Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Bukan Perasaan yang Salah


Farel menjambak rambutnya frustasi. Ia telah mengungkapkan isi hati yang hampir satu semester ini ia pendam. "Merindukan Thalia" adalah sebuah perasaan yang tidak boleh ia rasakan. Bukankah aneh jika ia merindukan perundung nomor satunya itu?


"Kamu gak aneh apalagi gila, Farel ...." ucap Sheilla yang membuyarkan lamunannya. Sheilla menatap ke arah jalan dengan mata mengerjap. Ia berusaha menahan lidahnya yang gatal untuk mengungkapkan sebuah fakta.


'Duh, kenapa aku harus jadi orang yang tahu segalanya tentang mereka?' teriak Sheilla dalam hati sambil melirik Farel. Jantungnya kini berdebar kencang, padahal kisah ini bukan tentang dirinya.


'Kalau saja Thalia yang mendengar ini, dia pasti sudah kesenangan,' batin Sheilla lagi.


"Maksud lu apa, Shei?" seru Farel yang membuyarkan lamunan Sheilla. Gadis itu menoleh ke arah Farel yang wajahnya sangat kusut.


"Uhm, aku cuman ngerasa kamu gak aneh," jawab Sheilla sambil memaksa senyumnya.


Farel pun menghela napas panjang.


"Ternyata sampai akhirnya lu nganggap gue aneh," kecewa Farel.


"Eh? Enggak, Farel! Beneran. Kamu gak aneh. Lagian, apa salahnya kangen sama Thalia?"


Farel melirik ke arah Sheilla dengab wajah murungnya.


"Lu kayak gak tahu aja. Thalia itu selalu bully gue dari kelas tujuh. Lu sendiri yang ngelaporin ke Kak Alan tentang perlakuan dia ke gue, 'kan?" tukas Farel.


Sheilla tertegun. Ia sangat tahu hal itu, tetapi pandangannya tentang Thalia akhir-akhir ini sudah berubah semenjak ia tahu perasaan Thalia pada Farel.


"Uhm, y-yah ... Tapi, coba kamu pikir!" sahut Sheilla yang menarik atensi Farel.


"Pikir apa?" timpal Farel.


Sheilla bergumam.


"Yah, coba aku tanya ke kamu, apakah selama kelas delapan ini, di saat kamu sekelas sama Thalia, tanpa temen-temen Thalia, tanpa aku juga sekelas sama kamu, gimana perlakuan Thalia sama kamu? Apa dia masih bully kamu?"


Farel terdiam seraya memandang Sheilla. Jika dipikir gadis dominan itu sudah tidak lagi merundungnya, justru sebaliknya, ia melindungi Farel—membuat Farel bisa bernapas lebih lega dari biasanya menjalani kehidupan sekolah. Tidak sampai di situ, Thalia bahkan memperlakukan Farel layaknya tamu tiap Farel datang ke rumahnya. Tanpa sadar jantungnya malah berdetak lebih cepat mengingat semua kenangan bersama Thalia selama satu tahun terkahir.


"Gimana? Masih aneh kalau kamu kangen Thalia?" tegur Sheilla yang membuyarkan lamunan Farel.


Cowok Berkacamata itu memandang Sheilla dengan tatapan memelas.


"Tapi, Shei ... Gimana caranya gue bilang ke Thalia kalau gue kangen dia?" bingung Farel. Cowok itu mengacak-acak rambutnya frsutasi.


"Kalau di sekolah, gue sama sekali gak bisa deketin Thalia. Dia bener-beber dijagain temen-temennya! Lagian, kalau bisa ngomong langsung, gue juga pasti malah bengong di depan dia! Argh! Dasar rasa kangen sialan!" rutuk Farel.


Sheilla mengernyitkan dahi sambil melirik ponsel yang sejak tadi Farel genggam.


"Ya, kamu bisa kirim pesan, 'kan Farel?" celetuk Sheilla yang menarik atensi Farel.


"Ki-kirim pesan?" ulang Farel yang kini terlihat semakin murung.


Sheilla mengangguk.


"Ya, itu yang sebenarnya mau kamu lakuin, 'kan? Kalau enggak, buat apa dari tadi kamu pegang hape terus?"


Farel tertegun sambil mengeratkan genggaman di ponselnya.


"Ta-tapi ... Selama ini, gue gak pernah kirim pesan duluan ke Thalia ...." ungkap Farel.


"Ya, coba kirim aja sekarang," enteng Sheilla yang kangsung mendapat helaan napas kasar dari Farel.


"Apa gue berhak, Shei? Terus, apa yang harus gue tulis? Dia bakal mikir apa kalau gue bilang kalau gue kangen dia?" lesu Farel yang sekarang bertopang dagu.


'Dia bakalan loncat-loncat bahagia sambil bilang, "Farel kangen aku!" Ya, ampun, aku bahkan bisa ngebayangin ekspresi bahagianya,' batin Sheila gemas.


"Udah, gak usah dipikirin. Paling pesan kamu dibalas dengan ujaran kebencian. Kamu tahu lah, gayanya Thalia. Tahan aja sedikit. Yang penting, dia tahu kamu kangen sama dia, kamu lega, terus bisa fokus latihan," ujar Sheilla seolah segalanya enteng. Namun Farel hanya memandangnya.


Farel kembali menatap jalan sambil menghela napas.


"Bener juga, sih kata lu ...." tutur Farel. Jika Thalia menudingnya yang tidak-tidak, selama ini juga ia terima saja. Mau menjelaskan kebenarannya, juga Thalia tidak mau mendengarkan. Perlahan sebuah senyum terlukis di wajah Farel.


"Oke ... Gue akan coba!" ujar Farel langsung membuka kontam Thalia dan menulis sebuah pesan di sana.


Pandangan Farel fokus pada layar ponselnya, sedangkan jarinya sibuk mengetik.


"Ya, iyalah! Sumpah gue kangen! Gue mau lihat dia! Gue mau denger suaranya! Gue mau dia ada di depan gue dan ...." Farel melipat bibirnya sambil melirik ke arah Sheilla dengan wajah yang memerah.


"Lu ... Awas ya, bilang-bilang! Ini rahasia!" tekan Farel yang kembali sibuk dengan layar ponselnya. Sontak Sheilla membulatkan matanya.


"Ya, ya ... Rahasiamu aman ...." ucap Sheilla sambil mengangguk-angguk.


'Ya, ampun, gak Thalia, gak Farel, kenapa aku harus tahu rahasia mereka, sih?' gemas Sheilla dalam hati.


"Uhm, Farel, aku ke dalem dulu, ya. Kak Alan pasti udah nunggu," izin Sheilla hendal berdiri, tetapi Farel langsung meraih tangannya.


"Tunggu dulu, Shei!" cegah Farel. "Coba dengerin pesan gue dulu!" pinta Farel.


"Uhm, beneran gak apa-apa?"


"Hai, Thalia, gimana kabar kamu? Kalau kabarku baik. Udah lama aku gak dateng ke rumah kamu. Kalau kamu butuh bantuan apapun, aku siap ke rumah kamu."


Dahi Sheilla dipenuhi dengan kerutan.


"Kamu kirim pesan apaan, sih? Kamu lagi menawarkan jasa?" sewot Sheilla.


Farel mengerjapkan matanya sambil bergumam.


"Uhm, biasanya, begini komunikasi gue sama Thalia. Aneh, ya?"


"Pakai nanya lagi! Gimana dia mau tahu kamu kangen sama dia atau enggak!" sewot Sheilla lagi yang malah kembali duduk di samping Farel kemudian langsung merebut ponsel Cowok Berkacamata itu.


"Shei! Hape gue—"


"Udah, biar aku yang tulis!" geram Sheilla.


Farel hanya bisa memonyongkan bibirnya.


"Padahal, kalau gue bisa ke rumahnya, gue, 'kan bisa ungkapin kalau gue kangen ...." gerutu Farel.


"Kalau kamu emang beneran bisa! Gimana kalau kamu cuman diem-diem aja pas di hadapan dia?" omel Sheilla. Farel semakin memonyongkan bibirnya. Bagaimana Sheilla bisa tahu kebiasannya padahal tidak pernah hadir saat Farel berhadapan dengan Thalia?


"Nah! Begini!" seru Sheilla yang baru selesai mengetikkan pesan untuk Thalia di ponsel Farel.


"Aku langsung send aja, ya!" ujar Sheilla tanpa menunggu izin dari Farel.


"Eh? Lu kirim pesan apa, Shei—"


"Udah terkirim!" ujar Sheilla sambil tersenyum lebar kemudian mengembalikan ponsel Farel ke empunya.


"Pasti kamu akan sangat berterima kasih sama aku," ujar Sheilla yang langsung berdiri.


"Kalau gitu, aku duluan, ya. Kak Alan bisa ngamuk kalau aku telat. Bye!" Gadis Berkulit Sawo Matang itu pergi begitu saja meninggalkan Farel sendirian di halte bus. Farel pun buru-buru membuka pesan yang telah dikirim Sheilla. Sontak kedua matanya membelalak.


...****************...


Ting!


Sebuah pesan baru saja masuk ke ponsel Thalia.


"Pesan dari siapa ini?" gumam Marina yang kini sedang meminjam ponsel Thalia. Cewek berwajah oriental itu pun membuka notifikasi ponsel Thalia. Namun dahinya langsung mengernyit.


"Farel?" kagetnya melihat siapa pengirim pesan tersebut, kemudian melirik ke kanan dan ke kiri. Ia menemukan Thalia yang sekarang sedang asyik ngobrol dengan Vannessa dan Aldo.


"Si Culun ini kirim pesan apa?" gumam Marina sambil membuka pesan tersebut. Sontak matanya terbelalak.


✉️Aku kangen kamu. Apa aku boleh ke rumah kamu Minggu depan?


"Najis!" rutuk Marina.


"Marina!" Tiba-tiba Thalia ada di belakangnya.