
Farel langsung mandi bahkan mencuci rambutnya. Ia masih tidak bisa memikirkan sebuah nama yang datang verkunjung ke rumahnya sebagai teman. Seingatnya, semua teman sekelsanya itu kaum borjuis, yang tidak mungkin menghabiskan waktu liburan di rumah apalagi di rumah teman. Bahkan seorang pendiam dan penyendiri seperti Sheilla memilih liburan bersama pacarnya. Sekalipun dia tidak punya pacar, pasti dia akan pergi liburan bersama keluarganya.
Farel pun terpaksa pergi ke ruang tamu dengan keadaan rambut yang masih basah. Ia bahkan mencuci rambutnya dua kali dan menyabuni tubuhnya tiga kali karena saat sedang mandi tiba-tiba sang Mama meneriakinya agar bau tak sedap di rubuhnya harus hilang. Memangnya cewek seperti apa, sih yang datang, sampai Farel harus berpenampilan sebaik mungkin?
Langkah Farel pun terhenti ketika mendapati seorang gadis berkulit putih, berambut lurus nan halus yang mengenakan dress selutut soft pink sedang duduk seraya memandang keluar jendela. Matanya mengerjap, bahkan gadis ini mengenakan bando dengan pita di sisi sampingnya yang warnanya selaras dengan dressnya.
"Ca-cantik ..." ujar Farel yang mampu menarik atensi gadis tersebut. Gadis itu pun langsung menunjukkan senyum cerahnya.
"Farel!" sahutnya girang yang malah membuat tubuh Farel membeku. Kenapa dia malah begini?
Gadis itu pun langsung berdiri dan menghampiri Farel yang masih bergeming di tempatnya berdiri.
"Farel ..." Tiba-tiba gadis itu memeluk tubuhnya yang berdiri kaku. Farel memejamkan matanya erat-erat. Ada apa lagi ini? Kenapa dia malah dipeluk?
"Farel ..." Sekali lagi gadis itu memanggil bamanya, tetapi kali ini dengan suara yang bergetar. Farel pun langsung bangun dari segala reaksi anehnya tadi. Reflek, tangannya itu langsung menyentuh pipi gadis yang kini memeluknya.
"Tha-thalia? Kamu ..." Kata-kata Farel terhenti ketika mendapati wajah Thalia—Gadis yang kini memeluknya dibasahi oleh air mata.
"Thalia? Kamu kenapa?" panik Farel. Namun Thalia malah menyembunyikan wajahnya di dada Farel.
"Biarkan aku sebentar seperti ini," lirih Thalia. Farel pun hanya bisa menurut tanpa berkata apa-apa. Hatinya berdesir tiap mendengar isakan tangis Thalia yang entah penyebabnya apa. Rasanya napasnya juga sesak. Namun saat ini, ia tidak diizinkan bertanya.
Alhasil Farel hanya bisa mengelus punggung gadis ini. Semoga saja, hal ini bisa membuat tangisannya mereda.
...****************...
Alhasil, setelah tangisan Thalia mereda, Farel pergi ke dapur untuk mengambilkan segelas air. Sementara Thalia menunggu. Padahal saat menunggu kehadiran Farel tadi, ia sudah memandang ruang tamu kecil ini sampai ia hapal setiap inchi letak barang-barang di sini. Namun, ada sebuah bingkai foto yang disandarkan di buffet yang menarik perhatiannya.
Gadis itu pun beranjak dari tempat duduk dan mengambil bingkai foto itu. Di sana ada tiga seorang wanita yang wajahnya mirip.seperti wanita yang menyambutnya, seorang Pria dewasa yang parasnya mirip dengan Farel dan seorang anak kecil berdasi kupu-kupu dengan mata besarnya yang sedang tersenyum.
"Ini pasti Farel," gumam Thalia sambil tersenyum. Paras cowok berkacamata itu ketika masih kecil begitu menggemaskan.
"Thalia ..." Tiba-tiba lamunannya dibuyarkan dengan kehadiran Farel. Thalia reflek meletakkan kembali bingkai foto itu.
Sementara Farel berjalan ke meja sambil meletakkan gelas berisi air di tangannya.
"Ah, itu foto waktu gue masih kecil ..." Farel berjalan menghampiri Thalia yang kini menghadapkan tubuhnya ke arah Farel. Sedangkan Farel mengambil bingkai foto itu.
"Ini foto terakhir gue sekeluarga, sebelum bokap gue bangkrut dan akhirnya kerja di Kalimantan," cerita Farel lagi sambil memasang senyum getirnya.
"Ka-kalimantan?" bingung Thalia. Farel pun meletakkan foto itu di tempatnya kemdian cowok berkacamata itu memasang senyum lebarnya.
"Diminum dulu airnya, gue—" Seketika Farel sadar bahwa sejak tadi dia menggunakan kata "Gue" untuk menyebut dirinya sendiri.
"Uhm, ma-maaf, Thalia, maksudnya aku ... Aku mau beli jus dulu, Ka-kamu gak apa-apa 'kan aku tinggal sebentar?" panik Farel tanpa berani melihat wajah Thalia.
Cowok Berkacamata itu pun melirik ke arah Thalia yang malah ketawa sendiri. Dahinya mengernyit, apa yang dia tertawakan? Namun, bukan saatnya mencari tahu tentang itu.
"Uhm, Thalia, aku pergi dulu, ya. Kamu duduk di sini sebentar. Mamaku lagi mandi, nanti mungkin mama bisa temenin kamu," ujar Farel sambil garuk-garuk belakang kepalanya.
"Enggak!" kata Thalia yang langsung membuat Farel menoleh padanya.
"Hah? E-enggak?" heran Farel.
Tangan gadis cantik itu langsung menggandeng tangan Farel.
"Kamu gak boleh ninggalin aku! Kamu pikir aku udah nunggu kamu berapa lama? Kenapa kamu sibuk banget, sih di sini? Harusnya kalau di rumah itu santai-santai!" omel Thalia.
Farel sama sekali tidak bisa berkata-kata. Ia lagi-lagi hanya bisa garuk-garuk kepala sambil memandang langit-langit ruangan.
"Uhm, ta-tapi, di rumahku, teh sama sirup udah habis. A-aku gak mungkin 'kan nyediain kamu air putih doang ..." ucap Farel, tetapi Thalia malah memeluk lengannya.
"Aku ikut!"
Sontak Farel melotot.
"I-ikut? Jangan Thalia! Kamu mending tunggu di rumah. Di luar panas!" Farel langsung memalingkan wajahnya.
"Ka-kamu udah dandan cantik gitu ... Sa-sayang kalau nanti kamu kepanasan ..." tambah Farel dengan suara yang semakin lama semakin mengecil.
Thalia tertegun, seketika jantungnya berdebar-debar.
'Fa-farel bilang aku cantik?' batin Thalia yang malah senyum-senyum sendiri. Gadis itu pun melepas pelukannya di lengan Farel.
"O-oke, kalau gitu, kamu jangan pergi lama-lama, ya," pesan Thalia yang hanya mendapat senyuman dan anggukan kepala dari Farel.
Gadis itu pun langsung duduk manis di sofa berbahan rotan di ruang tamu Farel. Ia langsung mengambil cermin kecil di tasnya dan memandang wajahnya sendiri.
"Ya ampun, ternyata aku emang hari ini cantik banget!" gemasnya pada diri sendiri.
"Apa aku dandan kayak gini setiap hari? Farel pasti lama-lama bisa suka sama aku— Eh?" Thalia mengerjapkan matanya seraya menyentuh bibirnya sendiri.
"Ta-tadi, apa yang barusan aku bilang?" bingung Thalia. Kini ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat sampai ia bisa mendengar bunyinya. Tangannya yang sebelumnya memegang bibir, kemudian merambat ke dada kirinya.
"Pe-perasaan apa ini?" gumamnya semakin bingung. Ia pun memandang keluar.
"Gak. Gak mungkin 'kan kalau aku suka sama Farel?"