Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3 : Kedatangan Alan


Tepat setelah Farel menutup pintu, dia segera mengangkat telepon dari Alan.


πŸ“ž"Hallo, Kakβ€”"


πŸ“ž"Farel!" seru Alan di seberang.


πŸ“ž"Akhirnya lu angkat telepon gue! Sumpah gue khawatir banget sama lu! Lu ngilang tiba-tiba, gue kira lu kenapa-napa!" Terdengar suara yang bergetar dari sana. Mungkinkah kakak kelas yang jadi idolanya menangis? Mana mungkin, pasti cowok ini hanya mendaramatisasi suaranya.


πŸ“ž"Gue baik-baik aja, kok, Kak. Sorry," ujar Farel.


πŸ“ž"Baik-baik apanya? Lu jangan bohong sama gue, Rel!"


Farel langsung tertohok, ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan memandang layar ponselnya. Apakah Alan bisa memantaunya dari ponsel? Seniornya yang satu ini, 'kan agak gila dan cukup berkuasa. Namun Farel menggeleng, pasti ia terlalu banyak nonton film tentang mata-mata. Dia pun kembali menempelkan ponselnya ke telinga.


πŸ“ž"Bohong apa, sih, Kak? Gue beneran baik-baik aja." Sebenarnya Farel tidak mau terlihat lemah, terutama di hadapan seniornya ini.


πŸ“ž"Kalo lu baik-baik aja, lu pasti angkat telepon gue atau telepon Shei! Ini malah diabaikan!" tuntut Alan.


Farel hanya bergumam, sebenarnya ia tidak bisa menjelaskan tentang hal itu.


πŸ“ž"Gue tahu, Bokap lu meninggal, 'kan?"


Sontak Farel tersentak. Bagaimana Alan tahu? Apakah ia benar-benar memasang penyadap di ponselnya?


πŸ“ž"Gue minta orang bokap gue buat cari tahu," beber Alan lagi yang langsung menghapus segala spekulasi Farel.


πŸ“ž"Oh ... Uhmβ€”"


πŸ“ž"Harusnya, kalau lu kenapa-napa, lu bilang sama gue! Jangan sungkan! Gue udah anggap lu adek, gue Rel!"


Farel tertegun sekali lagi. Ia baru pertama kali mendengar hal ini dari mulut Alan. Selama ini, ia tidak pernah tahu niat Alan yang terus saja membantunya tanpa pamrih, sehingga membuatnya agak berhati-hati pada seniornya itu.


πŸ“ž"Thanks," ucap Farel.


πŸ“ž"Nah, Karena itu, sekarang gue lagi otw rumah lu, Rel! Lu ada di rumah, 'kan?"


Sontak mata Farel membulat.


πŸ“ž"Otw rumah gue? Serius? Masih jauh atau udah deket?" tanya Farel agak panik.


πŸ“ž"Udah deket, sih. Bentar lagi gue nyampe. Lu ada di rumah, 'kan?"


πŸ“ž"Iya, adaβ€”" Farel langsung menepuk jidatnya, kenapa dia malah bilang ada di rumah?


πŸ“ž"Oke, bentar lagi gue nyampe. Gue mau bicara sama lu. Bye!" Seketika sambungan telepon langsung ditutup. Farel hanya bisa memandang layar ponselnya yang mati.


"Duh, pasti aneh kalau gue telepon balik dan bilang, gak ada di rumah ..." Farel mengintip di jendela.


"Kira-kira, Thalia udah pulang, belom, yaβ€”Eh? Kok dia masih di sini?" panik Farel yang melihat Thalia berdiri memunggungi pintu rumahnya.


"Duh, gawat!" Farel langsung membuka pintu dan meraih tangan Thalia.


"Thalia! Sebaiknya, kamu ikut aku!" ajak Farel yang menarik tangan gadis itu masuk ke dalam rumah.


"Fa-farel? Bukannya tadi kamu suruh aku pulang?" heran Thalia yang diajak masuk lebih dalam ke rumah Farel.


"Uhm, nanti aja, kamu ...." Farel berhenti di antara dua pintu. Farel menoleh ke arah Thalia yang menampakkan wajah bingung.


"Kita ke kamar aku!" ujar Farel langsung membuka pintu di sebelah kirinya. Ia menarik Thalia yang masih digandengnya.


"Kamu di sini aja. Jangan ke mana-mana," ujar Farel lagi.


Dahi Thalia mengernyit.


"Tapi, kenapa Farel? Bukannya kamu gak mau aku ketemu keluarga kamu itu?" tanya Thalia.


"Uhm, i-iya. Soalnya mereka ngerepotin, tapi, mending kamu sembunyi aja di sini. Mereka nanti aku suruh pulang dulu ...."


"Suruh pulang? Bukannya kasihan? Mereka udah jauh-jauh datang ke sini, Farel," timpal Thalia.


Farel hanya mengernyitkan dahi. Kenapa juga Thalia malah peduli pada kekuarga fiktif yang ia karang ini.


"Uhm, rumah mereka deket, kok. Jadi gak apa-apaβ€”" Telepon Farel kembali berdering.


"Thalia, aku tinggal dulu, mereka udah datang," bohong Farel. Thalia hanya mengangguk.


"Kamu boleh ngapain aja di sini. Gambar, nulis, baca, apapun, tidur juga boleh kalau capek. Kasurnya udah aku bersihin, kok," ujar Farel sambil berjalan mendekati pintu. Thalia hanya mengangguk.


"Oke, kalau gitu, aku pergi dulu, dah." Farel langsung keluar dan menutup pintu kamarnya. Ia bersandar di pintu tersebut sambil mengangkat telepon.


πŸ“ž"Iya, Kak? Udah di luar? Oke, gue ke sana," ucap Farel sambil berjalan menuju pintu masuknya.


...****************...


"Kak Alanβ€”" Baru saja pintu dibuka, Alan langsung memeluk Farel dengan erat.


"Sorry, Rel ... Gue bener-bener merasa bersalah baru tahu sekarang kalau Bokap lu meninggal. Gue turut berduka cita, Rel," ucap Alan sambil melepas pelukannya.


Farel hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Gak apa-apa, Kak," ujarnya.


Alan meninju pundak Farel pelan.


"Apanya yang gak apa-apa? Lu bahkan gak datang latihan fisik, gak masuk sekolah dan mata lu masih bengkak, Jir! Lu pikir, gue gak tau arti Bokap lu buat lu?" sahut Alan.


"Uhm sorry soal itu, gue janji, besok gue masuk sekolah lagi, gue gak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Toh, mau sedih sampai kapan juga gak akan bikin Bokap gue hidup lagi. Gue udah ikhlas, kok," tutur Farel.


Alan mengangguk sambil menepuk pundak Farel.


"Dasar! Justru lu puas-puasin luapin rasa sedih lu, tapi abis itu lu bangkit. Lu anak kuat, Rel!" Tatapan Alan kini kurus ke arahnya, cowok berusia 16 tahun itu bahkan memegang kedua pundak Farel.


"Bangkit lagi jadi versi terbaik lu, Rel. Jangan nyerah!" Alan menepuk dadanya.


"Kalau lu butuh apa-apa, bilang gue. Gue akan support lu! Jangan kecewain Bokap lu di sana! Ini pertanda kalau lu udah dipercayain sama Bokap lu, sama Tuhan buat mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Gue yakin, Bokap lu pasti bangga sama lu," pungkas Alan panjang lebar.


Farel mengangguk.


"Thanks, Kak Alan. Ucapan lu bikin gue lebih baik," sahutnya yang kini tersenyum.


"Kalau lu emang lebih baik, buktiin. Gue yakin dari awal, kalau lu punya potensi besar, Rel," tutur Alan lagi yang membuat Farel tertegun. Dari awal? Apa sebenarnya Alan juga sering memperhatikannya?


"Oh, iya, ini ada sedikit bantuan juga dari gue," Alan langsung menarik tangan Farel dan menyerahkan sebuah amplop yang agak tebal. Farel kaget, apa isi amplop ini? Uang?


"Kak, gak usah," ucap Farel hendak memgembalikannya.


"Ambil aja. Itu belasungkawa dari gue dan keluarga gue, juga Shei," beber Alan lagi.


"Tapiβ€”"


"Terima! Gue gak nerima penolakan!" tekan Alan lagi. "Ambil, buat lu sama Nyokap lu," tekan Alan lagi. Farel pun tak bisa berkutik, tetapi ia tidak enak. Pasalnya Alan sudah sering membantunya.


"Ya udah, kalau gitu, gueβ€”" Tiba-tiba ponsel Alan berdering.


"Uhm, sorry, Rel, gue gak bisa ikut melayat. Sebenarnya, gue diminta Bokap gue ikut dia ke Sanghai hari ini, tapi gue maksain datang ke rumah lu dulu," beber Alan. Farel tertegun lagi, itu berarti ia tidak harus menjamu Alan?


"Uhm, gak apa-apa, Kak. Lu juga punya urusan pribadi sendiri. Gue udah baik-baik aja, kok," ujar Farel sambil melirik ke samping kanan dan kiri.


"Oke, kalau gitu, gue pamit, ya. Gue janji, nanti di sana gue ikut doain Bokap lu. Bye!" ujar Alan sambil menepuk pundak Farel kemudian pergi begitu saja dari hadapan Farel.


Sepeninggalan Alan, Farel malah berdiri termenung. Alan bahkan tidak masuk ke dalam rumahnya. Anak orang kaya memang beda. Meskipun begitu, Farel bisa bernapas lega. Kini ia harus mengurus satu anak orang kaya lagi yang ia sembunyikan di kamarnya.


Farel membuka pintu kamarnya.


"Thalia, sorry, sodara gue katanya langsung pulang dan cuman ngasih amplop karena gak bisa ikut melayat." Bohong Farel yang tidak sepenuhnya bohong, toh Alan juga menganggapnya saudara, kenapa ia tidak begitu?


Thalia hanya mengangguk sambil tersenyum lembut, kemudian atensinya kembali pada buku gambar yang sedang ia lihat-lihat isinya.


Farel hanya garuk-garuk kepala sambil memalingkan wajahnya. Kenapa suasananya jadi canggung?


"Uhm, kalau gitu, mungkin sekarang kamu mau pulβ€”"


"Farel!" sahut Thalia yang menarik atensi Farel.


"Y-ya? Kenapa? Kamu perlu sesuatu?" tanya Farel, tetapi Thalia menggeleng. Gadis itu menunjukkan salah satu gambar di buku gambar yang sedang ia pegang.


"Ini ...." Thalia menunjuk gambar seorang gadis versi kartun di buku itu.


"Siapa gadis yang kamu gambar ini? Kenapa ini gak asing?"


Mata Farel mengerjap melihat gambar yang Thalia tunjuk itu.


'Gawat! Kenapa gue izinin dia lihat-lihat gambar?' panik Farel dalam hati.