Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Sindiran Keras


"Tentu aja kita mau dengar!" seru Renata.


"Siapa tahu, nanti Kak Alan kepincut salah satu di antara kita, haha!"


Marina mengernyitkan dahi mendengar ucapan Renata. Apan-apaan maksudnya? Bukankah Renata tahu seberapa besar rasa suka Thalia pada Alan?


Namun atensi Alan tertuju pada Thalia yang diam saja dari tadi.


"Hey, Thalia!" tegur Alan yang langsung menghentikan tawa Renata. Marina juga langsung menoleh ke arah Thalia yang kini memandang wajah Alan. Sekarang Alan dan Thalia saling tatap, bukankah ini kemjuan pesat? Apakah akan ada percikan-percikan yang muncul di antara mereka?


"Kenapa, Kak?" tanya Thalia datar.


Alan memicingkan matanya.


"Gue ngerasa dari tadi lu gak nyaman sama gue. Apa karena kejadian pagi ini di kelas?" Sontak mata Thalia membulat, sementara Renata dan Marina saling lirik, tentu mereka berdua juga sudah mendnegar tentang penolakan Alan terhadap pemberian Thalia.


"Uhm, itu—"


"Kalau lu merasa gak nyaman sama gue, gue sama sekali gak keberatan kalau lu mau jauhin gue, kok. Lagian gue udah mau lulus ..." Atensi Alan beralih pada Renata.


"Daripada cari cewek di sini, gue kayaknya mau cari cewek di SMA gue aja, deh. Pasti lebih cantik-cantik dan GAK BAPERAN!" ujar Alan menekankan dua kata terakhirnya yang langsung menohok Thalia.


"Aku gak baperan ..." gumam Thalia.


"Thalia, lu ngomong sesuatu? Gue gak denger?" tegur Alan.


"Uhm, aku ..." Thalia langsung berdiri dari bangkunya.


"Aku kayaknya gak enak badan, deh. Aku mah ke UKS dulu. Permisi!" Thalia langsung lari begitu saja meninggalkan Alan dan kedua sahabatnya.


Marina kini melirik sinis ke arah Kakak kelasnya yang malah dengan santai menyedot jus sirsaknya.


"Kenapa Marina? Lu punya masalah sama gue?" sindir Alan. Marina hendak membuka mulutnya, tetapi Renata langsunh menggenggam erat tangan Marina. Atensi Marina beralih pada sahabatnya itu. Renata langsung menggelengkan kepalanya.


"Uhm, Kak Alan, kita balik duluan, ya. Bye," ucap Renata yang langsung menarik Marina yang enggan pergi dan malah berakhir menagap Alan tajam sekalipun harus diseret oleh Renata.


Renata membawa Marina ke kelas.


"Ren, lepasin gue! Lu kenapa, sih?" geruti Marina.


"Gue gak akan lepasin lu karena gue gak tahu lu bakal ngapain di depan Kak Alan!" ujar Renata yang masih berusaha menyeret Marina.


"Ih, Emangnya menurut lu gue bakal ngapain?" protes Marina yang menghentikan langkah Renata. Gadis berambut cokelat itu berbalik.


"Lu pikir gue gak bisa baca kalau lu mau meledak-ledak di depan Kak Alan?" tukas Renata.


Dahi Marina mengernyit.


"Meledak-ledak di depan Kak Alan? Iya, gue emang mau bungkam mulut Cowok Sok Kegantengan itu yang gak mau menghargai perasaan sahabat kita!" sergah Marina yang tak mampu menagan gejolak dalam dadanya lagi.


"Tapi, Mar ... Kita paling tahu, kita gak mungkin ngelakuin itu!" timpal Renata.


"Gue juga gak tahu ..." tutur Renata.


"Sumpah, Kak Alan sama sekali gak pantas buat Thalia!" ujar Marina yang membuat Renata membulat.


"Marina, apa maksud lu? Di sekolah ini gak ada yang bisa menyeimbangkan kecantikannya Thalia selain Kak Alan!" ujar Renata lagi.


"Ya, tapi sifat Cowok itu— Argh! Rasanya gue mau berkata kasar!" geram Marina.


"Udahlah, Mar. Lu tahu sendiri, Thalia itu paling gak suka apa yang udah dia putuskan diganggu gugat. Thalia sendiri yang udah memutuskan untuk ngejar Kak Alan. Apa dia mau dengar kalau kita ngelarang dia?" Marina tak bisa berkata-kata. Ia sendiri juga sudah tahu sifat sahabatnya itu.


"Mending, kita biarin aja Thalia tenang dan istirahat di UKS. Dia pasti shock banget sama ucapan Kak Alan," ujar Renata lagi.


"Ah, iya ... Lu Bener." Marina memilih untuk menyerah dulu kali ini.


"Oke, nanti kalau dia udah better, baru kita ajak ngomong, oke?" Marina langsung menganggukkan kepala mendengar usulan sahabatnya itu.


"Kalau gitu, mending kita ke kelas, yuk. Pasangin gue kutek. Gue udah bawa kutek baru, nih," ajak Renata. Marina sekali lagi mengangguk. Mereka berdua pun pergi ke kelas bersama.


...****************...


Thalia terisak sambil terus berlari ke UKS. Semoga saja di sana tidak ada orang sehingga ia bebas meluapkan kesedihannya. Ia melihat dari kejauhan bahwa pintu UKS terbuka, sepertinya memang tidak ada orang karena jika ada orang paati tertutup.


Thalia melangkah dengan percaya diri masuk ke UKS, tetapi tiba-tiba muncul seorang lelaki dari dalam yang hendak keluar, membuat tubuh Thalia terpaku.


"Loh, Thalia? Kamu ..." Dahi Lelaki itu mengernyit.


"Kamu nangis?" tanyanya.


"Bukan urusanmu! Pergi sana!" usir Thalia langsung masuk menerobos Cowok itu.


"Oke ... Uhm aku balik—"


"Tunggu!" cegah Thalia membuat Cowok itu tidak jadi melangkah. Cowok Berkacamata itu membalikkan badannya, begitu juga Thalia yang membalikkan badannua sehingga mereka berdua berhadapan.


"Aku berubah pikiran!" ujar Thalia lagi.


"Ya?"


Thalia segera pergi ke pintu UKS dan menutupnya, membuat Cowok Berkacamata itu memgernyit.


"Thalia, kenapa pintunya ditutup?"


Tanpa menjawab, Thalia malah meraih tangan Cowok itu sambil menatapnya dengan pupil yang membesar.


"Farel Barata Septian, aku punya tugas untukmu!" ujar Thalia.


"Iya. Tugas apa?"


"Kamu harus hibur aku yang sekaramg sedang bersedih ini! Pokoknya bikin aku gak sedih lagi hari ini!"