Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Pembicaraan Serius


"Hallo, Shei!" Farel langsung menjawab begitu Sheilla menelponnya balik. Sorot mata Alan jadi serius ke arah ponsel Sheilla yang dipasangkan dengan mode suara keras.


"Hallo, Rel? Kenapa kamu telepon aku?" tanya Sheilla tanpa basa-basi.


"Uhm, enggak gue cuman mau tanya, lu kelar liburan kapan? Kita bisa ketemuan gak?" tanya Farel lagi yang membuat Sheilla mengernyitkan dahinya. Sheilla langsung menoleh ke arah Alan, tetapi Alan hanya berkedip.


Sheilla kemudian mendekatkan mulutnya ke ponsel.


"Ketemuan? Gak di sekolah aja? Emangnya urgent?" selidik Sheilla.


"Iya, urgent. Gak bisa kalau sampai nunggu masuk sekolah," jawab Farel.


Sheilla kembali menatap Alan yang menganggukkan kepalanya.


"Oke, Aku, sih hari Selasa depan udah balik dari Bali. Mungkin Rabu depan atau Kamis depan bisa ketemuan," ujar Sheilla.


"Oke, Hari Rabu gue akan ke rumah lu. Gue tutup dulu—"


"Rel!" cegah Sheilla yang kini matanya menatap lurus ke arah Alan.


"Ya? Uhm, aku mau tanya, kira-kira, kenapa kamu mau ketemuan, ya? Emangnya ada apa?" selidik Sheilla lagi.


Dari seberang terdengar embusan napas panjang.


"Sorry, Shei, gue gak bisa bilang di telepon. Lagian, gak menutup kemungkinan 'kan kalau Kak Alan sekarang juga lagi denger percakapan kita."


Sontak Sheilla dan Alan saling pandang sambil membulatkan matanya.


"Sorry, Kak Alan. Tapi gue gak bisa kasih tahu lu tentang apa yang mau gue omongin sama cewek lu. Kalo gitu, gue tutup." Farel buru-buru mengakhiri panggilannya.


Seketika sorot mata Alan berubah jadi tajam.


"Apa maksud Bocah Tengik itu???" geram Alan, tetapi Sheilla hanya mengendikan bahunya.


Alan benar-benar tak habis pikir. Cowok 15 tahun itu memijat keningnya kemudian menatap lurus ke arah pantai.


"Shei, apapun yang dia omongin, kami harus kasih tau aku!" titah Alan yang membuat Sheilla menoleh.


"Hah?" timpal pacarnya itu. Dahi Alan mengernyit, atensinya kini beralih pada Sheilla.


"Hah? Jawaban macam apa itu? Kamu gak mau?" duga Alan dengan suara yang agak tinggi.


"Iya, gak mau," jawab Sheilla cepat.


Alan langsung memutar tubuhnya.


"Gak mau? Kenapa? Gimana kalau dia ngomongin hal yang gak seharusnya kamu dengar?" sewot Alan.


"Emangnya dia bakal bilang apa?" tantang Sheilla sambil menatap lurus ke arah Alan.


Alan mengeraskan rahangnya.


"Misal ... Misal dia nembak kamu ..." Alan langsung memalingkan wajahnya. Tidak, kepalanya terasa mendidih, jika begini, ia bisa membentak gadis yang paling disukainya sekarang. Apa lagi, di sini ada orang tua dan kakaknya Sheilla, jika Alan terlihat berperilaku buruk, bisa-bisa ia disuruh putus paksa oleh Sheilla.


Namun Sheilla hanya menghela napas.


"Kak Alan gak usah khawatir. Hubungan aku sama Farel murni cuman temenan ..." Sheilla melirik ke arah wajah pacarnya yang masih cemberut.


"Setidaknya kamu kasih tahu aku, apa yang kalian bicarain. Kamu 'kan pacar aku! Kamu harus terbuka sama aku!" kukuh Alan.


Sheilla terdiam kemudian Alan meliriknya. Gadis itu ternyata sedang menatap lurus ke arahnya.


"Kenapa diam aja? Kamu gak ada tanggapan, bilang apa, kek!" titah Alan.


Sheilla menarik napas panjang.


"Kak Alan ... Yang pacar Kak Alan 'kan aku ..." ucap Sheilla.


"Ya. Benar!" timpal Alan.


Sheilla pun menghadapkan tubuhnya ke arah Alan.


"Maka dari itu, aku bisa terbuka apapun sama Kak Alan kalau itu tentang masalahku, tapi ini bukan tentang aku, justru tentang Farel." Sheilla menekankan kalimat terakhirnya.


"Kalau Kak Alan mau tahu, Kak Alan bisa tanya Farel langsung, bukan dari aku," tekan Sheilla kemudian ia menghela napas melihat pacarnya yang masih cemberut. Sheilla pun memegang pipi kanan pacarnya.


"Maaf, Kak Alan ..." ucapnya yang kemudian tangannya dipegang oleh Alan.


"Oke, aku ngerti, kok ..." ucap Alan seraya memandang pacarnya.


Hari Rabu pun tiba, Sheilla dan Farel akhirnya janjian di taman dekat rumah Sheilla. Di sana Farel sudah menunggu kedatangan Sheilla sambil memegang botol air mineral. Sebenarnya ia juga agak gugup.


"Rel? Udah nunggu lama?" Tiba-tiba di hadapannya muncul sosok Sheilla yang membawa sekantong cemilan.


"Sheilla?" Farel langsung berdiri.


"Udah, duduk aja lagi, santai ..." sahut Sheilla yang langsung duduk di samping Farel. Farel pun juga kembali duduk sambil menduduk.


Farel kini meremas kedua lututnya sembari melirik Sheilla yang sibuk mengeluarkan makanan dari kantong plastik yang ia bawa. Farel pun memilih untuk meminum air mineralnya.


"Kamu ... Gak main sama Thalia—"


"Uhuk!" Farel langsung tersedak dengan air yang diminumnya. Beruntung, air itu tak keluar dari hidung.


"Ma-main sama Thalia? Yang bener aja?" timpal Farel.


Sheilla malah senyum-senyum sendiri.


"Ya, siapa tahu, Thalia ajak kamu main ..." racau Sheilla sambil membuka bungkus biskuitnya.


"Ma-mana mungkin? Lagian, dia minggu ini jalan-jalan ke Bali sama temen-temennya. Gak mungkin ada di sini!" sosor Farel tanpa berani melihat Sheilla.


"Ooh, dia bilang sama kamu ke Bali minggu ini?" selidik Sheilla.


Sontak Farel melotot. Ia tertohok.


"U-udah! Ngapain kamu ngomongin Thalia, sih?" kesal Farel.


"Loh, emangnya kamu ajak aku ngomong bukan buat ngomongin Thalia?" tanya Sheilla.


Farel melipat mulutnya. Apakah Sheilla ini cenayang?


"Y-ya ... Emang berkaitan, sih ..." tutur Farel.


"Kenapa Thalia? Nembak kamu?" Ucapan Sheilla sungguh terdengar seperti sambaran petir bagi Farel.


"Lu gila, ya? Mana mungkin Thalia nurunin levelnya dari Kak Alan ke gue?" cetus Farel.


Sheilla hanya mengangguk-angguk.


"Terus, apa yang mau kamu omongin?"


Farel menarik napas panjang sekali lagi.


"Gue ... Gue baru buat janji baru lagi sama Thalia ..."


"Janji baru?" ulang Sheilla yangbkangsung dapat anggukan.


"Janji apa?" cecar Sheilla.


Farel menarik napas panjang lagi.


"Gue janji bakal sama dia selamanya—"


"Serius?" sosor Sheilla yang tercengang.


"Makanya—"


"Kamu mau nikahin Thalia di masa depan?"


"What?" kaget Farel dengan ucapan yang keluar dari mulut Sheilla.


"Gue gak segila itu, ya!" sontak Farel.


"Ooh ..." Sheilla hanya mengangguk-angguk sedangkan Farel malah mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Terus?" tanya Sheilla lagi yang menarik atensi Farel. Cowok Berkacamata itu hanya menghela napas.


"Gue mau bisa berdiri dengan kaki gue sendiri ..." ucap Farel yang malah menambah kerutan di dahi Sheilla.


"Maksudnya?"


"Gue mau lepas dari Thalia suatu saat nanti, tapi ..." Farel kini mengangkat kepalany seraya menatap lurus ke arah Sheilla.


"Gue butuh bantuan lu dan ... Kak Alan."


Seketika ucapan Farel membuat kedua sudut bibir Sheilla naik.