Thalia menggantung kalimatnya kemudian menoleh ke arah Farel.


Gadis itu menatap Farel dengan ragu-ragu.


"Ka-kamu ... uhm, sebenernya Ada, gak sih cewek yang kamu suka?" seru Thalia, tetapi gadis itu langsung memalingkan pandangannya.


'Apaan, sih Thalia? Kalau ngomong pikir dulu, dong!' rutuknya pada diri sendiri.


"Hah?" sontak Farel bingung.


'Apa maksudnya? Dia mau tahu apa? Gunanya apa tahu cewek yang gue suka? Mau ancam pakai cewek itu biar gue makin tunduk sama dia?' tukas Farel dalam hati.


"Cepet jawab!" bentak Thalia lagi.


"Uhm, aku harus jawab apa?" bingung Farel.


"Ya, jawab, ada apa enggak! Yang jujur loh! Awas berani bohong!" ancam Thalia.


'Duh, harus jujur banget, nih?' ragu Farel dalam hati.


"Farel!" paksa Thalia.


"Iya ada!" seru Farel kelepasan, tetapi ia langsung menutupnya.


Sementara Thalia memandang Farel dengan mata melotot.


"Si-a-pa?" tekan Thalia mulai menatap teman sebangkunya itu dengan serius.


"Uhm, yah, apa gunanya tahu? Toh, aku langsung patah hati. Cewek itu udah punya pacar," jawab Farel, ia tidak mau Sheilla jadi sasaran Thalia berikutnya.


"Patah hati? Terus, kamu gak usaha gitu dapetin dia?" Thalia malah bicara seolah mendukung Farel.


"Hah?" Farel makin bingung.


'Kayaknya dia beneran kesambet. Dari kemarin baik banget sama gue,' batin Farel.


"Y-yah ... Soalnya dilema ..." Farel garuk-garuk kepala seraya berpikir caranya merangkai kata alasan ia tidak memperjuangkan cinta pertamanya.


"Uhm, karena aku lebih suka sama cowoknya, jadi, yah, gak aku kejar. Toh, kayaknya mereka bahagia," jelas Farel yang membuat dahi Thalia mengkerut.


Farel langsung tersadar ucapannya yang salah.


"Bukan, aduh, kenapa jadi suka cowoknya? Yah, aku suka cewek lah! Tapi aku suka cowoknya— Aduh!" Farel jadi kikuk sendiri, ia tidak mau dianggap suka laki-laki padahal dirinya sendiri seorang laki-laki.


"Ya sudah, jangan bahas lagi! Mendingan kamu beliin aku jus, tanyain juga, tuh temen-temen aku! Mereka mau beli apa. Pakai uangku saja, oke?" suruh Thalia. Farel pun mengangguk.


"Ja-jangan salah paham, ya Thalia. Uhm, aku permisi dulu," pamit Farel yang kemudian mendatangi 3 sahabat Thalia.


Dari bangkunya Thalia memandangi Farel dari belakang.


"Sebenernya siapa, sih cewek yang Farel sukain? Kalau udah punya pacar, berarti bukan aku ... Eh?" Thalia langsung sadar.


"Emangnya kenapa? Kenapa dia harus suka sama aku?" heran Thalia pada dirinya sendiri.


"Ah, udah lah! Gak usah dipikirin! Bikin pusing!" gerutu Thalia kemudian mengambil ponselnya dan mulai sibuk dengan besi canggih itu.


***


Farel memeriksa tangannya yang berisi coretan list pesanan jus Thalia and the geng dari pulpen.


"Jus terong belanda tanpa susu dengan sedikit gula, jus alpukat tanpa gula tapi pakai susu cokelat sedikit saja, jus mangga tanpa susu dan gula, jus mix nanas dan wortel tanpa gula dan susu." Dahi Farel mengernyit.


"Apakah penjual jus ingat semua pesanan rumit ini?" gumam Farel yang didorong-dorong oleh siswa lainnya yang berebut membeli jus.


"Baiklah. Kita harus mengucapkannya dengan lantang!" Farel mempersiapkan suaranya kemudian meneriakkan pesanan Thalia and the geng dengan lantang hingga membuat pembeli lainnya menoleh padanya.


"Kenapa? Pesanannya memang serumit itu!" sahut Farel.


"Dua jus starwberry tanpa susu!" seru seorang gadis memecahkan lamunan para pembeli yang heran dengan pesanan Farel. Mereka pun kembali berebut mengucapkan pesanan masing-masing.


Sementara atensi Farel beralih pada gadis yang memesan jus starwberry tanpa susu, Sheilla.


"Hai, Shei!" sapa Farel yang menorehkan senyumannya.


Sheilla malah tersenyum tipis, membuat Farel kaget karena ini pertama kalinya ia melihat senyum seorang Sheilla. Wajah sangar gadis itu seolah sirna begitu saja.


"Pesanan kamu rumit banget," komentar Sheilla sambil terkekeh.


"Dih, pesenan kamu juga mirip rumitnya," timpal Farel yang juga ikut terkekeh.


"Itu pesenan Kak Alan—Si Strawberry Maniak," jawab Sheilla malah geli sendiri. Sontak senyum di wajah Farel sirna, ia langsung paham, tetapi dahinya mengernyit kemudian.


"Lu pesen dua dengan kerumitan yang sama!" seru Farel.


Sheilla melirik ke arah Farel.


"Haha, iya, aku juga suka jus starwberry," jawab Sheilla.


Farel tertegun, lelaki itu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.


'Bahkan kesukaan mereka sama,' batin Farel. Ia sungguh tak punya celah. Farel pun menggelengkan kepalanya.


'Lagipula memang gue gak punya celah. Thalia juga ... eh?' Farel tersadar.


'Kenapa gue malah ikut mikirin nenek sihir itu?' pikir Farel.


"Jus terong belanda tanpa susu dengan sedikit gula, jus alpukat tanpa gula tapi pakai susu cokelat sedikit saja, jus mangga tanpa susu dan gula, jus mix nanas dan wortel tanpa gula dan susu sudah jadi!" seru Ibu Penjual Jus yang memecahkan lamunan Farel. Lelaki itu begitu takjub mendengar ucapan Ibu Penjual jus yang sama persis dengan pesanannya.


Farel segera menyahut dan membayarnya. Sheilla yang berdiri di sampingnya agak kaget dengan pesanan Farel yang cukup banyak.


"Buat Thalia?" tebak Sheilla.


Farel mengangguk.


"Gue duluan, ya!" pamit Farel. Sheilla hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Namun ia tak sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan.


"Apa-apaan ini? Dia dari tadi senyumin cewek gue ..." geram lelaki itu.