Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Marah


Sheilla kembali ke bangku Sang Pacar setelah jus strawberry pesanan mereka sudah siap.


"Jus strawaberry tanpa susu," ujar Sheilla yang langsung duduk di bangkunya dan langsung meminum jusnya. Namun Alan—Sang Pacar malah menatapanya tajam. Alvin yang duduk di sampingnya malah heran.


"Ternyata benar, jus strawberry tanpa susu lebih segar karena rasa aslinya lebih menonjol!" seru Sheilla takjub.


"Lu juga suka itu, Shei?" seru Alvin yang tak menyangka.


Sheilla mengangguk dan menoleh ke arah Alan dengan wajah semringahnya.


"Kak Alan benar, ini enak ..." Namun ucapan cerianya langsung terhenti begitu melihat wajah merengut Alan.


"Kak Alan? Ada masalah?" tanya Sheilla.


"Lu deket sama Farel?" tukas Alan geram.


Sheilla mengernyitkan dahi.


"Enggak juga. Cuman teman sekelas," jawab Sheilla santai.


"Terus, tadi ngapain senyum-senyum berdua? Mau balas dendam, ha?" tukas Alan lagi. Sheilla malah heran sendiri, untuk apa ia balas dendam.


Alvin yang duduk di sebelahnya pun mencolek lengan sahabatnya.


"Lu kenapa, sih, Lan? Emang apa salahnya senyum doang?" timpal lelaki bermata sipit itu.


"Lu gak usah ikut campur! Gue mau denger dari mulut Sheilla!" marah Alan sambil menunjuk wajah sahabatnya itu.


Sheilla menarik napas dalam-dalam, berusaha tak terpancing dengan tudingab dan amarah Pacarnya.


"Kak Alan, aku sama Farel cuman teman sekelas. Tadi kita cuman saling sapa. Terus, Sheilla gak ngerti apa maksudnya balas dendam. Sheilla gak ada niatan itu sama sekali—"


"Bohong!" tuding Alan.


"Tadi pagi lu cemburu 'kan, makanya balas dendam sekarang!" tukas Alan lagi.


Sheilla mengernyit.


"Cemburu ..." Sheilla pun terdiam seraya berpikir.


"Aku udah lupain itu, sih, Kak ... Meskipun sejujurnya aku kesel. Tapi aku gak ada niatan balas dendam," jelas Sheilla yang membuat Alan tertegun.


Lelaki itu langsung menunduk karena wajahnya terasa panas. Ia bahkan merasakan debaran aneh dalam dadanya.


'Apaan, sih? Kok dia ngaku gitu aja kalau cemburu? 'Kan gue jadi seneng,' gerutu Alan salah tingkah.


"Ya udah, nanti kita ketemu lagi. Gue mau balik ke kelas dulu. Ayo, Vin!" ajak Alan yang membawa jus strawberrynya seraya beranjak dari bangku.


"Lah? Masalah lu sama dia udah kelar?" bingung Alvin.


"Udah. Gue mau balik ke kelas!" ujar Alan sambil mencuri pandang ke arah Sheilla yang sedang menatapnya heran.


"O-oke ..." Alvin hanya bisa mengikuti sahabatnya itu dan meninggalkan Sheilla sendirian.


Sementara Gadis berkulit gelap itu hanya menggelengkan kepala.


"Dasar aneh!" tukas Sheilla sambil komat-kamit, merutuki pacarnya sendiri.


"Kenapa juga tadi aku bilang kesel! Ugh! Sebenarnya aku kenapa, sih? 'Kan aku mau diputusin!" ujar Sheilla merutuki dirinya sendiri.


***


Farel kembali ke kelas sambil mencari sosok Thalia and the geng. Rupanya keempat gadis itu sedang berkumpul di meja guru sambil berbincang-bincang girang. Farel pun menghampirinya.


"Thalia ... i-ini minuman kalian," ujar Farel sambil menyodorkan minuman itu. Namun keempat gadis itu malah menatapnya sinis tanpa mengambil pesanan mereka.


"Uhm, i-ini gak mau kalian ambil?" tanya Farel.


"Hello! Lu kasih gitu doang? Kita 'kan gak tahu minuman kita yang mana?" sahut Vannesa sambil memutar bola matanya.


Farel pun mengernyitkan dahi, ia melihat ke arah 4 minuman di tangannya. Terdapat minuman berwarna merah muda, hijau, kuning dan jingga, bukankah keempat minuman itu berbeda?


"Uhm, yah ... apa kalian tidak bisa mengenali rasa minuman—" Renata menendang kaki meja hingga membuat Farel memejamkan matanya rapat-rapat.


"I-iya ... sorry-sorry ..." Mau tidak mau Farel membagikan keempat minuman itu. Ia memberikan minuman dengan warna merah muda pada Thalia, warna hijau pada Marina, warna kuning pada Renata dan jingga pada Vannesa.


"Udah, sana lu! Enek lihat muka lu tau!" sarkas Renata.


Farel hanya mengangguk ketakutan, lelaki itu pun segera pergi dan kembali ke tempat duduknya. Kembali mengambil buku tulis yang ia jadikan buku gambar dan mulai menuangkan idenya.


"Kamu serius, Thal? Kak Alan ngajak kamu jalan?" seru Vannesa dengan suara heboh hingga bisa didengar oleh Farel. Atensi seorang Farel pun beralih ke arah Thalia dan teman-temannya.


"Bener lah! Kayaknya dia merasa kurang, deh cuman ngobrol sebentar sama aku pas di taman. Waktunya sedikit, sih ..." ujar Thalia dengan wajah semringah. Ya, Farel bisa lihat senyuman cerah itu di wajah Thalia.


'Kak Alan ajak Thalia jalan? Terus Sheilla gimana?' batin Farel.


"Ih, akhirnya, yah ... Kak Alan beneran hubungin elu!" seru Marina yang terlihat sangat lega.


"Iya, dong ... Udah pasti Kak Alan milih aku. Dia juga tahu, kalau cowok seganteng dia, cocoknya sama aku!" ujar Thalia lagi.


'Cuih! Cuih! Cuih!' batin Farel penuh dendam.


'Gue yakin seratus persen, Kak Alan manfaatin dia doang. Nanti juga disakitin! Jelas-jelas Kak Alan sukanya sama Sheilla,' batin Farel mulai julid.


"Eh, terus gimana? Kita harus bikin Thalia secantik mungkin dong!" seru Vannesa.


"Iya, kita belum sempat latihan dandan! Kita bikin Kak Alan gak bisa melirik cewek selain Thalia kita!" seru Marina sambil memeluk sahabatnya. Thalia hanya senyum-senyum bangga, akhirnya Sang Pujaan Hati melirik dirinya.


Namun atensinya malah beralih ketika seorang gadis berambut keriting, berkulit sawo matang serta bertubuh gemuk masuk dengan langkah yang besar. Gadis itu tanpa berpikir langsung duduk di samping Farel. Thalia pun menegakkan tubuhnya, tetapi Vannesa langsung menarik lengannya agar melihat gaya make-up di majalah fashion yang sering mereka baca bersama-sama.


Sementara itu, Farel yang mendapati Sheilla di sampingnya sempat kaget.


"Lu ngapain di sini?" tanya Farel bingung.


"Aku lagi kesel sama Kak Alan. Lebay banget!" curhat Sheilla.


Farel membulatkan matanya. Lelaki itu pun menggaruk kepalanya yang tidam gatal.


"Uhm, Shei ... Gak salah cerita sama gue?" tanya Farel.


Sheilla menggeleng.


"Kamu udah tahu 'kan?" timpal Sheilla.


Farel pun mengangguk.


"Uhm, apa gara-gara gue, Shei? Sorry ..." tanya Farel lagi.


Sheilla malah berdecak.


"Aku cuman senyumin kamu doang sebagai reaksi, terus dia marah! Apaan, sih? Gak jelas!" gerutu Sheilla sambil menyenderkan tubuhnya di bangku Thalia.


Namun dahi Farel mengernyit.


"Apa jangan-jangan Kak Alan ajak Thalia jalan karena marah sama lu—" Farel langsung menutup mulutnya, sedangkan Sheilla menoleh.


"Apa? Kak Alan ajak Thalia jalan?" Sheilla pun melirik ke arah Thalia yang sedang tersenyum bahagia bersama teman-temannya.


"Maaf, Shei ... gue—"


"Bagus, dong? Berarti Kak Alan udah bosen sama aku dan beralih ke Thalia," seru Sheilla malah senang.


Farel semakim bingung dengan reaksinya.


"Shei? Kok lu malah seneng, sih? Cowok lu mau direbut cewek lain, loh—"


Tiba-tiba Shei menarik dasi Farel dan menempelkan kening mereka sambil menatapnya tajam, membuat Farel terbelalak.


"Shei ..."


"Justru aku mau segera lepas dari cowok pemaksa itu!" geram Shei.


"Hey, The Beast!" pekik Thalia menyebut sebutan Sheilla yang seketika membuat suasana kelas jadi tegang.