
Untungnya Farel sudah pindah ke brankar lain tepat saat guru UKS datang. Guru UKS itu menaik-turunkan kacamata plusnya, berusaha mengenali dua siswa yang kini terbaring di UKS.
"Kalian ... Kalian tidak sedang kabur ke UKS untuk bolos 'kan?" tukas Guru UKS yang sudah hapal dalih murid-murid di sekolah elite ini.
Farel malah reflek turun dari brankar.
"E-enggak, Bu! Saya habis mengobati luka saya!" seru Farel sambil menunjuk pipinya. Arah pandang guru UKS itu beralih pada Thalia yang masih terbaring.
"Kalau kamu—"
"Thalia sakit, Bu!" ucap Farel buru-buru. Thalia pun menatap Farel, tetapi Farel malah diam-diam mengedipkan matanya.
"Sakit?" tanya Guru UKS yang berjalan mendekati Thalia.
"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" Thalia hanya bisa menghela napas, kalau begini ceritanya, dia harus akting maksimal.
"Ke-kepala saya pusing, Bu ..." bohong Thalia dengan suara yang dibuat-buat lemas.
"Oh, sudah makan?" tanya guru UKS lagi.
"Belum, Bu," jawab Thalia lagi. Kali ini dia tidak berbohong, sekalipun sempat ke Kantin, tetapi dia belum sempat menyentuh makanan apapun.
"Kamu!" Tiba-tiba guru UKS menoleh ke arah Farel.
"I-iya, Bu!" sahut Farel.
"Bikinin teh buat temanmu ini. Ibu akan ambil stock obat di ruang koperasi. Jaga temanmu ini baik-baik," suruh Guru UKS.
"Ba-baik, Bu!" Farel segera pergi ke dapur kecil di sisi ruang UKS sementara Guru UKS keluar untuk mengambil obat.
Farel segera membawakan teh manis hangat yang sudah dia buat kepada Thalia. Thalia menerima teh itu sambil menatap Farel.
"Padahal gak usah dibikinin juga, lagian aku gak sakit," ujar Thalia sambil menyeruput teh hangat itu.
"Teh hangat itu bisa bikin tenang, setidaknya kamu gak sedih lagi kalau minum teh hangat," ujar Farel.
Thalia malah tertawa.
"Apaan, sih? Aku baru dengar kakau teh bisa bikin tenang. Dasar kamu aneh!" kekeh Thalia. Farel hanya tersenyum sambil memandang Thalia yang kini tidak mengeluarkan air mata lagi. Sepertinya ia berhasil menghibur gadis ini.
"Kamu ngapain berdiri di situ?" tegur Thalia yang membuyarkan lamunan Farel.
"A-aku? Aku ... Uhm, siapa tahu kamu masih butuh aku," dalih Farel, sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu kenapa malah tidak langsung pamit.
"Ya udah, sana balik ke kelas. Nanti Bu Guru curiga," suruh Thalia.
"Ka-kamu yakin?" tanya Farel yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala Thalia.
"Ka-kalau begitu, aku balik ke kelas dulu," pamit Farel, sekali lagi Thalia mengangguk untuk menimpalinya. Farel pun pergi meninggalkan Thalia sendirian di UKS.
Sepeninggalan Farel, Thalia menatap jauh ke balik tirai.
"Andai saja Farel pacar aku—" Sontak mata Thalia melotot.
"A-apa yang aku pikirin, sih?" paniknya langsung geleng-geleng kepala.
"Thalia, kamu pasti udah gila!" rutuknya pada diri sendiri.
...****************...
Sejak hari itu, hari berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Farel masih berusaha bertahan untuk menjadi orang yang menuruti segala keinginan Thalia. Toh, akhir-akhir ini permintaan gadis itu masih bisa diterima akal. Perbedaannya, Thalia sekarang justru berubah jadi gadis yang agak cuek terhadap "Cowok". Gadis itu justru mengalihkan perhatiannya untuk mempercantik diri.
"Thalia! Ih, dengerin gue, dong! Ada kabar baru, nih!" seru Renata antusias, tetapi Thalia hanya menatapnya datar.
"Kabar apa?" tanya Thalia.
"Kak Alan!" jerit Renata yang membuat atensi seisi kelas mengarah padanya, termasuk Farel dan Sheilla yang barusan asyik membicarakan anime martial arts dengan tema ninja favorit mereka. Farel pun melirik ke arah Sheilla yang belum lama ini sembuh dari penyakitnya. Sheilla hanya menghela napas dan menarik kedua sudut bibirnya.
"Kak Alan kenapa?" tanya Thalia yang sama sekali tidak tertarik, gadis itu malah kembali mengambil kuas kuteknya dan kembali mewarnai kukunya.
"Kak Alan bilang, dia mau lanjutin ke SMA yang beda yayasan sama SMP kita! Dia bilang mau ganti suasana! Thalia, itu berarti apa lu gak akan ngelanjutin SMA di Yayasan bokap lu?" Seketika Renata mendapat tatapan sinis dari Thalia.
"Maksud kamu, aku harus satu SMA sama Kak Alan, gitu?" tekan Thalia memperjelas.
Renata mengangguk dengan semangat.
"Iya, Kamu jangan kasih kendor ke Kak Alan, sekalipun dia belum nembak lu, gue yakin, pasti dia bakalan nembak lu—"
"Please, stop Ren!" potong Thalia ketus hingga membuat mata seisi kelas tertuju pada mereka. Marina yang dari tadi duduk di samping Thalia juga mengernyitkan dahinya.
"A-apa? Stop? Thalia ... Bukannya lu—"
"Kamu gak usah kasih kabar apapun tentang Kak Alan, gak usah deketin dia karena aku lagi sekarang!" tegas Thalia yang membuat Renata melotot. Dari kejauhan, Sheilla juga reflek memutar tubuhnya mengahdap bangku Thalia. Apa sungguh Thalia tidak salah bicara?
"Lu kenapa, Thal?" tanya Marina sambil menarik bahu Thalia. Namun Thalia hanya meliriknya datar.
"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Thalia santai.
"Lu gak tertarik lagi sama Kak Alan? Lu ... Lu kenapa, Thalia?" Marina langsung meletakkan punggung tangannya di kening Thalia, tetapi Thalia malah menyingkirkannya.
"Kamu lebay, deh Mar!" tukas Thalia. "Lagian, emangnya kenapa kalau aku gak tertarik sama Kak Alan lagi?" cuek Thalia kemudian meniup kuku-kukunya yang baru saja selesai ia cat.
"Thalia, lu yakin? Selama ini, lu 'kan mau jadi pacarnya Kak Alan," sambar Vannessa. Thalia malah melirik ke arah sahabat yang duduk di depannya itu.
"Itu dulu! Sekarang enggak! Aku gak berminat sama sekali, tuh sama Kak Alan—"
"WHAT?" jerit ketiga sahabatnya yang langsung memelototi Thalia, sementara Sheilla dari kejauhan juga ikut membulatkan matanya.
"Rel ... Aku gak salah dengar 'kan?" sahut Sheilla sambil memutar tubuhnya menghadap Farel. Ternyata Cowok Berkacamata itu juga sedang mengerjapkan matanya kemudian melirik ke arah Sheilla sambil menggeleng.
"Kayaknya Thalia serius, deh," ujar Farel. Sheilla memicingkan matanya.
"Jujur sama aku, apa ini karena kamu yang mempengaruhinya?" tukas Sheilla. Bola mata Farel malah bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Gu-gue? Kenapa bisa gue?" Farel malah balik tanya.
"Thalia! Jawab, kenapa lu gak berminat lagi buat jadi pacar Kak Alan? Lu kenapa? Lu kesambet apa?" cecar Renata sambil mengguncangkan pundak Thalia. Namun Thalia malah menyingkirkan kedua tanga Renata dari bahunya.
"Gimana kalau aku yang balik tanya, kenapa aku harus mempertaruhkan perasaan aku yang tulus untuk Kak Alan yang gak punya hati yang tulus sama sekali?" tekan Thalia yang membuat seisi kelas menjadi hening.
Sheilla di tempat duduknya langsung menatap lurus ke arah Farel.
"Farel ..." geram Sheilla yang tak tahan lagi. Farel pun mendelik kesal.
"Oke! kita bicarain ini di luar!" Farel langsung menarik tangan Sheilla dan membawanya keluar kelas dan hal itu tak luput dari perhatian Thalia.
'Farel sama Sheilla mau kemana?' penasaran Thalia dalam hati yang kedua pipinya tiba-tiba ditepuk.
"Thalia, sadarlah!" seru Renata.