
Farel menyandarkan punggungnya ke bangku. Kini di kelas hanya dia seorang diri. Biasanya di saat seperti ini, dia pasti akan mengambil kertas atau buku gambarnya dan menggambar sesuatu. Namun hari ini perasaannya sangat kacau balau sehingga dia hanya terdiam sambil menatap ujung meja. Rasa perih di sudut bibirnya bahkan ia abaikan.
Drrt ...
Tiba-tiba ia mendengar suara derit kursi di sampingnya yang digeser. Reflek, Farel menoleh dan menemukan sosok Thalia yang membulatkan matanya seolah tertangkap basah.
"Uhm, A-aku—" Lidah Thalia kelu. Entah kenapa sejak tadi lidah dan otaknya tak bisa bekerja sama.
"Lu— ma-maksud gue— Ugh! Sial!" umpat Farel. Namun Thalia hanya terdiam sambil menatapnya. Kemudian Farel langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Thalia.
"Sorry, Thalia, gu—" Farel berdesis lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya.
"Maaf, Thalia, kamu mau minta perintahin apa?" tanya Farel yang tertegun saat arah pandang Thalia tertuju pada bibirnya. Jari-jari lentik gadis itu bahkan menyentuh ke bagian yang sejak tadi tersas nyeri.
"Thalia—" Farel berdesis, menahan rasa sakit kemudian matanya menatap ke arah mata bulat gadis cantik itu yang ternyata juga sedang menatapnya. Seketika waktu terasa berhenti, suara ribut anak-anak yang bermain di luar tiba-tiba terdengar samar, justru ia malah mendengar suara detak jantung yang berdetak agak cepat.
'Suara detak jantung siapa ini?' bingung Farel dalam hati tanpa sanggup melepas tatapannya dari Gadis Cantik yang kini menatapnya begitu lekat.
"Ini sakit?" Seketika Farel terbangun dari segala imajinasinya. Waktu kembali berjalan seperti seharusnya dan kembali terdengar suara-suara ribut anak-anak di luar kelas. Farel langsung memalingkan wajahnya.
"I-ini bukan apa-apa," ujar Farel.
Thalia mengeraskan rahangnya.
"Jawab aku dengan benar, Farel! Kenapa kamu bisa babak belur? Siapa yang hajar kamu? Temen-temennya Kak Aldo?" cecar Thalia. Namun Farel tetap bungkam. Tidak mungkin ia mengungkapkan apa yang terjadi tadi pagi. Ia sendiri saja merasa aneh, apalagi Thalia.
"Farel!" Thalia menarik bahu Farel hingga tubuh Cowok Berkacamata itu menghadap kembali padanya.
"Jawab aku!" titah Thalia dengan alis yang menyatu dan tatapan lurus ke arah Farel.
"Aku gak dihajar siapa-siapa!" bohong Farel.
"Terus, kenapa kamu bisa luka di ..." Thalia melipat bibirnya melihat pipi Farel yang membiru dan luka di sudut bibir Farel. Entah kenapa ia merasa dadanya terasa sesak melihat luka itu di wajah Cowok ini.
"Aku jatuh! Aku jatub karena kesandung di taman! Aku menghantam batu, makanya jadi gini," bohong Farel lagi.
"Menghantam batu?" Dahi Thalia mengernyit.
"Terus, kamu gak ke UKS? Itu pasti berdarah 'kan?" Thalia hendak menyentuhnya lagi, tetapi Farel langsung menangkis tangan Gadis Cantik itu.
"Beneran, gue gak apa-apa," ujar Farel yang langsung melotot karena cara bicaranya yang salah, tetapi lagi-lagi Thalia tidak sadar dan malah menyodorkan kotak P3K padanya.
"Ini, aku ambil di UKS. Obatin luka kamu," ujar Thalia lagi.
Mata Farel membulat, apa lagi ini?
"Thalia, sumpah, gu—Maksudnya, aku gak apa-apa—"
"Ini perintah!" tekan Thalia sambil menatap Farel tajam.
"Thalia, tapi—"
Gadis Cantik itu langsung berdiri. "Aku pergi dulu, Awas kalau nanti belum balikin kota P3K-nya, pokoknya salah kamu!" tukas Thalia langsung berlari pergi keluar kelas tanpa menunggu respon dari Farel.
Cowok Berkacamata itu hanya bisa memandang kotak P3K yang sekarang terletak di atas mejanya. Tanpa sadar ia menaikkan sudut bibirnya.
"Aw ... Sakit!" rintihnya. Dia pun langsung membuka kotak P3K itu dan mengobati lukanya.
'Thalia ... Sebenarnya apa, sih tujuan lu bersikap kayak gini ke gue? Gue gak ngerti sama sekali,' batin Farel sambil tersenyum tipis.
...****************...
Thalia berlari menuju Kantin. Tadi ia bilang mau ke toilet sebelum ke Kanti pada ketiga sahabatnya. Namun, bukannya ke toilet, Thalia malah pergi ke UKS dan pergi ke kelas untuk menemui Farel. Seharusnya waktunya selama pergi barusan sama seperti ketika dia menghabiskan waktu di toilet.
Thalia berjalan masuk ke Kantin dan menemukan Renata dan Marina yang sedang duduk di satu meja yang sama dengan Alan. Diam-diam Thalia tersenyum, ternyata sahabatnya ini memang paling tahu apa yang ia butuhkan. Thalia langsung melangkah cepat ke arah meja sahabatnya.
"Kak Alan!" seru Thalia girang yang langsung mendapat lirikan sinis dari Alan. Namun Alan langsung mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum.
"Hai, Thalia!" sahut Alan ramah seolah tidak terjadi apa-apa.
Berbeda dengan Thalia, Ia sempat merasa ada desiran dalam dadanya, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya dan malah duduk di samping Alan.
"Gimana ujiannya, Kak? Lancar?" basa-basi Thalia.
"Haha, peetanyaan lu aneh banget. Bagi gue soal-soal kayak gitu mah gak ada apa-apanya," kekeh Alan.
"Ih, Kak Alan kok bisa, sih se-santai itu menghadapi UN? Kalau itu Renata, paati udah kusut nih rambut Renata!" canda Renata yang langsung mengundang gelak tawa.
"Lu berlebihan, Ren. Lagian, kalau mau ujian, tuh gak usah panik. Calm down. Jadi gak pusing," ujar Alan malah memberi tips.
"Oke-oke, udah cukup kasih tips menghadapi ujiannya. Dari tadi itu mulu yang kita bahas," sahut Marina.
Renata langsung bertopang dagu sambil melirik nakal ke arah Marina.
"Terus, kamu maunya tips apa dari Kakak Alan kita yang ganteng ini?" goda Renata lagi yang membuat Alan geleng-geleng kepala.
Marina melotot dan malah menyenggol Thalia.
"Kayaknya, Thalia, deh yang lebih butuh tips dari Kak Alan," lempat Marina yang langsung mendapat kernyitan dahi Thalia.
"Tips apa, Thalia?" tagih Alan yang makin membuat Thalia bingung. Ia sama sekali tidak bisa memikirkan apapun. Sejujurnya, Dia bahkan masih enggan bertemu dengan Alan karena rasa sakit di hatinya yang diciptakan Cowok ini tadi pagi.
"Tips? Aku gak—"
"Tips untuk jadi pacar Kak Alan!" potong Marina yang membuat Thalia melotot, tetapi nalah membuat Alan tersenyum miring.
"Tips untuk jadi pacar gue? Yakin kalian mau dengar?"