
"Nenek?" Bagus memandang ke tempat kosong di depannya. Seingatnya, ia tadi sedang berbicara dengan neneknya. "Apa itu tadi?"
Ia kembali sadar bahwa kondisinya sedang berada di ujung tanduk. Tubuhnya sudah semakin lemah dan tak lama lagi akan hancur karena energi aneh yang melahapnya.
Dengan mata yang hampir tersayup, Bagus memandang Darren yang nampaknya berhasil menyelamatkan Shiro. Bibirnya pun menyeringai membentuk bulan sabit.
Ia merasa senang karena Darren tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ia berikan. Walau ia sendiri merasa dirinya tidak diberikan kesempatan untuk menebus semua kesalahannya.
"Tapi nenek bilang belum waktunya," Batin Bagus, memejamkan matanya perlahan. "Tidak mungkin kalau ini bukan akhirnya."
"Tentu saja bukan!" Seseorang menyahut dengan kencang.
Bagus terkejut. Ia segera membuka matanya dan menemukan seseorang berdiri di depannya dengan wajah yang penuh keyakinan.
"K-Ketua?" Bagus terkejut melihat Simson yang muncul entah darimana.
Simson menyentuh lapisan energi yang membungkus Bagus. Kelihatan kalau ia menahan gejolak energi yang berusaha menghempaskannya. Namun ia tetap berdiri tegak tanpa kehilangan keteguhannya.
Michael menyadari seseorang telah mendekati Bagus. Ia segera memerintahkan para bawahannya untuk menyerang orang itu.
"Cepat tahan orang itu, dan masukan ia bersama yang lainnya!" Teriak Michael.
Setengah prajurit Michael bergerak menyerbu Simson. Tapi sedikit yang mereka ketahui bahwa Simson tidak sendirian.
"Water Elemental: Oceanic Guts!" Dyland tiba dari balik bayang dengan pedang berukuran besarnya.
Ia melancarkan tebasan gesit sekaligus mematikan kepada setiap prajurit yang mendekat dengan cepat. Ia menyerang semuanya secara bergilir dan sambung menyambung, hingga tak menyisakan satupun untuk berdiri.
"Kapten, Ketua!" Hain berteriak antusias melihat kedatangan mereka berdua. Teriakan itu mengundang perhatian Ryan dan Deus yang sedari tadi hanya menyaksikan dari jauh.
Ryan menyenderkan kepalanya pada tangannya. "Jadi mereka memutuskan untuk muncul di depan ku langsung ya."
Sementara itu, Darren melihat bala bantuan tiba. Matanya mengarah pada mereka, namun tangannya masih berada di atas perut Shiro.
"Shiro, mereka telah tiba. Kau pasti akan baik-baik saja," Ucap Darren penuh pengharapan.
Salah prajurit yang lain melihat Darren dan Shiro tanpa penjagaan, berpikir bisa mendekati mereka dan menjadikan mereka sebagai sandera agar Dyland mau menyerah.
Prajurit itu berlari ke arah Darren dengan tombaknya yang telah ia arahkan pada mereka.
"Kau! Berhenti bergerak!" Kata prajurit itu semakin mendekat.
Seett! Sebelum prajurit itu menyadarinya, ternyata tangannya yang memegang tombak telah melayang.
"Eh, apa ini?" Batin prajurit itu sesaat sebelum ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ia kemudian meringkuk di lantai sambil berteriak dalam kesakitan.
"Dyland-san," Darren menoleh melihat Dyland berdiri di depannya dalam sekejap mata. "Terimakasih."
Dyland membalas dengan nada dingin seperti biasanya. "Berterimakasih lah pada Simson. Jika bukan karenanya, mungkin aku takkan terima saat tahu kalau kau telah membohongi kami."
Darren tersentak sedikit. Tapi ia paham kalau ternyata identitas aslinya sudah terbongkar.
"Maaf," Ucap Darren pelan.
"Ku terima permintaan maaf mu. Tapi sebaiknya kita simpan dulu momen haru nya," Balas Dyland, menajamkan pandangannya.
Darren mengangguk tanpa sepatah kata.
"Bagaimana keadaan Shiro sekarang?" Tanya Dyland.
"Ia sudah baik-baik saja. Hanya saja ia kehabisan Mana karena efek penyembuhan tadi."
"Masalahnya..." Dyland menghentikan perkataannya sejenak dan melihat ke arah pasukan yang menerjang ke arah mereka. Jumlahnya memang tidak sebanyak sebelumnya, namun cukup merepotkan.
Dyland menyambung. "Minumkan ramuan ini pada Shiro. Ini akan mempercepat regenerasi Mana-nya," Ucapnya. "Dan jika sudah selesai, cobalah bantu Simson di sana. Ia nampaknya kesulitan."
"Baiklah," Jawab Darren. "Apa Clara-san tidak ikut?"
Dyland mengerutkan wajahnya. "Seharusnya ia ikut. Tapi ia pergi entah ke mana," Balas Dyland. "Baiklah. Ku serahkan Simson pada mu, ya."
Tanpa basa-basi lagi, Dyland segera mengangkat kakinya dari situ dan menyerbu ke arah para prajurit itu. Satu persatu para prajurit mulai kehilangan orang-orang mereka.
Darren membuka tutup botol ramuan itu dan hendak menuangnya ke mulut Shiro. Namun kesadaran Shiro terlalu lemah, sehingga air ramuan itu tidak dapat diminunnya.
"Shiro masih belum sadar. Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Gerutu Darren. "Jika ia tidak segera meminum ramuannya, maka Mana dalam tubuhnya akan habis bersih."
Darren meneguk salivanya.
"Memang, memberi orang pingsan minum sangatlah tidak direkomendasikan. Kemungkinan tersedak dapat membahayakan nyawa orang tersebut. Tapi..."
Darren mengangkat botol ramuan itu dan meneguknya tanpa ditelan.
"Shiro harus meminum ramuan ini!"
Dengan jarinya, ia menjepit hidung Shiro untuk menghentikan sirkulasi pernapasan. Setelah yakin Shiro tak bernafas, Darren melanjutkan langkah selanjutnya.
"Dengan menutup hidungnya, maka Shiro akan berhenti bernafas untuk sesaat. Maka saluran pernapasannya akan tertutup, sehingga satu-satunya yang terbuka adalah kerongkongan menuju lambung."
"Dan sekarang, aku harus memberinya ramuan ini dengan mulutku. Sehingga aku bisa memberikan dorongan yang cukup agar obatnya bisa ditelan."
Darren berhenti sejenak. Matanya tertuju pada bibir Shiro yang nampak mengkilap dan polos. Ia kembali meneguk salivanya.
"Aku harus melakukannya. Ini bukan saatnya untuk ragu!"
Darren langsung menyambar bibir Shiro. Bibir mereka berdua pun saling bertemu.
Darren berusaha sebaik mungkin memindahkan ramuan di mulutnya ke mulut Shiro tanpa menumpahkannya sedikitpun.
Dengan tangan yang masih menjepit hidung Shiro, Darren mencoba mendorong obat tersebut hingga masuk lebih dalam kedalam mulut Shiro.
Walau hatinya diliputi rasa khawatir dan takut, Darren juga merasakan degupan kencang di dadanya. Secara teknis, ini adalah ciuman pertamanya.
Setelah semua obat masuk ke mulut Shiro, Darren melepaskan mulutnya perlahan. Terlihat segaris benang air liur membentang di tengah-tengah mulut mereka.
"Uhuk! Uhuk!" Shiro nampaknya mulai terbangun. Efek dari ramuan Mana itu sudah bereaksi dan hasilnya sesuai harapan.
Shiro membuka matanya. Dengan posisi masih terbaring, ia melihat wajah Darren di atas wajahnya. Mukanya pun langsung memerah.
Apalagi saat ia melihat seuntai benang transparan masih menggantung di antara kedua bibir mereka.
"D-Darren-sama," Ucap Shiro pelan.
"Shiro, akhirnya kau sadar," Darren mengangkat Shiro dari posisi berbaring dan membantunya duduk.
Shiro masih terpaku dengan kejadian barusan. Ia mengangkat jemarinya dan meraba bibirnya.
Di sampingnya, ia melihat sebuah botol kecil. Ia tahu kalau botol itu adalah botol ramuan.
"Apa Darren-sama meminumkan ramuan itu pada ku? Dan posisi tadi... Apa ia meminumkannya dari mulut ke mulut?" Mengingatnya saja sudah membuat Shiro grogi tak karuan.
"Shiro, kau baik-baik saja?" Darren memotong lamunan Shiro.
"A-Aku baik-baik saja, Darren-sama," Balas Shiro, disusul dengan anggukan grogi.
"Syukurlah kalau begitu," Darren kemudian beranjak berdiri. "Ayo kita cepat bantu yang lain. Simson dan Dyland telah datang membantu kita."
"Baik," Shiro ikut berdiri.
Darren segera pergi menuju tempat Simson, sementara Shiro pergi untuk membantu Dyland yang menahan para prajurit musuh.
Darren juga memberi Shiro perintah untuk menolong Tora dan Hain yang sedang berada dalam cengkraman musuh.
"Simson!" Teriak Darren seraya menghampirinya. Kelihatan olehnya Simson masih berusaha mendobrak pelindung energi yang membungkus Bagus.
"Ini sia-sia. Pelindungnya hampir tak berubah sama sekali," Ucap Simson dengan wajah berkeringat.
"Ada apa?"
"Energi yang beresonasi terlalu kuat. Aku tak sanggup memecahnya sendirian," Sambung Simson. "Lapisannya seakan terususun dari Mana yang beresonasi tidak sempurna. Tapi karena itu, energi yang mengelilinginya jadi semakin sulit untuk dijebol."
"Biar aku bantu," Ucap Darren.
"Aku sudah dengar tentang mu. Kau Darren si buronan itu, kan?" Tambah Simson. "Aku tahu kau kuat. Tapi apa kau punya cara?"
"Aku akan coba menggunakan salah satu mantra andalan ku," Jawab Darren. "Channelling!"
Darren mengeluarkan pedangnya dan melapisinya dengan sihir. Kini pedangnya jadi bercahaya karena energi sihir yang meluap di ujungnya.
"Aku akan coba tebas pelindung itu. Mundurlah!"
Swoosh! Darren mengayunkan pedangnya dan memukul pelindung itu. Namun nampaknya, tak peduli berapa kuat ia mencoba, perisai itu tidak tergores sama sekali.
"Tidak bekerja? Padahal ini salah satu jurus andalan ku," Kini Darren merasa otaknya buntu. "Apa tidak ada cara lain?"
Tiba-tiba seorang prajurit musuh melewati Dyland dan berlari ke arah mereka. Saat sudah cukup dekat, prajurit itu melemparkan tombaknya sekuat tenaga ke arah Simson.
"Simson, awas!" Teriak Dyland memperingati.
Simson langsung melirik dengan tegas. Dilihatnya tombak tersebut sudah terbang ke arahnya.
"Dark Elemental: Rematerialize!" Simson meneriakkan mantranya seraya mengarahkan tangannya ke arah tombak tersebut.
Dalam kedipan mata, tombak yang melayang di udara itu langsung menghilang. Hilang bagai menguap menjadi udara.
"Apa-Apaan itu tadi?" Tanya Darren ternganga.
"Itu salah satu mantra andalan ku. Rematerialize, mantra untuk mengubah suatu susunan materi menjadi materi lain," Jawab Simson.
"Mengubah susunan, ya?" Darren kembali menghadap ke arah Bagus. "Mungkin ini bisa dicoba."
Darren menekan tangannya hingga memaksa masuk ke dalam pelindung energi itu.
"H-Hey, apa yang kau lakukan? Itu sihir kegelapan. Kau tidak akan bisa menggunakannya," Ucap Simson, namun Darren mengabaikannya.
Darren mengalirkan mantranya sekuat mungkin sambil mengimajinasikan bentuk mantra itu. "Mantra pengubahan materi. Ini sama seperti mengubah susunan molekul menjadi apapun yang aku mau."
Darren memejamkan matanya perlahan. "Kalau begitu, aku ingin mengubah lapisan energi ini menjadi sesuatu yang ringan dan tak berbahaya. Contohnya seperti... udara!"
Tak lama kemudian, lapisan energi yang membungkus Bagus mulai menipis.
Simson menyaksikannya dengan wajah terkejut. Ia terus menengok ke arah Darren dan ke arah pelindung itu secara bergantian.
"B-Bagaimana bisa? Bukankah kau ini manusia?"
Tapi melihat Darren berusaha keras, Simson memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu. Ia segera ikut mengulurkan tangan dan merapal mantra yang sama.
Kini perisai itu semakin memudar. Kelihatan kalau luapan energi yang beresonasi mulai menghilang dan bercampur menjadi udara.
"Berhasil. Pelindungnya menipis!" Ucap Darren antusias.
"Aku lebih terkejut bagaimana kau bisa menggunakan sihir kegelapan. Tapi ku rasa kita harus fokus dengan ini dulu," Sahut Simson. "Pertahankanlah sedikit lagi. Sebentar lagi perisainya akan hancur total."
Michael menatap mereka dengan ketakutan. Pasukannya semakin terpukul mundur dan Bagus hampir berada dalam cengkraman mereka.
Tapi saat ia menoleh ke arah Hain dan Tora, ia berpikir untuk menjadikan mereka sandera.
"Kalian!" Teriak Michael menarik perhatian para pemberontak.
Mendengar itu, Dyland dan yang lainnya sempat menoleh.
"Letakkan senjata kalian atau dua orang ini akan ku bunuh," Sambung Michael, sementara dua anggota pasukannya mengacungkan tombak mereka di leher Hain dan Tora.
Dyland berhenti bergerak. Matanya tertuju pada arah Michael yang menyeringai lebar.
"Kau pikir kau sudah menang?" Ucap Dyland dengan nada datar.
Michael terkejut. Dan saat ia menyadarinya, ia mendengar sesuatu dari belakangnya. Ia segera menoleh.
"K-Kau! Sejak kapan?" Ucap Michael kaget, melihat kedua prajuritnya sudah terkapar.
"Shiro-sama, terimakasih," Ucap Tora pada orang yang menyelamatkannya.
"Aku bersyukur kau baik-baik saja, Shiro," Kata Hain.
Shiro segera mengangkat tombaknya dan menghancurkan borgol mereka. "Terimakasih atas perhatiannya. Ayo kita pergi dahulu dari sini."
Michael segera berbalik dan mencoba mencegah mereka. Namun Hain menyadarinya dan mengikat kakinya dengan tanah.
"S-Sial!"
Para pasukan Erobernesia yang lain jadi panik. Beberapa dari mereka menjadi lengah, dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Dyland untuk menghabisi mereka secara bersamaan.
"Water Elemental: Oceanic Guts!"
Tebasan air yang elegan dan sambung menyambung, mengalir bagaikan sungai. Pedang raksasa Dyland pun menari dengan anggunnya, namun dalam keindahan itu banyak prajurit yang terkapar dibuatnya.
"Semuanya, mundur!" Teriak beberapa pasukan yang tersisa, seraya kabur meninggalkan gedung tersebut.
Semuanya terjadi begitu saja. Namun masih ada dua orang yang belum bergabung ke pertarungan.
"Aku tak melihatnya di sini," Ucap Deus dalam hati. "Aku merasakan keberadaannya. Tapi nampaknya ia belum mau menunjukkan diri."
Deus pun memanggil Ryan. "Nampaknya pasukan ku telah kalah ya," Ucap Deus.
"Manusia memang sangat lemah," Balas Ryan sambil duduk santai di takhtanya. "Padahal jumlah musuh yang datang hanya beberapa orang. Tapi semua pasukan itu dengan mudahnya dikalahkan."
"Yah, aku pribadi juga merasa sedikit kecewa," Sambung Deus. "Kalau begitu, aku hanya bisa menyerahkan sisanya pada mu."
"Jadi kau hanya akan menyaksikan dari kursi penonton? Kau beruntung karena aku sekarang sedang ingin gelut."
Ryan beranjak dari takhtanya. Ia berjalan perlahan, seraya disaksikan oleh para pasukan pemberontak.
Dyland adalah orang yang pertama kali merasakan bahaya. Ia segera mempersiapkan pedang raksasanya dan memasang posisi waspada.
"Shiro, Hain, Tora, berdiri lah di belakang ku!" Teriak Dyland.
Sementara itu, Simson dan Darren masih mencoba membobol perisai energi Bagus. Kini mereka sudah hampir berhasil dan perisainya hampir menghilang secara keseluruhan.
"Sedikit lagi..." Gerutu Darren sambil menyalurkan mantranya.
Dyland berteriak. "Simson, cepatlah! Bintang tamu kita akhirnya datang. Kita harus pergi sekarang!"
"Sedikit lagi!" Balas Simson, mengulangi kalimat Darren.
Ryan menatap ke arah Simson dan Darren. Ia melihat mereka berdua berusaha keras untuk menyelamatkan Bagus.
"Untuk apa kalian mengasihani musuh kalian?" Ucapnya. "Padahal manusia itu yang membuat kekacauan di antara kalian. Kenapa tidak biarkan ia mati saja?"
Darren dan Simson tidak menyahut. Mereka terus fokus pada Bagus.
"Kalian naif sekali. Terlalu lembut untuk hidup di dunia yang kejam ini. Jika kalian tidak bisa merenggut milik orang. Maka milik kalian akan direnggut," Tambah Ryan. "Biarkan aku membunuh manusia itu untuk kalian."
Swoosh! Sebuah rantai api keluar dari tanah dan mencelat ke arah Simson dan Darren.
"Water Elemental: Oceanic Guts!" Dyland melompat dan memotong rantai itu untuk melindungi Simson.
Ia mengacungkan pedangnya dan langsung berlari ke arah Ryan tanpa basa-basi.
"Water Elemental: Hydro Mimic!" Ia menciptakan lima salinan dirinya dari air dan menyerbu ke arah Ryan dari segala arah. "Water Elemental: Oceanic Guts!"
Ryan menyeringai. "Mengepung ku dari enam arah sekaligus ya? Kau pikir itu akan berhasil?"
Dengan kepalan tangannya, ia menghantam tanah dan mengeluarkan rantai-rantai api yang menjulang ke setiap arah serangan Dyland datang.
"Mati lah!" Teriak Ryan.
Bayangan air lainnya dengan mudah dikalahkan. Namun Ryan sedikit lebih sulit untuk disentuh.
Setiap rantai yang berkobar datang ke arahnya, ia hanya akan menebasnya dan memotongnya bagaikan memotong mentega.
"Hoo, kau cukup kuat anak muda. Tapi nampaknya kekuatan mulai tumpul," Ucap Ryan.
Memang benar. Pertarungan Dyland dengan prajurit Erobernesia tadi menguras banyak tenaga dan juga Mana. Dan kini ia bertarung dengan segalanya yang tersisa pada dirinya.
"Water Elemental: Tidal Annihilation!" Dyland meneriakkan jurus pamungkasnya. Yaitu tebasan air masif yang difokuskan pada satu titik. Daya hancurnya bahkan diperkirakan setara dengan gelombang tsunami besar. "Hyaaaa!!!"
Duuarrr!!!
Ledakan besar terjadi. Dalam sekejap, seisi ruangan langsung dipenuhi uap tebal yang mengepul. Penglihatan pun jadi terganggu.
"Ia benar-benar melakukannya. Ini adalah jurus penghabisannya," Ucap Hain.
Uap yang mengepul perlahan menipis, mengembalikan pandangan semua orang secara perlahan.
"H-Hey, lihat!" Ucap Tora sambil menunjukkan jarinya. "Dyland-san..."
Saat pandangan sudah kembali total, pemenangnya sudah ditentukan.
Dyland sudah terkapar di lantai dengan sekujur badannya nampak lemas. Sementara Ryan berdiri di sampingnya dengan luka dan pakaian tempur yang sudah tercukur habis.
"Tck, ku akui kehebatan mu, anak muda," Ucap Ryan. "Bisa sampai meninggalkan luka di sekujur tubuh ku dan mampu mendorong ku hingga terpojok seperti ini. Kau pantas mendapatkan kehormatan besar."
Dyland sudah kehilangan kesadarannya. Nampaknya ia terjatuh pingsan karena menggunakan semua sisa Mana-nya untuk serangan terakhir tadi.
Ryan berjalan ke sampingnya. Ia mengambil pedang besar milik Dyland dan mengangkatnya.
"Tapi aku harus membunuhmu di sini. Ketidakberadaan mu akan membuat pasukan pemberontak melemah, dan itu akan sangat membantu bagi ku," Sambung Ryan. "Lagipula pertarungan kita juga sudah disaksikan oleh si Pendeta itu. Ini sudah jadi pertarungan yang terhormat."
Ryan sempat melirik ke arah kursi penonton sebelum menjatuhkan pedang Dyland ke lehernya. Awalnya ia hanya ingin melihat keadaan Deus, namun keadaannya tiba-tiba berubah.
"D-Deus?" Ucap Ryan grogi saat melihat sebuah tubuh tanpa kepala berada di antara kursi penonton.
Sebelum ia menyadarinya, sebuah rantai api muncul dari dalam tanah dan menjulang ke arah kedua tangannya.
"Rantai api ini-- Jangan-jangan!?" Ucap Ryan, seakan sudah tahu siapa yang akan datang.
Rantai itu langsung mengekangnya. Membuat Ryan tak bisa bergerak dan hanya terpaku dalam posisi yang terbuka.
"Tidak salah lagi. Ini pasti--" Sebelum Ryan menyelesaikan kalimatnya, seseorang muncul dan menyambar kepalanya.
Jebreett!
Semuanya terjadi begitu cepat. Semua orang di sana terperangah dengan wajah syok penuh ketidak dugaan.
"A-Apa yang terjadi?" Tanya Hain sambil kebingungan. Sementara Tora mencoba memastikan Simson dan Darren baik-baik saja.
Asap yang mengepul entah dari mana, perlahan mulai menipis. Menampilkan sesosok seseorang dengan rambut pendek, berdiri di tempat Ryan tadi.
Ditangan orang itu, kepala Ryan yang telah terpenggal dibawanya. Dan kemudian ia membuangnya seakan kepala itu tak berarti apa-apa.
"Kau telah gagal menjalankan tugas mu, Ryan," Ucap orang itu, yang dimana suaranya tidak terdengar asing di telinga para pemberontak.
"C-Clara?" Hain menoleh tak percaya.
.
.
.
"Aku telah mendapatkan peran ku dalam takdir. Namun nampaknya takdir belum memberikan yang sama pada mu."